
Pemakaman berlangsung tertutup. Victoria kembali hanya menatap dari jauh saat peti mendiang Elisabeth mulai menghilang masuk ke dalam kapel. Victoria membuang nafas panjang dan menarik tudung hitam karna mulai terasa mengganggu wajahnya.
Edward dengan setia mengikuti langkah Victoria. Sesekali dirinya melirik sekitar yang tampak hening dan sepi. Pemakaman tanpa protokol kerajaan yang sesuai permintaan Henry membuat pemakaman ini sama seperti pemakaman bangsawan biasa bahkan, si pemilik kerajaan juga tidak ikut hadir. Atau mungkin memang tidak sudi untuk hadir? Entahlah... Edward hanya berharap setelah semuanya ini, semuanya akan menjadi lebih baik, terlebih untuk Henry. Semoga anak malang itu bisa tetap kuat tanpa ibunya.
"Ed...."
"Iya Your Majesty?"
"Mungkin rencana untuk berlibur kita harus di tunda dulu, kita dalam masa berkabung"
Wajah Edward langsung merengut tidak suka mendengar ucapan Victoria. Dia yang sudah sangat tidak sabaran ingin bertemu kedua bayi Victoria sekarang harus menunda harapannya, terlebih dia sudah sangat ingin melihat desa indah yang pernah di ceritakan Jeremmy dan Carl. Hah! Dia jadi semakin sangat membenci segala hal tentang mendiang Elisabeth, bahkan setelah matipun wanita itu masih selalu membuat Edward kesulitan dan kesal.
"Ed..."
"Ahh... iya Your Majesty?"
Victoria tersenyum tipis saat menyadari jika Edward sedang bergumul dalam pemikirannya sendiri hingga tidak mendengarkan pertanyaannya
"Aku bertanya, apa kau sudah berhasil menemukan Lady Charlotte?"
Sambil melangkah pelan untuk terus mengikuti langkah Victoria, Edward menoleh pada Victoria dan menggeleng singkat
"Belum Your Majesty. Kami belum menemukan jejaknya di Vancia ataupun Francia"
Senyum tipis kembali tercetak di bibir Victoria
"Jangan sebut nama 'Vancia' di depan Fredrick, kau tahu bagaimana bencinya dia dengan nama itu, dia akan marah padamu"
Ahh benar... Vancia sekarang sudah menjadi Francia, sudah menjadi kerajaan Francia. Kerajaan yang hampir beratus tahun menjadi musuh Francia itu akhirnya sudah menjadi milik Fredrick. Edward terkekeh geli dan kembali menoleh pada Victoria.
"Apa anda tahu impian-impian terbesar His Majesty, Your Majesty?"
Ucapan Edward membuat Victoria menjadi tertarik hingga wajahnya terlihat sangat antusias
"Apa Ed?"
Edward kembali terkekeh dan menatap Victoria dengan tersenyum hangat dan tatapan lembut
"Ada dua Your Majesty. Yang pertama, bisa memiliki kerajaan Vancia. Dan yang kedua, bisa memiliki bayi kembar"
Hati Victoria menghangat. Ternyata impian-impian terbesar suaminya sudah tercapai. Edward pun tidak jauh berbeda, hatinya bergetar hingga matanya berbinar bahagia. Edward kembali menatap Victoria
"Tapi dari semua itu..." Victoria kembali menoleh pada Edward yang kembali tersenyum hangat padanya, sorot matanya menunjukkan kelembutan yang tidak pernah tebayangkan oleh Victoria. Ternyata seorang Edward bisa memiliki sisi hangat dan kelembutan "Anda adalah impian terbesarnya, Your Majesty. Anda adalah impian terindah dalam hidupnya. Impian yang sudah merubah hidupnya menjadi cerah kembali"
Victoria hanya bisa membalas Edward dengan tersenyum hangat dan bahagia. Perkataan Edward membuat hatinya ikut berbahagia karna, jika Fredrick bahagia, maka dia akan ikut bahagia.
"Terimakasih Ed"
Edward menatap Victoria dengan bingung
"Untuk apa Your Majesty?"
Victoria hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya tanpa berniat menjawab Edward. Edward yang sekarang sedang berputar-putar penuh tanda tanya
🌺🌺🌺🌺
Di sebuah rumah sederhana dengan perkarangan yang asri, udara yang sejuk penuh penuh aroma wangi bunga dan sesekali udara yang sejuk menghantarkan aroma manis ke indra penciuman semua orang di sekitar sana. termasuk dua orang pria paruh baya yang sedang menikmati teh sore mereka.
