
Tok tok tok
Suara pintu yang di ketuk membuat Grey yang sedang mengigiti topi segera menggogong. Victoria yang sedang memutar-mutar cincin tunangannya sambil melamun segera menghentikan lamunannya
Sedangkan Diana sedang berada di dapur kamar Victoria untuk membersihkan dapur dan peralatan makan pagi Victoria yang tidak di sentuhnya sedikitpun. Kelly yang baru saja menggulung selimut ranjang Victoria segera melepas segala hal di tangannya dan berjalan membuka pintu.
Saat pintu sudah di buka, Victoria langsung menangkap suara dan langkah seseorang yang langsung masuk yang membuat Victoria memutar kepalanya dari depan meja kecil untuk melihat siapa yang datang di siang hari ini dan dengan berani segera masuk ke kamarnya, bahkan bisa-bisanya Kelly membiarkan saja
Dengan langkah gontai, setelah sebelumnya Kelly membukakan pintu lebar-lebar untuknya, tamu itu segera masuk tanpa segan dan berjalan mendekat semakin masuk untuk menuju pada sosok yang sudah menatapnya dari kursi depan meja
"Bash?"
Dengan tersenyum hangat dan mata terpesona, Frederick semakin mendekat pada pemandangan cantik di depannya. Seorang gadis manis yang masih menggunakan gaun tidur sedang duduk di kursi depan meja.
Victoria yang akhirnya sadar segera berdiri ke arah ranjang seolah menjauh dari langkah Fredrick. Fredrick menghentikan langkahnya ketika melihat pergerakan Victoria, dengan wajah bingung dan tidak tahu diri, dia terus menatap gerak gerik Victoria yang sekarang sedang berbalik dan.... memakai mantelnya?
Fredrick mengumpat dalam hati dan segera memutar tubuhnya ke arah pintu lagi. Ada apa dengan otaknya yang tidak menyadari jika Victoria hanya memakai gaun tidurnya. Tidak, sebenaranya Fredrick sadar di bagian 'gaun tidur' tapi tidak di bagian kesopanan dan tata krama.
"Ada apa?"
Setelah suara Victoria kembali terdengar, Fredrick segera berbalik kembali untuk mentap penampilan Victoria yang sudah terbalut mantel besarnya. Fredrick meringis
"Maaf, aku......"
Dengan sedikit malu dan sedikit menyesal Fredrick tidak menyelesaikan ucapannya, sedikit. Victoria hanya tersenyum maklum
"Tidak masalah, aku lah yang kurang sopan karna sudah sesiang ini tapi masih memakai gaun tidurku, bahkan belum mandi"
Sambil menarik sedikit sisi gaunnya, Victoria menjelaskan keadaannya sekarang tanpa tahu malu, dan kembali menatap Fredrick yang sudah tersenyum geli.
"Ada apa?"
"Aku punya hal baik"
"Hhmm? apa?"
Fredrick melangkah semakin mendekat dan menunduk untuk mendekatkan bibirnya ke telinga Victoria
"Tapi aku ingin hadiah"
Setelah menjauhkan kembali bibirnya dari telinga Victoria, Fredrick menatap Victoria yang sudah menatapnya penuh selidik hingga matanya menyipit
"Belum juga kabar baiknya ku dapatkan tapi kau sudah minta hadiah"
Satu cubitan gemas mendarat di pipi Victoria, dengan tersenyum geli Fredrick kembali berbisik.
__ADS_1
"Besok kita bisa ke ibu kota"
"Apa!"
Suara antuasias hingga meninggi Victoria membuat Diana yang sudah keluar dari dapur menoleh dan menatap dua pasangan yang sedang berhadap-hadapan itu. Diana mengeryit karna untuk yang kesekian kaliannya mendapati Fredrick yang dengan santai terus datang ke kamar Lady-nya yang berstatus belum menikah. Sebuah tata krama yang selalu di langgar tapi, Diana tidak berani untuk mengingatkan terlebih karna ternyata tidak ada juga yang mempermasalahkan bahkan, tidak ada yang mencoba menyebarkan rumor aneh dan jahat untuk nonannya.
"Kau serius Bash?"
"Tentu saja"
"Oohh ya ampun...." Dengan mata berbinar antusias, senyum hangat Victoria membuat dada Fredrick berdesir, tanpa siapapun yang tahu. "Terimakasih Bash"
Fredrick mengangguk singkat dan menundukkan kepalanya lagi sambil menoleh ke samping. Victoria yang mengerti maksut Fredrick segera mendekat untuk mendaratkan bibirnya ke pipi Fredrick tapi, belum sempat bibirnya mendarat di pipi, Fredrick segera menoleh yang membuat bibir mereka bertemu. Mata Victoria membulat terkejut dan segera memundurkan kepalanya dari wajah Fredrick. Dengan aliran darah yang berdesir hebat tidak tahu malu Fredrick tersenyum nakal, jiwa jantannya segera naik, Fredrick berpacu semangat dengan cepat.
"Kau!!"
Tawa Fredrick pecah hingga bahunya bergoyang kuat. Victoria yang sudah menjadi kesal mengangkat tangannya untuk mendaratkan pukulan tapi, tangan Fredrick dengan sigap menangkap tangan Victoria. Tubuh mereka terbentur, Victoria tersentak.
Fredrick segera mengambil kesempatan itu untuk mendaratkan sebuah ciuman singkat lagi di bibir terkatup Victoria dengan keadaan kesadaran Victoria yang masih belum lepas dari rasa terkejutnya.
