Behind The Castle

Behind The Castle
**PATTERN**


__ADS_3

Tiga hari setelah kepergian rahasia Victoria tapi, itu semua sekarang sudah tidak menjadi rahasia lagi. Rumor berhembus seperti angin, cerita-cerita yang bertambah dan berkurang menyebar hingga ke semua telinga, tidak hanya di kalangan ton tapi celakanya hingga ke telinga rakyat. Semua masalah yang coba di tekan dan di rahasiakan Raja George tidak beguna, karna sekarang, parlement pun sudah mengirim surat.


Raja George menatap surat di tangannya, surat yang baru sampai dari parlement. Jelas sekali jika parlement mulai membuat kubu kembali, mulut-mulut dan acungan pedang sudah mengarah ke istana. Para gentlemen ton yang sedang berkumpul di pacuan kuda atau di meja judi mulai terus menyebutkan skandal istana. Jamuan minum teh para wanita ton mulai terus membahas cerita-cerita skandal, mulai dari menambahkannya ataupun mengurangi cerita. Dan karna inilah, Ke empat orang pria ini akhirnya berkumpul. Mereka akhirnya mendapatkan pola permainan yang bisa mengahancurkan segalanya. Serangan kali ini tidak akan main-main lagi


Fredrick, Edward dan Jeremmy berkumpul di sekitar ranjang Raja George. Membaca setiap laporan entah itu dari surat kabar ataupun laporan penyelidikan. Edward yang merasa sangat sakit kepala akhirnya membuka suara


"Ini kacau, Your Majesty. Apa kita bisa menahan ini selama Her Highness selesai melahirkan?"


Fredrick yang sibuk membaca tersedak ludahnya dan menatap Edward


"Kita harus Ed, hal seperti ini akan membuat setress menantuku, dan itu bisa berdampak buruk untuk cucuku"


"Melahirkan? cucu?" Suara Fredrick berdesis tajam dengan menatap bergantian Raja George dan Edward yang tampak salah tingkah. "APA INI!!!!!!"


Edward yang akan membuka mulut mengatupkan lagi mulutnya saat tangan Raja George terangkat. Fredrick sekarang memfokuskan tatapan tajamnya pada Raja George


"Putri hamil dan...."


Brakkk!!!


Meja nakas tidak berdosa terbalik hingga membuat Jeremmy meneguk ludahnya dan dengan refleks membenarkan nakas tidak berdosa itu


"Hamil? dan kalian......" Kekehan tanpa rasa humor meluncur dari mulut Fredrick dengan tatapan yang semakin menajam. "Kalian membuatku mengabaikan istriku yang sedang hamil hah!!!!!!!!"


Brakk!!


Kembali, nakas yang baru saja di rapikan Jeremmy terbalik dengan menggenaskan saat kaki jenjang Fredrick kembali menghantam kuat nakas itu


"Jaga sikapmu Fred"


"Diam kau Edward!"


Raja George mendesah berat.


"Dia butuh istirahat Fred, kejadian anjing itu bisa terjadi lagi, entah siapa lagi yang akan menjadi korban. Bayangkan jika dalam keadaan hamil dia kembali mengalami hal seperti malam itu, misalkan pelayannya. Apa kau pikir Victoria akan baik-baik saja? Dia sedang tidak bisa berlumuran darah karna sedang membawa nyawa lain di perutnya. Anakmu. Aku tidak ingin mereka terluka. Keputusan ini juga sudah di terima Putri"


Fredrick menatap nanar ayahnya. Benar apa yang di katakan ayahnya tapi yang paling membuatnya teriris adalah, karna dia sendiri, karna keadaan membuatnya tidak bisa menjaga istrinya sendiri yang ternyata sedang mengandung. Raja George yang melihat peluang melirik Edward yang langsung diam, Edward mengerti jika inilah saatnya untuk semakin memborbardir dan mengaduk-ngaduk hati Fredrick

__ADS_1


"Kau sendiri yang memilih Fred, kau memilih pilihanmu dengan cara untuk masih melindungi masa lalumu. Karna itu dia pergi. Kau sendiri yang memainkan cerita membuangnya untuk nyawa jal*ng itu" Fredrick mengusap wajahnya dengan kasar dan menatap jauh ke jendela. Raja George belum selesai. "Dan ini, baru permulaan untuk keputusan bodohmu. Tidak hanya Victoria ataupun anakmu yang bisa terluka, tapi sekarang tahtamu bisa di ujung tanduk. Kau harus fokus"


Edward dan Jeremmy saling lirik saat Fredrick kembali mengusap kasar wajahnya hingga memerah. Dan Raja George masih belum juga selesai


"Victoria saja bisa memisahkan dulu perasaannya dan pikirannya untuk keputusan terbaik tapi kau, masih berkubang di masa lalu. Lain kali, pisahkan perasaan dan pikiranmu, pilih pilihan yang paling benar agar semua tidak akan separah ini"


Fredrick langsung berdiri menuju jendela sambil berkacak pinggang, keadaan menjadi hening... keadaan menjadi hening hingga Jeremmy bisa mendengar suara berat nafas Raja George, hingga Jeremmy juga bisa mendengar tumpukan salju yang jatuh dari atas pohon di luar sana


"Apa dia akan marah padaku?"


