Behind The Castle

Behind The Castle
**FREDRICK'S WOUND II**


__ADS_3

FLASHBACK


Tidak ada jawaban dari teriakan murka penuh dengan tangisan kegilaan Elisabeth, dan setelah itu suara menghilang, benar-benar menghilang. Dengan pelan pengajar Henry berbisik pada Fredrick kecil yang masih terus meronta dan menangis


"Kita lihat Her Majesty pelan-pelan, setelah itu aku akan membawa kalian pergi. Berjanjilah untuk tidak membuat keributan"


Fredrick langsung mengangguk kuat dan patuh, dia yang masih sangat kecil tidak melawan dan hanya bisa mengikuti. Henry dan Calista ikut mengangguk patuh dan mendekat pada jendela. Henry yang sudah terbiasa menyelinap dari jendela membuka jendela secara perlahan dengan tubuh yang masih gemetar, membiarkan Fredrick dan pengajarnya untuk masuk ke dalam ruang sebrang


Fredrick kecil tidak bisa mencerna semua keadaan di sana, dia yang masih kecil tidak bisa mengatakan apapun lagi, bibirnya terus bergetar hebat dan mendekat pada ibunya yang hanya diam dengan keadaan menggenaskan.


"Ibu...."


Rosemary menggerakkan bola matanya, kedua bola matanya yang tampak kosong, wajahnya pucat pasih, seluruh tubuhnya terasa dingin saat Fredrick menyentuh tangan ibunya


"Ibu..."


"Bash..."


"Apa yang terjadi ibu..." Fredrick terisak pelan, tangan kecilnya mengusapi wajah dingin ibunya yang basah karna air mata. "Ibu... Apa kau baik-baik saja?"


Rosemary mengangguk singkat dengan wajah datar dan sorot mata kosong


"Bash anakku"


Rosemary menggenggam tangan Fredrick kecil dan memandangnya dengan dalam

__ADS_1


"Jadilah Raja yang baik, jadilah Raja yang mencintai rakyatmu, jadilah Raja yang takut akan Tuhan, dan Raja yang mencintai keluargamu kelak. Pilih sendiri wanita yang kau cintai untuk menjadi pendampingmu kelak, terus selalu cintai istrimu dengan tulus, lindungi keluargamu saat kau sudah menikah, berjanjilah Bash"


"Ibu..."


"Berjanjilah nak"


Fredrick mengusap wajahnya yang terus basah dan mengangguk patuh, tangan kecilnya menggenggam erat tangan ibunya dengan wajah memerah dan bibir yang terus bergetar


"Iya ibu. Aku berjanji"


Dengan susah payah Rosemary tersenyum


"Jaga Calista dengan baik, rawat dan lindungi dia bahkan saat kau sudah menjadi Raja sekalipun. Jangan lupakan dia nak"


Fredrick hanya bisa mengangguk dengan terisak


"Kenapa ibu? Kita bisa bahagia... Ayo kita pulang ibu... Aku akan mengadukan ini pada ayah. Aku akan membuat ayah menghukum wanita itu"


Rosemary tersenyum pedih sambil mengusap surai anaknya


"Ibu sudah tercemar sayang, ibu tidak bisa hidup lagi tanpa kehormatan. Ibu...."


Belum sempat Rosemary menyelesaikan ucapannya, pengajar Henry langsung menarik dan membekap mulut Fredrick karna ada suara yang datang mendekat. Dengan cepat dia membawa Fredrick dan Calista ke belakang Larina. Menggendong Fredrick dan Calista sambil berlarian ke bukit untuk menuju istana.


"Ibuku... Bagaimana ibuku... Jangan tinggalkan ibuku, ibuku sedang sakit"

__ADS_1


"Tenanglah Your Highness.. Kita akan ke istana dan menjemput Her Majesty"


"Lalu bagaimana dengan ibuku nyonya?"


Pengajar Henry tersenyum pedih saat mendengar suara polos anak-anak itu bertanya dengan raut wajah cemas


"Tenanglah Lady, Baroness dan Her majesty akan baik-baik saja. Saya akan membawa kalian segera ke istana, semua akan baik-baik saja"


FLASHBACK OFF


"Saat itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti keadaan, dan dengan patuh menanamkan di dalam hatiku jika semuanya akan baik-baik saja tapi... Tidak ada yang baik setelah kejadian itu"


Victoria membekap mulutnya dengan kuat, kedua matanya membulat lebar dengan air mata yang terus menetes. Hatinya sangat perih, sangat sakit. Victoria menangis kuat, tangisan kuatnya seolah untuk menggantikan tangisan Fredrick yang sudah tidak bisa lagi dia keluarkan. Hati Fredrick sudah membeku. Tangan Fredrick terulur untuk mengusap wajah istrinya yang basah, dan kembali melanjutkan


"Setelah sampai di istana dalam waktu yang lama karna kami hanya berlari, aku langsung mengatakan semuanya pada Edward yang langsung menghentikan rapat di ruang rapat ayahku. Aku melihat guratan kemurkaan di wajah ayahku, aku tidak pernah melihat wajahnya yang selalu tenang menunjukkan raut wajah semengerikan itu. Mereka dengan cepat langsung menuju ke Larina dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi, aku hanya tahu, jika setelah kejadian itu, ibuku jatuh sakit dan tidak bisa bicara lagi" Victoria langsung berhamburan memeluk Fredrick dengan kuat, dia merasa tidak sanggup lagi untuk mendengar semuanya, tapi Fredrick belum selesai.