Mereka masih saling menikmati pemandangan dalam diam, sesekali mereka saling melirik untuk melihat penampilan mereka karna, memang sudah cukup lama mereka tidak bertemu dan mengobrol langsung. Selama ini mereka hanya bisa mengobrol dan saling memberi cerita dari surat-surat rahasia mereka.
Semilir angin kembali menerbangkan rambut kedua pria paruh baya itu. Sesekali rambut hitam pekat yang sudah mulai memutih di kedua sisi kepalanya berterbangan menutupi kedua matanya. Sesekali angin berhembus dan membuat rambut coklat terang pria lain di sana bergerak berantakan.
"Apa kabarmu?"
__ADS_1
Akhirnya, suara pertama terdengar dari pria paruh baya yang memiliki surai pekat. Kedua bola matanya menerawang jauh menatap jendela yang terbuka lebar.
"Ck! basa basi sekali kau"
Pria dengan surai coklat terang berdecak tidak suka dan tampak terlihat malas untuk mengikuti basa basi busuk yang baru coba di mulai. Pria dengan surai hitam terkekeh geli
"Ayolah Albert kita perlu basa basi, sudah lama kita tidak minum teh bersama" Pria dengan surai hitam menjedah dan mengeratkan mantelnya. "Kita hanya bisa berkomunikasi dengan surat setelah semua itu"
Albert mencebik tidak suka dan mulai meraih cangkir tehnya, sambil melirik lawan bicaranya.
"Seperti yang kau lihat"
Mata pria dengan surai hitam mengerling menyebalkan
"Masih licik dan licin seperti biasa?"
"Katakan itu pada dirimu sendiri tua bangka!"
"Hei! kau juga sudah tua bangka sialan!"
Kekehan geli terdengar dari mulut ke dua pria itu. Albert kembali meletakkan cangkirnya dan menatap lawan bicaranya dengan dalam
"Bagaimana kau? apa sudah sehat sepenuhnya?"
"Ohh... kau khawatir padaku ternyata... Aku sangat tersentuh sahabatku"
Albert hanya diam dan masih memandang lawan bicaranya dengan dalam tanpa berminat membalas godaan yang tertuju pada ucapan tulusnya, dan berucap
"Bagaimana sekarang? apa kau bahagia?"
Tangan pria dengan surai hitam terulur untuk meraih biskuit kejunya sambil tersenyum hangat
"Tidak pernah sebahagia ini, dan sebentar lagi, aku akan jauh lebih bahagia"
"Tentu saja. Kau sebentar lagi akan menjadi nanny dan pengajar seperti impianmu. Bahkan tanpa beban lagi. Sialan kau memang!"
"Kau benar, aku sudah tidak sabar untuk melihat mereka tumbuh nanti. Lalu menjadi nanny dan pengajar mereka"
"Dasar pria tua bangka dengan impian rendah!"
Alih-alih tersinggung atau marah dengan ucapan bercanda Albert, pria itu malah terbahak kuat. Albert kembali menatap pria paruh baya itu dengan dalam.
"Aku sungguh-sungguh, apa kau sudah lebih baik sekarang?"
Pria itu kembali tersenyum hangat dengan kepala mengangguk
"Sudah... Thanks God! aku belum sempat mati karna racunku sendiri"
"Kau memang bodoh!"
"Hei! aku melakukan itu karna menurutimu!"
Albert terkekeh geli dan menatap ke luar jendela, tidak lama raut wajahnya berubah serius
"Menurutmu, apa yang harus ku lakukan dengan Charlotte?"
"Apa dia sudah kau pastikan tidak akan bisa di temukan?"
Kepala Albert mengangguk singkat
"Iya. Aku sudah menempatkannya di tempat yang tidak akan bisa di temukan orang istana"
"Apa kau menyembunyikannya di tambang Albany?"
__ADS_1
Albert langsung menoleh untuk menatap lawan bicaranya
"Dari mana kau tahu?"
Dengan acuh, pria itu mengedipkan bahunya dan menyenderkan punggungnya ke kursi
"Karna hanya tambang itu tempat yang tidak akan di ketahui keberadaannya"
"Well... termasuk kau kan George?"
Pria dengan surai hitam itu, George, mencebik sebal saat mendengar ejekan dan wajah menyebalkan Albert
"Ayolah.. katakan padaku di mana itu? di mana sebenarnya kau dan William menyembunyikan tempat itu?"
