Behind The Castle

Behind The Castle
**PENGUASA ISTANA III**


__ADS_3

Hampir dua bulan Ratu Elisabeth berada di dalam istana dan isi istana, sudah berubah total. Ratu Elisabeth merubah semua kebiasaan dan kewajiban yang berputar di dalam roda istana. Ratu Elisabeth menghapus ketetapan dan aturan-aturan yang berpuluh-puluh tahun sudah berlangsung di dalam istana.


Seperti saat ini, dia manghapus aturan yang di buat Raja Gaorge. Aturan yang menyebutkan jika ada seorang anggota penghuni istana yang sedang sakit dan tidak menunjukkan kelengkapan anggota penghuni istana utama, maka istana tidak bisa membuat acara ulang tahun secara terbuka. Tapi, di sinilah Edward sekarang. Berdiri dengan kokoh dan hati membara pada acara pesta ulang tahun Ratu Elisabeth yang di buatnya dengan sangat mewah dan.... boros.


Senyum keceriaan penuh tatakrama mengisi aula istana utama, musik orkestra melantun lembut menemani kebahagiaan tamu undangan dan pemilik pesta, makanan dan minuman berkelas tersaji melengkapi hari spesial itu. Ratu Elisabeth dengan balutan gaun emas tersenyum hangat dan anggun pada setiap tamu undangan yang menyapanya sambil memberikan hadiah.


Henry yang tak kalah ramah dan bibir yang terus mencetak senyum hangat ikut menyambut tamu-tamu undangan.


Sayup-sayup seperti terbawa angin, Edward bisa mendengar jika dirinya ikut masuk di dalam balik kipas obrolan para wanita bangsawan, sesekali Edward mendengar gunjingan yang di berikan untuk orang-orang istana inti yang tidak memunculkan batang hidung mereka, dan yang terus bisa di dengar Edward adalah, obrolan mereka yang menginginkan Henry untuk merebut line throne utama. Posisi Putra Mahkota.


Semakin lama pesta berjalan, semakin mereka tidak tahu malu dan tidak kenal takut. Mereka mengkritik, menggunjing, menyudutkan bahkan menghina pemilik tahta yang sekarang sudah sangat jelas mereka ketahui keadaannya. Raja George yang sekarat.


Pelipis Edward berkedut dan terus berdenyut karna menahan kemarahannya terlebih saat seseorang sudah memasuki pintu aula. Wanita berambut merah yang tersenyum tanpa dosa masuk dengan Keelft yang mengikutinya dan langsung menatap ke arah Edward dengan pandangan menyesal.


Jelas, Keelft tidak bisa melawan perintah Ratu kerajaan. Meski Edward yakin jika Keelft sempat berselisih lagi dan sempat melawan lagi, terlihat dari pakaiannya yang lusuh, wajahnya yang penuh luka baru serta dirinya yang tampak tidak terurus.


Keelft juga sempat di tahan selama beberapa hari karna menahan undangan yang masuk ke Drachenburg, udangan yang di berikan dari Ratu Elisabeth langsung. Penyekapan Keelft di dalam penjara istana membuat Edward mau tidak mau harus mengusik kamar pesakitan Raja George untuk meminta stempelnya, stempel mutlak kekuasaan tertinggi untuk melawan perintah Ratu Elisabeth. Agar bisa mengeluarkan Keelft secepatnya dari penjara istana


Edward terus mengikuti pergerakan langkah Calista yang sekarang sedang memberikan kotak hadiah pada Ratu Elisabeth. Edward berdecih jijik. Bagaimana bisa Calista melupakan orang yang menyebabkan semua kehancurannya, demi meraih hal yang mustahil untuk di dapatkannya. Hal yang bukan haknya! Ayolah... Calista hanya mencoba menggapai khayalan yang tidak mungkin bisa di dapatnya. Meski Fredrick sering bersikap bodoh tapi Edward tahu, dan sangat paham jika Fredrick tentu tidak buta, Fredrick masih sangat jelas bisa membedakan antara batu sapphire berharga dan batu hiasan taman.


