Behind The Castle

Behind The Castle
**SELAMAT MALAM**


__ADS_3

Kali ini Victoria merasakan sebuah kecupan-kecupan yang mendarat di hidung dan sebelah pipinya lalu Victoria tersenyum


"Kita belum terikat Your Highness"


Fredrick mengabaikan ucapan Victoria dan ingin sesegera mungkin menuntaskan keinginannya yang semakin menggila hingga perutnya terasa seolah mengencang karna menekan dengan kuat gelora pesona dari semua yang ada di diri Victoria.


Fredrick semakin mendekatkan wajah mereka dan memiringkan kepalanya, mulut kecil dengan bibir ranum itu ingin segera dia rasakan tapi, belum sempat keinginanya tercapai, talapak tangan kecil Victoria segera menutup mulut Fredrick. Fredrick menghentikan gerakannya dan menaikkan arah pandangnya untuk menatap kedua bola mata hijau pekat itu


"Kita belum terikat Your Highness"


Fredrick menarik wajahnya dan meraih tangan Victoria yang akan menjauh dari mulutnya dan mengecupi telapak tangan kecil dan halus itu. Victoria mengeryit dan menarik kasar tangannya, Fredrick cukup tersinggung pada penolakan yang kesekian kalinya dia dapatkan dari seorang gadis selama hidupnya


"Kau tidak suka?"


Victoria memandang wajah Fredrick yang seketika berubah menjadi datar


"Saya tadi memegangi batu yang tergeletak di tanah, memegangi batang pohon dan daun, dan juga memukul bokong Grey, ini....." Victoria menjeda dan meluruskan kembali kepalanya. "Ini kotor Your Highness, anda akan sakit jika benda kotor masuk ke mulut anda"


Fredrick terbahak hingga kepalanya menengadah ke belakang, tubuhnya bergerak-gerak dengan suara tawa beratnya menggema di taman yang hening. Melihat respon Fredrick yang berubah-ubah, Victoria menggaruk pipinya yang tidak gatal dia kembali bingung.


Cukup lama Fredrick tertawa hingga dia mengusapi ujung matanya dan melirik Victoria yang sudah cemberut. Desiran aneh menjalar ke dada Fredrick, perasaan yang tidak pernah dia rasakan dan tidak dia mengerti merayap dengan tidak tahu malu ke hatinya.


Fredrick meraih tangan Victoria dan menautkan jari mereka, Fredrick masih melihat jika wajah Victoria yang masih juga cemberut.


"Jangan cemberut, kau terlihat jelek"


Victoria berdecak dengan tidak anggun yang membuat Fredrick tersenyum geli, seolah teringat sesuatu, senyum Fredrick menghilang, raut wajahnya berubah menjadi sendu.


"Maaf"


Victoria segera memutar kepalanya untuk menatap Fredrick dan memandang Fredrick dengan bingung


"Kenapa?"


"Aku pernah memukul tangan ini"


Victoria tersenyum hangat, senyum hangat pertama yang dia berikan pada Fredrick yang sukses membuat desiran yang Fredrick sendiri tidak mengerti semakin menjadi di dadanya


"Apa waktu itu sakit? Aku melihatmu meringis"


Victoria menatap wajah Fredrick, kali ini dengan tatapan yang terlihat serius


"Sangat sakit Your Highness, bahkan jika saat itu saya memeriksakannya pada dokter lily, dia pasti akan menambahkan jenis teh herbal saya"


Mulut Fredrick menjadi keluh raut wajahnya menjadi lebih sendu, Victoria yang melihat wajah Fredrick semakin sendu, membuatnya semakin tidak bisa menahan tawanya


Fredrick mengerutkan alisnya ketika suara tawa halus Victoria terdengar


"Anda sangat serius Your Highness"


Victoria menepuk-nepuk pelan tangan Fredrick yang masih bertaut di tangan yang satunya. Fredrick benar-benar merasa gemas, ingin rasanya mengigiti wajah Victoria dan melumati dengan kasar bibir ranumnya tapi setelah merasakan yang namanya penolakan dia cukup tahu diri dan hanya mencubit pipi bulat Victoria.


"Kau nakal sekali, hampir saja aku menangis tadi"


Victoria kembali tertawa mendengar lelucon Fredrick


"Jadi, apa aku di maafkan?"

