
Ke dua kaki itu terus bergerak-gerak dalam ketidak anggunan yang di sebabkan oleh kepanikan. Tanganya yang ada di badan cangkir terus mer*mas-rem*s cangkir karna banyaknya pemikiran. Bibir kecil ranum itu selalu bergerak-gerak dan sesekali di gigiti.
Sambil menyenderkan tubuhnya di pinggir pintu Fredrick menikmati semua pemandangan itu, pemandangan indah dan menggemaskan tunangannya. Merasa sudah mulai gila, Fredrick segera bergerak semakin masuk ke dalam ruangan yang membuat fokus dua orang yang sedang duduk di kursi mengarah padanya.
Victoria menatap Fredrick dengan datar tapi tatapannya berubah tajam saat Fredrick semakin mendekat padanya. Dengan santai dan tidak tahu malu dengan cepat mendaratkan sebuah ciuman di pipinya. Aroma jantan dengan aroma wangi rambut Fredrick yang setengah basah, tidak berguna sama sekali di indra penciuman Victoria karna, seluruh syarafnya sekarang hanya terfokus pada keinginannya
"Tolong bawa aku menemui salah satu uncle ku Bash"
Tanpa basa basi, tanpa pemanasan dan tanpa ingin mengundur waktu. Victoria segera menyuarakan keinginan dan alasannya. Fredrick terkekeh geli dan menarik kursi di sebelah Victoria
"Tidak bisakah kita sarapan dulu, lalu minum teh pagi, mengobrol sebentar dan bermain dengan snow, Vic".
"Mana bisa!"
Suara meninggi yang terucap dengan atau tanpa di sengaja Victoria membuat Fredrick kembali terkekeh. Jeremmy hanya diam dan duduk manis di kursinya
"Kenapa buru-buru sekali hhm? ada apa?"
Pertanyaan Fredrick hanya di jawab Victoria dengan gelengan. Fredrick melanjutkan ucapannya
"Kau tahu jika aku tidak bisa membawamu sembarangan ke luar, apa lagi untuk bertemu keluargamu"
Dengan santai sambil mengangkat cangkirnya, Fredrick berucap tanpa memandang Victoria
"Tolong Bash.. apapun hadiah yang kau inginkan akan ku turuti. Apapun maumu akan ku berikan"
Jeremmy yang akan meneguk tehnya langsung tersedak dan terbatuk kuat. Entah apa yang ada di pikiran Victoria hingga mengatakan itu. Tidakkah Victoria sadar jika ucapannya sama dengan Seekor kelinci yang bersedia masuk sediri ke dalam mulut singa kelaparan. Di tengah-tengah suara batuk Jeremmy, Fredrick menatap Victoria dengan lekat dan membuka suaranya
"Apa ini sebuah undangan sayang?"
Victoria yang sepertinya baru paham ucapannya segera mencengkam gelasnya
"Tapi jangan permintaan yang aneh-aneh dan tidak bermoral"
Fredrick tergelak hingga hampir terjungkal dari kursi. Jeremmy yang sudah meredakan batuknya hanya bisa mengulum tawa. Victoria yang melihat situasi ruangan yang tampak bahagia mulai kesal karna, keadaan ruangan itu sekarang sangat berbanding terbalik dengan suasana hatinya. Victoria menarik nafas dalam beberapa kali dan merubah raut wajahnya, dengan tidak tahu malu meraih satu tangan Fredrick yang tidak menempel di perutnya yang pasti terasa geli karna dia masih tertawa.
"Ku mohon Bash.... ku mohon..."
Merasa tangannya di pegang dengan suara lirih yang mengikuti dan tatapan wajah yang memelas Victoria membuat Fredrick segera mengakhiri tawanya. Fredrick merubah raut wajahnya dan menatap Victoria dengan serius
__ADS_1
"Kau bilang akan melakukan apapun keinginan dan kemauanku kan?"
Victoria mengangguk ragu
"Aku minta jawabanmu"
Tangan Victoria yang tadinya dengan mantap menggenggam tangan Fredrick langsung mengendur. Fredrick yang merasakan jika tangan Victoria akan menjauh segera menggenggam tangan itu dan menatap Victoria dengan lekat
"Aku sudah tahu apa yang terjadi, semuannya Vic"
Victoria menegang karna terkejut, hingga tanpa sadar menggigit pipi dalamnya dengan kuat untuk mencoba tetap terlihat tenang. Fredrick melanjutkan ucapannya dengan nada suara yang berubah dingin
"Apa kau ingin ada pertumpahan darah?"
Victoria tidak bergeming dan Fredrick kembali membuka mulutnya
"Darah dari orang-orang tidak berdosa dan..." Fredrick mengeratkan genggamannya hingga cukup kuat. "Kami, kerajaan, tidak akan menerima negosiasi apa lagi ancaman. Kami akan menyerang balik dan melempar keluarga tersayanganmu dalam status..." Genggaman tangannya semakin menguat, rahangnya terkatup rapat hingga berdesis dingin dan tajam. "Pemberontak"
Victoria langsung mencoba menarik tangannya yang terasa sakit, genggaman tangan Fredrick tidak hanya membuat tangannya sakit tapi juga menghantarkan rasa teror. Dadanya bergemuruh takut, aliran darahnya terasa terhenti karna, kerajaan sudah tahu rencana keluargannya. pasti.
