Behind The Castle

Behind The Castle
**THE NEXT LINES HAVE BEEN BORN**


__ADS_3

Peluh sudah membasahi sekujur tubuh Victoria. Jeritannya belum berhenti. Kedua tangannya yang menggenggam dan mencekam kuat belum telepas. Diana dan Bety dengan wajah cemas, dengan sabar membantu Victoria, memberikan semangat untuk terus mendorong, mendorong, mendorond dan terus mendorong


"Dorong lagi Your Highness... Lagi..."


Dokter-dokter yang bertugas khusus selama kehamilan hingga proses melahirkan Victoria terus memberikan arahan. Victoria terus menjerit sambil mendorong calon bayinya yang sudah siap untuk menghirup udara di luar perut ibunya hingga...


Suara tangis pertama terdengar, ke tiga dokter itu langsung siap memutus hubungan nafas sang ibu dan bayi, pelayan lain siap memegang dan juga untuk langsung memberikan kehangatan di luar perut nyaman ibunya. Victoria terengah, nafasnya kacau, wajahnya terlihat lelah, dia kelelahan tapi ini belum berakhir saat kembali perutnya terasa sakit luar biasa


"Sekali lagi Your Highness, lakukan seperti tadi. Adik Her Highness pertama ingin ikut keluar bersama kakaknya. Ayo Your Highness! ikuti saya! ayo..!"


Diana dan Bety yang ikut berjuang merasakan semua yang di rasakan Victoria secara tidak langsung masih bisa mendengar dengan baik. Jika yang pertama lahir adalah seorang Her Highness... Putri pertama Victoria, calon Putri Mahkota


Jeritan Victoria kembali menggema di seluruh sudut ruangan, air mata Victoria semakin tumpah, tangan Diana mulai perih karna luka yang terbalut keringat tangan Victoria yang menggenggamnya kuat semakin tertekan. Bety juga ikut merasakan tangannya yang mulai sakit, karna cengkaman Victoria yang semakin kuat


"Aku tidak bisa... aku tidak bisa... aku tidak tahan lagi"


"Anda bisa Your Highness... anda bisa! ayo! saya akan menuntun anda lagi, sedikit lagi! Ayo!!"


Kembali Victoria mendorong sambil menjerit sekuat yang dia bisa, dia menekankan dan menguatkan diri untuk harus terus berjuang, bayinya yang lain harus segera lahir, dia tidak ingin terjadi hal-hal buruk pada bayinya karna dirinya yang lemah. Hingga...


Suara tangis lain menggema. Rasa lega dan pasrah langsung menyusup ke dalam dada Victoria. Victoria melemahkan cengkaman tangannya. Diana mengusap air matanya dan air mata Victoria sambil tersenyum


"Mereka sudah lahir, Your Highness"


Tubuh Victoria sudah sangat lemah, bahkan untuk menarik sudut bibirnya saja dia sudah tidak mampu, rasanya sangat sangat lelah tapi juga lega dan sakit. Tulang-tulangnya yang serasa akan lepas sebelum anak-anaknya lahir masih terasa sakit, meski sudah mulai berkurang


Dokter sudah selesai menjahit jalan lahir dengan hati-hati dan cekatan. Bety yang paham segera membenarkan posisi Victoria dengan Diana yang mengeringkan peluh di seluruh wajah Victoria.


"Ini bayi pertama Your Highness... perempuan. Sangat sehat dan cantik"


Rasa lelah, sakit, lemah dan semua perasaan di sekujur tubuhnya dalam sekejap menghilang saat dua dokter membawa dua buntalan yang bergerak-gerak sambil mengeluarkan suara tangisan kuat.


Dokter pertama memberikan bayi perempuan Victoria dalam dekapan ibunya. Air mata bahagia dan haru Victoria tidak bisa di cegahnya lagi


"Hallo Putri ku....."


Victoria menatap lekat wajah bayi pertamanya. Kedua bola mata abu-abu terang seperti ayahnya, rambut tipis yang berwarna hitam pekat, garis alis tebal dan tegas seperti ayahnya, hidung seperti ayahnya dan bibir seperti ayahnya. Victoria terkekeh girang dan geli. Ohh yang benar saja... di mana bagiannya? Kenapa semua bentuk dan rupa menjadi milik Fredrick?


"Ini bayi ke dua Your Highness... Bayi laki-laki. Sangat cantik dan sehat"

__ADS_1


Dokter ke dua memberikan bayi ke dua di lengan Victoria yang masih kosong. Kembali air mata Victoria menetes haru dan bahagia


"Hallo Putra ku...."


Victoria kembali menatap lekat bayi ke duanya. Rambut tipis yang berwarna pekat, garis alis pekat dan tegas ayahnya, bola mata hijau sewarna dengan bola matanya, hidung ayahnya, bibir ayahnya dan garis dagu terbelah miliknya. Victoria kembali terkekeh bahagia sambil kembali meneteskan air mata.