__ADS_1


Victoria mengerling menggoda


"Saya akan memaafkan Your Highness jika saya di ijinkan meminta sesuatu"


Fredrick menaikkan satu alisnya dan dengan cepat menjawab


"Aku tidak mau"


Victoria kembali berdecak sebal


"Kalau begitu saya tidak akan memaafkan anda"


Fredrick terkekeh


"Baiklah, apa yang kau inginkan? tapi aku tidak menjamin bisa mengabulkannya"


Victoria mengangguk lucu yang membuat Fredrick kembali mencubit pipinya


"Coba katakan"


"Saya mendengar jika Your Highness mempunyai banyak kuda hhmm...." Victoria menjeda, dia menimang apakah jadi atau tidak untuk meminta tapi raut wajah Fredrick yang terlihat antusias membuatnya melanjutkan. "Hhmm... bolehkah saya menunggangi salah satu kuda anda Your Highness?"


Victoria menatap Fredrick yang terlihat berpikir, jantungnya berdegup gugup menunggu jawaban Fredrick


"Kau bisa berkuda?"


Victoria mengangguk yakin


Akhirnya Fredrick terkekeh, rasanya sangat takjub dengan gadis yang sedang di tatapnya sekarang, sepertinya apapun bisa di lakuakan gadis itu.


"Apa saja yang bisa kau lakukan selain berenang dan berkuda"


"Apakah anda tidak menerima permintaan saya Your Highness?"


Fredrick menggeleng


"Bukan, aku pasti mengijinkan, bahkan kau bisa menunggangi semuanya jika kau mau"


Victoria tersenyum lebar hingga matanya berbinar, senyum Victoria segera menular pada Fredrick.


"Jadi sekarang kembali ke pertanyaanku"


"Hanya itu Your Highness eh tapi...." Victoria menjeda dan terlihat berpikir. "Saya bisa memanah Your Highness meski tidak bisa di bilang mahir"


Fredrick terkekeh


"Siapa yang sebenarnya mengajarimu Vic?"


"Saya punya banyak guru Your Highness"


Fredrick mengangguk dan melirik Grey yang tampak tidak terganggu selama percakapannya dengan Victoria.


"Vic, apa kau tahu sebentar lagi pesta perayaan Your Majesty?"


"iya, 3 hari lagi"


"Apa kau sudah punya kado?"

__ADS_1


Victoria mengangguk


"Apa?"


"Rahasia"


"Ck!"


"......"


Merasakan respon Victoria yang semakin acuh dan Victoria yang sudah tidak memandangnya membuat Fredrick bertanya-tanya, apakah dia sudah mengatakan hal yang salah, atau apakah karna dia menyebutkan pesta, atau karna dia menyebutkan ayahnya tapi semua atau yang berputar di kepala Fredrick terjawab ketika Victoria menutup mulutnya dan mencoba menekan bibirnya untuk menutupi mulutnya yang akan menguap.


Fredrick menarik wajah Victoria dan menangkupnya, dia bisa melihat jika mata bulat Victoria mulai sayu.


"Kau ingin tidur?"


"Iya Your Highness, rasanya sangat mengantuk"


Fredrick mengerling menggoda


"ingin tidur bersamaku?"


"Tidak"


"Kenapa?"


Victoria yang memang sudah sangat mengantuk benar-benar sudah sangat malas untuk membuka mulut


"Saya benar-benar mengantuk Your Highness"


Fredrick tersenyum hangat


"Baiklah aku akan mengantarmu"


Victoria tidak menjawab dan akan melepaskan tautan tangan mereka yang sebenarnya tidak dia sadari jika jari mereka masih saling bertaut tapi Fredrick tidak melepaskan tangannya dan semakin mengeratkan genggamannya.


"Grey, Ayo kita kembali Grey"


Grey mulai menggerak-gerakan pelan kepalanya, seolah sedang mengumpulkan nyawanya dan segera melompat ke tanah.


Saat mereka sudah berdiri Victoria masih belum bergerak dan menatap tangan mereka yang masih bertaut


"Your Highness"


Fredrick akhirnya dengan enggan melepaskan tangannya, jika dia tidak memikirkan kehormataan Victoria dia benar-benar tidak ingin melepaskan tangan itu dari genggamannya


"Anda tidak perlu mengantar Your Highness"


Victoria melepaskan mantel Fredrick yang sudah sangat menghangatkan tubuhnya dan memberikannya pada Fredrick yang wajahnya tampak menelan kekecewaan.


"Terimakasih banyak your highness, mantel anda sangat hangat dan saya akan menunggu untuk bertemu dengan kuda anda"


Victoria tersenyum manis dan senyum manis Victoria cukup mengobati rasa kecewa Fredrick


"Selamat malam Your Highness"


"Selamat malam Victoria"

__ADS_1


"Selamat malam readers"


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


__ADS_2