Behind The Castle

Behind The Castle
**FREDRICK's WOUND**


__ADS_3

Hari ini Carl mengatakan jika mereka tidak akan melakukan apapun. Dan karna itu juga Victoria berada di tempatnya sekarang. Dengan langkah pelan, Victoria membuka pintu sebuah kamar yang ada di istana utama. Kedua matanya langsung melebarkan arah padanganya untuk mencari seseorang yang ada di sana. Dan benar, setelah berjam-jam mencari Fredrick, hingga dia harus ke camp kesatria emas untuk mencari Edward agar mengetahui ke mana suaminya itu hilang hari ini, bahkan suaminya itu sudah meninggalkannya di atas ranjang sendirian saat dia baru membuka matanya. Dan di sinilah dia sekarang, mencari suaminya di kamar mendiang Ratu Rosemary.


Fredrick duduk di sebuah kursi yang berada di tepat depan jendela terbuka, kepalanya terus menatap ke depan, meski Victoria tahu jika Fredrick mendengarnya datang.


Victoria mulai semakin masuk ke dalam, dan menatap sekeliling kamar bernuansa abu-abu dan merah lembut, tatanan letak perabotan sangat elegant dan harmonis. Tata letak barang-barang sangat selaras dan indah.


"Kemarilah..."


Victoria menghentikan penilaiannya pada ruangan dan mendekat pada suaminya. Fredrick tersenyum tipis dan menepuk pahanya. Victoria langsung mendaratkan bokongnya di atas paha Fredrick dan dengan lekat menatap wajah suaminya. Wajah yang ternyata sudah melepas semua topengnya, dan untuk pertama kalinya Victoria melihat wajah telanj*ng suaminya. Tanpa topeng, tanpa benteng, tanpa menutupi sesuatu. Kedua bola mata abu-abunya menerawang jauh ke depan meski tangannya sudah memeluk pinggang Victoria dengan erat.


"Ini kamar ibuku.." Kepala Victoria mengangguk singkat dengan wajah yang terus menatap wajah suaminya yang belum juga menatapnya. Bibir Fredrick kembali terbuka. "Dan ini hari pernikahan ibuku"


Akhirnya, Fredrick menatap Victoria dengan senyum yang tercetak di bibirnya. Senyum yang berisi sejuta kesakitan dan kepedihan dan menghantarkan rasa sakit di dalam dada Victoria.


"Bash...."


"Aku berjanji akan menceritakan semua padamu"


Dada Victoria serasa terhimpit bahkan hanya dengan memandang tatapan dalam suaminya


"Tidak apa-apa jika kau tidak bisa Bash. Aku...."


"Aku akan membukanya. Semuanya padamu" Fredrick menjedah dan mengusap lembut pipi Victoria. "Aku pria yang penuh dengan luka dan penuh dengan noda. Aku takut kau berubah saat aku menceritakan ini padamu"


Kepala Victoria langsung menggeleng kuat dan ikut membelai lembut pipi Fredrick dengan memberikan tatapan hangat dan lembut.


"Aku istrimu, ibu dari anak-anakmu, aku sudah bersumpah di depan orang banyak, para orang tua, para imam dan Tuhan. Aku sudah menerimamu seutuhnya Bash"

__ADS_1


Bibir Fredrick tersenyum hangat, ucapan lembut dan juga penuh sumpah setia Victoria membuatnya kuat untuk membuka semuanya, semua luka lamanya. Fredrick mulai bersuara.


"Hari itu, sama dengan hari ini. Hari ulang tahun pernikahan ayah dan ibu. Pada hari itu dengan tekat yang kuat, ibuku berencana datang ke Larina untuk yang terakhir kalinya. Kebetulan, Baroness Gafton datang seperti biasa untuk bertemu ibuku bersama Calista. Awalnya ibuku meminta Baroness untuk tetap di istana dan menitipkan ku bersamanya dan Calista tapi, Baroness menawarkan untuk menemani ibuku ke Larina. Akhirnya kami pergi bersama ke sana" Fredrick menjedah dan menarik nafasnya.


"Ibuku di sambut dengan hangat oleh 'wanita itu' dan yang ku lihat pada hari itu juga ibuku untuk yang pertama kalinya, setelah selama ini tahu hubungan gelap ayah ku dan wanita itu, bisa tersenyum hangat dengan tulus dan penuh rasa sayang pada wanita itu" Kembali Fredrick menarik nafas dalamnya dan kembali bersuara


"Ibuku mengatakan agar kami cukup menunggu di dalam kereta karna ibu berencana hanya ingin mengatakan suatu hal, dia tidak akan lama bertemu 'wanita itu'. Tapi, entah sudah berapa lama waktu yang terus terlewati, ibuku belum juga keluar. Akhirnya karna merasa bosan, aku bertanya pada beberapa orang pengawal yang berjaga di halaman Larina. Apakah pertemuan mereka sudah selesai atau belum, dan mereka mengatakan jika ibu dan wanita itu masih di dalam ruang pertemuannya" Fredrick tersenyum getir dengan mata yang masih menerawang jauh ke luar jendela.


"Rasa bosan membuatku mencari Henry karna aku ingin bermain. Calista dan Baroness ku ajak untuk ikut mencari Henry yang pasti saat itu akan selalu ada di tempat belajarnya. Dan benar, Henry ada di sana. Seperti biasa, saat aku dan Calista datang, Henry akan menghentikan pelajarannya dan mengajak kami bermain hingga...


