Behind The Castle

Behind The Castle
**DIANA'S MISSION**


__ADS_3

Dengan kaki yang terus berjalan bolak balik dan gigi yang terus menggigiti kukunya, Victoria terus mencoba menyambungkan pemikirannya, Grey masih setia mengikuti langkah bolak balik Victoria hingga


Bugh!


Victoria terjatuh dengan bokong mendarat di lantai, pekikan Grey terdengar, Grey segera menjauh dari Victoria karna tidak sengaja kaki Victoria menendang Grey yang membuatnya dengan khawatir menatap Grey.


"Apa kau tidak apa-apa Grey?"


Melihat Victoria yang akhirnya menatap dan mengajaknya berbicara membuat Grey berpikir jika Victoria akan mengajaknya bermain, dengan semangat Grey melompat-lompat dan mencoba menjilati wajah Victoria yang membuat Victoria akhirnya tertawa dan mencoba menjauhkan wajah Grey.


Setelah lelah dengan gangguang Grey, Victoria membiarkan tubuhnya terbaring di lantai dengan Grey yang mencoba mengigiti rambutnya


"Rasanya kepalaku hampir meledak Grey, apa ini semua? bagaimana aku bisa menarik lilitan benang kusut ini? dan...." Victoria menjedah dan segera berdiri. "Apa hubungannya dengan anak Baron itu?"


Saat Victoria hendak menuju jendela, tiba-tiba saja otaknya mencerna sesuatu, Victoria terkesiap dan menutar tubuhnya untuk menatap Grey


"Apa anak Baron itu tahu sesuatu tentang sesuatu?! apa karna itu....." Bibir Victoria terasa keluh. "Apa Calista ikut dalam bagian rahasia ini? apa Calista tahu sesuatu? Apa....."


Dengan cepat derap langkah Victoria menuju pintu dan mencari pengawal atau mungkin penjaga atau juga mungkin pelayan yang terlihat di depan pintu kamarnya, saat melihat seorang penjaga Victoria segera berteriak.


"Penjaga! panggil Diana ke sini dengan cepat!"


Pengawal yang tadinya entah akan melangkah kemana dengan cepat mengangguk dan sedikit berlari ke arah kamar pelayan istana selatan, wajah panik dan suara meninggi Victoria membuatnya ikut panik.


Melakukan kembali gerakan yang sudah Victoria lakukan hampir seharian ini membuat Grey terus menatapi Victoria, kakinya kembali bolak-balik dengan menggigiti kukunya.


TOK TOK TOK


"My Lady..."


"Masuk Di"


Melihat Diana yang sudah membuka pintu, Victoria yang sudah berdiri di depan pintu menariknya masuk dengan tergesah-gesah. Diana panik


"Ada apa Vic? kenapa?"


Victoria kembali mengigiti kukunya dengan cemas


"Sepertinya aku mengerti sesuatu Di, sesuatu!"


Dengan masih panik dan bingung Diana menarik jari Victoria yang di gigitinya


"Apa? ada apa Vic? kenapa?"


Hembusan nafas dalam Victoria terdengan, wajahnya segera menatap lekat wajah Diana yang bingung dan masih panik.


"Aku butuh pena dan kertas"


Mendengar permintaan Victoria, tanpa sadar Diana segera memundurkan langkahnya, wajahnya berubah pias


"My Lady......"


Melihat ketakutan Diana, Victoria segera menggeleng kuat dan meraih tangan Diana


"Dengar Di, aku butuh pena dan sebuah kertas kecil"

__ADS_1


Diana meringis ngeri, kembali Victoria mencoba menenangkah Diana


"Aku tidak akan mengirim surat yang berbahaya dan melakukan hal yang berbahaya Di, aku tidak akan membahayakan diriku dan keluargaku, aku juga tidak akan melakukan hal bodoh"


Akhirnya Diana hanya bisa mengangguk ragu, Victoria melanjutkan


"Dengar, aku butuh pena dan sedikit kertas, tapi jangan kertas kosong, ambil bagian sedikit kertas yang ada cetakan yang mempunyai tulisannya atau bisa juga dari buku, tapi cari yang masih ada bagian kosong untukku menulis dua kalimat"


Dengan menatap wajah Victoria yang terlihat tegas dan yakin, Diana meringis


"Sekarang Di, aku akan siapkan bajumu, kau bisa ke gedung pemasok kan?" Victoria menatap Diana yang mengangguk ragu dan melanjutkan "Nanti, cari saja seorang pedagang atau pekerja dari Lorne yang mengantar barang ke sana, dan titipkan kertas itu, jangan pengusaha itu bisa beresiko, jika tidak ada, lebih baik kembali"


"My Lady... Vic....."


Victoria mengabaikan keluhan Diana dan terus melanjutkan


"Aku ingin mengirim itu ke parlemen"


Diana terkesiap, tangannya mulai gemetar dengan wajah yang kembali pias.


"Ku mohon Di, aku hanya bisa percaya dan mengandalkanmu, ku mohon"


Sambil menautkan tangannya di depan dada dan menatap Diana dengan wajah sangat memohon, meski ragu dan takut Diana mengangguk pelan.


