
Charlotte melompat dari punggung kudanya saat sudah sampai ke depan gerbang istana Royal. Dirinya mengingkari jajinya pada Marco agar tetap sembunyi dan diam hingga Marco menjemputnya untuk kembali tapi, di sinilah dia sekarang.
Langkahnya terus berjalan menuju ke dalam halaman istana yang tampak sangat hening dan tidak di jaga. Charlotte terus masuk dan saat kakinya sudah masuk ke dalam pintu istana yang terbuka lebar, isakan pelayan mengisi semua suara di dalam. Warna merah tercetak di semua sisi, warna merah mewarnai lantai dan karpet, warna merah yang masih segar terus menggenang. Charlotte tercekat dan dengan menahan rasa mualnya saat aroma amis dan besi menguar di udara, langkahnya yang mulai lemas langsung menuju ke tangga, tangga yang menuju kamar utama, kamar Raja dan Ratu Vancia. Dan benar ketakutannya, ketakutannya sangat nyata, aroma amis dan bersi semakin kuat dan semakin berputar-putar di udara, di sana penuh dengan warna merah dan tubuh yang berserakan bagai sampah, mengotori dan menghadang setiap langkahnya.
Rasa mual Charlotte semakin menjadi, pelipisnya mulai basah menahan mual, nafasnya mulai terasa berat. Dengan memaksakan diri dan memaksakan harapan di tengah semua rasa takutnya, Charlotte menuju kamar Raja Jarvis. Calon mertuannya yang sudah sangat baik padanya.
Telinga Charlotte semakin menangkap suara tangisan dan isakan pilu di sekitar kamar Raja Jarvis. Dengan menguatkan diri sekuat tenaga, Charlotte mengabaikan semua kebisingan tangisan dari para pelayan. Tangannya terulur untuk mendorong pintu kamar Raja Jarvis yang sudah terbuka sedikit. Kaki Charlotte bergerak pelan dan gemetar. Saat tubuhnya masuk dan kedua bola matanya bisa melihat dengan jelas isi kamar. Air matanya langsung tumpah, isi perutnya bergejolak hebat, kakinya semakin gemetar hingga Charlotte harus menopang tubuhnya ke dinding.
Isi kamar terlihat rapih dan terlihat tidak ada yang aneh kecuali, tubuh Raja Jarvis yang sudah di tidurkan di ata ranjang dengan rapih, tubuh tanpa kepala.
Gejolak hebat di dalam perutnya membuat Charlotte langsung memuntahkan cairan bening, nafasnya sesak, arah pandangnya buram, tubuhnya gemetar hebat dan semakin hebat. Charlotte ingin menangis dan menjerit, Charlotte ingin marah dan memaki tapi, yang bisa di keluarkan dari mulutnya hanya muntahan cairan bening.
Ini terlalu mengerikan untuknya, terlalu mengejutkan untuknya, terlalu menyakitkan untuknya terlebih, saat pikirannya memikirkan bagaimana nasip tunangannya, Marco. Dengan bibir basahnya yang terus muntah di atas lantai, Charlotte terisak lirih
"Kenapa...???"
---000---
"Kenapa anda masih membiarkannya hidup Your Majesty?"
Edward bertanya sambil mengikuti langkah Fredrick yang baru saja melihat keadaan Carl dan kesatria lain yang terluka termasuk Jeremmy, kesayangan Fredrick.
"Siapa?"
"Ck! tentu saja pangeran Marco. Memang siapa lagi yang masih hidup"
"Oh..."
Edward kembali berdecak saat Fredrick jelas menunjukkan ketidak inginannya untuk menjelaskan ataupun menjawab pertanyaan.
Langkah Fredrick terus bejalan hingga akhirnya penjaga pintu ruang rapat membungkuk padanya dan membuka pintu. Ruang rapat sudah di isi penuh oleh semua petinggi rapat dan juga para 'anjing'.
__ADS_1
Mereka segera berdiri dari kursi dan membungkuk pada Fredrick. Edward menarik kursi pemimpin dan dengan santai Fredrick segera duduk dan mengangguk sekali, yang membuat semua pria di sana langsung ikut duduk.
