Behind The Castle

Behind The Castle
**KEMBALI KE IBU KOTA**


__ADS_3

Sudah dua hari setelah Diana kembali ke sisinya, Victoria menghabiskan waktunya untuk berjalan-jalan dan menikmati semua hiburan yang tersedia di Duchy Argentt.


Seperti sekarang, setelah menghadiri opera, Victoria yang kelelahan tertidur di dalam kereta kuda. Hentakan kaki kuda, roda kereta yang berputar yang membuat kereta terus bergerak tidak sedikitpun mengganggu tidur lelap Victoria. Diana yang juga di dalam kereta kuda, menjadi benteng nyata pembatas dua pasangan yang tertidur dengan saling menyenderkan kepala, hanya bisa terus membuang nafas panjang. Pemandangan dua orang di depannya membuat perasaannya campur aduk, perasaan miris dan khawatir hanya bisa di telan batinnya.


Saat kereta berhenti dan kaca pintu di ketuk di susul suara Carl yang mengabarkan jika mereka sudah sampai. Mata Fredrick terbuka dan segera melirik kepala yang bertengger di bahunya. Dengan tersenyum tipis Fredrick menempelkan jari telunjuknya di bibir, mengatakan pada Diana untuk tetap diam. Diana mengangguk patuh dan segera turun dari kereta. Layaknya gentleman sejati, Fredrick membawa tubuh Victoria di gendongannya dan keluar dengan melompat pelan dari kereta. Sedikit gerakan dari tubuh Fredrick membuat Victoria menggeliat dan merapatkan kepanya di dalam dada bidang yang sedang menggendongnya.


Kedatangan Fredrick di sambut para penjaga dan pelayan tapi, saat mereka baru akan membuka suara, dengan tatapannya Fredrick mengatakan jika semua orang tidak perlu membuka suara yang bisa membangunkan tunangannya. Perintah tak kasat mata Fredrick tersampaikan dengan baik.


Fredrick membaringkan tubuh Victoria dengan hati-hati dan dengan gerakan yang sangat pelan. Menarik selimut untuknya tidak lupa memberikan sebuah ciuman selamat malam di dahinya. Meski Diana ingin protes tapi pergerakan cepat Fredrick mengalahkan kecepatan mulut Diana. Diana membuang nafas pasrah.


"Bereskan semua, besok saat pagi mulai menjelang, kita akan kembali ke ibu kota"


Bisikan pelan Fredrick pada Diana menjadi suara terakhir yang mengisi isi kamar. Diana dengan patuh mengangguk dan segera menjalankan tugasnya.


🌺🌺🌺🌺


Di sisi lain, empat pria dengan segala nama besar, kemampuan yang tidak di ragukan lagi, sedang mengadakan pertemuan yang terus berjalan. Dengan kemampuan berbicara Albert, pengetahuan Charles, kepiawaian berbisnis Philip dan, segala kehormatan nama besar dan status pemimpin parlementnya, Thomas memimpin pertemuan mereka.


Kertas-kertas rencana, di edarkan, pertanyaan-pertanyaan di jawab, masukan-masukan dari peserta di utarakan dan itu terus berlangsung hingga tengah malam.


Setelah pertemuan rahasia berakhir, Thomas memijat pelipisnya dengan membuang nafas panjang. Charles masih sibuk dengan urusan mencatat dan memilah kertas-kertas dengan bantuan Philip. Albert menatap semua iparnya yang sudah berusaha keras. Berusaha keras untuk merebut kembali tanah kakaknya, keponakannya dan kehormatan keluargannya. Tapi, hati kecil Albert tidak sepenuhnya tertuju di dalam ruangan itu, ada setumpuk gumpalan kekhawatiran yang tidak berghubungan dengan rencana mereka. Victoria. Dia memikirkan keponakannya, keponakannya yang dia rasa harus ikut serta dalam hal ini.


"Ada apa Al?"


Suara Philip membuat pikiran Albert kembali ke dalam ruangan dan menatap Philip


"Apanya?"


Philip menghentikan pergerakan tangannya yang di ikuti Charles, mereka menatap Albert dengan lekat


"Kau selalu tidak fokus hari ini, apa yang kau pikirkan"


Itu bukan suara Albert atau Charles tapi itu suara Thomas yang sudah memasukkan tangannya ke dalam saku sambil menatapnya penuh selidik. Albert mendesah lelah dan menyenderkan punggungnya ke kursi


"Entahlah... Aku rasa, Victoria harus tahu ini"


Thomas masih diam dengan tidak merubah arah pandangnya yang semakin menatap Albert penuh selidik, tidak jauh berbeda dengan ke dua iparnya yang lain, yang sudah menatapnya dengan penuh penilaian


"Dia tidak boleh ikut campur tangan di sini Al"


Albert kembali mendesah lelah dan menatap Philip

__ADS_1


"Phil, aku tahu kita tidak bisa melibatkan Victoria tapi percayalah, intuisi ku mengatakan jika kita harus merundingkan ini dengan Victoria. Aku juga tidak tahu kenapa"


Charles memijat tangannya dengan gugup saat mendengar ucapan Albert, Philip hanya diam menatap Albert, dan Thomas membuka suara


"Intuisimu?"