"Jangan...."
"Dan pilihanmu?"
Tanpa bisa di cegah, air mata Victoria tumpah. Meski sudah mencoba tenang dan menekan segala perasaannya tetap saja Fredrick yang terbiasa mengintimidasi berhasil mengirim rasa itu pada gadis belia di depannya. Tekanan dan ancamannya berhasil membuat Victoria menggigil. Kenangan masa lalu mengajarkan dan mengaduk segala keberaniannya dan segala pertahanan Victoria.
Jeremmy yang melihat situasi dan juga lirikan Fredrick untuknya, segera berdiri dan berjalan menuju ke luar pintu bilik ruang kerja Fredrick. Dia tidak di butuhkan dan kedua pasangan yang sedang begelut itu membutuhkan ruang pribadi.
"Bash..."
Meski perasaan Fredrick cukup terusik dengan wajah dan air mata Victoria tapi, dia menakan segala perasaan luluhnya. Dengan tegas kembali membuka suara
"Dan pilihanmu?"
Menarik nafas beberapa kali, mengucapkan doa singkat dan harapan Victoria akhirnya menjawab
"Tapi aku punya syarat"
"Aku yang memegang kendali Vic, bukan kau"
__ADS_1
Suara tajam tapi sedingin es Fredrick sempat membuat Victoria akan menyerah tapi, jika dia menyerah dan mengikuti, dia hanya akan berakhir menjadi boneka dan properti kerajaan. Karna itu Victoria kembali menegaskan diri untuk kembali membuka negosiasi
"Kau bisa melakukan apapapun padaku, kau bisa melakukan apapun keinginanmu padaku, kau bisa menggunakan aku semaumu, kau bisa membuangku kapanpun kau mau, asal..." Victoria menatap Fredrick dengan tegas. "Kau menerima syaratku"
Merasa cukup terhibur dan cukup tertarik untuk menggali isi pikiran tunangannya, Fredrick menatap Victoria penuh selidik
"Apa syaratmu?"
"Saat kita menikah, aku ingin ikut serta dalam hal-hal yang menyangkut urusan Albany"
"Hhmm... Lalu?"
Fredrick belum menjawab dan malah memberi pertanyaan tapi Victoria tetap membuka kembali suaranya
"Aku ingin, setelah kita menikah.." Victoria meremas gaunnya dan menatap Fredrick dengan tajam. "Aku ingin menjadi Her Majesty, bukan Her Highness"
Ucapan Victoria cukup membuat Fredrick terkejut dan langsung menyunggingkan senyum mencela
"Kau tahu apa yang kau ucapkan Vic?..." Kembali Fredrick meremas kuat tangan Victoria. "Langsung menjadikanmu Ratu berarti harus membuatku menjadi Raja. Sedangkan His Majesty masih sehat dan terlalu kuat"
"Aku tahu"
Jawab Victoria membuat Fredrick tersenyum culas
"Kau pikir, apa yang membuatmu merasa jika aku akan membunuh His Majesty agar bisa naik ke tahta, hanya karnamu hhmm?" Fredrick terkekeh dingin. "Siapa kau pikir dirimu Victoria?. Sedangkan sekarang, kaulah yang membutuhkan keselamatan. Aku sudah berbaik hati menawarkanmu penawaran yang halus, tapi, aku tidak jamin untuk keputusan kerajaan"
Ucapan penuh celaan Fredrick cukup membuat Victoria mendidih tapi, semua yang di katakannya benar. Tanpa perlu di jelaskanpun dia paham situasi dan keadaannya. Victoria sangat sadar siapa dirinya dan apa dirinya dan perasaan itu membuat Victoria memilih jalan lain. Victoria akan menggunakan cara pintas murahan untuk meluluhkan lawannya.
Melihat Victoria yang langsung menunduk dan tampak pasrah saja saat tangan Fredrick sebentar lagi akan meremukkan tangannya, Fredrick menyerah dan melepaskan genggaman erat tangannya lalu mendekat pada Victoria. Satu tangannya terangkat dan menarik ke atas dagu Victoria. Fredrick tersentak saat melihat wajah Victoria yang sudah basah karna air mata, dan pertahanan Fredrick runtuh, dia luluh. Fredrick tersenyum dan menyerah untuk sekarang
"Hei.. jangan menangis, aku tidak terlalu serius dengan ucapanku. Itu hanya perlawanan untuk ucapan berbahayamu"
Dengan cepat Victoria menarik wajahnya agar menjauh dari tangan Fredrick yang ada di dagunya
"Yang kau katakan semua benar Bash, aku hanya mencoba peruntunganku karna aku tidak ingin menjadi boneka ayahmu. Aku tidak ingin menjadi propertimu yang nanti akan kau gunakan saat kau perlu, dan saat kalian sudah tidak memerlukanku kalian akan membuangku dalam lubang ketidak berdayaan. Aku ingin hidup! aku ingin merasa hidup dan punya ke inginan hidup! aku ingin mempunyai tujuan hidup! setelah kalian membuangku nanti"
\=\=\=💛💛💛💛
Yuk bisa yuk tinggalin jejaknya...
__ADS_1
Salam sayang semua