Dengan tenang Fredrick menatap semua wajah di sana, wajah yang menunjukkan kemenangan tapi juga kekhawatiran
"Aku menyerahkan pada kalian untuk mengatur Vancia"
Steven mengangguk dan mulai membuka suara
"Anda ingin Vancia menjadi seperti apa, Your Majesty?"
Kedua bahu Fredrick mengedip acuh dan menatap Steven dengan santai
"Vancia adalah Francia"
Tiga kata dari Fredrick langsung membuat semua kepala di sana berdenyut kuat. Ohh.. ini akan menjadi pekerjaan yang sangat melelahkan dan sangat berat. Mereka butuh kejelasan dan arah untuk memulai, tapi mereka tidak berani untuk bertanya ketika Fredrick yang memimpin rapat. Karna itulah mereka lebih suka jika Ratu mereka yang memimpin rapat. Ratu mereka berpuluh kali lebih baik dan bisa di ajak berkompromi. Walaupun Ratu mereka terkadang kejam dan tajam tapi Ratu mereka akan tetap bersedia mendengarkan dan membantu mereka untuk memutar otak. Ck! Tidak seperti Raja mereka yang tidak bisa di ajak berkompromi. Keputusan, rencana dan perintahnya tidak bisa sedikitpun di ganggu gugat, bahkan hanya sekedar untuk menyuarakan pendapat, mereka tidak akan berani
James langsung melonggarkan cravat-nya yang terasa mencekik. Sepertinya setelah ini dia akan tinggal di kamar istana selama berbulan-bulan, pekerjaan mereka sekarang bukan hanya mengurusi perputaran di sebuah wilayah, tapi juga sebuah kerajaan, Kerajaan yang bahkan dua kali lebih besar dari Francia! Sialan memang!
"Apa ada bantahan? pertanyaan? atau keluhan?"
Sialan memang! Fredrick memang sangat menyebalkan. Tentu saja mereka tidak akan berani mengatakan penolakan ataupun hanya sekedar menyuarakan keluhan mereka. Dan Edward yakin jika di dalam hati masing-masing para petinggi sekarang sedang memanggil-manggil nama Victoria untuk meminta pencerahan dan pertolongan.
"Jika tidak ada halangan berat, aku dan Her Majesty akan pergi berlibur untuk waktu yang cukup lama. Jangan ganggu kami jika tidak sedang dalam keadaan 'mematikan'..."
Kan benar... Fredrick memang sangat menyebalkan. Sehabis dirinya memberikan perintah pekerjaan berat yang sangat sangat berat, Fredrick malah mengumumkan jika dia akan berlibur. Jika saja Fredrick bukan seorang Raja, sudah pasti seseorang akan langsung memakinya atau mungkin langsung melemparnya dengan cangkir teh panas spesial. Wajah Fredrick sangat mengundang untuk di pukul
---000---
Calista kembali menoleh ke arah istana saat kakinya sudah berdiri di depan kereta kuda. Wajahnnya tampak sedih dengan air mata yang mulai berlinang. Dia sudah kehilangan segalanya dan sudah habis tidak bersisa. Kebaikan Victoria untuk melepaskannya dari hubungan istana membuatnya ingin marah tapi juga tidak bisa berbuat apapun. Bahkan Fredrick, yang terikat janji dengan mendiang Ratu juga sampai sekarang tidak peduli padanya. Rasa sesaknya semakin menjadi saat mengingat perkataan Victoria tentang 'anak'. Satu kata yang sangat di inginkannya untuk bisa hadir kembali di perutnya, hadir karna benihnya dan benih pemilik hatinya. Tapi, harapan hanya tinggal harapan. Mimpi hanya tinggal mimpi. Semuanya sekarang sudah Calista pahami dengan baik, jika semua itu sudah mustahil terjadi lagi.
"Lady...."
