
"Jelaskan"
Fredrick mengangguk dan menatap semua orang yang ada di sana
"Penikahan"
Ucapan Fredrick membuat Edward mengeryit bingung, tidak jauh berbeda dengan kesatria lain selain Jeremmy yang sudah pernah mendengar ucapan ini. Raja George menggeleng.
"Tidak bisa Fred"
"Saya tahu anda tidak akan setuju, tapi ini pembalasan yang akan sangat menyakitkan untuk mereka dan..." Fredrick menegakkan bahunya sambil menautkan kedua tangannya di atas meja. "Biarkan Victoria sendiri yang nanti akan memilih jalan apa yang akan dia lakukan untuk membalas perlakuan mereka selama ini"
Kembali Raja George menggeleng
"Tidak, tidak bisa..."
"Kenapa anda sangat menentang ini Your Majesty? bukankah ini tujuan kita? Lagi pula, ini saat yang tepat untuk memainkan kartu kita, saya yakin Victoria akan memikirkan rencana ini. Dengan semua hal yang sudah kita tunjukkan di depan matanya dan dengan semua yang sudah terjadi. Bukankah...." Fredrick menjedah dan menatap Raja George dengan tajam. "Ini semua rencana anda kan?"
Dengan punggung yang sudah berdiri tegap Raja George hanya menatap Fredrick yang sudah tersenyum culas dan kembali membuka mulutnya.
"Lagi pula, saya tahu anda sedang khawatir dan gugup dengan pergerakan keluarganya"
"Bukan itu yang membuatku ragu Fred..." Raja George menatap Fredrick dengan tajam dan penuh selidik. "Tapi kau, kau yang membuatku ragu. Aku yakin kau punya rencanamu sendiri kan?"
Fredrick tersentak untuk sepersekian detik hingga membuat tautan tangannya menguat. Mencoba menarik nafas dalam, Fredrick menajawab
"Apa yang anda ragukan dari saya? Lebih tepatnya di bagian apa? dan apa yang anda curigai dari saya?"
Senyum penuh celaan Raja George terbit dan memandang Fredrick penuh dengan celaan
"Aku tidak yakin kau sudah benar-benar lepas dari wanita itu"
Fredrick mengeryit
"Maksut anda?"
Raja George terkekeh tanpa rasa humor
"Tentu saja aku curiga, bisa saja ini semua adalah alasanmu agar tidak membiarkan ku menjatuhkan hukuman pada j*langmu itu kan? kau tahu dia dan ayahnya terlibat pada hari itu tapi kau..." Raja George menatap dengan lekat dan tajam kedua manik abu-abu Fredrick. "Kau membiarkan mereka"
Dengan tangan terkepal dan perasaan kesal, Fredrick menjawab
"Saya membiarkan mereka karna menyediakan tempat yang akan akan menjadi bagian untuk Victoria membalaskan sendiri semuannya saat dia sudah menyandang gelar pendamping saya dan nama belakang saya!, Your Majesty"
__ADS_1
Kembali Raja George terkekeh tanpa rasa humor lalu menatap Fredrick dengan wajah dingin tidak terbaca
"Kau tahu Fred, aku sudah menghancurkan kehidupannya dan aku tidak mau menyiksanya untuk masuk ke dalam kubangan racun ularmu. Karna kau bisa membunuhnya secara perlahan suatu hari nanti"
Fredrick mulai semakin kesal dan semakin tidak bisa mengerti jalan pikiran ayahnya
"Terserah pada anda Your Majesty, tapi saya tetap akan menawarkan rencana ini pada Victoria dan membiarkannya berpikir untuk memilih....." Fredrick menatap sekeliling, pada wajah-wajah lain yang ada di ruangan. "Ada baiknya anda juga berpikir, keluarganya bisa saja sekarang sedang membangkitkan monster. Monster yang dengan cepat bisa menghancurkan kerajaan tercinta anda ini"
Setelah mengucapkan apa yang ingin di ucapkannya, tanpa menunggu Raja George. Fredrick segera berdiri dan memutar tubuhnya menuju pintu keluar yang di ikuti oleh Jeremmy.
Saat pintu sudah tertutup, Raja George menatap enam kesatria lain yang masih di dalam ruangan, kecuali Edward.
"Jalankan apa yang sudah ku perintahkan"
Meski Tomy dan Carl bingung dan tidak mengerti maksut ucapan Raja George tapi, saat ke empat temannya mengangguk. Mereka berdua ikut mengangguk dengan penuh kebingungan.
