
Hari kedua di Yorksire sudah mereka lewati, malam ini malam terakhir mereka berkumpul di sini. Fredrick masih melakukan kegiatan rutinnya saat malam, mengganggui bayi-bayi gempal mereka yang baru berusia dua bulan. Victoria meletakkan Ferdinan dengan pelan ke dalam kotak bayi, Ferdinand yang baru terlelap setelah kenyang menyusu, Francesca sudah lebih dulu terlelap di banding Ferdinand yang selalu lebih banyak aktif dalam hal makan.
Sesekali Victoria akan melotot pada Fredrick yang terlihat selalu berusaha membangunkan mereka. Saat Victoria tidak melihat ke arahnya, tangan Fredrick akan aktif untuk membelai sedikit kuat pipi Francesca agar menangis. Satu jempolnya dan telunjukkan akan dia jepitkan di pipi Francesca hingga bibir anaknya moncong ke depan dan terganggu.
"Bash!"
Dengan mencebik tidak suka Fredrick akhirnya menghentikan kenakalannya pada Francesca dan sekarang beralih pada Ferdinand. Victoria memutar bola matanya dengan jengah sambil mendaratkan sebuah pukulan di bahu lebar pria itu.
"Jika mereka menangis, kau susui mereka sendiri"
"Aku mana punya susu"
"Karna itu jangan ganggu mereka! Ck!"
Fredrick terkekeh sambil menepuk-neluk ranjang di sebelahnya, Victoria segera naik ke atas ranjang dan menyender di dada suaminya yang sekarang sudah menyederkan punggungnya di kepala ranjang.
"Aku tidak ingin berpisah dengan mereka Vic"
Tangan Fredrick meraih jari-jari kecil istrinya, memainkan cincin-cincin yang ada di sebelah kiri jari manis di sana, cincin tunangan dan pernikahan mereka.
"Jadi, kita bawa saja mereka ke istana? hm?"
Fredrick menggeleng kuat dengan bibir merengut tidak suka. Victoria tahu jika jawaban Fredrick akan seperti itu karna, dia juga merasakan hal yang sama. Berat rasanya ingin berpisah dan berjauhan dari anak-anakmu tapi... mereka juga tidak ingin anak-anak mereka keracunan di dalam istana yang penuh dengan bibit racun.
"Besok kita akan langsung ke wilayah selatan kan Bash?"
"Hm..."
Victoria mendongak untuk menatap wajah suaminya, karna setiap Victoria membahas rencana pertemuannya dengan Charlotte, Fredrick pasti menunjukkan wajah datar. Tapi Victoria memilih untuk diam dan menelan pikirannya, dia akan mencari tahu sendiri nanti, kenapa suaminya seperti tidak suka dengan pertemuan mereka.
"Vic.."
"Hmm?"
"Aku ingin bermain"
Kembali Victoria mendongak untuk menatap suaminya yang masik sibuk menatap cincin-cincinnya dengan wajah yang belum juga menatapnya
"Sudah ku katakan, jika mereka manangis, kau susui sendiri mereka. Bety dan Sisi tidak di sini, mereka tidur di rumah sebrang, aku lelah"
Kali ini Fredrick langsung menatap Victoria, tangannya berhenti memainkan jari istrinya
"Jadi mereka tidak tidur di sini?"
__ADS_1
Victoria mengangguk singkat dan tidak lama memekik terkejut saat Fredrick dengan sekali gerakan mengangkat tubuhnya ke atas tubuh suaminya.
"Apa-apaan kau Bash!"
Fredrick mulai menggerakkan tangannya dengan nakal dan berbisik sensual
"Kita sudah lama tidak bergerak di posisi kesukaanku. Malam ini tunggangi aku sayang..."
Wajah Victoria terasa terbakar, warna merah langsung menjalar hingga ke lehernya. Fredrick terkekeh dan langsung melepaskan gaun tidur istrinya dengan sekali gerakan, hingga Victoria yang belum bisa mencerna situasi tidak sempat untuk protes.
Kedua mata Fredrick mengkilap membara, tangannya semakin liar dan mulai meraba-raba ke bawah dan semakin masuk menyusup ke bagaian antara kaki Victoria yang terbuka karna menduduki pinggul Fredrick dengan kaki terbuka
"Bash... mereka bisa bangun"
"Aku sudah bangun lebih dulu dan 'dia' butuh kau untuk di tidurkan Vic" Fredrick menempelkan bibirnya ke telinga Victoria yang sudah memejamkan matanya karna jari-jari Fredrick sudah beraksi di tempat kesukaannya. "Jaga suaramu sayang, atau Frances dan Ferdi akan bangun"
Victoria mengangguk singkat dengan mata terpejam mulai menikmati pergerakan profesional suaminya, dan Fredrick yang sudah tidak tahan lagi langsung ******* mulut setengah terbuka Victoria. Sungguh, Fredrick sangat suka jika Victoria ada di atasnya, Victoria akan berkali-kali lipat lebih panas dan siap untuk melelehkannya dalam kepuasan dan kegilaan membara
🍂🍂🍂🍂🍂
Fredrick, Jeremmy dan Carl terus memperhatikan dari jauh Victoria yang sedang duduk di sebuah batu yang ada di tanah lapang. Tanah yang dekat dengan perbatasan antara Vancia dan Francia.
