
Aktifitas di Castle Larina pagi ini sama seperti biasanya. Para pelayan berlalu lalang mengerjakan perkerjaan mereka sambil sesekali berceloteh dengan santai, para penjaga sama seperti biasa, menjaga setiap pintu besar di setiap tempat dengan berdiri tegap tidak tergoyahkan, para pengawal juga tampak seperti biasa, berpatroli sambil sesekali mengobrol dan, si pemilik juga tampak seperti biasa.
Menatap ke luar jendela dengan pemandangan bukit yang tampak memutih. Bintang saju terus jatuh ke bumi, angin dingin terus berhembus dan Ratu Elisabeth dengan tenang duduk menikmati teh dan kudapannya, di temani putra dan pelayannya.
"Your Majesty, 'Api kecil itu' ternyata padam" Ratu Elisabeth mengangguk singkat sambil mengunyah gigitan terakhir kookies di tangannya. "Ikatan mereka ternyata cukup kuat, rasa saling percaya mereka tidak bisa kita remehkan. Terlebih wanita Arathorn itu, dia istri yang cukup baik dan mencintai suaminya"
Ratu Elisabeth terkekeh geli dan menoleh pada pelayan pribadinya yang berbicara
"Saling percaya? cinta? istri yang baik?" Kembali, Ratu Elisabeth terkekeh. "Tidak ada yang seperti itu pada mereka Nina"
Pelayan itu, Nina. Menuangkan teh ke dalam cangkir teh pria yang duduk tenang di depan Ratu Elisabeth. Dan suara Ratu Elisabeth kembali terdengar.
"Mereka berdua lebih tangguh dari yang ku kira. Ku pikir George melakukan sedikit kesalahan tapi ternyata tidak. Mereka sudah cukup matang Nin" Nina menatap Ratu Elisabeth dan pria di depannya bergantian, lalu mengangguk. Ratu Elisabeth melanjutkan "Mereka pasangan yang saling tidak memiliki hati. Dan ini berbahaya. Sangat berbahaya"
"Apa kita akan menyulut api sedang dalam waktu dekat ibu?"
Sambil memutar-mutar cangkirnya, Ratu Elisabeth tersenyum pada putranya
"Sekaranglah waktu yang tepat Hen"
Henry mengangguk paham dan langsung berdiri dengan sopan dari kursi. Setelah Henry menghilang, Nina menatap Ratu Elisabeth
"Apa 'anak itu' percaya pada semua cerita anda, Your Majesty?"
Ratu Elisabeth tampak berpikir sejenak lalu menggeleng singkat
"Entahlah, kita lihat saja bagaimana nanti saat api sudah jatuh di Drachenburg. Sejauh mana cela yang bisa kita pergunakan"
--000--
"Al, apa yang membuat wajahmu terus seperti itu?"
Charles yang sudah tidak tahan lagi dengan keseriusan raut wajah Albert akhirnya bersuara. Thomas yang masih asik bermain dengan kertas-kertas dan perkamennya melepaskan arah pandangnya dan menoleh pada Albert yang masih diam sambil melipat tangannya di depan dada. Raut wajahnya jelas sedang berpikir keras.
"Al?"
"Aku hanya memikirkan istana"
Kali ini Thomas benar-benar melepaskan segala hal yang di pegangnya dan memutar kursinya ke samping agar dia dan Albert berhadapan. Charles tidak jauh berbeda, tinta dan pena bulu belahan jiwannya sudah di simpan sengan rapih.
"Apa kau memikirkan Victoria?"
"Ck! tentu saja, siapa lagi memangnya yang membuatku harus repot memikirkan istana"
"Dia baik-baik saja"
Charles mengangguk menyetujui pada ucapan Thomas, dan Albert membuang nafas lelah
"Entah siapa lagi yang akan di seretnya di ruang sidang nanti. Entah kenapa aku khawatir Thom. Tapi bukan itu saja yang mengganjal di hatiku, rasanya akan ada sesuatu"
"Kita hanya bisa berdoa untuk masa depan Al. Ini pilihan Victoria sendiri"
__ADS_1
Charles menimpali ucapan Albert dengan tenang dan bijak, meski dirinya sendiri juga sudah menjadi cemas. Jangan lupakan jika intuisi seorang Albert sering kali terjadi
--000--
"Ck! Jadi ini alasan mereka menyerahkan keluarga atau anak mereka ke dalam kamar kesatria emas?"
Fredrick mengangguk dan menggulung perkamen di tangannya.
"Selain untuk koneksi, seperti yang baru kau baca, ini semua juga untuk menggerogoti kerajaan"
Victoria mendesah lelah dan mengangkat cangkirnya sambil melirik Fredrick yang membaca sebuah perkamen usang. Perkamen bukti kejahatan seseorang yang beberapa waktu lalu sudah di eksekusi. Adam dan koloninya
"Apa kau marah Bash?"
Dengan wajah yang masih tertuju pada perkamen, Fredrick melirik ke arah Victoria.
"Sedikit. Kalian tidak mengatakan apapun padaku"
Kedua bola mata Victoria menatap Fredrick dengan lekat
"Dan jika kami memberi tahukan rencana ini, apa kau akan menyetujuinnya?"
