
PLAK!
PLAK!
BRAKKK!
BRAAKKKKK!!!
Suara tangan yang mendarat di tubuh kokoh itu terus berlanjut, suara-suara tendangan dari kaki-kaki terus menghantam pendengaran dan mengisi suara di sebuah sel. Tubuh yang penuh luka dengan ke dua tangan yang di ikat ke atas itu terus terayun kuat karna pukulan
"MENGAKULAH!!!"
BRAAAKKKK!!!
"Apa yang harus ku akui?"
Dengan santai dan terkesan geli, mulut yang sudah penuh darah itu menjawab dengan nada menyebalkan, bahkan dia terus terkekeh saat tubuh, kepala, tangan dan kakinya di pukuli oleh tiga orang dengan cara membabi buta.
"MENGAKULAH JIKA KAU YANG MELETAKKAN RACUN DI MINUMAN HER MAJESTY!!"
Kembali kekehan menyebalkannya meluncur dari mulut penuh darah itu
"Oohh.. pukulilah aku terus selagi kalian bisa karna..." pria terikat itu menatap bergantian tiga orang yang masih memukuli kepalanya. "Jika aku lepas dari rantai ini, tanganku sendiri yang akan mencekik kalian dengan rantai yang mengikat kedua tangan ku ini"
"Diam!!!"
PLAKK!!
BRAKK!!
"Lalu kepala kalian yang sudah terputus karna rantai akan ku lempar untuk makanan srigala bukit"
"BRENGSEKKK!!! KAU TIDAK AKAN LEPAS DARI SINI! KAU AKAN MATI!!!"
Pria terikat itu terbahak kuat
"Ya ampun.. aku takut sekali..."
--000--
"Apa dia sudah mau mengakui Nin?"
Nina kembali menuangkan teh ke cangkir Ratu Elisabeth yang sudah kosong
"Masih belum Your Majesty"
"Ini hari ke berapa Nin?"
Nina menatap Ratu Elisabeth dengan wajah pasrah
"Hari ke sembilan Your Majesty, dan tuan Edward tetap tidak menyerah"
__ADS_1
"Hm.. tidak masalah, dia memang anjing paling tangguh di kerajaan ini. Jika dia tetap tidak mengaku, tetap pukuli sampai dia mati" Tangan Ratu Elisabeth mengangkat cangkirnya. "Buat perlahan"
"Baik Your Majesty" Kembali Nina menatap Ratu Elisabeth. "Bagaimana dengan pestanya, Your Majesty?"
"Percepat, jangan terlalu lama"
Nina membungkuk dalam
"Baik Your Majesty"
---0000---
Keelft terus menunggu dengan gelisah di belakang bukit, dia dan dua orang lain kesatria emas milik Raja George menunggu Dolores dan Mois mengantarkan pesanan mereka
Hari sudah semakin gelap, semakin malam dan semakin dingin
"Keelft..."
Keelft yang di panggil menatap Xander yang menatap sosok dua orang yang datang dengan penutup kepala. Itu Dolores dan Mois
Dengan cepat tiga kesatria emas itu mendekat untuk menghampiri yang mereka tunggu
"Bagaimana?"
Dolores melirik Mois yang mengangguk, lalu merogoh mantelnya.
"Lalukan dengan cepat tuan Keelft, saya harus langsung mengembalikan lagi"
"Kalian tunggulah di sini bersama Farel" Keelft menapat Farel yang langsung mengangguk, lalu menatap Xander. "Ayo Xan..."
Xander merenggangkan otot-ototnya sambil menyeringai
"Ok... sudah lama kita tidak mencuri malam Keelft"
Dolores menatap punggung Keelft dan Xander yang sudah menjauh, lalu menatap Farel dengan raut wajah cemas
"Apa ini akan berhasil tuan?"
Dengan acuh Farel megedipkan bahunya lalu berjalan ke sebuah batu besar
"Mereka berlebihan, sendiri saja harusnya"
Mois dan Dolores hanya saling melirik lalu ikut mencari batu untuk menjadi tempat mereka mendaratkan bokong.
Keelft dan Xander terus berlari kencang menuju sudut, paling sudut dan terisolasi di bagian istana. Sebuah pintu besi tebal berada di sana. Keelft dengan cepat mengambil kunci yang di antarakan Dolores dan Mois, dengan perlahan membuka pintu, dengan gerakan tanpa suara dan terlatih kembali menutup pintu dan mengunci pintu kembali dari dalam.
Keelft dan Xander menatap sekitar ruangan gelap yang baru mereka masuki. Mereka yang sudah sangat hafal jika di depan mereka sekarang terdapat tangga yang curam, langsung menuruni tangga dengan pelan dan tanpa suara
Sepanjang perjalanan hanya di isi kegelapan yang mencekam, tapi insting terlatih mereka terlebih karna sudah sangat paham setiap sudut tempat itu membuat mereka seperti sedang berjalan-jalan di taman bunga.
