Behind The Castle

Behind The Castle
**VICTORIA's TEARS**


__ADS_3

Dengan berlarian dan sesekali mengusap pipinya Victoria memusatkan tujuannya pada istana selatan. Rasa amarah dan sakit hati membuatnya ingin berteriak dan mengamuk untuk menghancurkan apapun sekarang, tapi tidak di luar, dia akan menghancurkan apapun di ruang pribadinya.


Suara langkah kaki yang semakin kuat di belakang punggungnya membuat kepala Victoria berputar untuk melihat siapa yang mengejarnya dan itu Fredrick, salah satu orang yang paling tidak ingin di temuinya, atau jiwa setannya akan mengamuk dan bisa saja Victoria akan meludah di wajah tampan itu sekarang, wajah yang sekarang terlihat hanya terfokus padanya.


Setelah memasukki koridor menuju pintu kamarnya, dengan kaki yang semakin nyeri, Victoria semakin memacu langkahnya terlebih saat suara langkah Fredrick semakin mendekat. Dengan cepat Victoria menggapai handle pintu dan masuk tapi, belum sempat Victoria menutup pintu satu kaki menahan ujung pintu yang hampir menutup, suara berdegam benturan pintu ke kaki tidak membuat kaki itu bergeser sedikitpun malah pintu semakin terbuka lebar ketika tangan Fredrick ikut mendorong pintu. Victoria sedikit terdorong ke belakang karna pintu sekarang sudah terbuka lebar


"PERGIII!!!!"


Fredrick mengabaikan rasa sakit di kakinya dan teriakan Victoria, dengan cepat tangan Fredrick memutar kunci pintu. Victoria yang melihat pergerakan Fredrick kembali berteriak


"KELUAARR!!!"


"Tidak"


Jawaban tenang dengan raut wajah khawartir Fredrick membuat Victoria meraih keramik di meja kecil dan segera melemparnya pada Fredrick, Fredrick menghindar. Dengan santai dan langkah pasti, Fredrick semakin mendekat pada Victoria, yang membuat Victoria segera menyesali keputusannya tadi siang untuk menitipkan Grey pada Dolores, karna, jika Grey ada di sini, dia akan membuat gigi Grey menancap di wajah pria tidak tahu malu di depannya yang sekarang langkah kakinya mulai semakin mendekat pada Victoria.


"Keluar brengsek!!"


"Ada apa ini Vic? katakan padaku?"


Kembali Victoria meraih apapun yang ada di dekatnya dan melempar pada Fredrick, tapi kali ini Fredrick tidak menghindar dan membiarkan kotak perhiasan kecil yang melayang di depan wajahnya memantul di pelipisnya.


"Pergilah Fredrick!"


Fredrick memandang wajah Victoria yang penuh amarah dengan matanya yang terus meneteskan air mata. Tangan Fredrick terulur dan menarik Victoria yang meronta untuk masuk ke dalam pelukkannya karna, jika tidak, Fredrick yakin jika sebentar lagi Victoria akan tumbang.


"Apa yang kau lakukan brengsek! jangan sentuh aku bajingan!"


Dengan tangan yang menahan pinggang Victoria, Fredrick membiarkan kedua tangan kecil Victoria terus memukulinya, membiarkan Victoria melepaskan sedikit amarahnya hingga tangan itu melemah dan isakan pilu dari mulut Victoria yang terkatup membuat Fredrick segera menangkup wajahnya.


Saat wajah kecil Victoria yang sudah basah karna air mata bisa benar-benar di tatapnya dengan lekat. Rahang Fredrick mengeras, kepalanya berdenyut karna amarahnya yang langsung naik karna melihat kedua pipi mulus tunangannya tercetak bercak merah, ujung bibirnya menggumpal darah, pelipisnya sedikit lecet, dengan cepat Fredeick melepas tangannya dan membuang baju kesatria yang terpasang di tubuh Victoria. Kepala Fredrick semakin berdenyut melihat jejak di kedua bahu dan tangan Victoria yang penuh luka goresan. Fredrick berdesis tajam dengan rahang tekatup kuat


"Siapa?"


Tangis Victoria semakin kuat, bahunya bergetar hebat, lututnya semakin lemas tidak bisa lagi menopang tubuhnya. Fredrick dengan cepat menahan tubuh Victoria dan menggendong tubuh yang sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri kokoh itu.


Dengan kedua tangan yang masih menggendong Victoria, Fredrick mendaratkan bokongnya pada sofa terdekat, dan mendekap kuat tubuh Victoria di pangkuannya


"Kenapa... kenapa kalian mengganggu Diana juga? lakukan apapun padaku tapi tidak dengan milikku, jangan ganggu apapun sisa milikku"


pelukkan Fredrick semakin menguat, mengabaikan bajunya yang mulai basah karna wajah Victoria yang ada di dadanya terus basah karna air mata.


Cukup lama Fredrick membiarkan Victoria menangis di pelukan dan pangkuannya hingga saat isakan Victoria mulai tenang. Fredrick membuka mulutnya


"Apa yang terjadi Vic?"

__ADS_1


"Jangan berpura-pura tidak tahu dan peduli"


Ucapan dingin Victoria membuat Fredrick menguraikan pelukkannya dan menangkup wajah Victoria, membiarkan mata mereka saling bertemu, membiarkan Victoria melihat seluruh hati Fredrick dari matanya, karna, jika Victoria tidak bisa mempercayai mulutnya, maka Fredrick akan memperlihatkan dengan matanya


"Aku benar-benar tidak tahu apapun Vic, jangan seperti ini, ini menyakitkan untukku" Fredrick mengusap pipi Victoria yang terlihat mulai membengkak. "Katakan padaku ada apa? siapa yang melakukan ini padamu?"