__ADS_1
Suara Isac membuat Calista mengusap kasar pipinya dan memaksakan senyumnya pada Isac
"Iya Isac, aku siap"
Isac mengangguk singkat dan kembali membawa Calista untuk masuk ke dalam kereta kuda. Membawa seorang wanita yang setelah ini harus hidup tanpa mimpi dan harapan, bahkan namanya saja sudah hancur dan rusak tidak bersisa di mata bangsawan. Kalangan ton, pasti sudah siap untuk mencabiknya dari balik kipas mereka jika Calista berani muncul di antara mereka.
Calista kembali menatap istana saat jendela kereta kuda sudah di bukanya. Ingatannya juga kembali pada permintaan Victoria untuk 'hiduplah dan berbahagialah'. Tiga kata yang entah bagaimana akan bisa di milikinya.
Kereta mulai berguncang saat kaki kuda mulai bergerak. Sekali lagi, air mata Calista tumpah sambil terus menatap ke arah istana
"Selamat tinggal Fred... Aku akan selalu mencintaimu, selamanya... dan akan mencoba hidup berbahagia, meski aku tidak tahu bagaimana caranya"
---000---
Terjadi keributan di sudut paling sudut istana utama. Pintu tebal sebuah kamar sedang coba di dobrak atau mungkin sedang akan di hancurkan lima orang pria. Henry dengan perasaan kalut dan juga cemas terus mendorong dan terus mencoba menghancurkan pintu kamar, pintu kamar ibunya. Hingga akhirnya pintu itu terbuka.
Pemandangan di dalam kamar sangat kacau, semua berhamburan dan hancur. Henry dengan panik meneriakan dan memanggil-manggil ibunya ke segala penjuru kamar hingga tangannya berakhir membuka pintu kamar mandi. Semua pelayan terbelalak terkejut, para pengawal segera memutar tubuh mereka saat melihat sesuatu menggantung dan tergantung di tengah-tengah kamar mandi tanpa menggunakan sehelai benangpun di tubuhnya
Lutut Henry melemas dengan arah pandangnya yang langsung buram. Dengan mengerahkan segala kekuatannya yang sudah sangat lemas, Henry menarik sebuah kursi untuk menurunkan sesuatu yang menggantung itu. Tubuh telanj*ng Elisabeth. Di tengah rasa terguncangnya, Nina menguatkan dirinya untuk mengambil seprai dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Henry hanya bisa menangis pilu sambil memeluk tubuh dingin dan biru ibunya yang sudah tidak bernyawa lagi. Tangisannya membuat kesedihan semua telinga yang bisa mendengar.
Dengan air mata yang terus meluncur, Nina menyelimuti dan menutupi tubuh dingin nyonyannya. Kedua mata Elisabeth melotot dengan lidahnya yang terjulur. Sungguh, wajah Elisabeth sangat menakutkan untuk di ingat tapi, sangat menyakitkan untuk Henry.
"Kenapa ibu... kenapa kau meninggalkanku? kenapa?? Ibu..."
Henry terus terisak sambil mendekap erat tubuh dingin Elisabeth, perasaannya hancur serasa berkeping-keping, hatinya serasa remuk tanpa ampun. Mungkin seperti ini perasaan yang di rasakan kakaknya saat mendiang Ratu pergi meninggalkan Fredrick? mungkin seperti ini hancurnya saat Fredrick mendekap tubuh tidak beryawa ibunya? Dan pemikiran itu membuat hati Henry semakin di hujami beribu panah. Lalu bagaimana setelah ini? bagaimana ibunya setelah ini? Apa dosa ibunya bisa di maafkan? Apa Tuhan akan menerima ibunya di sisiNya? Dan lalu.... setelah ini Henry harus bagaimana tanpa ibunya? Henry harus hidup bagaimana melewati hari tanpa ibunya? Henry sudah tidak memiliki apapun dan siapapun, dia hanya anak haram yang sekarang sudah di abaikan satu-satunya keluarga yang dia miliki setelah ibunya pergi, kakaknya yang sudah membencinya....
\=\=\=🎀🎀🎀🎀
Ayukk jejaknya yukk
__ADS_1
Salam sayang semua