Setelah mendapatkan ciuman singkat dari bibir ranum itu, Fredrick masih mempertahankan posisi mereka yang menempel. Menatap wajah Victoria yang sebentar lagi akan berubah menjadi setan, sorot matanya siap menebas kepala Fredrick tapi, dengan santai dan tersenyum hangat, Fredrick berbisik
"Apa begini rasanya mencium bibir gadis yang belum mandi"
Ucapan Fredrick langsung membuat setan Victoria bangkit, satu tendangan mendarat di kaki Fredrick. Dengan suara dramatis Fredrick memekik bagaikan habis memegang panci panas. Victoria bedecak kesal dengan tidak anggun.
"Menyebalkan! Jangan banyak drama Bash!"
"Sudah pergi sana! aku mau mandi!"
Sambil menghabiskan tawanya, Fredrick menggerling menyebalkan
"Ayo ku mandikan"
"Tidak tahu malu!"
Sebelum tangan Victoria mendaratkan satu pukulan untuknya, Fredrick segera berlari menuju pintu untuk ke luar kamar dengan suara tawannya yang menggema di mana-mana.
Setelah Fredrick keluar dengan suara tawanya yang mulai hilang, Victoria melirik Kelly yang berpura-pura sibuk mengelap cabinet yang sudah di lap. Victoria memutar bola matanya.
Dengan mata penuh selidik, Diana menatap Kelly yang tersenyum menyebalkan padanya.
Diana membuka suara
"Kelly, ada yang harus ku bicarakan padamu setelah semua pekerjaan kita beres"
Senyum Kelly pudar dan segera mengaguk sambil mengangkut kembali selimut yang di letakkannya asal saat akan membuka pintu.
__ADS_1
Setelah urusan kamar selesai dan nonannya sudah cantik bersih, Diana undur diri dengan alasan ingin melihat menu makan siang di dapur. Kelly yang sudah paham ikut undur diri karna mengingat ucapan Diana padanya.
Saat mereka sudah keluar dari kamar, raut wajah Diana berubah. Kelly hanya menatap Diana dengan bingung.
"Kita bicara di belakang dapur"
Kelly mengangguk sambil mengikuti langkah Diana yang berjalan dengan cepat di depannya.
Melirik sekitar yang sepi, dengan cepat Diana membuka pintu gudang pangan dapur istana selatan sambil menatap Kelly dengan tajam.
"Jangan ulangi lagi Kel"
Raut wajah Kelly kembali tampak bingung
"Ulangi apa Diana?"
"Kau tahu jika nona kita sedang dalam penampilan yang tidak layak menyambut tamu, bahkan tamu itu seorang laki-laki. Kau tidak bisa sembarangan untuk langsung mempersilahkan tamu yang datang itu untuk masuk begitu saja"
Kelly mengeryit
"Memang kenapa? itu kan Your Highness dan tunangan Lady Victoria, bukan sembarangan orang dan bukan orang asing. Kenapa kau terlihat ingin marah Diana?"
Diana menggeleng kuat dan menatap Kelly dengan wajah yang mulai kesal
"Dalam aturan bangsawan, seorang Lady yang belum menikah tidak boleh membawa masuk seorang tamu laki-laki di dalam kamarnya. Siapapun itu, kecuali itu titah Raja atau saudara kandungnya"
Dengan memutar bola mata dengan dramatis dan raut wajah yang menyebalkan Kelly menatap Diana
"Kau ini seperti tahu saja aturan bangsawan, lagi pula Lady Victoria tidak marah, kita juga ada di sana, jangan berlebihan Diana, kau itu hanya pelayan, kita ini sama, atau...." Kelly menjedah dan menatap Diana penuh selidik. "Kau sudah mulai besar kepala karna selalu dekat dan sudah menjadi pelayan khusus Lady Victoria?"
Sambil menahan rasa kesalnya, Diana kembali menatap Kelly dengan tajam.
"Aku tahu aturan bangsawan, aku tahu tatakrama bangsawan dengan baik dan ini tidak ada hubungannya dengan statusku yang pelayan pribadi atau bukan. Kelly dengar, seorang pelayan yang melihat jika ada tamu di depan kamar nonanya mempunyai aturan untuk bertanya dahulu pada nonannya apakah nonannya ingin atau tidak menerima tamu itu. Itu adalah hal dasar pekerjaan seorang pelayan kamar Kelly"
Ucapan Diana yang terkesan mengguruinnya bahkan terdengar sombong di telinga Kelly membuatnya kesal
"Aku baru sadar sekarang, ternyata benar desas desusu yang pernah ku dengar dulu. Kau itu merasa besar kepala dan sombong, karna itu kan kau tidak mempunyai teman di sini terlebih setelah kau menjadi pelayan pribadi Lady Victoria"
"Kelly ak...."
"Sudahlah Diana, aku malas mendengarmu, kau itu menyebalkan dan berlebihan"
Setelah menyelesaikan ucapannya, Kelly segera memutar tubuhnya meninggalkan Diana yang hanya menatapnya dengan pasrah. Dia mulai khawatir dengan Kelly, pelayan itu sepertinya tidak bisa bekerja untuk jadi pelayan kamar terlebih untuk bisa di percaya. Walau Diana ingat jika nonannya memang tidak ingin mempercayai Kelly tapi tetap saja Diana merasa khawatir.
"Semoga anak itu tidak membuat masalah"
\=\=\=\=💙💙💙💙
__ADS_1
Jejaknya jangan lupa di tinggalin yuk readers tersayang....
Salam sayang semua✨