
"Apa maksutmu Carl!!"
Seorang kesatria yang berada di sebelah Isac berteriak tidak terima hingga berdiri dari kursinya, tapi Isac dengan cepat menahan tubuh di sebelahnya
"Tenanglah Hans"
Isac menatap bergantian antara Lucas, Kleeft, Carl dan Jeremmy
"Apakah itu mimpi His Majesty setiap hari?" Ucapan Isac membuat beberapa kesatria terkekeh dan Isac melanjutkan. "Ooh aku lupa, jika di hitung, sudah sepuluh tahun lebih His Majesty selalu memimpikan jika His Highness Pangeran Fredrick akan berpaling"
Kembali kekehan dari beberapa kesatria terdengar. Jeremmy, Lucas, Kleeft dan Carl hanya mengedipkan bahu mereka dengan acuh tapi dengan senyum culas yang langsung tercetak di bibir mereka.
"Aku pernah mendengar ungkapan ini dari seseorang, jika kau mencintai seseorang lebih dari 10 tahun, itu sama saja dengan kau sudah mencintainya selama seumur hidupmu....."
Seseorang lain membuka suara dan menatap rekan-rekannya yang lain.
"Kau benar"
Seseorang menimpali
"Apa begitu Jer? kau selalu berada di samping His Highness, apa cerita yang mengatakan jika His Highness sangat menyukai tunangannya cuma cerita yang di lebih-lebihkan?"
Jeremmy tidak bergeming dan hanya tersenyum penuh makna
"Ku dengar dia tidak secantik si sulung, apa benar Tom? kau melihat dia langsung kan saat pembersihan Albany? atau..." Semua yang ada di sana dengan wajah penasaran menunggu kelanjutan ucapan kesatria yang bertanya. "Atau kau terlalu sibuk menikmati tubuh si sulung hingga tidak bisa menyadari sekitarmu lagi"
Beberapa kesatria terkekeh kembali, beberapa di antaranya hanya diam tak bergeming dan sisanya mentap pada Tomy yang tampak bungkam dengan wajah tak terbaca.
"Oohh si sulung itu bernama Lady Charlotte kan? waktu debutnya kakakku dan gentleman lain menjulukinnya berlian Francia"
Hans yang duduk di sebelah Isac menimpali dengan wajah raut wajah menjijikan untuk di lihat mata-mata kesatria yang hanya diam termasuk di mata Jeremmy, Kleeft, Lucas, Carl dan Tomy.
"Berlian Francia?" Isac terkekeh dan melirik kesatria-kesatria yang tekekeh. "Pasti dia sangat cantik" Lalu melirik Tomy. "Apa dia masih perawan?"
"Tentu saja Isac, dia Lady terhormat, pasti sangat menjepit"
Seorang kesatria yang terkekeh menimpali ucapan Isac dan membuat kesatria lain kembali terkekeh
"Jadi.... Siapa yang membuka segelnya duluan? apa itu kau Tom?"
Dengan wajah tidak terbaca, Tomy menatap bergantian para kesatria terkekeh termasuk Hans, Isac dan yang memberikan pertanyaan
"Bisakah kalian diam?"
Suara dingin Tomy membuat kekehan mereka terhenti dan Jeremmy menatap kesatria yang memberi pertanyaan pada Tomy.
"Apa kita sedang membahas seorang pelacur Alex?" Jeremmy menggeser tatapannya dari Alex ke semua kesatria yang terkekeh penuh celaan. "Ingatlah sumpah kalian sebagai kesatria yang harusnya melindungi dan menolong. "Jeremmy kembali menjedah dan kali ini menatap semua kesatria yang ada di sana. "Jangan lupakan status bangsawan kalian, hormati orang-orang terhormat, jika tidak bisa lebih baik diam, jangan mempermalukan gelar kesatria emas kalian dengan mulut yang penuh ucapan menjijikan"
Alex yang mendapatkan jawaban dan pidato penuh wibawa dari Jeremmy berdecak kesal
"Kaku seperti biasa"
Jeremmy hanya mengangkat gelasnya mendengar cibiran dari Alex
"Tapi aku benar-benar penasaran dengan kabar yang berhembus, kabarnya dia Lady yang sombong dan cukup mengerikan, lihat saja bagaimana dia yang masih bisa waras dan bertahan ketika melihat keluarganya mati di pedang kapten Edward, itu di depan matanya langsung"
__ADS_1
"Dia akan jadi Ratu pendamping yang kuat dan mengerikan" Lucas menimpali dan menatap Jeremmy. "Apa aku salah?"
Jeremmy hanya diam sambil mengisi isi gelasnya lagi, Carl yang melihat jika Jeremmy hanya diam membantu menimpali ucapan Lucas
"Aku cukup bangga jika suatu hari nanti harus menundukkan kepalaku dan mengabdikan hidupku untuk penerus seperti Lady Victoria"
Beberapa kesatria mengangguk dan tersenyum, beberapa lagi hanya diam dan sisanya nampak berpikir.
"Untung saja calon Ratu kita berikutnya bukan dari kalangan bangsawan biasa dan...." Kleeft menimpali dan tersenyum miring menatap kesatria yang mencibir. "Memiliki kehormatan"
BRAAKK!!
Hans menendang sebuah kursi di sampingnya, Kleeft hanya terkekeh dengan geli
"Siapa yang sedang kau cibir Kleeft?"
