
Sudah delapan hari setelah kepergian nonannya ke luar istana tapi, keadaan nonannya malah menjadi terpuruk. Entah apa yang terjadi saat di ibu kota. Diana ingin bertanya lagi dan lagi tapi, Victoria seolah tidak ingin berbagi dan menyimpan segalanya.
Malam hari setelah kepulangannya dari ibu kota, Victoria kembali bermimpi buruk meski tidak parah dan tidak sampai membuatnya sakit tapi, tetap berdampak pada ***** makan dan aktifitas nonannya. Victoria mengurung diri di kamar, lalu akan kembali menatap jendela, lalu tidur dan bermimpi, setelah itu kembali menatap jendela hingga pagi dan terus berulang selama delapan hari ini. Berulang kali Diana mengingatkan tapi tetap Victoria tidak mendengarkan dan hanya mengatakan jika dia baik-baik saja.
Tok tok tok
"My Lady"
Ketukan pintu membuat lamunan Diana terhenti dan segera berjalan menuju pintu, saat pintu di buka, wajah Kelly lah yang di lihatnya. Tanpa memandang Diana, Kelly segera masuk begitu saja ke dalam kamar dan berdiri di belakang Victoria yang sedang duduk di depan jendela dengan arah pandang menatap jauh ke luar.
"Selamat siang My Lady"
Masih dengan wajah dan arah pandang menatap ke depan, Victoria membuka suaranya
"Diana, ajak Grey berjalan-jalan sebentar"
Diana mengeryit tapi tetap mengangguk dan memanggil Grey yang masih terus menatap Kelly. Grey akan selalu begitu saat Kelly sedang berada di kamar tapi, seolah tidak kenal takut. Kelly dengan acuh dan santai menginjakkan kakinya di dalam kamar.
Setelah pintu di tutup, Diana yang masih ada di balik pintu mendengar suara kunci pintu yang berputar. Membuat perasaan Diana yang entah kenapa menjadi tidak enak.
"My Lady..."
"Aku ingin bertanya Kelly"
Dengan wajah antusias dan tersenyum lebar Kelly mengangguk
"Silahkan My Lady"
"Tapi, sebelumnya aku ingatkan, kau hanya perlu menjawab dan jangan bertanya apapun"
Kembali Kelly mengangguk dan menatap punggung Victoria yang terus mengarah ke depan
"Baik My Lady"
"Apa kau lahir di ibu kota?"
"Benar My Lady"
"Ceritakan bagaimana keadaan ibu kota saat musim panas dan musim gugur. Cerita bagaimana cara kalian mendapatkan makan untuk bertahan hidup"
Dengan kepala yang mulai di penuhi rasa penasaran, Kelly membuka mulutnya.
"Bahan pangan sangat sulit saat musim panas. Kami biasanya hanya bisa memakan sayuran liar ataupun mencoba menanam sediri. Gandum, jagung dan padi sangat sulit dan kalaupun ada harganya sangat mahal. Sesekali akan ada pedagang keliling kerajaan yang menjual bahan pangan dan daging buruan dengan harga sangat murah tapi, itu hanya terjadi beberapa kali dalam sebulan. Hingga kami selalu mencari jalan keluar cadangan, kami harus menyediakan dan menyimpan pangan seperti roti dari gandum atau roti dari beras beras untuk persiapan ke depan, karna musim gugur akan sangat sulit untuk kami"
"Kalian bisa menyimpan roti?"
"Benar My Lady, kami akan membeli roti sebanyak yang kami mampu saat harga pangan belum naik, lebih tepatnya sebelum musim panas tiba. Tapi itu malah sering membuat kami selalu menjadi lebih sulit lagi"
"Kenapa?"
Kelly membuang nafas panjang
__ADS_1
"Karna roti yang kami simpan akan menghitam dan berjamur tapi, karna kami sering tidak punya pilihan lain, kami akan tetap memakannya dan akibatnya akan membuat kami sampai bisa masuk rumah sakit. Jamur roti bisa membuat halusinasi dan yang terparah keracunan jika di konsumsi terus menerus"
Tangan Victoria mulai gematar, isi kepalanya berputar, dadanya terasa campur aduk. Dengan mengerahkan segala ketenangannya, Victoria kembali mencoba membuka mulutnya
"Bagaimana dengan berburu? kalian tidak mencoba berburu di hutan?"
"Kami selalu melakukannya My Lady tapi, karna banyak yang juga ikut berburu, hasil tangkapan akan sulit dan juga sangat berbahaya jika berburu"
"Berbahaya?"
Kelly mengangguk yakin
"Benar My Lady, hewan buruan yang sulit dan tangkapan yang sulit membuat banyak pencuri dan penjahat yang menunggu di hutan. Mereka akan merebut hasil buruan yang di dapat untuk mereka jual dengan harga yang tinggi. Ekonomi sangat mencekik saat musim panas terlebih musim gugur"
Victoria menarik nafas dalam
"Apa kau pernah mendengar bagaimana cara bangsawan atau orang kaya bertahan saat musim panas dan musim gugur?"