Dokter mangajari Victoria untuk langsung mencoba memberikan air susu pertama dari ibunya. Seperti insting seorang bayi, mulut mereka yang menangis langsung mencari-cari pucuk dada Victoria, dan setelah dapat, kedua mulut mungil itu mulai belajar pelan untuk menghisap makanan mereka. Victoria tidak bisa melukiskan dan menjelaskan segala perasaan meledak di dadanya. Kata bahagia dan sangat bahagia saja tidak cukup untuk menjelaskan perasaannya sekarang.


Bety yang terus mengusapi air matanya segera pergi ke luar kamar. Suara pintu kamar yang terbuka dan langkah kaki berlarian membuat semua perhatian teralihkan pada Bety yang sekarang sudah menuruni tangga. Arthur yang mendengar itupun langsung bangkit dari sofa ruang tamu dan mendekat pada Bety. Dengan mata berbinar dan pipi basah Bety mengumumkan


"Bayi pertama, Her Highness.... Bayi ke dua, His Highness.... Mereka sangat sehat dan Her Highness Putri Victoria kita juga sehat, dia kuat dan baik-baik saja"


"Oohh puji-pujian untuk Tuhan di surga!"


Sorak sorai rasa lega dan puji-pujian rasa syukur langsung menggema saat seluruh pelayan dan penjaga melepaskan kelegaan rasa syukur mereka.


Arthur memejamkan matanya dengan lega. Hatinya juga ikut mengucap syukur, sangat bersyukur karna seluruh doanya di kabulkan Tuhan. Adiknya baik-baik saja, para keponakannya sehat. Lefko yang tadinya terus diam seolah ikut cemas di dalam dekapan Arthur kali ini menggeliat pelan dan menggonggong lucu.


Arthur menatap Lefko sambil tersenyum haru


"Iya Lefko... mereka sudah lahir, kau sudah mempunyai adik-adik.." Lefko kembali menggonggong lucu sambil menatap Arthur. "Kau juga senang ternyata boy..."


--000--


"Terimakasih..."


--000--


Kebahagian tampaknya tidak mengalir untuk semua orang. Seperti saat ini, Ratu Elisabeth membanting semua perabotan di kamarnya dengan rambut yang sudah berantakan, dengan penampilan jauh dari kata wanita anggun.


Mulutnya terus memaki dan menyumpah serapah. Nina yang seperti sudah terbiasa hanya diam di sudut ruangan kamar Ratu Elisabeth. Membiarkan Ratu Elisabeth meluapkan amarahnya. Sekali lagi, Nina sudah terbiasa.


Henry yang sedang melihat kemarahan ibunya juga ikut diam di sudut lain kamar Ratu Elisabeth. Raut wajahnya datar, tanpa berniat menenangkan, seolah... ini juga hal biasa untuknya, seolah pemandangan yang di depannya sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya


"Terkutuk kau George!!! Aku akan menghancurkanmu! aku akan menghancurkanmu seperti kau menghancurkanku!! AKU AKAN MENGHANCURKAN SELURUH KEBANGGANMU!!! IMPIANMU HARUS HANCUR SEPERTI IMPIANKU!!"


Kembali suara hantaman benda, perabotan yang pecah, gesekan kuat di lantai mengisi seluruh malam di dalam kamar hingga ke luar koridor sekitar.


Setelah seluruh isi kamar porak poranda tertepa badai di susul dengan serangan mendadak napoleon, akhirnya segala suara kemarahan di sana berhenti. Ratu Elisabeth menghirup nafas dalam-dalam untuk mencari kewarasannya.

__ADS_1


"Henry.."


Henry memberanikan diri mendekat pada ibunya


"Iya ibu..."


"Secepatnya kau harus naik" Nafas Ratu Elisabeth mulai tenang, dengan gerakan anggun menoleh pada Henry yang menatapnya dalam diam. "Lakukan sesuatu pada tangan kanan lancang itu, bila perlu lenyapkan dia!"


Dengan patuh Henry mengangguk dan menjawab


"Akan ku lakukan ibu..."


"Lakukan apapun, apapun yang kau bisa Hen"


Henry kembali mengangguk patuh


"Baik ibu..."


Ratu Elisabeth kembali menoleh ke samping lain dari wajahnya


"Nina...."


Nina ikut maju mendekat pada Ratu Elisabeth yang sudah mendekat ke bibir ranjangnya


"Iya Your Majesty"


"Hancurkan istana ini dan keluarkan wanita itu"


Dengan kepatuhan mutlak, Nina membungkuk dalam


"Baik Your Majesty..."


\=\=\=❤❤❤❤


Yey!! dedek kembar... yg duluan cew guys. Calon ratu nihh... hehhe...


Ayukk jejaknya yukkk


Salam sayang semua✨

__ADS_1


__ADS_2