Behind The Castle

Behind The Castle
**PENGHIANAT**


__ADS_3

Dengan anggun dan pelan, Victoria mengikuti langkah Fredrick untuk turun ke bawah undakan taman. Fredrick segera menggeser meja dan dua kursi ke bawah undakan agar menjauh dari tanaman mawar, setelah meja rapih dan cukup jauh dari tanaman mawar, layaknya gentleman sejati, Fredrick menarik kursi untuk Victoria yang lansung Victoria dekati untuk mendaratkan bokongnya di sana


"Terimakasih"


Fredrick mengangguk singkat dan ikut mendaratkan bokongnya ke kursi di depan Victoria. Fredrick memandangi Victoria sejenak dan akhirnya menyuarakan pikirannya


"Apa ada alasan lain kenapa kau benci dengan mawar?"


Victoria melirik Diana yang sudah datang dengan membawa kudapan dan air putih


"Ada"


Dengan wajah yang menjadi antusia, Fredrick menegakkan punggungnya dan menatap Victoria


"Kenapa?"


Sambil melirik Diana yang sudah selesai mengisi meja mereka, Victoria menimang, apakah dia akan memberi tahu atau tidak


"Hanya cerita masa lalu"


Fredrick semakin antusias


"Ceritakan"


"Malas"


Fredrick yang tidak bisa menerima penolakan kembali mencoba


"Ayolahh.. aku akan sulit tidur jika tidak mendapatkan ceritamu Vic"


Sambil memasang wajah malas dan enggan akhirnya Victoria memutuskan untuk membuka ceritanya.


"Dulu, itu aroma dari seorang teman ibuku, tapi ternyata dia seorang penghianat bahkan membuat ibuku banyak menangis hingga uncle Thomas turun tangan dan....." Victoria melirik wajah Fredrick yang terlihat sangat ingin tahu bahkan matanya terlihat sangat fokus padanya. "Dan membuat sedikit keributan yang tidak akan pernah kami lupakan"


"Berkhianat? Siapa wanita itu? apa yang dia lakukan? kenapa Duchess menangis?"

__ADS_1


Fredrick membrondong Victoria dengan banyak pertanyaan yang membuat Victoria akhirnya membuang nafas panjang


"Dia sebenarnya teman ayahku, mereka bertemu karna wanita itu pengusaha dan sering berbisnis untuk mengirim barang ke luar benua bersama ayahku dan rekan ayahku yang lain, karna sudah menjadi rekan, wanita itu jadi cukup dekat dengan ayahku dan sering berkunjung ke castle, ibuku juga jadi mengenalnya dan akhirnya mereka berteman dekat, termasuk dengan kami" Victoria melirik Diana yang juga terlihat penasaran dan melirik Fredrick yang sudah memasang wajah serius. "Suatu hari, ibuku beberapa kali sering menemukan bau itu di barang-barang ayahku, hingga sebulan lamanya tanpa di ketahui siapapun, ibuku hanya bisa terus menangis sendirian dan Lottie lah yang menemukan ibuku menangis di gudang loteng castle"


Fredrick mengerutkan alisnya dalam


"Siapa Lottie?"


"Ahhh... maksutku Charlotte, itu nama kecilnya yang kami buat"


Fredrick mengangguk


"Kalian saling memberi nama kecil?"


"Iya...."


Senyum Fredrick terbit dan menatap Victoria dengan berbinar


"Bagaimana kalian membuat nama kecil?"


"Kami saling membuat nama dengan huruf akhiran i. Lottie untuk Charlotte, Archi untuk Arthur dan Riri untuk ku"


"Riri terdengar manis"


Dengan acuh Victoria meraih biskiut di atas meja dan mengabaikan ucapan Fredrick


"Lanjutkan ceritamu Vic"


Dengan malas Victoria menghabiskan biskuit di mulutnya dan meletakkan dengan anggun sisa biskuit di tanganya


"Setelah melihat ibuku menangis, untuk pertama kalinya kami melihat Lottie marah besar hingga mendatangi kamar ayahku, keributan di dalam ruangan hingga ke depan tangga membuat Archi terbangun dari tidurnya, keributan dari Archi, Lottie, ayah dan ibuku membuat aku ikut terbangun dan mencoba mencari tahu alasan keributan itu, aku hanya mendengar nama wanita itu terus di sebut-sebut oleh Archi sambil mengeluarkan semua kata hinanaan untuknya.