Kembali suara pintu terbuka dan tertutup, tanda hanya tinggal Edward dan Raja George yang ada di dalam ruangan itu
"Lihatkan anak itu Ed, dia sudah berani mengguruiku dan mendikteku"
Tawa geli Raja George langsung menggema saat ucapannya selesai meluncur dari mulutnya. Edward hanya diam dengan wajah pasrah
"Jalankan semuanya Ed, langsung pukul mereka semua dengan kartu joker, tapi...." Edward langsung menekuk satu lututnya dengan kepala tertunduk saat Raja George sudah berdiri dan menuju meja kerjanya. "Simpan dengah baik kartu as kita. Aku sudah cukup muak!" Raja George mengepalkan kuat tangannya dan menatap langit cerah dari balik kaca jendela ruangannya. "Aku sudah muak dengan semua ini Rose! Lihatlah, aku akan menunjukkan padamu bagaimana cara mendidik anak kita"
"Katakan pada James untuk mengirim surat undangan pada semuannya Ed"
"Baik Your Majesty"
ππππ
Di sisi lain, di sebuah gubuk tua di tengah hutan. Dengan penerangan yang minim lima orang pria kembali berkumpul di meja bundar untuk membahas rencana mereka.
Henry membaca tiap detail isi kertas yang di berikan oleh Charles dan di jelaskan oleh Philip. Sedangkan Thomas dan Albert sibuk bergulat dengan dengan pikiran mereka sendiri. Mereka berdua sibuk memikirkan bagaimana caranya untuk membuat Victoria keluar dari istana atau mereka yang akan bisa masuk ke dalam istana, jika tidak bisa, setidaknya bagaimana cara untuk menyerahkan surat langsung ke tangan Victoria.
Berjam-jam sudah terlewati, kertas-kertas sudah di bahas dan di jelaskan hingga pada pembahasan terakhir, akhirnya Henry membuka suara
"Ba-bagaimana dengan Lady Victoria, a-apakah dia tidak kita libatkan?"
Ucapan Henry membuat Albert dan Thomas yang sibuk dengan pikiran mereka teralihkan. Mereka ikut menatap Henry
"Dia tidak akan kita libatkan tapi, kami sedang berusaha memberi tahunya"
Setelah Philip menjawab ucapan Henry. Thomas dan Albert langsung saling menoleh dan saling pandang. Tidak lama mereka menyeringai. Charles yang melihat seringai dua iparnya segera ikut menyeringai saat otaknya sudah bisa membaca isi kepala ke dua iparnya. Philip dan Henry yang melihat seringai tiga orang itu saling pandang dalam bingung, hingga Henry membuka suara
__ADS_1
"A-ada apa? Sepertinya ada ya-yang ku lewatkan atau tidak ku mengerti?"
Ketiga pria paruh baya yang di ajukan pertanyaan hanya tersenyum, sedangkan Philip yang juga tidak paham isi kepala ke tiga iparnya tapi bisa membaca situasi segera menjawab Henry
"Mereka sudah saling mengenal dari mereka baru belajar bagaimana bentuk tubuh wanita Your Highness. Jika anda ingin mengerti isi kepala mereka dengan hanya bermodalkan tatapan saling pandang, anda harus bersama dan bekerja pada mereka dengan menghabiskan seluruh waktu usia anda sekarang"
Ucapan Philip membuat Henry mengangguk paham dan akhirnya hanya diam
"Your Highness"
Henry menoleh pada Charles yang sudah menatapnya dengan tersenyum
"Kami butuh bantuan anda"
πΊπΊπΊπΊ
Di sisi lain, masih di malam yang sama empat orang pria paruh baya lain sedang duduk di kursi meja bundar yang lain. Mereka tampak diam mendengarkan ocehan kemarahan Adam. Keluhan dan penghinaan Adam yang terus berlanjut tanpa solusi. Hingga akhirnya seseorang ikut membuka suara
"Tenanglah Lord Adam. Mereka tidak akan berani melakukan hal lain pada kita, mereka hanya bisa mengeksekusi bukti"
Adam menatap pria itu dengan tajam
"Dia mengancamku dan putriku My Lord! Beraninya bocah itu! Harusnya dari awal aku tidak diam saja!"
Keadaan semakin mencekam saat Adam membanting gelas minumannya dengan kemarahan, dan seseorang lain ikut mencoba bersuara
"Kalau begitu, kita harus melibatkan Lady Calista, My Lord. Sebagai seorang pria, saya yakin dia tidak akan segampang itu melupakan kekasih kecilnya, banyak hal sudah mereka lalui, banyak tanggung jawab yang sudah di janjikan dan...." Pria itu menatap bergantian wajah-wajah pria lain. "Banyak tanggung jawab yang harus di bayarnya, saya yakin jika dia masih mengingat semua itu"
Akhirnya Adam menghentikan amukannya dan menarik nafas dalam.
"Anda benar My Lord..... Sepertinya kita harus merubah rencana kita"
Adam menyeringai dan menatap pria lain yang duduk di kursi. Seringai licik Adam membuat mereka semua ikut menyeringai
\=\=\=ππππ
I Don't know why, tapi rasanya makin lama eike makin males nulis. Suntuk cuuyy. wkwkkwk...
Ada masukkan gak buat eike biar nge-feel lagi nulis? Eike mesti ngapain atau gimana gitu?
Yuk tinggalin jejak kalian...
Salam sayang semuaβ¨
__ADS_1