"Akan ku kerjakan sekarang"


Victoria memeluk Diana dengan haru


"Terimakasih Di, terimakasih.... kau adalah keluargaku di sini"


Diana memberikan beberapa kertas dan sebuah pena yang sudah di ambilnya, Victoria mengamati kertas itu sebentar



Setelah cukup mengamati, dengaan cepat Victoria merobek sisi-sisi kertas hingga semakin kecil dan menatap kembali kertas itu. Setelah di rasanya cukup kecil, Victoria mulai menulis dan segera menunjukkan kertas yang sudah tertulis, ternyata hanya satu kalimat yang dia tulis, Victoria menyerahkannya pada Diana. Melihat wajah Diana yang terlihat bingung dan terus menatap satu baris tulisannya akhirnya Victoria bersuara.


"Apa kau mengerti apa yang ku tulis Di?"


Dengan mencoba berpikir keras Diana kembali mencoba mencerna tulisan pendek di kertas itu.


'Aku menemukan mawar yang SAMAR itu, NEXT,....'


"Ini apa?"


Melihat wajah Diana yang terlihat masih bingung Victoria tersenyum dan meraih kembali potongan kertas itu lalu melipatnya


"Di, nanti saat akan menuju ke gudang pemasok, ganti pakaianmu dengan yang ku berikan dan bergeraklah seperti seorang bangsawan saat kau sudah di depan gedung pemasok, titipkan ini pada seseorang dan katakan kau adalah pengusaha bunga"


Dengan cepat Victoria memberikan gulungan kain dan empat keping koin emas.


Diana meneguk ludahnya dengan susah payah dan kembali mengangguk sambil menerima gulungan kain dan koin di tangannya.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Dengan jantung yang hampir meledak, Diana kembali menatap penampilannya yang sudah memakai gaun dari Victoria, dengan tangan gemetar, Diana memasang topi di kepalanya dan dengan gugup mengikat pita topinya, sekali lagi, Diana menatap penampilannya lalu Melihat sekeliling istal kuda yang sepi, Diana menyelipkan gulungan baju pelayannya di sudut kandang kuda lalu menutupinya dengan jerami.

__ADS_1


Sambil menuju pintu keluar dari ista kuda, Diana terus mencoba merapalkan doa dan menarik nafas dalam, tangannya terus gemetar tapi saat sudah keluar istal kuda, Dengan punggung tegak dan kepala terangkat, Diana mulai berjalan menuju gudang pemasok.


Diana melebarkan arah pandangnya, melihat sekeliling, ada beberapa pelayan istana dan pengawal istana di gudang pemasok yang membuat jantung Diana berdetak hingga rasanya ingin meledak, mencoba mengatur raut wajahnya Diana mendekat pada seorang yang entah siapa dengan memakai pakaian sederhana yang sedikit kotor.


"Hallo....."


Pria itu, yang di sapa Diana segera memutar kepalanya dan menghentikan langkahnya yang akan melempar karung ke kereta barang


"Ya?..."


Dengan bergaya gadis bangsawan dan tersenyum ramah Diana menatap pria itu


"Apakah di sini ada pedagang dari Lorne tuan? saya ingin berbincang"


Pria itu membalas senyum ramah Diana dan segera memutar-mutar kepalanya, hingga matanya berhenti di depan kereta kuda yang cukup bagus.


"Di sana ada seorang pengusaha dari Lorne"


Diana mengepalkan tangannya dan meneguk ludahnya dengan kasar, seorang pengusaha bukanlah perintah nonannya, terlebih dia hanya menggenggam empat keping koin emas, Diana mengingat pesan nonannya yang jika dia tidak menemukan seorang pekerja atau pedagang, jangan berikan karna pengusaha bisa beresiko.


Pria pekerja itu memperhatikan wajah Diana yang tampak bingung dan mencoba kembali membantu


"Sepertinya pengusaha itu sedang sibuk nona, anda bisa bertanya pada pekerja yang juga berasal dari Lorne, di sana"


Diana segera memutar kepalanya saat tangan pria itu menunjuk ke arah dekat kereta kuda, ada seorang pria dengan tampilan yang tidak jauh berbeda dengan pria di depannya sekarang. Diana kembali mengangkat kepalanya dan tersenyum ramah.


"Terimakasih banyak tuan, anda sangat membantu saya"


Pria itu tersenyum dan mengangguk singkat


"Sama-sama nona"


Dengan kepala di angkat tinggi dan berjalan dengan anggun, Diana mendekat pada seseorang yang di tujunya, pria itu terlihat sedang menarik sebuah kotak menuju ke gudang.


"Hallo tuan....."


Pria itu menghentikan gerakannya dan menatap Diana, menilai penampilannya.



DIANA EUGNIE DEVONTE


2.3 Y.O


รทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรท


>>>>To Be Continued.........


๐ŸŽ€รทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรท๐ŸŽ€


Hallo readers... Terimakasih banyak sudah mampir dan masih berminat membaca


Kalo berkenan dan merasa suka tolong like, komen, bintang, lope-nya yaaa


Salam sayang semuaโœจโœจ

__ADS_1


__ADS_2