
"Seperti yang ku tanyakan juga tadi. Memangnya kenapa?"
"Fred....."
Nafas panjang Edward yang terdengar membuat Fredrick tersenyum
"Kita sedang melakukan gambling Ed, jadi tidak ada salahnya jika aku langsung saja mempertaruhkan segalanya" Sambil mengedipkan bahunya acuh, Fredrick kembali menyenderkan punggungnya ke kursi dengan santai. "Aku malas menghabiskan waktu terlalu banyak, sekalian saja semuannya"
"Tapi dia..." Edward segera menegakkan bahunya saat bola mata abu-abu Fredrick bergerak cepat menatapnya, menatap mulutnya. "Maksutku Lady Victoria itu Arathorn. Tidak ada gunanya dan malah bisa saja membuat kekacauan nanti"
"Tidak akan"
Dengan mengeram tertahan, Edward menatap Fredrick dengan tajam
"Bagaimana kau bisa yakin?"
"Kita sedang gambling kan Ed...?" Sambil membalas tatap Fredrick, Edward mengangguk. "Judi tetap judi. Semua alasan anggap saja seperti modal kita untuk gambling, dan rencana kita akan berjudi hingga akhir. Aku tidak suka membuang waktu, seperti yang ku katakan tadi. Jadi, aku menyerahkan hampir semua modalku ke atas meja dalam sekali putaran judi"
"Itu tidak menjawab pertanyaanku Fred"
Fredrick mengangguk-anggukkan kepalanya sambil melipat tangan di depan dada
"Victoria itu cerdas dan peka, dia bisa menilai situasi dan mempelajari apapun dengan cepat. Saat melihat wajahnya yang tampak tidak terlalu terkejut saat melihat keadaan pasar, membuatku yakin jika mungkin saja dia pernah memperhitungkan alasan ini semua, dan aku hanya memperjelas pikirannya tanpa perlu bertele-tele atau, kepalanya akan meledak karna terus berpikir"
"Apa dia menerimanya?"
Wajah Edward tampak sudah tenang kembali dan menatap Fredrick yang mengangguk lalu... menggeleng?
"Dia tidak bisa menerima begitu saja tapi aku yakin, jauh di lubuk hatinya dia tahu jika itu kebenaran. Seperti yang kau bilang, dia Arathorn. Mereka punya aturan dan kepercayaan turun menurun yang akan selalu di wariskan pada Arathorn berikutnya dan keluarga lain yang menggandeng Arathorn" Fredrick menjedah dan meletakkan kembali tangannya ke atas meja. "Apa aku salah?"
Ucapan Fredrick membuat Edward mendengus kasar. Fredrick melanjutkan
"Ini penilaian terakhirku untuk membuktikan apakah dia akan menjadi pendampingku yang luar biasa atau tidak"
Dengan sebelah jari telunjuk yang menggaruki meja. Fredrick menatap wajah bingung Edward yang seperti akan bertanya
"Jika penilaianmu salah bagaimana Fred?"
Dengan acuh Fredrick kembali mengedipkan bahunya
"Berarti, aku harus turun tangan untuk mengasahnya lagi. Tidak masalah, karna dia tetap harus menjadi pendampingku. Ratuku"
Edward mengeryit
"Memang apa yang sedang coba kau pertaruhkan Fred?"
Fredrick terkekeh geli melihat bagaimana lambatnya otak Edward saat di ajak berpikir di luar urusan perang dan membunuh
"Emosi, kebijaksanaan, keteguhan, rasa prihatin, dan yang terpenting. Bagaimana cara dia memisahkan antara hati dan pikirannya"
"Aku tidak mengerti"
"Aku tahu"
__ADS_1
Kembali Fredrick terkekeh geli dan Edward mulai kesal
"Demi pedangku Fred! Lady Victoria masih tujuh belas tahun! apa yang kau harapkan dari gadis manja dan sombong yang belum mengenal dunia?"
"Jangan sembarangan Ed, kau tidak mengenalnya"
Suara tajam Fredrick kali ini membuat Edward tidak gentar dan ikut bersuara dengan tajam
"Dan apa kau mengenalnya dengan baik?"
Senyum lebar Fredrick terbit.
"Cukup banyak. Dia sangat menarik dan sangat spesial"
Dengan wajah dan tatapan penuh selidik, Edward menatap Fredrick
"Kau menyukainya?"
Kali ini Fredrick tebahak kuat hingga bahunya berguncang kuat. Masih dengan sisa tawanya, Fredrick menatap Edward dengan geli
"Menurutmu?"
πΊπΊπΊπΊ
Di sisi lain, Diana sedang melihat satu persatu tumpukan surat undangan yang semakin hari semakin banyak datang ke kamar nonannya. Victoria masih dengan kebiasaannya yang menatap jendela tanpa peduli dengan semua hal lain. Tapi untung saja, hari ini Victoria memakan semua makanannya dengan baik, yang membuat Diana cukup lega.
"Vic?"
"Hhmm?"
"Aku ingin ke taman Di, jangan mengikutiku"
Ucapan Victoria yang tiba-tiba membuat Diana ingin membantah tapi, seolah tahu, Victoria langsung menatap Diana dengan tegas. Diana membuang nafas pasrah dan mengangguk
"Baik Vic"
Dengan pikiran kalut dan perasaan yang belum juga membaik, Victoria menuju ke arah taman. Saat sudah menginjak tanah taman, dengan menutup matanya, Victoria mencoba merasakan semua terpaan angin yang menyerbu wajahnya. Berharap angin membawa sedikit isi pikiran dan pelik di hatinya.