Tangan Fredrick bergerak menggulung perkamen, dan dengan acuh melempar perkamen ke dalam kotak kayu
"Entahlah... tapi mungkin aku akan ragu saat itu. Mungkin aku akan mencoba mengulur waktu kalian atau mungkin juga aku akan menghalangi kalian" Jari telunjuk Fredrick mulai menggaruki cangkir. "Memang pilihan tepat kalian tidak melibatkan atau pun memberi tahu ku Vic. Sangat tepat"
"Apa kau sedih Bash?"
Fredrick tersenyum getir.
Dengan anggun, Victoria mengangkat cangkirnya dan menyesap isinya, lalu kembali meletakkan cangkir lalu berucap
"Yang sebenarnya adalah, aku dan His Majesty tidak benar-benar merencanakan ini bersama. Awalnya aku hanya mencium aroma amis mereka tapi tidak bisa memiliki bukti apapun. Karna itu aku memainkan drama itu dan juga untuk memancing His Majesty. Dan ternyata, hasilnya seperti ini"
Fredrick menatap Victoria sambil tersenyum bangga
"Aku tahu, karna itu juga aku tidak bisa mencium rencana ini sejak awal. Karna jujur saja, jika kalian memang merencanakan ini, aku pasti akan tahu jauh dari hari sebelum pengajuan sidang"
Kedua mata Victoria memicing tajam, menatap Fredrick penuh selidik
"Lucas atau Carl?"
Fredrick hanya mejawab dengan mengedipkan bahu acuh dan tersenyum penuh misteri
--000--
Calista mendesah lelah sambil terus memijat pelipisnya. Tapi dia tidak akan menyerah, tangannya kembali mengguratkan tinta ke atas kertas.
"Anda harus istirahat dulu My Lady"
"Tidak bisa, aku tidak bisa tinggal diam"
__ADS_1
"Tapi anda baru sembuh dan pergelangan tangan anda juga harus banyak istirahat terlebih tubuh dan pikiran anda. Saya tidak ingin anda sakit lagi"
Calista kembali mendesah lelah dan melirik pelayannya yang tampak terus menunjukkan raut wajah khawatir.
"Aku baik-baik saja. Aku tidak boleh lemah. Aku harus secepatnya mempunyai sekutu. Aku....." Dengan nafas tercekat, Calista mencoba menarik nafas dalam. Pelayannya yang menyadari itu langsung mendekat pada Calista, mengusap punggungnya dengan pelan, seolah itu bisa memberikan ketenangan. "Aku sekarang hanya sendiri. Aku tidak mempunyai siapapun"
"Anda masih punya His Highness Pangeran Fredrick, My Lady"
Calista menggeleng kuat dengan mata berkaca-kaca
"Aku tidak bisa bergantung padanya, dia sudah terlalu banyak berubah dan aku tidak mengenalnya lagi sekarang, dia seperti bukan Fredrick ku"
Dengan mata yang ikut berkaca-kaca, pelayan Calista hanya bisa mencoba memberikan kenyamanan dengan memeluk wanita yang di anggapnya malang itu. Bagaimana tidak, setelah kehilangan ibunya, lalu ikut kelingan ayahnya juga, dan itu di karenakan nama yang sana, Istana.
"Anda harus kuat dan sabar Lady"
Calista mengeratkan pelukkannya sambil mengangguk pasrah. Setelah pelukan mereka terurai, suara ketukan pintu membuat pelayannya langsung membuka pintu. Di depan pintu, kepala pelayan Gafton lah yang muncul. Masuk dengan sopan sambil memberikan setumpuk amplop surat.
Dengan cepat Calista membuka satu persatu surat dan... isi surat membuat Calista membuang semua surat ke perapian sambil mengepalkan tangan.
"Ada apa Lady?"
"Mereka tidak ada yang berani, mereka sangat berhati-hati dan tidak ingin terlibat masalah. Pengecut!" Calista membuang nafas panjang. "Sialan! bagaimana istana bisa berubah dengan cepat hanya karna seorang wanita kecil!"
Kedua tangan Calista semakin terkepal kuat dan kembali pintu di ketuk. Pelayannya dengan sigap kembali membuka pintu. Pengawal keluarganyalah yang muncul
"Ada apa?"
"Ada surat datang My Lady"
Dengan kesal Calista mengacuhkan pengawal itu dan kembali memegang pena bulunya.
"Sudahlah, isinya juga pasti akan sama, setiap hari balasan mereka tetap sama"
Pengawal itu melirik pelayan Calista yang tampak mengangguk menyetujui ucapan Calista tapi,
"Ini surat lain Lady"
Tangan Calista berhenti dan menaikkan arah pandangnya menatap pengawal dengan penasaran
"Dari mana?"
"Larina"
Kedua alis Calista bertaut dan langsung mengulurkan tangan meminta surat. Setelah pengawal pergi dan pintu di tutup. Calista langsung membuka surat dan.... kedua matanya membulat dengan wajah terkejut, raut wajah itu tidak berlangsung lama karna, raut terkejutnya berubah menjadi sebuah seringai.
Dengan gerakan cepat, tangannya meraih kertas kosong dan menuliskan sesuatu di sana. Memasukkan ke dalam amplop tanpa segel dan memberikan pada pelayannya yang tampak penasaran
"Berikan balasan ini dengan hati-hati ke...." Sudut sebelah bibir Calista terangkat tinggi, bibirnya tersenyum miring dan culas. "Larina"
\=\=\=💜💜💜💜
__ADS_1
Ayuk jejaknya yukkk
Salam sayang semua ✨