Behind The Castle

Behind The Castle
**OBROLAN SIANG II**


__ADS_3

"Semakin banyak semakin bagus"


Henry terkekeh mendengar ucapan yakin Fredrick dan kembali membuka suara


"Bagaiman ke-keadaan Panter? apa d-dia sudah mulai tua?"


Sambil meraih biskuit Fredrick tersenyum dan menatap Henry


"Yeah dia hampir tua, tapi tetap tangguh"


"Aah benar, umurnya sudah lebih dari 10 tahun kan?"


Calista ikut menimpali obrolan. Fredrick mengangguk


"Iya, 11 tahun saat musim semi kemarin"


Calista tersenyum hangat dan menatap Fredrick yang juga membalas senyumnya


"Dia butuh kekasih Fred"


Ucapan Calista membuat tiga orang di meja Victoria terkekeh. Victoria mulai bosan karna tidak mendapatkan cerita menarik atau pun berguna, dengan anggun tangannya terulur untuk mengambil kookies tapi ternyata, Henry juga ikut mengambil kookies yang membuat tangan mereka bertemu di atas piring. Henry terkekeh


"Silahkan La-lady"


Victoria tersenyum


"Tidak Your Highnes, silahkan"


Henry menggeleng sambil tersenyum


"Tidak Lady, silahakan, i-ijinkan saya me-menjadi gentleman se-sejati"


Kekehan Victoria membuat Fredrick menatapnya dengan lekat dan Calista tersenyum culas


"Kalian cepat akrab"


Ucapan Calista membuat Henry menaikkan satu alisnya dan Victoria hanya mengedipkan bahunya acuh


"Te-tentu saja, La-lady Victoria seorang La-lady yang ramah"


Fredrick terkekeh tanpa rasa humor dan segera mengerling pada Victoria


"Kau benar-benar sangat ramah Vic"


"Hhmm ya trimakasih"


Victoria tidak menyambut godaan Fredrick dan kembali menggigit kookiesnya. Calista kembali menatap Fredrick dan kembali bersuara


"Kau tampak lelah Fred, apa kau tidur tidak teratur?"


Henry melirik Calista dan Victoria bergantian, lalu melirik Fredrick yang tersenyum


"Apa begitu terlihat?"


Calista mengangguk yakin


"Tentu saja, di bawah matamu mulai menghitam, jangan terlalu banyak bekerja, 'bermainlah' sekali-sekali"


Dengan tersenyum mengundang dan menatap dengan lekat, Calista menekan kata tertentu di kalimatnya.

__ADS_1


Victoria tidak terlalu mengerti bahkan tidak peduli tapi tidak dengan Henry, senyum ramahnya segera memudar


"Nanti jika urusan ibu kota selesai aku akan istirahat Cal, aku baik-baik saja"


Fredrick tersenyum tipis untuk membalas tatapan Calista yang sangat sensual tapi, semua keadaan tenang dan akrab mereka segera menegang saat suara Victoria keluar dari mulut kecilnya


"Apa itu sebuah janji?" Victoria menatap Fredrick dan Calista bergantian. "Untuk kalian bermain bersama?"


Suara batuk Henry segera mengisi dinginnya suasana meja, Henry mencoba meraih teh karna tersedak kookies yang di kunyahnya. Fredrick menegakkan bahunya beberpa kali, raut wajahnya berubah menjadi.... dingin? dan Calista hanya tersenyum miring.


Cukup lama suasana meja hanya di isi dengan suara Henry yang terbatuk, Victoria menatap wajah Henry yang sudah memerah, entah karna tersedak atau karna hal lain juga, Victoria hanya memasang wajah datarnya


"Anda baik-baik saja Your Highness?"


Nada lembut dan khawatir Victoria membuat Henry menghangat dan membalas Victoria dengan tersenyum hangat


"A-aku baik-baik saja Lady. te-terimakasih"


Victoria kembali duduk dengan santai dan acuh meski keadaan di meja belum membaik, tapi Victoria belum selesai, kedua bola mata sehijau daunnya menatap Fredrick dan Calista bergantian


"Jadi, apa kalian nanti akan bermain?"


"Tidak"


Suara tajam dan dingin Fredrick membuat Diana yang terus menjadi penonton jauh bergindik, Henry hanya berpura-pura tidak tahu, Calista dengan anggun mengangkat cangkirnya dan Fredrick menatap Victoria dengan tajam


"Saya pikir Yo......."


"Apa yang kau pikirkan?"


Fredrick segera memotong ucapan Victoria dengan suaranya yang tajam dan dingin, Victoria tersenyum dan kembali membuka mulutnya


"Saya pikir Your....."


