Behind The Castle

Behind The Castle
**TEH SORE**


__ADS_3

Calista terkekeh kuat hingga harus menutup mulutnya agar tetap terlihat elegant


Kekehan Calista membuat semua kepala menoleh padanya, semua wajah menatapnya dengan bingung, semua mata menatapnya dengan penuh penasaran, kecuali Victoria yang tidak lama juga ikut terkekeh geli.


Hingga Calista merasa cukup lelah terkekeh, arah pandangnya kembali menatap Victoria yang juga sedang menghabiskan sisa kekehannya.


"Oiya... saya baru tahu jika ada rumor seperti itu Lady Victoria" Calista melirik satu per satu wajah bingung di meja, lalu menatap Victoria kembali. "Dari mana anda mendengar rumor yang terdengar mengada-ngada seperti itu? mengingat jika anda jarang menghadiri acara di luar, apakah anda mendapatkan cerita dari pelayan pribadi anda?"


Satu alis Victoria menukik tinggi dan menatap semua wajah yang sekarang sudah berpindah menatapnya


"Kenapa anda membawa Lady Diana ke meja kita Lady Calista?"


Kembali Calista terkekeh tapi kali ini tanpa rasa humor


"'Lady' Diana? siapa itu Lady Victoria?"


"Seperti yang saya bilang, orang yang anda seret ke atas meja kita sore sekarang"


Dengan senyum penuh celaan Calista menatap Victoria


"Dia pelayan kan? kenapa anda memberinya gelar Lady? atau di Duchy memang punya kebiasaan untuk memberi semua pelayan gelar? anda menyamakan kami dengan pelayan Lady Victoria?"


Hening... keadaan di meja menjadi dingin, dari ekor matanya Victoria melirik pelayan yang ikut menatapnya dengan penasaran, lalu kembali menatap satu persatu wajah di atas meja yang terlihat bingung kecuali, Juliet sudah tersenyum geli sambil menatapnya. Oohh... Victoria sangat tahu jika Juliet sangat suka ketika melihatnya sedang bertarung terlebih ketika Victoria mendapatkan lawan yang cukup tidak tahu diri. Dan itu cukup membuat semangat Victoria berpacu untuk memberikan pertunjukkan yang lebih menyenangkan lagi.


Victoria langsung mengubah raut wajahnya menjadi sendu sangat rapuh sambil mengusap-usap ujung matanya, seolah ada air mata yang akan menetes di sana


"Kenapa anda kejam sekali Lady Calista? walaupun mereka pelayan tapi 'pelayan juga manusia' terlebih... "Victoria menarik nafas dan kembali mengusap ujung matanya yang kering. "Terlebih, Lady Diana memang berdarah bangsawan, dia anak dari Viscount Lebox, walau bagaimanapun kita harus menghargainya, saya sangat sedih mendengar anda merendahkan orang lain seperti itu terlebih pada para pelayan, jika bukan karna mereka, kita tidak bisa melakukan apapun, bahkan hanya untuk memasang gaun.... dan... dan..."


Mendengar suara Victoria yang semakin 'terisak', dengan cepat Juliet berdiri dari kursinya saat Victoria juga sudah menggetarkan bahunnya dan menutup mulutnya dengan punggung tangan.


"Tenanglah Lady.... anda sangat lembut dan baik hati, saya sangat bangga mempunyai saudara baik seperti anda, jangan menangis"


Setelah Juliet mengatakan itu, dua orang Lady lain ikut berdiri dan mengikuti Juliet yang mengusap-ngusap punggung Victoria meski tanpa siapapun ketahui, Victoria memutar bola matanya saat kepalannya tertunduk dan sebuah cubitan Victoria dapatkan di sikunya, cubitan pelan dari Juliet.


Easter duduk di kursinya dengan tidak tenang, tangannya dengan kuat mencengkam gaun untuk menahan tawanya agar tidak keluar, terlebih karna melihat wajah-wajah sedih yang sedang duduk di kursi mereka masing-masing sambil menatap Victoria kecuali, Calista yang sudah mengeraskan rahangnya dengan wajah memerah. Easter hampir terbahak.


Setelah melihat Victoria tidak menggerakkan lagi bahunya, Juliet segera melangkah ke kursinya yang di ikuti Lady lain untuk kembali duduk.


"Baiklah... kita akhiri percakapan kita tentang ini, mari kita membahas yang lain"


Akhirnya Lady Ribka mencoba memotong drama yang terjadi di meja untuk kepentingan bersama terlebih, Lady Ribka melihat jika Calista terlihat menahan marah dengan wajah memerah.

__ADS_1


"Benar Lady Ribka, kita bisa berbincang hal lain yang lebih menyenangkan"


Lady Cecil menimpali yang langsung di angguki empat kepala di sana


"Benar sekali, banyak hal menyenangkan lain yang bisa kita bicarakan, seperti cerita membahagiakan yang menyebutkan jika Lady Calista kabarnya sedang di lamar oleh tuan tanah dan seorang pengusaha"


Ucapan Easter hampir membuat Calista kehilangan matanya karna matanya terbelalak kaget.


Juliet melirik Easter sambil mengerling nakal, yang membuat Easter melirik Victoria yang hanya menaikkan satu alisnya


"Apa itu benar Lady Calista? waahh... apakah anda menerima lamaran itu?"


"Bagaimana ceritannya Lady Calista? siapa pria beruntung itu?"


"Kapan kalian bertemu Lady Calista?"


"Tuan tanah dan pengusaha? dia pasti pria tampan dan kaya.. anda beruntung Lady Calista, kapan kalian bertemu?"