Malam itu sangat membuatku gugup dan takut, karna untuk pertama kalinya juga aku melihat Archi yang melawan ayahku. Aku tidak tahu apapun dan tidak ada yang mencoba menjelaskan apapun padaku karna aku masih terlalu kecil tapi, setelah beberapa hari, uncle Thomas datang bersama aunty Jasmine, mereka mengatakan jika wanita itu sengaja mendekati keluarga kami, termasuk aku, dengan tujuan untuk menggoda ayahku walaupun semua bukti dan saksi tidak ada yang menyudutkan ayah tapi tetap saja, wanita itu sudah membuat sedikit benturan di kepercayaan ibuku, dan tidak sampai sebulan setelah itu, yang ku dengar usaha wanita itu bangkrut lalu dia berakhir di perbudakan" Victoria membuang nafas berat. "Dulu aku sangat menyukai wanita itu, dia humoris dan sangat baik padaku tapi ternyata begitu......"


Dengan anggun, Victoria mengangkat gelas airnya sambil menatap Fredrick dan Diana secara bergantian

__ADS_1


"Karna itu, aku sangat benci penghianat dan mawar"


Fredrick langsung melirik Diana dengan Diana yang juga melirik Fredrick, Diana mengeratkan tautan tangannya dan Fredrick hanya bisa menipiskan bibirnya dengan canggung.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


"Bahan pangan akan mulai masuk ke pasar ibu kota tiga hari lagi Your Majesty"


Raja George mengangguk singkat sambil mengguratkan tinta pena bulunya di atas perkamen dengan arah pandang yang tidak menatap lawan bicaranya


"Persediaan di istana sudah di atur nyonya Dolores dan kepala pelayan dapur, mereka sudah mengatur untuk persediaan selama musim panas"


Raja Gorge masih sibuk dengan guratan tintannya dan masih tidak mengubah arah pandangnya


"Meski untuk musim panas kita bisa mengisi semua bahan pangan agar cukup, tapi untuk musim gugur kita masih belum yakin akan bisa melewatinya dengan baik Your Majesty, apa yang harus kita lakukan dengan ibu kota dan wilayah selatan nanti?"


Kali ini Raja George menghentikan tangannya untuk membiarkan tinta di perkamen kering, lalu menatap lawan bicaranya


"Aku tahu Ed, aku sudah mencoba mencari cara dan mendengarkan beberapa usulan untuk bahan pangan, dan hasilnya kita memang butuh bahan pangan lain untuk seluruh wilayah ibu kota, tapi tentu saja 'si biru' akan keras kepala seperti leluhurnya. Untuk wilayah selatan kita hanya bisa menambal sedikit demi sedikit tapi sekarang pemasukkan sudah cukup baik jadi untuk sementara kita lakukan saja seperti ini dulu"


Edward mengangguk dan segera menerima uluran tangan Raja George yang memberikan gulungan perkamen yang baru saja selesai di tulis dengan tinta yang sudah kering


"Kirim ini ke Duchy besok dengan beberapa kesatria emas di bawah tanganmu, aku tidak mau ada keributan dan teriakan lagi" Raja George segera berdiri dan menuju jendela, kedua bola mata abu-abunya menerawang jauh ke luar jendela. "Sudah cukup kita merebut dengan pukulan dan tangisan, bagaimanapun juga itu memang milik mereka, itu kerja keras mereka Ed" Hembusan nafas berat dan lelah Raja George membuat Edward segera membungkuk dalam. "Ed... aku harap ini jalan yang terbaik untuk semua rakyatku, karna untuk ini aku sudah mengorbankan banyak hal, aku sudah kehilangan banyak, aku sudah menyakiti banyak orang"


Mendengar ucapan Raja George yang penuh sengan rasa khawatir, Edward segera menekuk satu lututnya hingga menyentuh lantai, dengan kepala tertunduk dalam Edward menyampaikan isi hatinya


"Anda sudah melakukan segalanya untuk rakyat Your Majesty. God save The King!"


รทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรท


Haii readers....


Apakah masih tertarik? semoga belum bosan dan masih penasaran yaaa


Terimakasih untuk yang masih terus mengikuti cerita ini, semoga kalian bahagia dan sehat selalu...

__ADS_1


Tolong like, komen, bintang dan lope-nya yaa biar jadi semangat untuk eike terus nulis


Salam sayang semua โœจ


__ADS_2