Kali ini senyum Victoria memudar, alisnya berkerut dalam dan membalas tatapan Fredrick dengan tajam


"Apakah mengajak seseorang bermain mempunyai maksut Your Highness, apak......"


"Katakan dengan jelas maksutmu Vic, jangan berputar-putar"


Victoria mengeryit, dia sungguh tidak mengerti apa maksut Fredrick yang terus mencercanya


"Sebenarnya apa masalah anda Your Highness?"


"Aku ingin tahu maksutmu"


"Dan saya akan menjelaskan! jadi jangan memotong ucapan saya!"


"Aku memotong ucapanmu yang hanya akan bermain kata-kata"


"Apa mak...."


"Katakan dengan jelas Lady Victoria, anda sedang mencibir dengan kata 'bermain' kami kan?"


Calista ikut menimpali percakapan mereka. Victoria semakin tidak mengerti, pelipisnya berkedut karna menahan kesal.


"Apa ada yang bertanya pada anda Lady Calista?"


"Saya bersuara karna ikut tersinggung"

__ADS_1


"Tersinggung?"


Pelipis Victoria semakin berkedut, bahkan tangannya sudah terkepal


"Tentu saja, anda sedang mencoba mencibir kami di depan para pelayan dan Henry"


Merasa semakin tidak bisa menahan diri, Victoria mencoba menarik nafas lalu melirik sekitar yang sudah menjadi penonton walaupun kepala mereka tertunduk, Victoria baru sadar jika banyak pelayan di sekitar mereka.


"Ya sudahlah terserah.... dari pada menjadi keributan saya pamit"


Dengan acuh dan menahan marah Victoria segera bangkit tapi Fredrick mencekal tangannya dengan kuat, hingga bokongnya mendarat dengan kasar di kursi


Henry yang melihat jika keadaan semakin parah mencoba menengahi


"Fred su-sudahlah"


"Diam Hen, Victoria harus menjelaskan maksutnya dan apa pengertian yang dia tangkap dari pembicaraan tadi, sekarang, di sini"


Gigi Victoria mengerutuk, kepalanya berdenyut, tangannya semakin terkepal, raut wajahnya sudah siap untuk semua hal buruk. Diana yang sudah berdiri dengan gemetar semakin gemetar saat melihat raut wajah Victoria


"Lepas"


Suara dingin dengan bibir berdesis tajamnya segera membuat semua kepala menatapnya, terutama Fredrick yang langsung menangkap jika Victoria sudah siap lepas kendali


"Lepaskan tanganku atau aku akan berbuat sesuatu"


Fredrick menaikkan satu alisnya dan tetap mencengkam lengan Victoria


"Kau coba mengancam ku?, Ini tidak akan ku lepas sebelum kau menjelaskan"


"Grey!"


Mendengar suara Victoria yang memanggilnya, Grey segera bangun, kedua bola mata emas Grey yang menangkap jika lengan tuannya di pegang dengan tidak nyaman segera mengeram dengan gigi yang masih terkatup


"Grey sudah siap, pilihlah siapa yang harus di serang duluan"


Fredrick semakin hilang kesabaran dan segera membawa Victoria berdiri, dengan segala kekuatannya Victoria menahan dan menarik diri dari seretan Fredrick


Tanpa di minta, karna melihat tuannya yang kesulitan, Grey segera melompat ke atas meja, dentingan teko dan gelas kramik yang jatuh ke semen membuat suasana semakin ramai


Calista memekik takut hingga kursinya terjatuh, yang membuatnya terjatuh dengan cara tidak terhormat di semen, Henry hanya berdiri menjauh dari meja, semua pelayan di sana mulai ketakutan dan siap berlari. Keadaan semakin kacau.


Kali ini Fredrick sudah semakin tidak tahan dan mendekatkan wajahnya pada Victoria


"Sekali dia menyerang seseorang di sini, aku tidak akan segan Vic"


Henry meneguk ludahnya dengan susah payah dan melirik Calista yang terisak manja karna tangan dan bahunya yang terbuka mejadi terluka karna benturan semen. Grey masih di atas meja sambil mengeram dan sudah memamerkan giginya, para pelayan yang ada di sama gemetar takut, tapi semua perhatian Henry pada sekitar terhenti ketika kekehan Victoria terdengar.


Victoria semakin mendekatkan wajahnya pada Fredrick, kedua bola mata sehijau daunnya menatap Fredrick dengan dingin, rahangnya terkatup kuat hingga suaranya mendesisi tajam


"Apa yang akan anda lakukan? membunuh keluarga saya lagi?"


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


>>To Be Countinued......


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


Terimakasih sudah mampir dan masih berminat lanjut membaca

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, bintang dan lope-nya yaa...


Salam sayang semua✨


__ADS_2