Behind The Castle

Behind The Castle
**THEIR PAST**


__ADS_3

Fredrick kembali memandang kertas di tangannya. Sudah bermenit-menit berlalu dia menimang, apakah akan pergi atau tidak. Kembali tangannya membuka lipatan surat dan kembali matanya membaca tiap kata di dalam surat dengan isi kepala menerawang jauh. Pada kenangan masa lalunya, pada kesepiannya di sama lalu, pada kesakitannya di masa lalu dan pada penyelamatnya di masa lalu.


"Apa anda akan pergi Your Highness?"


Fredrick mendesah lelah dan meremas surat di tangannya. Jeremmy yang melihat raut wajah Fredrick mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia tahu raut wajah itu


"Siapkan Panter Jer"


"Your Highness!"


"Siapakan Panter. Sekarang"


Dengan raut wajah yang siap mengamuk, Jeremmy menatap Fredrick dengan tajam


"Siapkanlah sendiri dan pergilah sendiri!"


Jeremmy langsung berbalik dan meninggalkan Fredrick yang hanya terdiam dalam keheningan dan pikirannya. Tapi dia tetap pada keputusannya, untuk bertemu dengan kenangannya, untuk yang terakhir kalinya dan benar-benar akan membakar semua masa lalu. Seperti isi surat yang sekarang sudah melebur dengan api saat tangannya membuang surat ke dalam perapian.


--0000--


Jeremmy dengan suasana hati kesal dan penuh benci menarik tali kekang Panter. Akhirnya dengan memikirkan kembali semuannya, dia tetap ikut menemani Fredrick. Bukan karna dia bersedia untuk menemani pria yang di anggapnya bodoh itu tapi, untuk memantau segala situasi. Untuk menjadi martir jika tiba-tiba iblis menyerang dan yang terpenting, untuk menjadi saksi tentang apapun hal buruk yang akan terjadi nanti


Dengan sedikit berlari, Jeremmy berlari ke depan pintu kediaman Webex. Rumah pria jahat yang sudah banyak merugikan orang tidak berdosa, dia berdoa semoga hanya mendiang mantan kepala keluarga itu saja yang membuat banyak kerusakan di dalam kerjaan. Semoga kepala keluarga yang baru, tidak mewarisi otak picik dan jahat ayahnya. Semoga Calista cukup tahu diri bagaimana posisinya sekarang.


"Silahkan Your Highness"


Seperti biasa, kedatangan Fredrick si sambut dengan senyum hangat pelayan di kediaman Webex. Fredrick melangkah masuk dan langsung menuju sofa, seperti biasa, dia memang sudah terbiasa di tempatnya duduk sekarang


"Dimana Lady Calista?"


Pelayan pribadi Calista itu mendesah lelah dan menatap Fredrick dengan pandangan sedih.


"Lady Calista tidak keluar kamar dari beberapa hari ini, bahkan setelah semua kewajiban dan tugas yang di tanggungnya semenjak kepergian mendiang Baron, Lady Calista hanya selalu bekerja di kamarnya" Pelayan itu melirik sejenak pada Jeremmy yang tampak muak. Lalu melanjutkan ucapannya. "Tolong bujuk dia untuk keluar dari kamar Your Highness, Lady Calista ada di kamarnya mengerjakan semua tanggung jawabnya"

__ADS_1


Tanpa bisa menahan diri, Jeremmy maju dan akan mengatakan sesuatu pada pelayan itu tapi, tangan Fredrick terangkat yang membuatnya hanya bisa menelan rasa kesal dan bencinya.


"Tunggulah di sini Jer, aku tidak akan lama"


"Your Highness!"


"Aku juga harus mengatakan sesuatu. Hanya kami Jer. Tolong"


Fredrick membuang nafas panjang dan menatap Jeremmy dengan tegas tapi juga minta pengertian. Jeremmy yang sudah muak langsung pergi menuju pintu. Tanda jika dia menjalankan janji 'hanya sebentar' yang di katakan Fredrick. Walaupun, dia kembali memutar kakinya. Yang benar saja! dia hampir melupakan jika kedatangannya untuk menjadi martir yang siap melawan iblis


Dengan langkah yakin, Fredrick mengetuk kamar Calista. Saat pintu di buka, wajah tekejut Calista yang menyambutnya


"Ka-kau datang Fred!"


Calista hampir menangkap tubuh Fredrick untuk memeluknya tapi, dengan sigap Fredrick mundur. Dan itu cukup untuk menunjukkan penolakkannya dan menggores harga diri Calista.


Dengan memaksakan senyum yang terbalut rasa sakit hati, Calista mempersilahkan Fredrick masuk ke dalam kamarnya.


"Duduklah Fred, atau kau ingin minum sesuatu? aku bi...."


Kembali Calista memaksakan senyumnya dan mengangguk


"Baiklah aku...."


"Lady Calista"


Calista tahu jika Fredrick tidak ingin berbasa basi, bahkan dia masih berdiri tanpa berniat menuju kursi di dalam kamarnya


"Iya Fred"


"Kau tahu maksut kedatanganku" Calista mengepalkan kedua tangannya dengan kuat dan mengangguk. Fredrick membuang nafas dalam dan melanjutkan ucapannya. "Ini terakhir kalinya kita bertemu ataupun kau mengirim surat padaku kecuali untuk masalah pekerjaan. Aku su....."