"Majikan ibu saya biasanya akan membeli bahan pangan dari luar kerajaan My Lady, pedagang dari luar kerajaan akan banyak tersebar saat musim panas dan gugur. Walaupun harganya lebih mahal tapi barang jual mereka sangat baik"
Dengan mengepalkan kuat tangannya untuk menahan rasa sesaknya, Victoria kembali mencoba membuka suara
"Terimakasih Kelly, kau boleh kembali bekerja"
"Baik My Lady"
Setelah suara pintu tertutup terdengar, Victoria menatap langit cerah musim panas, sinar matahari membuat matanya menyipit dan air matanya segera melesat cepat keluar membasahi kedua pipinya.
"Ya Tuhan.... Apa ini? Bagaimana ini? Kenapa? apa yang harus ku lakukan Tuhan?"
🔆🔆🔆🔆
"Your Majesty"
Setelah suara seseorang terdengar dari balik pintu, Edward segera melepaskan semua surat undangan yang berada di tangannya dan pamit undur diri dari hadapan Raja George.
Setelah membuka pintu, wajah Jeremmy yang tampak sudah siap segera menyapanya. Edward segera mempersilahkan Jeremmy masuk saat dia sudah keluar pintu.
Jeremmy segera melangkah dengan siap menuju ke depan meja kerja Raja George dan menunduk dalam
"Selamat siang Your Majesty"
Suara Jeremmy yang terdengar membuat Raja George melepaskan segala hal yang ada di tangannya sambil menyenderkan punggungnya. Tangan kirinya terangkat untuk memijat sebelah pelipisnya dan menatap Jeremmy.
"Langsung saja Jer"
Jeremmy mengangguk dan mulai membuka mulutnya lagi
"Seperti yang anda tahu jika delapan hari lalu, His Highness sudah membawa Lady Victoria ke ibu kota dan menunjukkan sedikit keadaan ibu kota sesuai perintah tapi, tidak hanya itu Your Majesty, karna Your Highness juga 'hampir' membuka semuanya pada Lady Victoria, saya juga tidak tahu apa alsannya"
Ucapan Jeremmy membuat pijatan pada pelipis Raja George semakin menguat
__ADS_1
"Baiklah. Kau boleh keluar Jer"
🔆🔆🔆🔆
Di sini lain, Edward melangkahkan terus kakinya untuk menuju camp kesatria di istana. Raut wajahnya yang tidak bersahabat membuat beberapa kesatria yang melihatnya lebih memilih menghindar dan memutar arah dari pada harus menyapanya.
Edward melebarkan arah pandangnya saat sudah masuk ke ruang makan camp. Ada beberapa kesatria lain yang masih makan di sana. Dengan langkah lebar Edward segera masuk
Fredrick segera mempercepat kunyahan terakhir makan siangnya saat melihat Edward yang sudah duduk di depan meja. Edward yang melihat jika Fredrick sudah mengangkat gelas airnya segera menatap sekitar
"Kalian keluar"
Beberapa kesatria dengan isi piring yang masih ada, bahkan ada beberapa kesatria yang baru akan mendaratkam bokongnya sambil membawa isi piring yang penuh segera mengurungkan segala pergerakan mereka, dan dengan patuh melesat ke luar ruang makan.
Dengan santai dan tanpa beban Fredrick menyenderkan punggungnya ke kursi dan suara tidak bersahabat Edward langsung menyapanya
"Kenapa kau membuka semuanya?"
Sambil mengedipkan bahunya dengan acuh Fredrick membuka suaranya
"Memangnya kenapa?"
"Jangan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan Fred!"
"Lalu?"
Emosi Edward semakin naik saat Fredrick menunjukkan wajah menyebalkannya
"Apa maksutmu dengan 'lalu' hah! Kenapa kau mengatakan semuanya pada gadis itu! apa yang kau harapkan dari gadis itu Fred! kau tahu ini bukan rencana kita! kau mendengar pesanku saat memberikan ijin dari Your Majesty untuk membawa gadis itu keluar istana! ke ibu kota! gadis itu......"
"Namanya Victoria, Dia tunanganku dan calon istriku kapten Edward"
Suara tajam yang segera menimpali ucapannya membuat mulut Edward segera tekatup. Bahkan sekarang Fredrick sudah menatapnya dengan tajam. Edward menarik nafas dalam untuk meredam emosinya dan saat emosinya sudah terkontrol, Edward kembali membuka mulutnya
"Maafkan aku Your Highness"
Fredrick mengangguk singkat sambil mengelus perutnya yang sudah kenyang. Raut wajahnya juga mulai kembali santai dan acuh
"Jika kau bisa mengontrol dirimu, aku akan melanjutkan ini dan jangan sampai aku mendengar 'hal' seperti ini lagi"
Walau dengan suara yang tenang dan wajah santai tapi Edward tahu, jika semua ucapan Fredrick yang masuk ke telingannya itu penuh dengan ancaman.
"Baik Fred"
"Jadi...." Fredrick menegakkan punggungnya sambil melipat tangan di depan meja. "Silahakan untuk bertanya 'dengan benar' Ed"
Edward menarik nafas.
"Kenapa kau membuka semuannya?"
\=\=\=💜💜💜💜
__ADS_1
Yuk bisa yukk tinggalin jejak kalian di tombol like, komen, bintang dan lope-nya...
Salam sayang semua✨