
Semua bangsawan yang terlibat dan memang di libatkan sudah duduk di kursi ruang rapat istana. Walaupun dengan perasaan berat, mereka mau tidak mau harus menanggapi undangan dari Putri pendamping kerajaan, calon Ratu pendamping masa depan kerajaan mereka. Dengan gelisah, tenang dan penasaran mereka menunggu kedatangan si pemberi undangan.
Tidak lama, pintu di buka, mereka semua segera berdiri dari kursi dan menunduk pada Victoria yang dengan dagu terangkat segera mandaratkan bokongnya ke kursi yang di tarik Carl.
Marquess Mincheas yang selalu menjadi mediator di setiap rapat memulai agenda. Mereka memulai dari hasil-hasil yang di dapat, pemakaian dan penguaran yang mereka raup dari Albany. Victoria dengan tenang mendengarkan tanpa menyentuh kertas yang di berikan untuknya. Dia tidak butuh kertas itu karna selama semalaman penuh bahkan tanpa tidur dia sudah mempelajari semuannya.
Rapat terus berlanjut hingga akhirnya Marquess Mincheas menyebutkan rencana untuk panarikan pangan Albany selanjutnya terlebih... karna terselip bagian di mana Francia juga menginginkan bantuan keuangan untuk menopang pertahanan di wilayah selatan. Wilayah yang selalu di ganggu dan berusaha di rebut kerajaan tetangga dan juga kerjaan musuh Francia. Vancia
"Kenapa Albany harus ikut menyumbang dana Marquess? dan apa ini? ini bahkan lebih banyak dari jumlah wilayah lain?"
Marquess Mincheas menghentikan penjelasannya saat suara Victoria yang tiba-tiba memotong ucapannya
"Kami menghitung dari pendapatan, Your Highness. Albany adalah Duchy terkaya di kerajaan ini dan juga daerah yang tidak akan kesulitan sedikitpun hanya karna untuk selama empat bulan ke depan membantu kerajaan"
Dengan raut wajah datarnya. Victoria menaikkan arah pandangnya dari kertas di tanganya ke wajah Marquess Mincheas
"Maksut anda, tidak masalah terus merampok milik orang lain karna rumah itu milik orang kaya? begitu Marquess?"
"Bukan be...."
"Kita tidak merampok Your Highness. Kita punya ikatan kerja sama. Duke Arthur sendiri yang memberikan kerja sama sebagai mahar anda. Apa anda lupa?"
Seseorang memotong ucapan Marquess Mincheas yang membuat Marquess hanya bisa menutup mulut. Seseorang yang memiliki gelar lebih tinggi darinya itu menatap Victoria dengan jengah. Victoria mengubah arah pandangnya dari Marquess Mincheas ke pria itu
"Yang lupa saya atau anda Duke Kendal?"
Duke Kendal mengeryit dan menatap sekeliling yang hanya diam
"Maksut anda apa Your Highness?"
Carl yang berdiri di belakang kursi Victoria hanya bisa menarik nafas, karna suasana mulai panas
"Sekali lagi saya bertanya Duke. Yang lupa akan perjanjian itu anda, atau saya?"
Merasa mulai kesal, Duke Kendal melipat tangannya di depan dada sambil menatap Victoria dengan tajam
"Kita memiliki perjanjian untuk bekerja sama demi kebaikan bersama, dan itu menjadi mahar pernikahan dari mempelai wanita Your Highness. Apa anda...."
"Perjanjian seperti apa Duke?"
Victoria memotong ucapan Duke Kendal yang membuat keadaan mulai semakin panas. Duke Kendal diam tanpa bergeming. Lalu, Victoria yang melihat jika Duke Kendal yang tidak menghiraukan pertanyaannya menatap semua orang di sana
__ADS_1
"Baiklah... sepertinya kalian lupa tentang isi perjanjian itu. Saya akan mengingatkan. Perjanjian kerja sama itu berisi tentang bantuan pangan. Buka penarikan dana..." Suara Victoria mendingin. "Tidak berkaitan tentang dana dan jika kalian memang ingin mengemis. Gunakan cara mengemis yang benar. Bukan dengan ini!" Kertas di tangan Victoria langsung berhamburan di atas meja saat dia melemparnya dengan kasar. Semua orang tampak mulai tegang karna nada suara Victoria yang sudah meninggi. "Duchy Albany punya tuannya sekarang. Duke Arthur adalah pemilik tanah itu, kalian tidak menghormatinya sama sekali hah!"
"Your Highness...."
Earl Xenas mencoba membuka suara sambil mengingatkan Victoria yang seperti sudah akan mengamuk tapi,
Brakkk!
"Berani sekali kalian memberikan ini di depan wajahku! apa ini ancaman untukku? apa kalian sedang memamerkan kekuatan kerajaan! Albany bukan wilayah jajahan! Duchy tidak pernah kalah dalam perang sesuai aturan! Kalian merebutnya dengan jalan pintas dan aku, aku Victoria! anak dari mendiang Duke William Arathorn bukan seseorang yang bisa kalian bully!"
"Anda adalah calon Ratu, Your Highness. Anda bukan lagi bagian dari Albany"
Victoria mengepalkan tangannya dan menatap seorang pria paruh baya yang menjawab ucapannya
"Tubuh dan pikiran saya memang untuk kerajaan tapi yang harus kalian ingat, di sini..." Jari Victoria menunjuk ke arah dada kirinya dengan wajah mengeras dan tatapan mata mendingin. "Di sini selalu untuk Albany!"
