
Dengan raut wajahnya yang sudah bisa kembali di atur Victoria dengan baik. Victoria kembali tersenyum tipis
"Benar Your Majesty"
Tanpa keraguan, tanpa berbasa basi dan tanpa ingin berkilah, Victoria menjawab jujur pertanyaan Ratu Elisabeth
"Dan apakah kau pikir aku akan memberikan apa yang kau inginkan Putri?"
Masih dengan tanpa keragu-raguan Victoria menjawab dengan kejujurannya
"Saya tidak juga terlalu berharap tapi, tidak ada salahnya untuk mencoba Your Majesty"
Victoria menatap Ratu Elisabeth yang sekarang mengibaskan tangannya. Memberi tanda pada pelayan yang mengekori mereka untuk pergi. Dan, tinggal lah mereka berdua sekarang. Tanpa bicara Ratu Elisabeth berjalan semakin ke depan, Victoria hanya mengikuti langkah dari belakang hingga Ratu Elisabeth menghentikan langkahnya di depan jendela kaca dinding yang mengarah pada pemandangan istana. Istana tampak terlihat indah dan kecil dari sana
"Istana Rembrantd" Victoria mengikuti arah pandang Ratu Elisabeth yang menatap dalam pemandangan istana. "Aku akan menceritakan padamu bagian sedikit dari sejarah tersembunyi istana"
Bola mata Victoria berkilap antusias dengan senyum lembar yang langsung tercetak di bibirnya. Ratu Elisabeth yang melihat wajah Victoria mengeratkan tautan di tangannya dan mulai membuka mulutnya.
"Seperti yang pasti sudah kau pelajari dalam pelajaranmu Putri. Jika Mendiang Ratu Rosemary adalah anak dari mendiang Duke Edinburgh. Ayah kami.." Ratu Elisabeth menarik nafas dalam lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Ayahku mempunyai dua putri, sama seperti yang sejarah buka secara umum tapi, yang tidak sama dalam sejarah tertutup adalah, Kedua putrinya masih hidup saat putri pertamannya di pinang kerjaan. Namaku di nyatakan meninggal karna wabah cacar tapi yang sebenarnya adalah. Seperti yang kau lihat sekarang, aku di sini. Ayahku dan kerjaan melakukan itu untuk menyembunyikan riwayat hubunganku dengan His Majesty sebelum pernikahannya"
__ADS_1
Victoria meneguk ludahnya dengan ikut mengeratkan tangan yang bertaut di depan perutnya. Ratu Elisabeth melirik Victoria dan tersenyum tipis lalu kembali menatap pemandangan istana dengan suaranya yang kembali terdengar
"Benar Putri... Aku dan George adalah sepasang kekasih, awal kami bertemu saat George berumur empat belas tahun dan aku sembilan tahun. Kami kembali bertemu saat pesta debut ku, lalu kami menjalin hubungan beberapa tahun. Hingga Ayahku, memberikan kakakku untuk kerajaan, lebih tepatnya karna pilihan mendiang Raja David. Ayah George" Tangan Ratu Elisabeth terulur menyentuh dinding kaca, dengan kerindungan di kedua matanya yang sangat terihat jelas. "Saat itu, George mencoba memberikan penolakan keras untuk pernikahannya karna dia menginginkan ku bukan kakakku. Terus menerus berlanjut hingga mengusik kemarahan Mendiang Raja David. Ancaman dan teror terus di berikan untuk kami berdua hingga akhirnya, aku memilih menyerah pada keadaan dan membiarkan kakakku untuk memilikinya, mengikatnya dalam pernikahan. Tapi itu tidak berlangsung lama karna, setelah setahun pernikahan itu dan Rose yang akhirnya mengandung, George mencariku, memohon pada nama wanita yang sudah mati ini untuk kembali kepadanya. Awalnya aku memang menolak, karna aku memiliki kehormatan seorang wanita tapi... " Kekehan halus meluncur dari bibir Ratu Elisabeth. "Cinta memang buta dan bodoh. Aku luluh dan menyerah padanya. Kami akhirnya kembali bersama, melanjutkan hubungan terkutuk kami. Terus berlanjut menjalani dosa kami hingga Pangeran Fredrick menginjak usia lima tahun. Dan Henry berumur tiga tahun. Rose mengetahui semuanya"
Victoria hanya diam dengan terus memasang telinga lebar-lebar. Lalu mengikuti langkah pelan Ratu Elisabeth menuju ke kaca besar lain dengan masih menampilkan pemandangan istana. Suaranya kembali terdengar.
