Behind The Castle

Behind The Castle
**ANJING RATU**


__ADS_3

"Maaf atas keterlambatan saya"


Albert mengangguk singkat tanpa menatap ke arah suara. Albert hanya menatap semua wajah gentlemen yang tampak bingung, terkejut dan bertanya-tanya.


Charles dan Thomas tidak jauh berbeda, mata mereka mengikuti gerakan langkah tamu yang cukup membuat mereka bingung tapi juga antusias


"Selamat pagi para gentlemen yang terhormat. Kita mungkin belum berkenalan secara resmi...." Kali ini kepala Albert menoleh pada orang yang di tunggunya, senyum miringnya kembali terbit yang langsung di balas dengan senyum miring orang itu. "Perkenalkan, Saya Arthur Beneddict William Arathorn. Duke of Albany"


Keadaan menjadi sangat hening, berbagai pertanyaan pasti langsung memenuhi semua isi kepala di sana kecuali Albert yang dengan tenang mengangguk sekali pada Arthur yang langsung semakin melangkah mendekat pada Albert. Arthur melirik Charles dan Thomas yang memandangnya dengan wajah penuh pertanyaan tapi juga tampak antusias tanpa bersuara, mereka lebih memilih menunggu di kursi penonton mereka.


Albert menegakkan bokongnya yang menyender di depan mejanya, matanya menatap tegas dan tajam semua gentlemen di sana dengan suaranya yang kembali terdengar


"Duke Arthur, anda telat"


Albert ikut menatap semua gentlemen dengan padangan tegas dan tajam meski suaranya kembali terdengar pada tujuan yang berbeda


"Saya terlambat karna harus membaca dan harus 'mengingat' semua nama para gentlemen parlement"


Sudut bibir Thomas berkedut geli. Charles menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum geli. Ohh... para Arathorn memang sangat licik, ternyata Albert sudah menyiapkan ini semua. Ini jelas sebuah ancaman. Membawa si pemilik Albany adalah sebuah ancaman telak dan mematikan untuk para gentlemen di sana. Well... Charles tetap akan memilih kursi penontonnya sambil melirik Thomas yang juga sangat terlihat memilih untuk duduk manis di kursi penontonnya.


"Dan apakah anda sudah mengingat semua nama dengan baik" Albert tersenyum lebar pada Arthur. "Duke Arthur?"


"Tentu saja, saya bahkan sudah mengingat semua properti dan hubungan apa saja yang keluarga kita miliki dengan para gentlemen parlement terlebih, untuk hubungan properti dan perdagangan mereka pada Albany"


Albert langsung mengangguk dramatis, Arthur yang sadar atau tidak juga ikut mengangguk dramatis. Keheningan di dalam ruangan membuat Albert langsung kembali memberikan serangan


"Bagaimana gentlemen, kapan kalian akan mengirim bantuan ke istana?"


Seorang gentlemen dengan bermodalkan keberanian segera berdiri dari kursinya dan menatap bergantian para keluarga terkuat dan terkaya di Francia itu


"Apa alasan kalian melakukan ini?"


Albert tersenyum culas dan Arthur langsung tersenyum penuh kehormatan dan kekuatan sambil menatap si pemberi pertanyaan


"Tentu saja karna kami....." Thomas menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, Charles tersenyum lebar sambil memejamkan matanya, Albert menyeringai. "Anjing dari Her Majesty Ratu Victoria, keluarga kami"

__ADS_1


Jawaban Arthur yang santai tapi penuh dengan aroma ancaman membuat para gentlemen duduk dengan gelisah, si pemberi pertanyaan langsung kembali duduk sambil membuka cravat-nya yang jadi terasa mencekik lehernya. Mereka berempat saling melirik dengan senyum kemenangan hingga Albert kembali mengambil alih keadaan


"Silahkan masukkan nama kalian yang akan mengirimkan kekuatan untuk istana. Kami tidak akan memaksa kalian"


Omong kosong! Mereka bukan hanya sudah memaksa tapi juga sudah mengancam. Jika mereka memilih untuk tidak ikut ambil bagian dan tidak mengikuti keinginan untuk mengirim bantuan, jelas sekali setelah ini keluarga bahkan wilayah mereka akan mendapatkan masalah. Ke empat pria yang memegang kuasa dalam perputaran politik dan perdagangan terbesar untuk perputaran ekonomi dalam Francia itu tidak akan melirik mereka lagi dan mungkin akan mengibarkan bendera permusuhan untuk mereka. Dan pemikiran itu membuat para gentlemen semakin duduk gelisah di kursi mereka, hingga seorang gentlemen yang sangat di kenal ke empat pria yang sedang berdiri di depan meja pemimpin maju ke depan dengan memegang stick namanya menuju kotak kayu suara.


Viscount Cornwell, sahabat dari mendiang Duke Arathorn maju tanpa ragu, tanpa perlu berpikir, tanpa ingin menunggu lama sambil tersenyum geli melemparkan stick namanya dengan kuat ke dalam kotak yang masih kosong. Sudut bibir Albert dan Arthur berkedut


"Terimakasih... Lord Aron."


Aron mengedipkan satu matanya pada Arthur dan Albert yang langsung di balas mereka dengan mengedipkan satu mata mereka. Setelah Aron kembali ke kursinya, kekehan geli seseorang dengan langkahnya yang menuju kotak suara membuat semua kepala langsung menoleh padanya. Duke Argentt.