Sesuai janji yang di buat, Victoria akan bertemu kakaknya, akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka, Fredrick tetap mempertemukan mereka meski... dia harus menelan segala kegundahan dan ketakutannya. Fredrick selalu menepati janjinya, dia tidak akan berbohong pada Victoria. Meski mungkin resiko dari ini semua itu akan mengerikan.
Beberapa menit terlewati hingga suara kaki kuda membuat kepalanya berputar. Seekor kuda abu-abu cantik yang di tunggangi seseorang memakai mantel dan penutup kepala muncul.
Victoria mengeryit dan mulai waspada terlebih saat orang itu turun dari kudanya. Ini daerah perbatasan, apapun bisa terjadi, di sini tempat yang berbahaya jadi, Victoria memundurkan langkahnya saat orang di depannya hanya diam berdiri di depannya dan tidak juga mengatakan apapun
"Siapa kau?"
Orang itu masih berdiri diam dan tidak menjawab, Victoria sudah memegang belati yang di ikat Fredrick di samping pinggangnya, Victoria sudah siap jika menerima serangan.
"Hei siapa kau?"
Merasa jika pergerakan orang yang berada di depan Victoria menjadi mencurigakan, Jeremmy dan Carl sudah siap memegang pedang mereka dari jauh. Fredrick dengan tenang hanya diam dan terus memperhatikan.
"Siapa kau!"
Kali ini suara Victoria sudah meninggi dan ingin berlari, dia tidak perlu repot ingin tahu siapa orang itu, tidak penting baginya siapa orang itu, jika itu bukan orang yang di tunggunya, hingga saat dia akan berputar, orang di depannya mengangkat tangannya ke atas, ke wajahnya yang tertunduk dan tertutup oleh penutup kepala besar. Dia kenapa?
Victoria membatalakan niatnya dan terus memperhatikan orang itu, hingga dia cukup yakin jika pergerakan orang itu pergerakan sedang menggosok matanya, Victoria mencoba bertanya
"Lottie...."
__ADS_1
Kepala orang itu langsung mengangguk
"Riri...."
Darah Victoria berdesir saat suara itu menyebut namanya, jantungnya berdegup kencang dan mencoba mendekat meski tetap waspada.
Jeremmy dan Carl semakin waspada dan akan mendekat tapi Fredrick menghalangi mereka. Carl dan Jeremmy hanya saling pandang dan mengikuti Fredrick yang dengan tenang berjalan untuk mencari tempat duduk di bawah sebuah pohon yang mengadap ke arah tempat Victoria.
Fredrick masih mengawasi Victoria dari jauh hingga akhirnya Victoria memeluk orang itu dan orang itu membuka penutup kepalanya. Fredrick tersenyum kecut, istrinya sudah bertemu kakaknya.
Dengan tangan yang memeluk erat dan tubuh yang di peluk erat, tangisan mereka saling bersaut-sautan. Tidak ada yang ingin mengatakan apapun, tidak ada yang ingin memikirkan apapun karna mereka hanya ingin menangis menumpahkan segala perasaan mereka. Victoria dan Chatlotte akhirnya bertemu kembali.
Setelah cukup lama menangis dan saling meremukkan tubuh mereka, Charlotte yang lebih dulu merenggangkan pelukkannya, tangan Charlotte terangkat untuk menusap pipi basah adiknya, Victoria ikut mengangkat tangannya untuk melakukan hal yang sama pada wajah kakaknya. Bibir mereka saling tersenyum bahagia dan haru hingga akhirnya Victoria membuka suaranya
"Apa kabarmu Lottie "
"Aku baik Ri, bagaimana dengan mu?"
Karna tahu jika ini akan menjadi percakapan panjang, bahkan sangat panjang, Charlotte menggandeng tangan Victoria untuk mencari tempat agar mereka bisa mendaratkan bokong mereka dengan nyaman.
"Aku baik-baik saja Ri, seperti yang kau lihat"
Victoria dan Charlotte mulai mengambil posisi duduk mereka di bawah pohon yang rindang dengan daun yang mulai menguning. Angin awal musim gugur berhembus, menerbangkan rambut-rambut indah dua perempuan yang sedang duduk sambil menatap jauh ke atas langit, sangat jauh.
"Ku dengar kau sudah bertunangan Lottie?" Kepala Charlotte mengangguk singkat, mulutnya hanya diam tidak menjawab dan itu cukup untuk di mengerti Victoria. "Dengan Pangeran Marco?"
Kembali Charlotte mengangguk
"Iya Ri, beberapa bulan lalu kami bertunangan"
"Berarti kau tidak bisa kembali ke Albany?"
Victoria menatap kakaknya dengan dalam dan juga ada sedikit pandangan kecewa di sana. Charlotte tersenyum sendu dan membuang wajahnya dari tatapan Victoria
"Dia adalah penyelamatku Ri, Marco yang menyelamatkanku saat aku hampir mati dalam pelarianku. Pelarianku yang penuh dengan kesakitan di sejujur hati dan pikiranku" Victoria kembali menatap langit dengan dada bergetar, Charlotte mengikuti arah pandang adiknya dan melanjutkan. "Aku mencintai Marco"
Bibir Victoria tersenyum tipis, dia ikut bahagia saat kakaknya mengatakan isi hatinya dengan nada tenang tapi penuh dengan kebanggaan. Victoria sangat mengenal kakaknya dan dia tahu jika Charlotte sangat bahagia dan sangat mencintai pria itu, tunangannya.
"Ri, bagaimana denganmu?"
\=\=\=💚💚💚💚
Ayukk jejaknya yukk
__ADS_1
Salam sayang