"Tentu saja junjunganmu ratu berambut api"
Lucas menimpali dengan acuh yang membuat Hans segera berdiri tapi, dengan cepat segera di tahan Isac dan Alex juga dua orang kesatria lain
"Jaga mulut kalian! dasar anjing Raja!"
Kali ini Jeremmy, Carl, Tomy, Kleeft dan satu kesatria lain segera berdiri, kesatrian lain yang merasa jika akan terjadi keributan mencoba mendekat pada tiga 'para anjing Raja' yang masih tenang duduk, untuk mencegah terjadinya duel yang pasti merugikan mereka semua.
"Benar.... kami memang anjing Raja tapi" Carl tersenyum culas dan melipat tangannya di depan dada. "Bukankah lebih baik dari pada harus menjadi anjing mendiang yang sudah terbakar di neraka"
"Bajingan kau Carl!!!"
"ENOUGH!!!!"
Suara berat dan dingin seseorang yang tiba-tiba muncul membuat mereka terkesiap. Hans yang hampir melompat untuk menerjang wajah Carl segera menghentikan semua gerakannya dan memutar kepalanya ke arah pintu.
"TIDAK KAPTEN!"
Suara separuh pasukan emas yang menjawabnya dengan tegas membuat Edward berdecih dan menatap mereka satu persatu
"Sekali lagi jika ku lihat dan ku dengar kalian saling menggonggong, aku sendiri yang akan memotong lidah kalian atau" Edward menjedah dan kembali menatap satu persatu kesatria yang sudah menundukkan kepala mereka. "Bila perlu, aku juga akan memotong lidah keluarga kalian"
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Jadi para kesatria emas itu bangsawan dan juga punya darah bangsawan Vic?"
Victoria mengangguk sambil memejamkan mata menikmati pijatan tangan piawai Diana di kepalanya.
"Itu yang ku palajari dari Countess Xenas saat pelajaranku kemarin dan ini, rahasia internal kerajaan"
Dengan wajah yang antusias, Diana menatap cermin di depannya untuk menatap wajah Victoria
"Bukankah tuan Edward bukan bangsawan Vic?"
Dengan tersenyum tipis Victoria menatap wajah Diana
"Memang"
"Tapi kenapa bisa menjadi kapten semua kesatria, bahkan kesatria bangsawan, terlebih tangan kanan His Majesty, bukankah syaratnya harus berdarah bangsawan?"
__ADS_1
Victoria mengangguk singkat
"Karna dia Pineas"
Dengan alis berkerut, Diana kembali menatap wajah Victoria dari cermin
"Memang keluarga Pineas itu siapa Vic?"
Kali ini Victoria tersenyum culas
"Keluarga buronan dan pembunuh bayaran yang sangat gesit, mereka juga sangat kejam tapi anjing yang setia sampai mati"
Diana mengajep-ngejapkan matanya dengan bingung dan juga terkejut
"Kau bisa tahu ini dari mana Vic? aku tidak pernah mendengar cerita yang seperti ini"
Dengan acuh Victoria mengedipkan bahunya dan melirik wajah Diana yang tampak sangat penasaran.
"Karna ada seorang leluhur Pineas, kakek Edward, yang pernah tertangkap di Duchy saat melakukan pelarian dan... di eksekusi oleh Albany, oleh leluhurku"
Diana membulatkan matanya hingga tangannya yang sedang bergerak memijat kepala Victoria berhenti
"Apa karna ini saat di camp waktu itu tuan Edward hampir mengamuk padamu?"
"Binggo!"
Dengan perasaan ngeri Diana menatap Victoria yang terkekeh geli.
"Aku tidak mengerti bagian mana yang lucu Vic, dia punya dendam"
Sambil memutar-mutat cincin pertunangannya Victoria tersenyum getir
"Dan dia sudah memuaskan sedikit dendamnya"
Setelah mengatakan itu, Victoria segera berdiri dari kursi meja rias dan berjalan untuk menuju jendela. Diana yang melihat Victoria yang sudah membuka jendela ingin mengingatkan tapi menghentikan niatnya karna, malam ini wajah Victoria kembali terlihat seperti wajahnya si saat-saat awal dirinya masuk istana.
"Apa kau ingin teh Vic?"
"Iya Di, nanti tolong bawakan teh herbalku dan tidurlah di sini malam ini tapi sekarang tolong bawa Grey jalan-jalan sebentar Di"
Diana mengangguk dan segera memanggil Grey yang langsung melompat dari ranjang, saat sudah menbuka pintu, Diana menatap sebentar pada Victoria yang sudah menatap jauh ke luar jendela, entah apa yang di pikirkan nonannya itu hingga wajahnya kembali lagi seperti dulu
Mendengar suara pintu yang sudah tertutup, bibir Victoria tersenyum getir dengan arah pandangnya yang mulai buram, ingatannya kembali pada hari di mana sebelum tragedi di castle Albany
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
To Be Continued.......
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Part ini termasuk bagian yang butuh konsentrasi pas bikin jadi kalo ada tulisan eike yang masih susah di cerna, tolong bantu koreksi ya. Mungkin dari kalian ada yang bakal komplain kenapa banyak bgt orang di karya eike, karna emang perlu beb. Hehhee...
Tolong like, komen, bintang dan lope-nya ya readers...
Part selanjutnya bakal nyeritain kejadian sebelum tragedi Albany, sedikit demi sedikit mulai masuk ke bagian alasan di balik alasan.
__ADS_1
Kalo penasaran pantengin terus ya...
Salam sayang semua✨