
Setelah tiga hari empat malam dirinya tidak di beri jatah, bahkan istrinya selalu kabur dan menghindarinya, menyiksanya hingga harus selalu menelan segala keinginannya tapi, di sinilah dia sekarang, duduk di depan meja kerjanya dengan istri manisnya yang duduk di atas pangkuannya, tersenyum manis, menggantungkan tangan ke lehernya, bermanja-maja seolah tanpa dosa setelah dengan kejamnya membuat Fredrick harus tidur dalam kedinginan dengan gair*h kerinduan bergelora yang tidak bisa di tuntaskannya.
"Bash...."
Fredrick terus memegang perkamen, wajahnya terus mencoba pandangi perkamen di tangannya, meski dia sudah tidak bisa mencerna lagi huruf-huruf yang tergurat di sana.
"Hm"
Victoria mengulum senyumnya dan dengan nakal membelai sensual dada kokoh suaminya, yang sekarang sedang dalam mode kekanakan.
"Apa kau sibuk?"
"Kau bisa lihat sendiri isi meja ini"
Sudut bibir Victoria berkedut geli, tangannya yang lain dengan nakal membelai leher dan jakun suaminya yang terus naik turun. Ohh.. dia sangat tahu jika sekarang suaminya sudah mulai tidak tahan
"Benarkah?"
Fredrick kembali meneguk ludahnya dengan susah payah saat Victoria tidak henti-hentinya melancarkan serangan. Bahkan nafasnya sudah mulai memburu
"Apa maumu?"
"Ck! dingin sekali.... Padahal aku" Victoria mendekatkan bibirnya ke telinga Fredrick dan berbisik lirih "Merindukanmu....."
Fredrick meremang, segala gelayar membara di tubuhnya mulai semakin liar hingga jantungnya berdetak kencang.
"Berhentilah, aku sibuk. Ini bukan tempat untuk merayu. Ck! dasar tidak bermoral"
Sedikitpun Victoria tidak tersinggung, ucapan Fredrick malah membuatnya semakin ingin terbahak, terlebih saat bokongnya sudah merasakan sesuatu yang mulai siap bertempur. Ohh... Fredrick akan gila sebentar lagi
"Kau yakin sayang? Padahal ini...." Bokong Victoria bergerak pelan. "Mengatakan hal yang sebaliknya"
Dengan cepat Fredrick menahan pinggang Victoria. Sungguh dia bisa gila jika harus menahan rayuan istrinya. Tanpa perlu merayu saja dia bisa gila, apa lagi sekarang! Fredrick mengeram berat dan dalam, nafasnya sudah semakin memburu. Dengan semangatnya yang sudah bangkit Fredrick ingin mempercepat semua ini, Fredrick segera mendekatkan bibirnya ke telinga Victoria
"Katakan syaratnya dengan cepat, sebelum aku menerkammu di atas meja ini"
Victoria meremang, terlebih setelah berucap dengan nafas hangat memburu, Fredrick mengecup telingannya dengan lembut, pelan dan membangkitkan. Victoria mencoba mengatur debaran jantungnya, dan mencoba menahan belaian sensual tangan besar suaminya yang sekarang menjalar pelan tapi pasti, sangat pasti menuju ke bawah roknya yang entah sejak kapan sudah di tarik ke atas oleh tangan besar dan hangat itu
"A-ayo kita melihat mereka, kau be-belum...." Victoria menarik nafasnya, saat merasakan jika tangan Fredrick sudah menyentuh pahanya. "belum memberi nama mereka"
Fredrick tahu jika istrinya mulai terpancing dan juga menginginkannya, dia pun lebih parah, kepalanya serasa ingin meledak karna menahan diri untuk tidak langsung mengakat tubuh Victoria ke atas meja, dan langsung melahapnya dengan buas
__ADS_1
"Dan?"
"Aku ingin... ingin bertemu Lottie"
"Deal!"
Masih dalam kebingungan, Victoria memekik saat Fredrick langsung berdiri dan menarik tangannya, Victoria hanya bisa mengikuti dengan pasrah ketika Fredrick langsung menariknya menuju pintu, dengan nafas yang sama-sama memburu karna gair*h, Fredrick menyeret tangan Victoria dengan sedikit kuat agar cepat mengikutinya. Mereka perlu kamar, sekarang! segera!
Para pelayan dan pengawal yang melihat mereka berlarian dengan nafas memburu dan wajah memerah hanya diam dan membungkuk, sebenarnya ada apa dengan Raja dan Ratu baru itu?