Kembali Edward berdecih jijik saat Calista dengan santai di temani Henry, meladeni percakapan para Ladies yang pasti isinya tidak jauh dari statusnya sekarang. Simpanan hina Fredrick yang sedang mengandung anak haram dengan perut yang masih terlihat rata, sangat rata. Bodoh dan munafik adalah gelar tersembunyi yang di sematkan Edward pada semua bangsawan yang hadir di pesta malam ini.


Edward membisikan sesuatu pada seorang kesatria emas lain, agar menyampaikan pesannya untuk Keelft yang malang, agar dia malam ini beristirahat saja. Edward cukup berterimakasih untuk semua pengorbanan dan kesetian mutlak yang di berikan Keelft. Salah satu anak didikannya itu benar-benar menjalankan dan menerapkan didikannya dengan baik. Salah satu anak didiknya yang akan selalu siap menerima neraka dari pada harus membanting haluan agar bisa hidup nyaman.


TING TING TING

__ADS_1


Dentingan gelas membuat Edward kembali memfokuskan pengamatannya, sama seperti semua tamu undangan lain yang sudah menutup mulut mereka dan menatap ke arah Ratu Elisabeth yang seperti siap menyampaikan sesuatu.


"Terimakasih kepada tamu-tamu undangan yang sudah hadir malam ini, di malam ulang tahun saya" Ratu Elisabeth bergerak melangkah anggun naik ke tangga undakan kursi tahta, dan saat dirinya sudah berada di depan kursi Ratu yang di letakkannya sendiri dengan modal ketidak tahu maluannya, Ratu Elisabeth kembali bersuara. "Malam ini, selain pesta ulang tahu saya, saya juga akan mengumumkan sebuah kesepakatan yang sudah terjadi beberapa hari lalu" Ratu Elisabeth menatap Henry sejenak dan kembali bersuara. "Kesepakatan dari separuh lebih anggota parlement, bangsawan pendukung saya, suara rakyat dan.... persetujuan His Majesty Raja George II" Edward tersentak di tempatnya, dia tidak yakin bisa menahan diri lagi jika Ratu Elisabeth benar-benar mengatakan hal yang berada di luar kekuasaannya.


"Sebagai Ratu kerajaan Francia saya akan mengumumkan bahwa, His Highness Pangeran Fredrick di turunkan dari line thore utama dan di gantikan oleh His Highness....."


"ANDA BUKAN RAJA YOUR MAJESTY!!!"


Ratu Elisabeth mengatupkan mulutnya yang belum selesai mengucapkan pengumumannya, wajahnya menoleh pada arah suara yang memotong suaranya, sama halnya dengan semua mata tamu undangan yang sekarang menatap Edward.


Tanpa gentar, tanpa perlu berpikir dan dengan kesetian mutlak. Edward melangkah maju dengan gagah ke depan tangga undakan tahta. Wajah Ratu Elisabeth berubah datar, sorot matanya mengatakan jika dia siap untuk melawan Edward


"LANCANG!"


"Saya adalah kesatria tertinggi di kerajaan Francia dan saya juga adalah tangan kanan His Majesty" Tangan Edward bergerak menarik pedangnya


"Dan pedang His Majesty Raja George II"


Pedang Edward yang sudah keluar dari sarungnya langsung mengacung ke arah panggung tahta, ke depan wajah Ratu Elisabeth. Pedangnya yang mengacung membuat pengawal, penjaga dan kesatria langsung berlarian ke depan tangga, memberikan benteng untuk Ratu Elisabeth dengan pedang mereka yang mengacung pada Edward. Seolah semua itu bisa menggoyakan Edward tapi nyatanya, beberapa kesatria emas milik Raja, kesatria tingkat dua yang ada di sana, dan beberapa kesatria tingkat satu didikannya Edward langsung ikut menarik pedang dan ikut berdiri di belakang Edward.