FLASHBACK


Fredrick, Henry, Calista, Baroness Gafton serta pengajar Henry sudah berada di ruang belajar. Baroness dan pengajar Henry langsung masuk dalam obrolan seru. Fredrick, Henry dan Calista juga sibuk bermain, mereka memainkan benda-benda yang di ukir dari kayu dan Calista memainkan boneka dari kayu seperti biasa, seperti biasa dia memainkan mainan perempuannya dan tidak berniat ikut memainkan permainan anak lelaki.


Waktu terus berjalan tapi keseruan mereka tiba-tiba terusik, terusik saat terdengar suara keributan di ruangan sebelah. Ruang pertemuan yang ada di Castle Larina. Fredrick kecil mengerutkan alisnya, dengan rasa penasarakan mencoba untuk mencari tahu, tidak hanya Fredrick yang menjadi penasaran, tapi semua orang di sana.


Fredrick dan Calista kecil mengangguk patuh dan mulai mengintip dari jendela tapi... apa yang mereka lihat membuat mereka memucat, terlebih Fredrick yang langsung akan berteriak dan menerjang jendela.


Sebelum Fredrick sempat mengamuk seseorang langsung menariknya dan menutup mulutnya dengan kuat. Henry dan Calista yang juga melihat, hanya bisa terdiam dengan kaki kaku, mereka jelas akan sangat syok dan hanya bisa terus terdiam dengan tubuh gemetar setelah melihat kejadian di ruang pertemuan itu. Pengajar Henry yang sudah mengamankan Fredrick langsung ikut mengamankan dan menjauhkan ke dua anak lain yang terus gemetar dan mematung, menjauhkan mereka dari jendela dan juga untuk menyelamatkan mereka.


Baroness yang baru bisa melihat ke balik jendela tersentak dengan kedua mata membulat, saat matanya dan pikirannya sudah bisa saling berhubungan dan mencerna apa yang sedang terjadi di ruangan itu. Dengan cepat, tanpa bisa berpikir lagi, Baroness langsung berlari keluar pintu ruangan belajar Henry dan menuju ke ruang sebelah. Pikirannya hanya satu, dia harus menyelamatkan sahabatnya. Menyelamatkan sahabatnya dari tempat di mana mendiang Ratu sedang terikat sambil menjerit histeris dan sedang.... Di cemari secara bergilir oleh delapan orang pria yang memakai baju pengawal.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN!!!!! HENTIKANN!!!!"


Elisabeth yang sedang menikmati pertunjukan menoleh ke arah suara dan langsung memberikan perintah tak kasat mata pada dua pengawal untuk langsung menangkap Baroness. Dua orang pengawal di sana langsung mengkap Baroness yang terus meronta dan berteriak histeris.


"Hentikan! Hentikan! Apa yang kalian lakukan pada Her Majesty!!!"

__ADS_1


"DIAM!!!"


"KAU GILA LADY ELISABETH! DIA SEORANG RATU!!!! HENTIKAN INI!! KAU BIADAB! IBLISSS!!"


Elisabeth berdecak kesal dan menatap seorang pengawal yang sedang memeganginya


"Habisi dia"


Setelah suara pedang terdengar, tubuh Baroness langsung terjatuh dengan darah yang terus mengalir deras ke lantai, warna merah itu terus menggenangi lantai.


"TOLONG!!.... TOLONG AKU!! ELI TOLONG! JANGAN LAKUKAN INI PADAKU ELI!!! KU MOHON JANGAN!! TOLONGG!!!...."


Elisabeth seakan tuli dan buta, dengan santai dia kembali duduk di kursinya dan membiarkan para pengawal melakukan perintahnya. Berjam-jam terlewati, delapan pria terus bergantian menjalankan perintah biadab Elisabeth hingga, tidak ada lagi suara jeritan dan tangisan dari kakaknya. Rosemary sudah diam dan tidak mampu lagi untuk merasakan apapun saat tubuh terhormatnya masih terus di cemari. Di cemari secara brutal dan biadab.


Fredrick kecil terus meronta-ronta dengan mulut dan mata yang di tutup kuat. Henry dan Calista terus melipat kaki mereka di sudut lantai ruangan sambil menutup rapat telinga dan mata mereka dengan tubuh gemetar hebat.


Pengajar Henry menangis, dan terus memeluk Fredrick dengan kuat hingga saat semua suara benar-benar hening, hanya suara kekehan Elisabeth yang terdengar.


"KAU PANTAS MENDAPATKAN INI ROSE! KAU MEMBUAT KU KEHILANGAN KELUARGA! KAU MEMBUATKU MATI! KARNA KAU HIDUPKU HANCUR!!! AKU MATI DAN HANCUR TIDAK BERSISA!.... DAN SEKARANG KAU JUGA BERHASIL MEREBUT GEORGE DARI KU HAH!! GEORGE MENGABAIKANKU, MENGABAIKAN ANAK KAMI!!! BAHKAN DIA SUDAH BERENCANA MEMBUANG KAMI! INI SEMUA KARNA KAU!!!.. SEMUA KARNA KAU!!!... KAU PANTAS UNTUK INI SEMUA!!! INI HUKUMANMU! KAU SEKARANG SUDAH RUSAK DAN SAMA HINANYA DENGANKU!!!"


\=\=\=🎀🎀🎀🎀


To Be Continued....


\=\=\=\=\=\=\=\=


Ayukk jekanya yukk...

__ADS_1


Salam sayang semua


__ADS_2