Kedua alis Raja George menukik tinggi. Edward menahan bibirnya yang berkedut geli, Jeremmy hanya menekuk bibirnya ke dalam menahan geli


"Entahlah.. menurutku Victoria tidak akan memikirkan perasaan tidak penting seperti itu, dia pasti lebih memilih memikirkan rakyat ataupun kesenangannya dari pada otak bodohmu tapi, mungkin anakmu yang nanti akan marah pada Tuhan karna harus membuatnya lahir dari benih pria bimbang sepertimu"


"Itu karna kalian. Kalian yang menyarankan padaku untuk membuatnya beristirahat! Jika aku tahu dia hamil, aku tidak akan menolak permintaannya saat itu! Jika tahu begini, aku tidak akan mengambil cara seolah menjadi suami yang benar-benar membela wanita lain agar Victoria mengambil pilihan untuk meninggalkan istana! Istriku akan terlihat menyedihkan!"


Fredrick langsung membalas dengan menggebu ucapan santai sangat menyebalkan Edward dan membuat Fredrick hampir mengangkat kakinya untuk menerjang wajah menyebalkan itu. Tapi suara batuk Raja George membuat Edward dengan dramatis langsung memberikan semua hal yang di perlukan untuk Raja George dan juga... agar dia bisa kabur dari tendangan Fredrick.


Jeremmy kembali menekuk bibirnya ke dalam terlebih setelah mendengar dengusan kasar Fredrick yang seperti kuda liar.


Setelah rasa kesal dan pikiran kemelutnya cukup tenang, Fredrick kembali duduk di kursinya. Wajah ke empat pria itu menjadi serius saat Edward memberikan sebuah surat pada Raja George.


Tenggorokan Edward terasa kering. Raja George dengan tenang mengusap dagunya


"Apa mereka menyiapkan perang Fred?"


"Menurut Tomy, dari banyaknya prajurit yang terus di kumpulkan dan cara mereka melatih ada kemungkinan jika.." Fredrick menatap bergantian Edward dan Jeremmy. "Mereka akan menyiapkan perang yang tidak akan lebih dari satu tahun lagi"


"Dengan siapa?"


Edward yang merasa tidak tahan lagi langsung menatap Fredrick dengan sangat serius dan meluncurkan pertanyaan yang ada di dalam kepala semua orang di sana


"Ini yang belum bisa kita gali tapi...." Fredrick menatap Raja George dengan lekat dan dalam. "Aku menemukan aroma lain, aroma 'Kartu as' kita tercium di Vancia"


Raja George menegang


"Kau yakin?"

__ADS_1


"Belum seratus persen Your Majesty, kami akan terus memantau ke sana. Dan ini akan membuat saya harus terus meninggalkan istana lagi dengan menggunakan setiap keadaan yang tidak mencurigakan"


--000--


Victoria mendengus kasar saat membaca surat kabar dan juga surat dari istana. Keadaan mulai panas bahkan parlement mulai ikut campur


"Apa para uncle mengatakan hal lain tentang parlement Archi?"


Sambil menggeleng, Arthur melipat kertas di tangannya dan langsung membakarnya di api lilin


"Tidak ada, selain tentang kubu yang mulai terpecah"


"Bagaimana tentangku?"


Arthur menegakkan kakinya dan mendekat pada Victoria yang berdiri di depan jendela sambil merobek-robek kecil surat di tangannya.


"Mereka akan mempertahankanmu tapi, untuk suamimu tidak ada jaminan" Kembali Victoria mendengus kasar dan menggenggam erat serpihan surat hingga menggumpal di tangannya. Arthur melanjutkan ucapannya. "Menurutmu, siapa dalang yang menyebar ini Ri?"


"Tentu saja Larina... Di sana sangat beraroma amis. Sangat amis dan busuk Archi. Dan sepertinya inilah pola permainan mereka"


Arthur ikut menatap arah pandang Victoria sambil menggenggam tangan adiknya yang berisi serpihan surat.


"Apapun yang kau pikirkan, seperti yang sudah di perintah His Majesty, utamakan kehamilanmu di atas segalanya"


Victoria tersenyum sambil menyenderkan kepalanya di dada kokoh kakanya, satu tangannya terangkat dan mengusap perutnya


"Tentu saja Archi"


Tangan Arthur terangkat dan ikut mengelus perut adiknya yang mulai menonjol


"Orang-orang di istana sangat licik, mereka berani mengambil resiko mengikuti permainan agar tidak repot membuka pola permainan yang sedang di mainkan musuh"


Victoria tersenyum culas sambil menikmati rasa nyaman yang di berikan kakaknya.


"Musuh tidak tahu dan tidak mengerti, apa makna dua kepala ular yang menjaga sebuah pedang hitam itu" Arthur mencium pucuk kepala adiknya singkat dan menerawang jauh ke luar. Arthur kembali berucap. "Ku harap, kau tidak menjadi wanita berhati beku karna kematian Grey Vic. Ku mohon.... jangan menjadi wanita berhati es dan manusia berkepala ular"


Victoria hanya diam dengan pemikirannya sendiri dan Arthur yang tidak mendapatkan jawaban, hanya membuang nafas panjang

__ADS_1


\=\=\=❤❤❤❤


Ayukk jejaknya yukk


__ADS_2