"Kau sungguh-sungguh ingin membuangku Fred?"

__ADS_1


Calista memotong dengan cepat ucapan Fredrick yang jika di teruskan pasti akan menghancurkannya lagi dan lagi. Fredrick menatap wanita di depannya, yang sekarang sudah meneteskan air mata. Wanita ini dulu pernah mengisi dan menjadi penghibur bahkan menemani dengan setia semua penderitaan masa lalunya.


"Aku sudah menikah Cal"


"Kau tahu dan aku tidak peduli Fred, aku mencintaimu"


Untuk yang kesekian kalinya Fredrick menarik nafas dalam dan menatap Calista dengan tegas


"Kau tahu apa yang membuat masa kecilku hancur. Salah satunya karna ayahku memiliki wanita lain yang di simpan dan di cintainya Cal, dan aku tidak akan mengulangi itu pada istriku"


Air mata kembali mengalir dan memandang Fredrick yang hanya menatapnya dengan datar dan tegas


"Aku sudah tidak memiliki siapapun Fred" Calista menarik nafas dalam. "Apa kau melupakan jika aku juga menderita karna ayahmu? apa kau juga lupa jika aku lah yang menyelamatkanmu, apa kau lupa jika aku sudah mengorbankan segalanya untukmu Fred? apa kau lu....."


"Calista!"


"APA KAU LUPA JIKA MEREKA JUGA YANG MEMBUNUHNYA! MEMBUNUH ANAK KITA! MEMBUAT KITA KEHILANGAN ANAK KITA!" Fredrick menegang di tempatnya dengan wajah berubah pias. Di tengah-tengah tangisnya Calista terkekeh dengan kuat tanpa rasa humor. Lalu melepaskan gaunnya tanpa aba-aba, yang membuat Fredrick semakin terdiam di tempatnya, bukan karna tubuh Calista tapi pada tanda bekas luka di bawah perutnya. "Kau lihat ini Fred? DI SINI AKU MENJERIT DAN MEMOHON SAAT MEREKA MEMAKSAKU UNTUK MENGELUARKAN ANAK KITA! SAAT AKU MASIH BERUSIA BELIA!" Calista kembali terkekeh kuat seperti kehilangan kewarasannya. "Kita saat itu masih sama-sama masih belia, kita bercinta untuk pertama kalinya, pertama kalinya untukmu dan untukku! Kita tidak tahu jika akan seperti ini tapi...." Calista menunjuk luka di bawah perutnya. "Tapi mereka dengan tidak berperasaan mengeluarkannya, anak kita Fred! mereka iblis! dan kau tetap akan patuh mengikuti ayahmu hah!" Calista mendekat pada Fredrick yang masih terpaku dan berbisik tajam. "Jangan lupa mereka juga yang membunuh ibuku" Calista berdesis tajam bahkan sangat tajam. "Termasuk ibumu Fred"


Tangan Fredrick terkepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih. Seluruh ingatan masa lalunya kembali berputar di kepalanya, ingatan masa lalunya yang tetap membekas di ingatannya meski dia sudah berusaha keras untuk lupakannya. Calista yang melihat perubahan Fredrick tersenyum getir dengan tatapan tajam.


"Mereka menghancurkan kita Fred, dan kau masih bersedia mengikuti semua keinginan mereka termasuk ayahmu, iblis itu?" Calista semakin mendekat pada Fredrick dan mendekatkan bibirnya pada telinga Fredrick. "Mari kita hancurkan mereka Fred. Rusak harapan dan mimpi mereka. Demi ibumu dan juga... anak kita"


Calista menarik wajahnya ke depan Fredeick dan langsung menatap Fredrick. Menarik mantel Fredrick hingga tertunduk dan langsung ******* mulut Fredrick yang masih terdiam. Hingga Calista tersenyum di sela-sela cium*nnya saat Fredrick akhirnya membalas ******n mulutnya.


Setelah terus memantau keadaan dan situasi, Jeremmy yang baru akan menghalangi semua tindakan Calista terdiam di tempatnya saat melihat Fredrick kembali, untuk yang kesekian kalinya menerima jeratan Calista. Membalas ciuman penuh amarah itu, memegang tubuh telanjang itu. Dengan pelan, Jeremmy menutup rapat kembali pintu dengan hati penuh kekecewaan. Kedua tangannya terkepal kuat, sangat kuat hingga mungkin sudah melukai tangannya sendiri. Inilah yang selalu di khawatirkannya, jika Fredrick kembali bertemu dengan wanita yang sekarang semakin dan semakin di bencinya. Ikatan di masa lalu mereka sangat gelap dan banyak memakan korban.


Dengan perasaan hancur dan bibir gemetar, Jeremmy yang sekarang hanya memikirkan seseorang berguman lirih.


"Her Highness...."


\=\=\=💚💚💚💚


Di persilahkan untuk readers memaki dan mengumpat sepuasnya....

__ADS_1


Salam sayang semua✨


__ADS_2