Victoria menatap Fredrick dengan sangat dalam dan penuh selidik, ke dua bola mata sehijau daunnya yang basah menyelami dan mencari-cari kebohongan di dalam kedua manik Fredrick, tapi, dia tidak menemukan apapun selain rasa khawatir dan sedih yang akhirnya menbuat Victoria membuka mulutnya dengan bibir yang mulai terasa pedih.


"Tolong obati Diana dengan baik, aku tidak bisa melakukan apapun tanpanya ku mohon... hanya dia tempatku bergantung"


Kembali dengan lembut Fredrick mengusap pipi basah Victoria dan menatap manik mata Victoria dengan lekat


"Tidak akan terjadi apapun padanya aku berjanji, sekarang kita obati lukamu"


Victoria menggeleng


"Aku baik-baik saja"


Fredeick menggeleng dengan kuat


"Kau terluka Vic, biarkan pelayan lain mengobatimu dulu hmm...?"


"Lakukan sesuatu"


Ucapan Victoria yang berubah dingin dengan sorot mata yang sudah berubah tajam membuat Fredrick lagi-lagi membelai lembut pipi Victoria yang mulai membengkak, sangat lembut seolah khawatir jika sedikit saja menggunakan tenaga di pergerakan tangannya, bisa membuat wajah Victoria hancur


Victoria tersenyum getir dan segera membuang arah pandangnya, Fredrick yang menyadari jika ucapannya salah segera menangkup kembali wajah Victoria untuk menabrakan arah pandang mereka


"Aku akan mencari tahu dan melakukan sesuatu, aku berjanji"


Dengan pasrah dan penuh keraguan Victoria mengangguk. Fredrick menangkap itu, keraguan kuat Victoria untuk dirinya


"Aku tidak ingin banyak mengumbar ucapan Vic, tapi kali ini percayalah padaku"


🌻🌻🌻🌻


PLAAKK!


PLAAKKK!


PLAAKKK!


BUGH!


BUGH!

__ADS_1


BUGH!


PLAAK!


BUGH!


Entah sudah untuk yang keberapa kalinya semua suara pukulan, tendangan, dan barang yang terlempar mengisi dan memenuhi camp kesatria emas. Hampir sepuluh tubuh pria atletis sudah mencium lantai, tapi, tendangan, injakan dari kaki seseorang belum juga berhenti bergerak. Wajah meringis dan menahan sakit kesatria yang terus di berada di bawah kakinya, tidak membuat kadua kaki yang terus melayangkan tendangan dan pukulan berhenti terayun pada tubuh mereka, termasuk pada Carl, Keelft, Lucas, Gregory dan Lincont.


"Kalian ingin menghancurkan istana hah!!!!"


BUGH!!


BUGH!!


BUGH!!


Terus terayun dengan kokoh, kaki itu sekarang sedang menendang bergantian pada wajah-wajah yang ada di bawah kakinya dengan tubuh mereka yang terus mencium lantai. Hingga ketukan pintu membuat kaki yang terus teratun kuat untuk menendang itu berhenti.


"Aku akan membunuh kalian setelah ini" Si pemilik kaki itu menatap bergantian pada wajah kesatria yang sudah penuh darah mengalir di wajah dan mulut mereka. "Telebih kalian Ferry, Alex dan kau Hans!!"


Seorang kesatria tingkat satu segera membuka pintu saat suara gaduh pukulan dan benda terjatuh dari dalam pintu berhenti.


"Kapt, His Majesty memanggil anda"


Ucapan kesatria yang baru masuk dari pintu itu, membuat para Kesatria yang ada di lantai langsung bergindik ngeri dan wajah mereka yang sudah penuh darah berubah pucat. Mereka tidak ingin membayangkan, petaka apa yang akan menerpa mereka nanti.


Edward segera memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu, mengabaikan dan meninggalkan kesatria yang datang memberi pesan untuknya.


Setelah melihat Edward menjauh dari pintu, kesatria si pembawa pesan memandang ngeri pada tubuh terlebih wajah kesatria yang masih berada di lantai bahkan, beberapa di antara mereka masih terus terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulut mereka.


"Sebaiknya kalian menyiapkan diri dari sekarang, dan yang bersalah, segeralah mengaku dosa pada Tuhan dan memohon perlindungan"


Isac yang mencoba sekuat tenaga menegakkan tubuhnya dengan bantuan siku menatap wajah si pembawa pesan


"Apa separah itu?"


Kesatria pembawa pesan itu memandang Isac yang sekarang kembali terbatuk darah


"Jika ku katakan istana utama sekarang sedang membara, apa itu sudah cukup memberi penjelasan untuk kalian?" Kesatria si pembawa pesan segera memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu dengan suaranya yang kembali terdengar. "Jika aku jadi kalian, berpikirpun aku tidak akan berani untuk bermain-main dengan calon menantunya, kalian sudah menyulut ketenangan si pemilik istana"


Dengan mata terpejam dan badan yang mulai semakit remuk hingga gemetar. Yang entah gemetar karna sakit atau takut, Isac memukul kepala Hans yang terkulai di lantai dengan mata yang sudah sayu dan tubuh yang hampir hancur


\=\=\=💙💙💙💙


Yukk jejaknya jangan lupa di tinggalin di tombol like, komen, bintang dan lopenya...

__ADS_1


Kalo berkenan dan terhibur silahkan vote-nya juga di sebar readers


Salam sayang semua ✨


__ADS_2