"Selama berminggu-minggu ibu sakit, sakit yang saat itu tidak ku mengerti karna apa. Aku melihat bagaimana banyak dokter kerajaan yang mengobatinya, saat itu aku berpikir jika nanti ibu pasti sembuh. Setiap hari aku selalu mendengar ayah terisak kuat di kamar ibu, ayah terus merawat ibu, dia merawat ibu sendiri, mulai dari memandikan, menyuapi, dan dia juga selalu menemani ibu di dalam kamar ini dan mengabaikan semua pekerjaan dan tanggung jawabnya. Kata maaf dan kata cinta selalu terucap saat dia terisak dan ibu... Ibu selalu tersenyum hangat padanya tanpa bisa bersuara" Fredrick kembali tersenyum getir dan menarik nafas dalam dengan mata terpejam kuat. Tangannya membelai surat Victoria yang ada di dadanya.


"Setelah hampir satu bulan, hari yang tidak pernah terpikirkan olehku saat itu, hari di mana... ibu pergi... Pergi meninggalkanku untuk selamanya. Aku hancur, sangat sangat hancur, tapi yang ku tahu jika ayah jauh lebih hancur lagi dari ku, benar-benar hancur tidak tertolong. Berbulan-bulan ayah meratap tanpa memperdulikan apapun termasuk aku, kehilangan dan penyesalan yang di rasakannya membuatnya mengabaikan semua hal termasuk dirinya sendiri dan aku. Aku merasa saat itu, saat ayahku mengabaikanku adalah bentuk dari dirinya yang sedang menyalahkanku karna aku tidak bisa menolong ibuku" Kedua mata Fredrick kembali terbuka dan menerawng jauh ke luar jendela


"Semenjak itu aku selalu mencari pelarian dan terus melakukan apapun semauku. Aku sering kabur dari istana, semakin hari aku semakin tidak bisa di pegang, aku semakin liar bahkan aku pernah beberapa kali mencuri uang pajak rakyat untuk gambling, aku juga sering melakukan hal-hal yang membahayakan dan puncaknya ketika suatu hari aku hampir mati saat jatuh dari kuda, saat itu aku mengikuti lomba pacua kuda dan terlempar jatuh. Tubuhku serasa remuk hingga aku pingsan di tempat, tapi, untung saja saat itu Baron Gafton berada di sana, dan segera membawaku yang saat itu tidak di kenali siapapun. Karna setiap keluar istana aku akan selalu menyamar, dan dari sana kami kembali dekat, terlebih pada Calista. Saat aku sakit dan terbaring penuh luka, Calista yang selalu merawatku dengan baik hingga aku dan Calista selalu bersama dan terikat. Kami selalu saling berbagi luka dan itu membuat kami jadi semakin terikat. Masa muda dan kepolosan kami yang selalu bersama akhirnya membawa kami ke sebuah hubungan yang menghasilkan, akibat dari hubungan n*fsu muda dan keingintahuan kami... Calista hamil" Victoria mengangkat kepalanya dari dada Fredrick dan menatap Fredrick dengan dalam. Fredrick hanya bisa tersenyum getir dan mengusap surai indah istrinya yang tertepa sinar matahari. "Ayahku yang selalu tahu segalanya langsung dengan cepat melenyapkan hasil benih yang masih rata berada di perut Calista" Victoria tercekat, matanya membulat tidak percaya. Fredeick kembali membelai surai Victoria dan kembali melanjutkan "Mereka memaksa mengeluarkannya dan membunuhnya. Itu yang di katakan dan di tanamkan Baron Gafton padaku terlebih pada Calista. Tapi yang sebenarnya tidak seperti itu, karna saat aku mencari tahu, janin itu di keluarkan karna memang sudah tidak bisa bertahan. Ayahku melakukan itu agar Baron Gafton tidak memanfaatkan situasi kehamilan Calista. Calista masih terlalu muda dan belum terlalu mengerti banyak hal jahat, bahkan untuk mengerti kehamilan, dia belum cukup hingga tidak bisa menjaga dengan benar janin itu" Bibir Fredrick mulai bergetar


"Aku semakin membencinya Vic... Aku sangat membenci ayahku dan semakin membencinya saat dia memisahkanku dan Calista, karna saat itu hidupku sudah ketergantungan pada Calista. Dan ayah ku yang selalu tahu segalanya bisa dengan cepat membaca itu, dia langsung mengambil tindakan. Dia membuat Baron Gafton dan Calista pergi menjauh, sangat jauh bahkan hingga keluar dari ibu kota. Tapi sekarang aku sudah mengerti jika ada alasan lain yang membuat ayah melakukan itu, aku sudah sepenuhnya mengerti kenapa ayahku melakukan itu dulu" Tangan Fredrick kembali membelai surai Victoria dan merapikan rambutnya yang tertepa angin, tangannya yang lain mengusap pipi Victoria dengan lembut. "Baron Gafton adalah orang yang sangat serakah dan jahat, dia menggunakan kemalangan istri dan anaknya untuk meraup keuntungan dan kekuasaan terlebih untuk menyulut api para 'anjing-anjing' ibuku agar dia bisa mendapatkan posisi dan dukungan kuat, termasuk untuk membungkam ayahku untuk mengikuti keinginannya"


\=\=\=💚💚💚💚

__ADS_1


Poor Fredrick T.T


Ayukk jejaknya yukkk


__ADS_2