Albert enggan menjawab dan hanya tersenyum licik pada George. Akhirnya George hanya bisa pasrah dan kembali menikmati keheningan sejuk mereka hingga suara Geogre kembali memecah keheningan
"Kau harus menjauhkan Charlotte segera Al. Jika dia tertangkap, aku takut Charlotte akan melakukan hal bodoh, aku tidak ingin Victoria menjadi pembunuh kakaknya sendiri. Wanita yang sedang di butakan cinta dan dendam seperti Charlotte akan terus kehilangan akal sehatnya"
"Aku tau George, tapi sekarang aku belum bisa mengeluarkannya, seluruh Francia sedang mencarinya..." Albert kembali menatap George "Aku khawatir dengan Arthur, apa aku harus membuka semuanya? bagaimanapun juga dia pemilik Albany sekarang"
George yang sangat paham kekhawatiran Albert langsung menggeleng kuat
"Jangan katakan apapun secara mendetail Al, jangan buka cerita tentang masa lalu kecurangan William yang menjadi penyebab terbaliknya ekonomi Francia dan membuat kelaparan di seluruh ibu kota. Terlebih tentang penyebab kematian masal karna kelaparan beberapa tahun lalu. Biarkan semua tetap menjadi rahasia kita, hanya kita berdua. Jika dia tahu, dia akan kecewa pada William dan itu akan merusak masa depannya" George membuang nafas panjang dan menatap Albert dengan raut wajah penuh kesedihan. "William sudah menebus segalanya dan meminta kita untuk menjaga dan membahagiakan semua anaknya. Jadi, biarkan masa lalu tetap menjadi masa lalu, nama Arathorn harus tetap terhormat seperti sekarang"
Albert membuang nafas panjang dan meraih cangkir tehnya. Benar apa yang di katakan sahabatnya itu, Arthur bisa terpuruk dan mungkin bisa saja fakta tersembunyi mengerikan itu akan sampai pada anak-anaknya yang lain, terlebih Victoria. Dia tidak ingin membanyangkan bagaimana perasaan kecewa dan hati hancurnya Victoria saat tahu siapa penjahat yang sesunguhnya. Lagipula, kakaknya sudah menyesali segalanya dan sudah membayar semua dosanya dengan berakhir di tebasan pedang Edward. Geogre melirik Albert yang tampak berpikir keras, dengan tenang George mencoba mencairkan suasana lagi
"Oiya... aku dengar mereka akan kemari, tapi kenapa mereka belum sampai Al?"
"Kau benar-benar seperti pria mati George, apa kau tidak tahu jika pelacurmu sudah mati bunuh diri?"
"Hah?"
Albert memutar bola matanya dengan malas dan mengabaikan wajah terkejut George
"Bagaimana dengan Henry?"
Albert melirik raut wajah George yang tampak sedih. Well... walau bagaimanapun juga, Henry hanya anak tidak berdosa yang terlahir dari dosa kedua orang tuanya dan selalu di manfaatkan oleh ibunya.
"Entahlah George, berdoa saja anakmu yang lain akan terketuk pintu hatinya"
George hanya diam dan kembali menarawang jauh ke luar, sangat jauh.
"Besok hari ulang tahun Rose, Al. Aku merindukannya"
Albert mengikuti arah pandang George sambil menepuk-nepuk bahu tua George, mencoba memberikan kekuatan pada sahabatnya itu
"Jangan lagi George, jangan lagi menyiksa dirimu. Wanita baik seperti Rose pasti sudah di terima Tuhan di sisiNya. Dia sudah bahagia dan semakin bahagia sekarang. Dia juga pasti sudah memaafkan masa lalu. Ayo sekarang kita fokus pada masa sekarang dan masa depan.." Albert terkekeh geli. "Terlebih pada pekerjaanmu nanti yang akan menjadi nanny dan pengajar cucu-cucumu"
George ikut terkekeh dengan mata berkaca-kaca
"Aku berharap kebahagiaan selalu menyertai kita semua"
Kepala Albert mengangguk-ngangguk dramatis
"Tolong dengarkan doa tua bangka yang sudah mati ini, Tuhan"
Dan mereka kembali terkekekeh geli bersama. Dua sahabat yang akhirnya bisa kembali itu akhirnya bisa menikmati kembali pertemuan mereka.
\=\=\=❤❤❤❤
Surprise!!!!!
Banyak ya jebakan badman-nya di sini. lol
__ADS_1
Ayukk jejaknya yukk
Salam sayang semua