Saat pencahayaan minim mulai tertangkap indra penglihatan mereka, Keelft dan Xander langsung berpisah di ke dua sisi ruangan. Keadaan tetap hening tapi, semakin lama semakin bertambah hening. Hanya api-api obor yang sesekali bergerak karna pergerakan halus tapi juga tegas dan kuat.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, barulah sebuah suara muncul
"Habis Keelft!"
Tubuh-tubuh pengawal sudah berserakan penuh darah dari sisi sebelah Xander. Xander terkekeh geli saat kakinya sudah muncul di depan sebuah sel.
Keelft yang datang sedikit terlambat berdecih pada Xander yang memberikan pandangan menghina padanya
"Satu hari bebasmu untukku"
Dengan malas Keelft mengabaikan peringatan taruhan mereka, dia malas karna kalah. Dengan memicingkan kedua matanya Keelft menatap ke dalam isi sel tempat mereka berdiri sekarang. Suara terbahak Keelft tidak bisa di tahannya lagi, tidak perlu menunggu, Xander pun ikut terbahak
"Sudah puas?"
Keelft dan Xander langsung mengatupkan mulut mereka kembali dengan bibir yang masih berkedut geli. Bahkan mereka menunduk tidak ingin menatap wajah pria yang berada di dalam sel. Terikat memalukan, dengan wajah hampir hancur seperti tanpa kehormatan, dengan tubuh penuh luka seperti pengecut
Keelft yang masih menunduk segera membuka sel dengan kunci dan masuk
"Selamat malam Kapten..." Bibir Keelft kembali berkedut. "Edward"
Edward sangat ingin mengumpat kuat tapi rahanganya yang sudah bergeser membuatnya untuk membatalkan niatnya. Keelft yang masih ingin terbahak segera melempar kunci pada Xander yang langsung berlari ke luar sel istana. Dia harus segera mengembalikan kembali kunci pada Dolores dan Mois.
Dengan kuat Keelft menebas rantai-rantai yang mengikat kedua tangan Edward ke atas. Saat rantai telepas, tubuh Edward limbung, Keelft hanya membiarkan dan segera menuntun langkah mereka. Edward yang cukup merasa pegal dan kesal mencoba merenggangkan seluruh bagian tubuhnya yang terluka mengenaskan.
"Tubuhmu butuh ku papah Kapt?"
Keelft mengerling menyebalkan pada Edward yang langsung menendangnya. Keelft terkekeh sambil mulai menaiki tangga untuk menuju pintu keluar. Oh.. tentu saja.. siksaan yang di dapat Edward tidak akan membuat tubuhnya jatuh. Bahkan dengan semua luka dan sakit di tubuhnya, dia masih bisa untuk membantai semua pengawal dan penjaga milik Ratu sialan yang sudah mengurung hari-hari bebasnya, atau sekalian semua pengawal dan penjaga di seluruh istana? Edward akan memikirkannya lagi, karna jika dia membantain dan menyapu bersih seluruhnya, dia harus memikirkan daerah mana yang kira-kira bisa menghasilkan pemuda berguna, untuk mengantikan peran-peran yang baru.
Langkah mereka sudah keluar dari pintu dan langsung menuju gerbang belakang istana. Seekor kuda berwarna coklat besar sudah menunggu di sana.
"Anda akan kemana Kapt?"
Edward dengan cepat menginjak pelana dan naik ke punggung kuda kesayangannya
"Liburan... Jangan ganggu aku jika tidak penting"
Sambil menarik pintu kayu yang berada di pinggir gerbang besi besar, Keelft mencibik sebal
"Harusnya aku saja yang di pukuli. Aku malas harus melihat nenek sihir itu Kapt"
Setelah kuda coklat itu keluar sepenuhnya, Edward menatap Keelft
"Ingat, hanya yang 'penting'..."
Dengan malas Keelft menarik kembali pintu kayu agar tertutup. Pintu itu hanya bisa di buka dari dalam dan memiliki cara sendiri untuk membukannya. Hanya beberapa orang yang tahu cara membukannya, termasuk Keelft yang memang mahir dalam mencuri.
Dengusan kasar bagai kuda liar Keelft terdengar saat kakinya mulai kembali berlari menuju insta kuda. Dia memutuskan untuk kembali ke camp kesatria emas dengan kuda karna tidak ingin berlama lama berdekatan dengan istana, istana yang sekarang penuh dengan aroma nenek sihir. Keelft hanya akan sesekali melihat ke dalam kamar Raja George dari jendelanya. Raja George yang sekarang menjadi satu-satunya hal 'penting' di istana
\=\=\=💛💛💛💛
Ayuk jejaknya yukk
__ADS_1
Salam sayang