
"Aunty, sebenarnya apa yang terjadi?"
Raja George yang masih bisa mendengar suara pelan itu, kembali tertawa kencang hingga menggeleng-gelengkan kepala.
Lady Ivon tersenyum hangat, dan dengan lembut membelai rambut tergerai Victoria. Cukup lama mereka menunggu tawa Raja George hingga akhirnya mereda. Dengan wajah yang masih memerah Raja George menatap Victoria sambil tersenyum hangat.
"Silahkan Lady Victoria, aku ingin mendengar pendapatmu." Raja George melirik Earl Xenas yang membuang wajahnya ke samping. Lalu kembali memfokuskan arah pandangnya pada Victoria dengan tangan terlipat manis di atas meja.
"Ekhem.... baiklah Your Majesty. Pertama-tama terimakasih atas kemurahan yang Your Majesty berikan untuk saya. Saya setuju dan akan mengikuti rencana Your Majesty untuk pendamping dan pesta pertunangan tapi....." Victoria menjeda dan melirik wajah aunty-nya yang terlihat antusias. "Tapi, untuk masalah pernikahan saya tidak ingin terburu-buru. Ini bukanlah pernikahan biasa untuk kerajaan ini dan tentu saja untuk keluarga Arathorn. Karna setelah sekian lama akhirnya Arathorn kembali terikat dengan kerajaan." Victoria kembali menjeda dan mengamati respon Raja George yang juga terlihat antusias dengan tangan masih terlipat manis di atas meja. "Jadi saya ingin agar pernikahan saya di berikan campur tangan dari Arathorn."
Raja George mengangguk yakin. "Baiklah, apakah ada lagi Lady Victoria?"
"Maaf Your Majesty, tapi saya belum selesai." Jawab Victoria dengan cepat. Satu alis Raja George menukik, dan dengan manis kembali melipat tangannya di atas meja. Victoria melanjutkan. "Arathorn yang saya maksut adalah Duke of Albany yang baru. Arthur Beneddict William Arathorn, kakak laki-laki saya."
Masih dengan bibir tersenyum, raut wajah Raja George terlihat berpikir. Earl Xenas dan yang lain hanya diam tanpa ekspresi tapi, tidak dengan Viscount dan Viscountess Sheffield yang tidak bisa menyembunyikan senyum mereka.
"Tapi Duke Arthur masih terlalu muda dan belum berpengalaman, sedangkan pernikahan ini jelas butuh seseorang yang berpengalaman Lady Victoria." Raja George menjawab dengan santai masih dengan posisi duduk manisnya.
"Sebelumnya tolong maafkan saya jika argumen yang akan saya katakan ini murni hanya keluar dari pemikiran saya Your Majesty," Victoria menjedah, dan menatap Raja George yang mengangguk. Tanda memberikannya ijin untuk melanjutkan. "Your Majesty, saya sangat kenal bagaimana kakak saya. Saya yakin jika dia akan mampu dan kalaupun keyakinan saya ini salah. Dan jika kakak saya memang masih kurang, bukankah kita nanti akan menjadi keluarga? sebuah keluarga akan saling mengajari dan mendukung kan?"
Viscount Sheffield langsung menyeringai, dan melirik ke arah istrinya yang sudah tersenyum miring. Marquess Mincheas dan Earl Xenas langsung menoleh pada Raja yang sudah melipat satu tangannya di dada dengan satu tangan lagi yang berada di dagu. Jari-jarinya menggaruk-garuk janggut tipisnya yang mulai terlihat memutih.
Cukup lama keheningan terjadi di ruangan itu, jantung Victoria berdebar gugup tapi juga antusias. Tidak jauh berbeda dengan aunty-nya yang terus mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Victoria. Hingga helaan nafas panjang Raja George, membuat semua kepala menoleh ke arahnya dengan raut wajah cemas. "Baiklah...."
__ADS_1
"Your majesty...." Marquess Mincheas yang akan memberikan argumen langsung menutup mulutnya kembali, saat tangan Raja George sudah naik ke atas.
Senyum pasangan Sheffield langsung merekah. Dan untuk pertama kalinya, Victoria memberikan senyuman hangat untuk Raja George. Raja George dengan raut wajah lembut membalas senyum Victoria.
Raja George segera berdiri yang di ikuti semua orang. Dia kembali menatap Victoria yang langsung membungkut dengan sopan sambil menarik sisi kiri dan kanan gaunnya. "Terimakasih banyak, Your majesty."
Raja George mengangguk singkat. "Semua sudah kita bahas, jadi selamat malam."
Raja George menutup diskusi dan segera berjalan menuju ke pintu keluar yang di ikuti Marquess mincheas dan Earl Xenas.
Tinggalah Victoria bersama pasangan Sheffield. Lady Ivon segera memeluk Victoria dengan tangisannya yang langsung pecah. Victoria membalas pelukan hangat aunty-nya dengan tangis yang juga ikut pecah. Viscount Sheffield segera mendekat dan menepuk-nepuk singkat bahu istrinya yang berguncang karna menangis, lalu mengelus lembut rambut Victoria. "Aku akan menunggu di depan"
Lady Ivon mengangguk sambil menatap suaminya yang tersenyum lalu berjalan menuju pintu keluar. Lalu berkata pada Victoria dengan suara lirih. "Keponakanku.... kau sehat nak, kau sehat.... kau..."