"Saya akan mengirim semua kekuatan dari Duchy Argentt ke istana. Malam ini"


Albert menyeringai, seringai yang jelas menyimpan banyak cerita. Cerita yang tidak di ketahui orang banyak bahkan cerita yang hanya di ketahui istana. Dan seringai itu membuat dua iparnya yang sudah sangat mengenalnya kembali menatap Albert penuh selidik.


Setelah dua nama masuk ke dalam kotak, tidak perlu menunggu lama banyak kaki langsung ikut berdiri menuju kotak suara. Thomas, Charles, Albert langsung kembali ke kursi mereka setelah sebelumnya menarik kursi untuk Duke baru yang mulai dan semakin menunjukkan taring ciri khas Arathorn. Kelicikan dan kecerdasan yang memang sudah mengalir kuat dalam darahnya. Tinggal menunggu waktu untuk Arthur mencakari dan mengigiti semua perputaran alur perdagangan dan ekonomi di Francia


🍂🍂🍂🍂


"Well... Bagaimana rasanya memiliki anjing paling ganas di Francia, Ratu?"


Victoria mengedipkan bahunya dengan acuh dan melipat surat dengan rapih kembali.


"Mereka keluargaku bukan anjing, Your Majesty"


Satu alis Fredrick menukik tinggi dan menatap istrinya dengan lekat, istrinya yang langsung duduk begitu saja di atas pangkuannya tanpa basa basi


"Kelihatannya aku harus sangat berhati-hati untuk menjaga perasaan Ratu Francia, jika dia tersinggung aku bisa dalam bahaya"


Fredrick berucap sambil meringis dengan cara dramatis, dan itu membuat Victoria terkekeh sambil melingkarkan tangannya ke leher Fredrick


"Benar Your Majesty. Kau harus sangat hati-hati. Atau Ratu mu ini akan menendang wajahmu dengan cara tidak anggun"


Frederick terkekeh geli sambil membelai wajah istrinya. Kedua mata mereka saling menatap lekat, hati mereka saling berbagai perasaan yang hanya mereka yang tahu. Hingga Fredrick mendekatakan wajahnya dan memangut lembut bibir Victoria. Victoria langsung memejamkan kedua matanya sambil membalas dengan cara yang paling manis. Balasan manis yang selalu membuat Fredrick hanyut dan sanggup melenyapkan semua beban pikirannya hingga pusat pikirannya hanya berisi tentang Victoria, istrinya. Cukup lama mereka saling memberi dan menerima dalam pangutan memabukkan mereka. Hingga mereka yang sedang asik menikmati dunia mereka, tiba-tiba tersentak karna suara pintu yang terbuka dengan kuat

__ADS_1


"Ouch!! Sialan!"


Suara seseorang membuat Victoria langsung menarik wajahnya dan dengan panik segera berdiri dari pangkuan Fredrick, wajahnya memerah malu hingga menjalar ke telinga. Fredrick menatap tajam ke arah pintu, ke arah Edward yang sedang mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah yang sudah menoleh ke samping. Terus mengibaskan tangannya dengan dramatis seolah sedang mengusir serangga yang mengganggu wajahnya


"Apa kau tidak mengerti kenapa pintu dan tanganmu bisa di ciptakan brengsek?" Edward hanya diam dan dengan cara menyebalkan tetap mengibas-ngibaskan tangannya. Fredrick mengeram kesal. "Berhentilah mengibaskan tanganmu sialan!"


"Aku harus menyingkirkan dulu aroma kemesraan di sekitarku. Ini sangat menganggu"


Ucapan Edward membuat Victoria semakin malu hingga kepalanya tertunduk. Fredrick memutar bola matanya dengan malas


"Salahmu sendiri"


Akhirnya Edward berhenti mengibaskan tangannya dan menatap Fredrick sambil mencebik sebal, lalu menatap Victoria yang tertunduk malu. Satu pemikiran melintas di kepalanya dan dengan wajah yang sudah terlihat menyebalkan di mata Fredrick, dengan santai Edward berucap pada Victoria


"Maafkan saya Your Majesty, anda tidak perlu malu, saya sudah terbiasa. Bahkan dulu saya pernah menyeret langsung..." Edward melirik Fredrick yang langsung melotot padanya, Edward menyeringai menyebalkan. "Dua orang yang sedang......."


BRAK!


Edward langsung bergerak menghindar dan langsung terkekeh saat kepalanya hampir di sapa kuat kotak kayu penyimpanan surat. Fredrick dengan cepat melempar Edward yang hampir menyelesaikan ucapannya yang jelas akan membuatnya dalam masalah serius. Sangat serius karna bisa saja pintu penghubung kamarnya akan terkunci lagi malam ini.


Victoria berdehem beberapa kali untuk meredakan rasa malunya, meski dia cukup penasaran dengan kelanjutan ucapan Edward tapi dia memilih untuk mengabaikan dua pria yang sekarang saling melempar tatapan ancaman, tidak... sebenarnya hanya Fredrick yang terlihat sedang mengancam, sedangkan Edward terus terkekeh menyebalkan.


"Ada apa?"


Pertanyaa Fredrick membuat Edward langsung menghentikan kekehannya dan menatap serius wajah Fredrick dan Victoria


"Mereka mulai bergerak, Your Majesty"


Ucapan Edward membuat Victoria langsung menatap Fredrick, Edward dengan raut wajah semakin serius ikut menatap Fredrick


"Kumpulkan semua nanti malam, termasuk Duke Arthur"


\=\=\=💜💜💜💜


Ayukk jejakanya yukk

__ADS_1


Salam sayang semua


__ADS_2