
Keadaan pagi hari yang harusnya terasa indah dan tenang sepertinya sedang tidak berlaku untuk Edward yang sedang menatap Raja George di kamarnya, bahkan Raja George masih menggunakan piama tidurnya. Wajah bangun pagi yang harusnya segar itu kini menjadi tegang saat membaca sebuah surat yang baru datang pagi ini. Surat yang harus di sampaikan ketangan Edward langsung dan isinya harus segera tersampaikan ke pria yang paling mempunyai kekuasaan tertinggi di kerajaan Francia di depannya.
Raja George terus membaca surat itu berulang kali, sama halnya dengan semua kertas dan beberapa perklamen yang juga baru di dapatkan Edward pagi ini. Meski sedikit banyak Edward bisa menebak apa isi surat yang tersegel dengan stempel dari Ross itu, Edward tetap tidak bisa menilai pasti, apa yang ada dalam surat itu hingga membuat raut wajah tenang pria paling berkuasa itu tampak gugup. Merasa sudah terlalu lama melihat Raja George yang hanya diam dengan terus membaca segala kertas di mejannya, Edward membuka suara
"Your Majesty?"
"Ed...."
Tanpa merubah arah pandangnya Raja George mendorong ke pinggir meja segala isi mejanya. Edward yang paham segera mendekat dan meraih satu persatu kertas-kertas dan perklamen rahasia itu
Edward mulai membaca satu persatu
"Laporan keuangan rahasia Albany yang melonjak cepat"
"Pergerakan perdagangan rahasia berlian yang semakin cepat"
Edward mulai ikut gugup hingga harus meneguk ludahnya untuk bisa kembali bersuara
"Banyak bangsawan yang melakukan pertemuan rahasia"
Edward tercekat beberapa detik. Menarik nafas dalam lalu kembali mencoba membuka mulutnya kembali
"Beberapa orang yang terlihat mengamati..." Edward kembali meneguk ludahnya saat mulutnya terasa keluh. "Mengamati... Larina"
Tangan Edward terkepala dan kepalanya terasa menegang terlebih saat meraih surat yang juga di sodorkan Raja Geroge untuknya
"Mereka..." Nafas Edward terhenti. "Mereka meminta anda untuk datang ke parlement?"
Raja George tidak bergeming dan hanya diam menatap mejannya. Edward yang ikut menatap meja akhirnya, di tengah kemelut pikirannya mendapatkan sebuah pencerahan yang membuat kepalan tangangannya semakin menguat, sorot matanya menajam dengan rahang terkatup kuat hingga suaranya berdesisi tajam
"Kudeta"
"Belum"
Dengan suara tenang tapi arah pandang yang masih menatap meja, membuat Edward menatap raut wajah Raja George yang sudah sangat datar dan tidak terbaca hingga suara Raja George kembali terdengar
"Mereka ingin bernegosiasi dulu"
Setelah mengucapkan itu, kembali tangan Raja George mendorong sebuah kertas, Edward dengan cepat meraihnya
"Mereka mendekati kerajaan Vancia!"
Tanpa sadar Edward menaikkan suaranya, surat yang berisi laporan di tangannya membuat seluruh sel-sel darahnya mendidih.
Dengan tenang Raja George meraih kertas kosong dan membubuhkan tintannya lalu memasukkan surat ke dalam amplot dengan terpasang segel miliknya sendiri. Raja George tidak menanggapi keterkejutan dan kemarahan Edward dan menyodorkan surat yang baru di buatnya pada Edward
"Serahkan ini ke parlement"
"Anda akan hadir Your Majesty?"
Rasa khawatir membuat Edward sedikit panik, karna khawatir jika isi surat balasan itu adalah penerimaan Raja George untuk hadir ke rapat. Rapat parlement yang akan di hadiri oleh banyak bangsawan, rapat parlement yang akan melibatkan segala kekuasaan dan nama besar, rapat parlement dengan tema negosiasi dan rapat parlement dengan maksut melancarkan, ancaman.
Rapat dengan rencana awal menegosiasikan adalah hal yang tidak mungkin dapat mencapai semua keinginan, dan tentu akan berakhir dengan ancaman. Jika ancaman tidak berguna, serangan akan di ledakkan.
__ADS_1
Pikira yang berputar di dalam kepalanya membuat Edward pening, dengan gugup Edward meraih surat yang sudah melayang di depannya
"Sebar berita jika aku sedang sakit. Aku tidak bisa menolak langsung atau menerimanya juga, aku harus menghindar dulu atau, mereka akan menyerang"
"Your Majesty?"
"Sampaikan ini pada Fredrick sekarang, karna aku yakin jika surat seperti ini akan sampai pada Victoria agar..." Raja Geogre menjedah untuk membuang nafas panjang. "Jika tawaran Fredrick di tolak atau masih dalam waktu menunggu, Fredrick bisa mendesak dan membuat jawaban menjadi 'iya'. Dengan caranya sendiri"
Tanpa menanggapai perasaan Edward yang sedang berkecamuk, Raja George segera berdiri dan membunyikan lonceng untuk memanggil pelayan. Mengabaikan Edward yang masih mematung dan bergelut dengan segala perasaan tidak enaknya
--000--000--
Dengan tergesah-gesah dan terkesan panik, Diana membuka pintu kamar Victoria dengan kunci cadangan yang di milikinya. Setelah masuk ke dalam kamar, Diana menyimpan kembali kunci yang sudah di berikan nonannya agar tidak menganggu tidur nonanya yang sering bangun siang. Mengabaikan Grey yang sudah mendekat minta di sapa, Diana segera menuju ranjang Victoria.