Mendengar Calista yang di berondong pertanyaan, Victoria segera menarik kursi penontonya, Juliet menyesap tehnya dan Easter dengan wajah malaikatnya menggigit biskuit yang baru saja di raihnya dari piring.


Dengan mengerahkan semua ketenangan dan kesabarannya, Calista mencoba menjawab satu persatu pertanyaan para Ladies yang terus menodongnya tanpa jedah.


Setelah Calista menjawab semua pertanyaan dan mengakhiri dengan elakkan akhirnya pertanyaan untuknya berhenti mengalir. Calista mencoba membuka topik pembicaraan baru yang di sambut oleh yang lain, para Ladies juga ikut saling bertanya dan saling membagi cerita hingga tanpa terasa waktu semakin berjalan dan semakin sore.


Sura pekikkan Victoria yang tiba-tiba terdengar membuat semua pelayan segera berlari padanya sambil membawa kain lap, sama halnya dengan Easter yang segera berdiri untuk ikut mencoba mengeringkan wajah dan gaun atas Victoria yang sudah basah karna teh.


"Itu bayaran untuk Champagne di pesta dan untuk bayaran karna mencoba menjatuhkan saya dengan cara menjijikkan Lady Victoria"


Victoria hanya diam dan menatap Calista dengan rahang terkatup rapat, tangan-tangan para pelayan dan Easter masih bergerak pada wajah dan gaun atasnya yang cukup basah.


Setelah mengatakan itu, Calista meletakkan cangkirnya kembali tapi,


Sekali lagi, Pekikan terdengar dan itu bersumber dari Calista, membuat tangan-tangan di tubuh Victoria berhenti dan segera menoleh dengan mata membulat.


"Terimaksih sudah membantu dan sekarang tinggalkan kami"


Sambil berdiri dan memberi perintah pada pelayan, Victoria mendekat ke samping Juliet yang dengan anggun meletakkan cangkir kosong di tanganya ke atas meja


Easter hanya terpaku mencoba mencerna situasi, dan setelah mengerti, dengan kebaikan hatinya, Easter menjauhkan segala cangkir dan teko berisi teh yang berada di dekat Victoria dan Juliet lalu menarik kursi penontonnya


"Itu bayaran untuk seorang pelacur menjijikan"

__ADS_1


Dengan nada tenang, lembut dan gerak gerik penuh martabat Juliet menjelaskan arti dari teh yang dia berikannya untuk Calista, Untuk wajah Calista.


"Hhmm... selama ini aku hanya menyebutnya dengan gelar wanita simpanan juls tapi, pelacur menjijikan?" Victoria mengangguk dengan dramatis. "Memang lebih cocok untuknya"


Nada tenang tanpa cemooh tapi dengan kata-kata penuh hinaan Victoria membuat Juliet mengangguk setuju. Easter meraih sebuah biskuit lagi sambil duduk dengan tenang di kursi Victoria, kursi terjauh dari area tontonannya.


"Berengsek kalian! aku akan membalas ini Lady Juliet! aku akan membuatmu menderita Lady Victoria!"


Teriakan Calista membuat Juliet membuka mulutnya


"Jangan berteriak seperti pelacur yang di campakkan Lady Calista, kami bangsawan terhormat tidak terbiasa dengan keributan murahan"


"Aku penasaran Juls, apa ini memang kebiasaan keluarga Gafton?"


Juliet menatap Victoria dengan 'memasang' wajah bingungnya


"Yang mana Vic? teriakannya..." Juliet menjedah dan menggeser bola matanya pada Calista yang sudah menangis dengan wajah yang sebentar lagi akan berubah menjadi monster. "Atau nama tengah pelacurnya?"


Merasa tidak tahan lagi, Calista segera memutar tubuhnya untuk pergi, walaupun sudah melangkah untuk menjauh dari meja tapi gelak tawa Victoria dan Juliet terus menemani langkah kakinya.


Suara tepukkan tangan kuat seseorang membuat kepala Juliet dan Victoria segera berputar pada sumber suara, tepukan tangan Easter.


"Pertunjukkan yang seru... walaupun dua lawan satu"


Dengan mata berkaca-kaca, Victoria segera melompat memeluk Juliet dan Easter saat Easter sudah berdiri di samping Juliet.


"Aku merindukan kalian"


Isakan pelan Victoria yang memeluk mereka ikut menyulut air mata di pelupuk mata Juliet dan Easter. Mereka berpelukkan sambil terisak, semua kata-kata kerinduan segera bersaut-sautan, semua rasa syukur dan kebanggan untuk Victoria semakin membuat mereka terisak.


Edward segera memutar tubuhnya yang terus berada di balik pohon besar, yang entah sejak kapan terus berada di sana. Dengan langkah pelan, hati-hati, tidak terdengar, cepat dan terlatih, langkahnya dengan pasti menuju ke dalam istana.


\=\=\=\=💜💜💜💜


Lagi buat cerita tentang Easter, nanti alurnya lebih ringan dan ga maen politik yang ampe merembet kemana-mana, tapi bakal banyak konflik perasaan yang bikin darah tinggi. LOL


Kalo bersedia, silahkan mampir... kalo tertarik di lope-in ya... kalo bnyak yang berminat eike bakal lanjutin cerita Easter buat nulis di sini aja, tapi kl emg sepi gak eike terusin.


Tolong tombol like, komen, bintang, lopenya jangan lupa di tekan ya readers..


Terimaksih...

__ADS_1


Salam sayang semua✨


__ADS_2