Albert menjawab pertanyaan Thomas dengan mengangguk singkat. Philip menipiskan bibirnya dengan isi kepala yang mulai memahami situasi. Charles yang semakin memahami situasi semakin memijat tangannya dengan gugup.


"Ini berbahaya Al"


Sekali lagi, Albert menjawab pertanyaan Thomas dengan mengangguk tapi dengan tatapan sorot mata yang tegas.


"Aku paham"


"Cari cara agar kita bisa bertemu Victoria atau paling tidak bisa menyampaikan pesan yang langsung bisa jatuh kentangannya"


Suara Thomas yang kembali terdengar membuat Charles dan Philip saling menatap


Albert membuang nafas panjang lagi. Charles dan Philip mengangguk segera mengangguk. Tidak ada di antara mereka yang akan meragukan intuisi seorang Albert Arthur Arathorn.


🌺🌺🌺🌺


Kereta sudah berhenti saat Victoria juga mulai bangun dari tidurnya, pinggangnya terasa pegal dengan punggung yang hampir remuk. Sambil merenggangkan otot-ototnya dengan cara yang tidak anggun, ekor mata Victoria melirik Fredrick yang tersenyum geli. Berdiri di samping pintu kereta dengan tangan terulur.


Fredrick mengangguk saat Victoria sudah menginjakkan kakinya di halaman depan istana.


"Aku ingin kembali tidur Bash"


"Tidurlah Vic, gunakan waktumu"


"Ok..."


Dengan tenang tapi isi pikiran yang tidak tenang, Fredrick mengantar Victoria hingga ke depan kamarnya. Saat sudah sampai ke depan kamarnya, Fredrick membelai pelan pipi Victoria dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Victoria mengeryit


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa, istirahatlah. Jangan memukirkan apapun dulu, akan ada saatnya semua kita bahas. Mengerti?"


Victoria sangat tahu maksut ucapan Fredrick dan mengangguk singkat, lalu pamit untuk masuk ke dalam kamarnya. Saat pintu kamar sudah di tutup, dengan cepat Fredrick memutar tubuhnya dan menatap Lucas yang sudah muncul entah dari mana


"His Majesty menunggu anda, Your Highness"

__ADS_1


"Aku tahu"


Dengan langakah lebar dan cepat dan di ikuti Jeremmy, Tomy, Carl dan juga Lucas. Fredrick berjalan menuju istana utama, menuju ke ruang kerja Raja George.


Perjalanan mereka yang mengikuti langkah Fredrick berakhir saat mereka sudah masuk ke dalam ruangan Raja George. Kali ini Raja George tidak duduk di kursi meja kerjanya tapi, di kursi meja diskusinya. Duduk dengan tenang dengan di temani Edward, Gregory, Lincont dan Keelft yang berdiri di belakangnya.


Satu anggukan Raja George membuat Fredrick segera menarik kursinya. Keadaan di dalam ruangan mulai serius, suhu yang di buat ke dua pria dengan mata abu-abu itu membuat para kesatria kecuali Edward meneguk ludah mereka karna gugup, kegugupan yang mereka sendiri belum tahu karna apa. Tapi mereka yakin, ini bukanlah hal biasa. Meja diskusi yang hanya di duduki seorang Raja dan Putra Mahkota sudah cukup menjelaskan jika ini, menyangkut kestabilan kerjaan. Pembicaraan berat.


"Bagaimana dia?"


Raja George memulai pembicaraan


"Sejauh ini dia sudah cukup baik tapi saya akan terus memantaunya"


Raja George mengangguk


"Sampai mana dia menyentuhnya?"


Raut wajah tenang Raja George mulai berubah dingin, tidak jauh berbeda dengan sorot mata Fredrick yang sudah siap membunuh.


"Saya tidak tahu detailnya, tapi, cerita dari Victoria yang bisa saya tangkap di tengah-tengah tangisnya. Dia berhasil melawan dan menendang b*debah itu lalu menjatuhkan diri ke lantai untuk bersembunyi di bawah ranjang sebelum..." Mulut Fredrick terasa keluh, dengan tangan yang terkepal menahan amarah. "Sebelum dia berhasil merenggut harga dirinya"


Ucapan Fredrick membuat Raja George memejamkan matanya dengan kuat, menahan semua amarahnya yang sudah naik ke setiap sel darahnya. Fredrick yang melihat ayahnya yang sedang mencoba mencari ketenangan, melanjutkan ucapannya


"Mereka tidak menjawab panggilan saya Your Highness"


Suara Fredrick yang kembali terdengar membuat Raja George membuka matanya dan langsung menatap bola mata yang sama mirip dengan miliknya.


"Apa yang akan kau rencanakan?"


Fredrick membalas tatapan ke dua bola mata abu-abu yang sudah menatapnya dengan tegas dan penuh kemarahan Raja George


"Aku tidak akan melakukan apapun"


Raja George mengeryit


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


To Be Continued....


\=\=\=πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


Yuk tinggalin jejaknya


Salam sayang semua✨


__ADS_2