---000---
Langit sudah mulai gelap, angin awal musim gugur terus berhembus masuk ke dalam jendela sebuah kamar yang terbuka. Aroma kerinduan, gair*h, dan rasa sayang dalam pergerakan percintaan sangat kuat di dalam kamar itu. Erangan, d*sah*n dan jeritan tertahan seorang wanita semakin memanaskan seisi kamar. Suara erangan dalam, kuat dan syarat akan pemberi kepuasan semakin membakar seisi kamar
"Ba.. Bashhhh...."
Fredrick menarik kembali kedua kaki Victoria agar melingkar di pinggannya, laju pergerakannya semakin kuat, keras, tidak beraturan dan liar
"A.. aku.."
"Gapailah sayang.. gapailah untukku..."
Fredrick mencengkam kuat pinggang Victoria dan semakin menguatkan genggaman tangan mereka saat merasakan jika istrinya sebentar lagi, untuk yang kesekian kalinya, entah untuk yang keberapa kalinya akan meledak.
Beberapa menit terlewati hingga tubuh mereka mulai dingin dan kewarasan mulai bisa mereka hirup. Victoria membelai lembut rambut suaminya yang masih berapa di ceruk lehernya, Fredrick masih memeluknya dengan kuat dan sangat merekat.
"Sudah hampir gelap Bash...."
Fredrick hanya diam dan sangat enggan untuk bergerak, dia sangat tidak ingin melepaskan semua tautan yang sedang menyatu di tubuh mereka.
"Bash... kau berat..."
Kekehan halus meluncur dari bibir Fredrick
"Aku masih ingin lagi sayang..."
"Dan kau akan menghancurkan tubuhku?"
Akhirnya, Fredrick cukup tahu diri untuk menghentikan keinginannya yang seperti tidak akan pernah puas pada istrinya. Sungguh, dia sangat menyayangi Victoria, dia tidak pernah merasakan perasaan hangat setelah puas dengan percintaan panas. Hanya istrinya yang selalu bisa membuatnya gila dan semakin gila.
Fredrick mengangkat punggungnya, menatap dalam kedua bola mata kesukaannya dan mendaratkan ciuman lembut di pelipis Victoria.
__ADS_1
"Terimakasih..."
Victoria mengangguk singkat sambil tersenyum dan langsung menarik selimut saat Fredrick melepas tubuhnya dan melempar tubuh besarnya ke samping.
Dengan penuh perhatian, Victoria menyelimuti suaminya dan masuk dalam dekapan Fredrick yang selalu memberikan kenyaman untuknya.
"Kapan kita pergi Bash?"
Suara Victoria terdengar lemah dan lirih, Fredrick merapikan surai Victoria sambil menatap wajah istrinya yang kelelahan.
"Kita buat janji dulu"
Victoria mengangguk setuju
"Kita ke Albany dulu kalau begitu, sambil menunggu balasan surat?"
"Ok" Tangan Fredrick masih membelai dan merapikan surai lembut istrinya. "Bagaimana wajah mereka?"
"Kebanyakan milikmu"
Fredrick terkekeh dan kembali mendaratkan ciuman sayang di pelipis istrinya
"Terimakasih Vic.. Kau luar biasa, aku menyesal tidak bisa menjaga dan membantumu di saat-saat sulitmu ketika mengandung dan melahirkan"
Kepala Vicroria mendongak untuk menatap wajah suaminya yang sudah berubah sendu
"Kau sudah mengatakan itu Bash.... Aku baik-baik saja. Lagipula aku tidak teralu kesulitan, walaupun terkadang mereka rewel tapi mereka anak-anak yang sangat pengertian"
Dan ucapan Victoria berhasil membuat dada Fredrick membucah bangga dan bahagia hingga matanya berbinar
"Aku semakin tidak sabar untuk bertemu mereka"
Bibir Victoria tersenyum hangat dengan kelopak matanya yang langsung menutup. Dia sangat lelah dan mengatuk sekarang.
Fredrick menatap ke arah jendela, pikirannya menerawang jauh, hatinya berdoa yang entah untuk apa tapi, ada sebuah kegundahan yang terus mencokol di dadanya.
"Selamat tidur sayang.... Tetaplah bersamaku apapun yang terjadi... ku mohon"
\=\=\=❤❤❤❤
Syalala... lala... lalala...
__ADS_1
Ayukk jejaknya yukk
Salam sayang semua