"Setelah mengetahui hubungan kami, kehidupan pernikahan mereka jelas menjadi kacau. Beberapa kali Rose datang dengan awalnya yang memohon agar aku pergi dan berakhir dengan terus mengamuk padaku. Segala cacian, hinaan dan makian selalu ku dapatkan tapi, aku terlanjur memberikan segalanya dan kehilangan segalanya karna George, kami juga sudah memiliki Henry. Jika aku tidak bertumpu pada George, aku tidak mempunyai siapapun lagi. Itu adalah ketamakan seorang wanita muda yang baru saja kehilangan ayahnya, ayahnya yang secara tidak langsung membuangnya. Karna merasa lelah dengan tekanan Rose, kami kembali membohongi hati kami sendiri dan menyerah" Helaan nafas panjang terdengar dari mulut Ratu Elisabeth sebelum dia melanjutkan. "Yang ku dengar saat perpisahan kami, George berubah menjadi Raja berbeda. Dia selalu tampak kacau dan hanya terus terfokus pada kerajaan tanpa peduli dengan pernikahannya, secuilpun tidak" Ratu Elisabeth menatap Victoria. "Apa kau punya pertanyaan Putri?"
"Saya... saya tidak tahu Your Majesty"
Ratu Elisabeth mengangguk maklum dan kembali melanjutkan ceritanya
Victoria mengeryit heran. Ratu Elisabeth yang menyadari kebingungan Victoria tersenyum berat dengan kedua mata berkaca-kaca
"Aku sangat ingat apa yang Rose katakan padaku saat itu. Dia mengatakan jika dia sebenarnya sudah lama tahu jika kami kembali bersama tapi, dia sudah pasrah dengan nasipnya, karna itu dia menawarkan agar aku menempati tempat indah ini" Kedua bola mata sebiru laut Ratu Elisabeth menatap langit-langit megah Castel yang berlukiskan dan terukir gambaran malaikat-malaikat surga. "Dia mengatakan jika dia adalah seorang Ratu dan bukan hanya seorang istri. Dia sudah mengerti posisi dan sumpahnya. Dia hanya ingin yang terbaik untuk kerajaan karna ketika kami kembali bersama, George selalu berubah menjadi pria yang baik dan tenang kembali. Rose ingin itu selalu tetap terjaga demi kerajaan dan, hatinya lah yang harus siap dia korbankan, dia tidak akan mengeluh dan menangis lagi karna, dia adalah seorang Ratu" Wajah Ratu Elisabeth menoleh pada Victoria dan memandangnya penuh makna. "Meski di atas kepala kami memakai mahkota kekuasaan dan kerhormatan tertinggi, tapi untuk itu semua juga, si pemilik mahkota harus siap mengorbankan apapun termasuk kebahagiaannya. Cinta adalah sebagian kecil dari banyak hal yang harus siap di korbankan pemilik mahkota"
"Itulah yang di katakannya padaku Putri"
Dengan tenang Victoria mengangguk dan akhirnya menyuarakan isi kepalanya
__ADS_1
"Jadi, mendiang Ratu Rosemary menyerah dengan pernikahannya?"
Ratu Elisabeth menggeleng yang membuat isi kepala Victoria penuh tanda tanya
"Rose tidak pernah menyerah hingga akhir. Dia yang sudah mengerti makna pernikahan sesungguhnya mengatakan, Saat seorang suami berbuat dosa dan melakukan hal tidak bermoral, berarti saat itu seorang suami sedang dalam keadaan 'kekurangan'. Kekurangan moral dan sedang di jalan yang penuh dengan kegelapan. Dan dia sebagai istri tidak boleh mengabaikan itu, sudah tugasnya untuk membimbing dengan setia suaminya hingga kembali 'berkecukupan'...." Menyadari jika wajah Victoria sudah menjadi bingung, Ratu Elisabeth meraih tangan Victoria dan menggenggamnya dengan lembut. "Pada waktu berkecukupan dan kekurangan. Ingat sumpah pernikanmu Putri?"
Victoria tidak bergeming dan hanya diam dengan tangan yang ada di dalam genggaman Ratu Elisabeth.
"Apa kau tahu Putri, jika aku sangat menyukaimu?" Dengan memaksakan senyum Victoria menggeleng singkat "Aku mengerti kenapa George memilihmu, terlebih, mental dan cara berpikirmu memang spesial"
"Anda terlalu memuji Your Majesty"
"Tidak, itu kenyataan. Dan karna itu aku ingin mengatakan ini....."
Alis Victoria bertaut dan menatap Ratu Elisabeth yang sudah menatapnya dengan padangan yang tidak bisa di jelaskan Victoria
\=\=\=💜💜💜💜
Jejaknya yukk
__ADS_1
Salam sayang semua✨