"Tenanglah Your Highness..."
Akhirnya Marquess Mincheas kembali membuka mulutnya. Victoria menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya sejenak. Untuk meraup semua ketenangannya kembali.
"Maafkan saya sebelumnya Your Highness, tapi agenda ini sudah menjadi keputusan yang kami buat dari beberapa minggu lalu. Kami sudah mengirim surat ke Duchy untuk meminta dana tapi Duke Arthur menolak. Jadi kami memutuskan ini"
"Ahh begitu... jadi saat kalian tidak bisa mendapatkan apa yang kalian inginkan, kalian akan mengancam?" Senyum culas dan pandangan jijik Victoria membuat Marquess Mincheas hanya bisa meneguk ludah. "Kalian menjijikkan"
"Dan saya bukan orang yang bisa kalian tekan dan kalian atur dengan semaunnya! Perlu kalian ingat juga, Albany dan Duke Arthur bukan 'hanya' seorang Duke dan 'hanya' sebuah Duchy. Dia keluarga saya dan Duchy tanah tempat saya berasal. Kakak dan wilayah dari seorang wanita yang akan menjadi Ratu masa depan kerajaan ini! seperti yang kalian katakan sendiri!"
Ucapan Victoria membuat semua mulut bungkam. Earl Xenas hanya diam sambil memegangi cangkir tehnya. Marquess Mincheas juga tampak diam sambil menatap kosong ke arah meja.
"Saya akan merombak ulang semuanya..." Victoria memutar kepalanya dan menatap Carl yang langsung mengerti dengan langsung memberikan empat buah perkamen pada Victoria. "Se.mua.nnya gentlemen yang terhormat"
Satu perkamen terlempar kuat ke atas meja
"Ini untuk pangan"
Duke Kendal yang merasa jika perkamen di tujukan padanya segera meraih perkamen dan mulai membuka gulungan
"Ini untuk 'rencana' pangan berikutnya"
Dua perkamen di lempar ke tengah meja. Duke Argentt yang paling dekat dengan perkamen segera meraih gulungan-gulungan itu
"Ini rencana terakhir"
__ADS_1
Kali ini Earl Xenas yang maju untuk meraih perkamen.
Victoria meraih cangkir tehnya sambil menunggu mereka yang memegang perkamen selesai membaca
"Saya terima untuk renacana ini Your Highness"
Suara Duke Argentt lah yang duluan terdengar. Victoria meletakkan cangkirnya dengan anggun dan melipat tangannya ke atas meja dengan gaya seorang gentleman
"Anda yakin sudah membaca semua isi dua perkamen itu Duke?"
Duke Argentt mengangguk sambil tersenyum tipis
"Rencana untuk membuat ladang dengan membawa tanah subur Albany dan membuat pupuk yang sama ke ibu kota dan daerah lain. Sedikit memaksa memang tapi patut di coba. Itulah intinya, apa saya salah Your Highness?"
Tanpa menjawab dengan mulutnya, Victoria hanya mengangguk dan langsung menatap Earl Xenas karna suara helaan nafasnya sangat mengganggu telinga Victoria
"Your highness, wilayah barat masih belum terkontrol, saya sulit memberikan persetujuan dengan ini. Tanah di wilayah barat memang lumayan subur dan bisa kita gunakan untuk kita nanti, tapi....."
Victoria memutar bola matanya dengan malas dan segera membuka mulutnya saat Earl Xenas belum menuntaskan ucapannya
"Earl Xenas, apa anda mendengar saat tadi saya katakan jika itu rencana terakhir. 'Terakhir', Earl Xenas. Dan anda tidak lupa kan tentang rapat kita beberapa minggu lalu? kita sedang berusaha untuk menanam bibit bunga kepercayaan yang memang butuh waktu, saat bunga sudah kita petik, kita tinggal menawarkan isi perkamen itu. Seperti yang tertulis, kita juga hanya akan tinggal menggunakan tenaga mereka dan bekerja di balik layar menunggu hasil"
Merasa sedikit di permalukan, Earl Xenas hanya bisa mengangguk singkat tanpa ingin memandang Victoria dan meraih cangkirnya.
"Saya tidak terima dengan ini Your Highness. Mana bisa kita bekerja di Albany"
Suara menyebalkan dengan wajah yang sekarang sangat tidak di sukai Victoria, membuat tatapan Victoria pada Duke Kendal penuh dengan celaan
"Kenapa tidak bisa Duke?"
"Ini semua jelas tidak masuk diakal. Rencana yang saya pegang. Terlebih rencana yang ada di tangan His Grace Argentt. Lalu yang ada di tangan Lord Xenas, siapa yang akan bisa menjamin masa depan? dan bagaimana kita bisa bergantung pada waktu yang tidak pasti"
Dengan tenang, Victoria mengangguk
"Mungkin anda memang kurang pintar Duke. Saya akan memaklumi itu. Terlebih karna wawasan anda yang memang sepertinya kurang"
Carl yang ada di belakang Victoria hampir tersedak ludahnya karna hampir terbahak. Dia terlihat sangat senang melihat ayahnya sendiri sedang di hina Victoria. Earl Xenas dan Marquess Mincheas yang banyak belajar dari pengalaman hanya saling melirik dan memilih untuk mengangkat cangkir mereka.
\=\=\=💜💜💜💜
Yuk ayukk yukkk jejaknya readers...
__ADS_1
Salam sayang semua✨