Keadaan yang menegangkan tidak bisa di hindari lagi, para bangsawan tamu undangan hanya bisa menegang dan terkesiap sambil memundurkan langkah mereka, menjauh dari kemungkinan pecahnya perkara.


Edward dan Ratu Elisabeth masih saling menatap dalam diam dan penuh permusuhan, hingga kekehan tanpa rasa humor seseorang membuat bola mata Edward melirik ke arah suara. Henry dengan langkah pelan tapi lebar mendekat pada ujung pedang Edward. Edward tetap diam di tempatnya, jangankan berpikir untuk bergerak dari posisinya, bahkan jika diharuskan, dia sangat siap untuk menebas leher Henry yang sedang tersenyum padanya.


"Kesatria Edward, turunkan pedang anda. Kami adalah anggota istana"

__ADS_1


Edward masih berdiri kokoh tanpa ampun di tempatnya, sama halnya dengan semua kesatria yang berdiri di belakangnya. Melihat jika Edward benar-benar tidak akan bisa digoyahkan, Henry membuang nafas panjang


"Baiklah Edward, baiklah..."


Henry melangkah menjauh dari Edward dan menatap semua tamu undangan


"Para tamu undangan, terimakasih atas kedatangannya, karna waktu sudah semakin malam, pesta kita cukup sampai di sini"


Mendengar pembubaran Henry, Ratu Elisabeth langsung akan turun dari tangga tapi dengan cepat Henry menutar kepalanya, untuk menatap ibunya, memberikan pesan agar tetap diam pada tempatnya dan Ratu Elisabeth menangkap itu. Kakinya berhenti dan memutar langkahnya untuk duduk di atas kursi tahta


---000---


Di sisi lain, keadaan castle Albany yang tampak tenang di luar, tidak menunjukkan keadaan yang sebenarnya terjadi di sana. Kepanikan dan kecemasan mengisi isi castle, terlebih karna jeritan suara Victoria yang terus menggema di seluruh kamarnya.


Para pelayan sudah saling menautkan tangan mereka sambil memejamkan mata, melantunkan doa permohonan untuk kelancaran proses lahirnya para jajaran line throne kerajaan Francia yang baru, line throne-line throne yang akan berada tepat di bawah Fredrick. Para pengawal dan penjaga dengan siaga penuh menjaga dan tidak sedikitpun kehilangan fokus untuk mengamankan dan menjaga Castle. Arthur dengan Lefko yang berada di pengkuannya sedang menautkan tangannya di atas meja dengan mata terpejam, tidak hentinya Arthur terus berdoa selama berjam-jam untuk keselamatan adiknya dan juga untuk para keponakannya.


--000--


Kaki Fredrick terus berjalan ke sana ke mari, segala pergerakannya menunjukkan kegelisahan, jantungnya terus berdetak cepat, dahinya terus mengucur peluh, tubuhnya terus berkeringat, entah apa yang terjadi padanya, entah kenapa perasaannya sangat tidak nyaman, entah kenapa selama berjam-jam seluruh aliran darahnya penuh dengan kecemasan.


Jeremmy dan para kesatrianya yang lain yang sudah melihat kelakuan aneh Fredrick hanya bisa diam. Mereka sudah lelah mencoba menenangkan Fredrick. Selama berjam-jam Fredrick terus tampak aneh. Dan sekarang bahkan Fredrick sudah berlari ke luar, ke tengah lapangan sepi dan luas sambil menatap ke langit.


"Jika kau sungguh benar-benar ada, tolong lindungi istriku, tolong lindungi anak kami. Aku..." Bibir Fredrick terasa keluh. "Aku mohon... jangan abaikan permohonanku kali ini, jangan abaikan mereka seperti Kau yang mengabaikan ibuku. Aku mohon"


\=\=\=πŸ’›πŸ’›πŸ’›πŸ’›

__ADS_1


Ayukk jejaknya yukkk


Salam sayang✨


__ADS_2