Masih dengan bediri dan memejamkan mata untuk merasakan setiap terpaan angin, tiba-tiba, Victoria merasakan kedua bahunya menjadi lebih berat yang membuatnya segera membuka mata. Di depan wajahnya, tangan Fredrick sedang sibuk menarapikan dan merapatkan mantelnya pada tubuh Victoria, lalu menatap Victoria yang sudah menatapnya dalam diam.
Belum cukup rasa terkejut Victoria yang melihat sosoknya yang tanpa suara tiba-tiba muncul. Fredrick kembali mengejutkannya dengan mengangkat sambil memeluk tubuhnya seperti hanya mengangkat sebuah kursi di dadanya.
Victoria memekik dan mencoba melepaskan diri dari tubuh Fredrick tapi, dengan lembut dan pelan, Fredrick mendaratkan bokong Victoria di meja taman lalu melepaskan sedikit pelukannya untuk menatap Victoria.
"Apa yang kau lakukan!"
Tanpa peringatan dan tanpa tahu malu, Fredrick mendekatkan wajahnya untuk menyatukan dahi mereka.
"Ap....."
"Aku merindukanmu...."
Dengan mata terpejam dan nafas hangat Fredrick yang menerpa wajahnya. Victoria hanya bisa kembali menutup mulutnya.
__ADS_1
"Ini sudah berhari-hari aku tidak melihatmu Vic"
Dengan pelan sepasang bola mata abu-abu itu mulai terlihat dan segera bertabrakan dengan kedua bola mata sehijau daun Victoria. Fredrick menatap dengan dalam kedua manik gelap Victoria. Kedua tangannya bergerak untuk menarik tangan Victoria ke sisi tubuhnya. Fredrick semakin merapatkan tubuh mereka dengan tubuhnya yang bediri dan Victoria yang duduk di atas meja dengan kaki yang terbuka, memudahkan Fredrick untuk bisa berbagi kehangatan tubuh mereka.
"Wajahmu terlihat lebih kurus"
Tangan Fredrick terangkat dan menarik wajahnya agar bisa membelai dengan leluasa wajah gadis manis di depannya
"Jangan berpikir terlalu keras Vic, kau akan sakit"
Victoria tersenyum getir dan membalas tatapan dalam Fredrick dengan menyelami kedua manik abu-abu Fredrick
"Apa menurutmu aku bisa Bash?"
Tanpa menjawab, Fredrick kembali memeluk Victoria saat kedua mata Victoria sudah mengkilap karna mulai penuh air mata.
"Bagaimana aku bisa tidak memikirkannya Bash? bagaimana?"
Tangis Victoria pecah hingga suaranya bergetar pilu. Fredrick mengeratkan pelukkannya sambil membelai lembut punggung rapuh Victoria, seolah itu mampu menberikan kekuatan untuknya.
"Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan kalian, aku sangat membenci kalian"
Dengan lembut Fredrick terus membelai punggung Victoria tanpa menjawab, dia hanya ingin membuat Victoria bicara dan mengeluarkan segala perasaan dan isi kepalanya. Dia sangat tahu, jika tidak di paksa secepatnya, Victoria akan hancur dan kembali sakit. Tubuh kecil itu tidak akan mampu menahan segala terpaan badai meski isi kepala dan keyakinannya sekeras batu
"Aku... aku benci kalian... kalian para tiran pencuri! kalian...."
Victoria tidak bisa meneruskan ucapannya dengan tangis yang semakin menjadi. Rasanya ada belati besar yang menghujam dadanya saat semua kejadian kembali berputar di dalam kepalanya, semua jeritan dan tangisan keluargannya kembali terngiang di telinganya, saat semua cuplikan di malam tragedi itu kembali terus terbayang di kedua matanya.
Victoria terasa hancur dan melayang tidak tentu arah, dia tidak tahu kemana rasa perih dan sakitnya harus di tujukan, kemana dia harus mejerit marah, kemana dia harus menyalahkan semua kehancurannya, kemana dia harus mencari topangan untuk berdiri lagi setelah ini. Fakta, fakta, dan fakta yang di dapatnya bagai air garam yang menguyur seluruh luka di sekujur tubuhnya.
Victoria tidak tahan, Victoria mulai meragukan Tuhan yang seperti tidak pernah mendengarnya dan menolongnya tapi, kemana lagi dia harus percaya? kemana lagi dia harus mencari kekuatan? jika tidak pada sang pencipta?. Sebenarnya apa maksut semua ini? berapa lama lagi dia harus bertahan menerima cobaan ini? Berapa lama lagi dia harus terus menerima rasa sakitnya? dan yang terpenting, berapa banyak lagi rasa sakit yang akan menggerogotinya?
"Aku... aku tidak tahan... tolong... aku tidak bisa lagi....."
Semua tangisan, semua teriakan rasa sakit yang coba Victoria perjuangankan untuk hanya di keluarkan dengan suara lirih di tengah-tengah tangisnya membuat Fredrick teriris pedih, hatinya seperti di iris lalu di tarik-tarik dengan kuat. Fredrick semakin mengeratkan pelukannya saat tubuh Victoria terasa semakin lemah, seolah ingin menyerah, seolah siap untuk ikut terbawa badai.
"Aku di sini Vic.... bencilah lah aku semaumu, gunakan aku.. gunakan aku semaumu, jangan menyerah, ku mohon..."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"I know it hurts, It's hard to breathe sometimes, These nights are long, You've lost the will to fight"
"I know you can't remember how to shine,
Your heart's a bird without the wings to fly"
~Ruelle - Carry Your πΆ
\=\=\=ππππ
Victoria mau nyerah...
Kl eike di posisi Victoria, udh gila kali yaa... Part ini bikin eike nyesek sendiri kl mendalami gimana posisi Victoria. Ckckck...
__ADS_1
Jejak kalian selalu di tunggu ya readers...
Salam sayang semuaβ¨