Lady Ivon tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya karna bibirnya semakin terisak pilu. Victoria menguraikan pelukkan mereka dan menyeka air mata aunty-nya, sambil menatap kedua mata aunty-nya yang sudah basah. "Aku baik-baik saja aunty dan akan selalu begitu. Aku tidak akan tumbang sebelum mereka membayar semuanya." Lady Ivon langsung menutup mulut dengan menatap kedua mata Victoria yang sudah berkilap tajam. "Aunty, apakah keluarga uncle akan ada di pihak kita?" Lanjut Victoria setelah yakin jika aunty-nya mulai tenang.
Kepala Victoria langsung mengangguk dan kembali berbisik. "Apakah keluarga kita sudah memiliki rencana?"
Lady Ivon menggeleng. "Sejauh ini adik ayahmu Earl Albert, kakak sulungku Duke Thomas, dan suami adikku Marquess Charles, masih belum menghubungi kami untuk berkumpul. Kami hanya bisa sesekali saling mengirim surat, itupun ada beberapa surat kami yang hilang. Tapi untung saja surat yang hilang hanya berisi perbincangan biasa." Lady Ivon menjedah dan membelai sayang wajah Victoria, dengan menatap tajam kedua bola mata Victoria. "Kami di awasi dengan ketat, untuk sekarang kami hanya bisa membiarkan semuanya." Ivon kembali menjeda dan tatapannya menjadi lembut. "Untung kau bisa mengulur waktu nak, kau benar-benar memberikan waktu untuk kami. Dan hingga saatnya Arthur sudah kembali, langkah utama kami pastinya akan membuat Albany kembali ke tangan Arathorn. Tanpa perlu berkumpulpun, sudah pasti dalam hal ini kepala kami akan sama."
Victoria mengangguk mantap dan lalu terkekeh girang. "Aunty... bukankah keponakanmu yang manis ini sangat cerdas?"
Kedua sudut bibir Lady Ivon tersenyum lebar sambil mengangguk-nganggukan kepalanya. Tangannya mencubit pipi Victoria dengan gemas, tatapan matanya kembali menatap kedua bola mata yang sangat sama dengan bola mata mediang kakaknya. "Jadi Victoria anakku, kau harus kuat dan bertahan sampai kami bergerak. Ingat, kau seorang Arathorn"
__ADS_1
Victoria membalas tatapan aunty-nya dengan menatap tegas dan mengangguk yakin. Lalu sesuatu terlintas di pikirannya, Victoria teringat tentang keluarga Viscount dan Viscountess of Cornwell, sahabat ayahnya. "Bagaimana dengan Xonuds, aunty?"
"Mereka memang sahabat ayahmu tapi mereka tidak terikat hubungan darah dengan kita sayang. Kau boleh meminta pertolongan atau mungkin percaya pada mereka, aku yakin mereka bisa di percaya tapi, untuk yang lain di dalam keluarga kita. Mereka tidak akan ambil bagian, kau ingat apa yang selalu di pesankan oleh mendiang Duke Beneddict, kakekmu?"
Kepala Victoria langsunh mengangguk yakin. Dengan keyakinan Victoria menegakkan punggungnya dengan sesekali membasahi tenggorokannya. Lady Ivon menunggu. Victoria membuka mulut dengan tersenyum.
"Keluarga selalu di atas segalanya. Keluarga selalu terikat. Keluarga akan selalu saling mendukung, percaya dan mintalah pada keluarga." Dengan memaksakan suara, Victoria menekan tenggorokannya agar menjadi berat seperti laki-laki, seperti kakeknya. Dan itu sukses membuat aunty-nya terkekeh.
Lady Ivon ingat dengan kata-kata ini. Karna mendiang kakaknya, menantu keluarga Arathorn selalu mendapatkan kata-kata ini dari ayah mertuanya yang selalu menekankan ini pada kakaknya. Dan kakaknya, mendiang Emylis juga ikut menekankan ini pada dirinya. Seperti terus menjalar, Lady Ivon ikut mewariskan ini pada suami dan anak-anaknya.
Seperti hampir melupakan sesuatu Lady Ivon sedikit mengeryit "Apa kau sudah bertemu dengan calon tunanganmu?"
Dengan acuh, Victoria mengedipkan kedua bahunya. "Besok aku akan memastikannya."
Ivon menyipitkan matanya, menatap Victoria dengan menyelidik. "Maksutnya sayang?"
Victoria hanya menjawab dengan terkekeh, karna hanya dia yang mengerti maksut dari ucapannya sendiri.
"Baiklah nak, aunty tahu kau cerdas jadi aunty akan mengatakan ini dan selalu ingat kata-kata aunty. Jangan mudah tergoda dengan wajah tampan, jangan mudah luluh dengan tubuh sexy, jangan mudah menyerahkan segalannya karna hatimu, pastikan dulu dan yakinkan dulu pada dunia jika dia memang pantas."
Victoria mengajap-ngejapkan matanya mencoba mencerna semua ucapan sulit dari aunty-nya..
\=\=\=\=❤❤❤❤
__ADS_1
Tolong like, komen, bintang, lope-nya readers.... biar eike semangat nulisnya....
Salam sayang semua✨