Dengan sedikit kuat, Diana mengguncang bahu Victoria, memanggil namanya dengan lembut, untuk membangunkan nonannya dari dunia mimpi. Cukup lama Diana mencoba membangunkan Victoria hingga akhirnya, sambil menggerutu Diana menuntun Victoria untuk duduk di bibir ranjang
"Awas ya kalau surat ini ternyata tidak penting"
Diana tidak perlu menjawab ancaman Victoria. Karna, semua kekesalan Victoria segera lenyap dari raut wajahnya saat mulai membaca isi surat yang tidak bernama, tanpa segel stempel dan di berikan oleh orang aneh yang tiba-tiba saja menyelipkan dengan cepat surat itu ke dalam saku Diana.
"Oohh Tuhanku..."
Dengan tangan gemetar dan wajah yang terlihat syok, Victoria menutup mulutnya dan membiarkan surat itu terjatuh ke lantai. Diana yang penasaran tapi juga cemas dengan keadaan nonannya sekarang, segera meraih surat
Mata Diana membulat, tangannya gemetar hebat, perasaan takut dan ngeri segera menjalar di dalam dadanya. Harusnya, Dia tidak boleh tahu dan dengan lancang ikut membaca surat berbahaya itu
"Di...."
"Hancurkan surat itu di dalam air, dan cepat bantu aku. Kita harus ke istana barat sekarang"
Perasaan panik membuat Diana bergegas membantu nonannya yang tampak gugup dengan raut wajah penuh dengan pemikiran.
--000--000--
Dengan panik Jeremmy mengetuk kuat pintu kamar Fredrick, bahkan, suara yang terdengar sudah seperti dobrakan pintu. Jeremmy tidak berhenti, meski pelayan pribadi Fredrick sudah mengatakan jika Fredrick baru kembali dari berkuda saat dini hari. Cukup lama drama terjadi di depan pintu hingga akhirnya pintu di buka.
Wajah tidak bersahabat Fredrick menyambutnya. Saat Fredrick akan membuka mulutnya untuk memaki, Jeremmy dengan tidak tahu diri segera masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan Fredrick yang mengeryit bingung
"Ada surat Your Highness"
Fredrick yang mulai membaca situasi serius, terlebih wajah serius Jeremmy segera meraih surat. Selama Fredrick membaca surat, perasaan cemas Jeremmy semakin menjadi. Jelas itu bukan hanya surat biasa yang mempunyai stempel Ross yang sudah terobek. Surat itu di serahkan langsung oleh Edward padanya, sobekam stempel menjelaskan jika surat itu pasti sudah sampai duluan di tangan orang lain. Di tangan tujuan asli surat itu
"Jadi ini yang mereka rencanakan"
Suara Fredrick terdengar bebanding terbalik dengan situasi. Suara tenang dan raut wajah santai Fredrick membuat Jeremmy bingung
"Anda paham kan tentang isi surat ini Your Highness?"
Fredrick menatap Jeremmy dengan kesal
"Kau pikir aku siapa? apa aku ini bodoh?"
"Ahh... maaf Your Highness tapi isi surat ini...."
__ADS_1
"Aku tahu, panggil Mois sekarang, aku perlu bersiap untuk menyambut kedatangan tunanganku yang mungkin sedang dalam kepanikan"
Dengan alis yang berkerut dalam, perasaan bingung dan isi kepala yang tidak mengerti isi kepala Fredrick. Jeremmy segera keluar dan menjalankan perintah Fredrick
Setelah Jeremny keluar, dengan tersenyum lebar, Fredrick menunggu pelayan pribadinya datang.
Tok tok tok.
"Your Highness"
"Masuklah Mois"
Pelayan pria itu segera masuk dengan di ikuti Jeremmy dan langsung membantu Fredrick untuk membuka baju tapi,.
Tok tok tok
"Bash"
"Bash"
Tok tok tok
"Bash!"
Senyum Fredrick semakin lembar dan memberi perintah tidak kasat mata pada Jeremmy yang langsung membukakan pintu yang sedang di ketuk dengan membabi buta itu.
Saat pintu di buka, wajah manis dengan nafas memburu seorang gadis segera melangkah lebar mendekat padanya dengan keadaan tanpa memakai piama atasan
"Bash... aku...."
Belum sempat ucapan gadis itu selesai berucap, Fredrick segera mengangkat satu tangannya
"Sabar sayang, biarkan aku mandi dulu"
Bibir Fredrick berkedut saat ucapannya selesai, karna kedua mata Victoria langsung membulat dan dengan cepat segera memalingkan wajahnya. Sudah jelas, kepanikan Victoria tidak membuatnya memperhatikan sekitar, terlebih pada keadaan tubuh Fredrick yang sudah separuh tel*njang.
"Maaf kan aku.. aku akan menunggu di luar"
Dengan bibir yang terus berkedut geli. Fredrick segera menimpali
"Tunggu saja di sini bersama Jeremmy, tenang dan nikmati teh pagimu di mejaku, jangan panik"
Victoria mengangguk sambil menarik nafas dalam beberapa kali.
Jeremmy yang merasa mendapatkan perintah segera menuntun Victoria untuk menuju bilik ruang kerja Fredrick
\=\=\=💙💙💙💙
Silahkan tinggalin jejak kalian... di tombol like, komen, bintang dan lopenya..
Vote-nya juga jangan malu buat di sebar yaa..
Salam sayang semua
__ADS_1