Behind The Castle

Behind The Castle
**WAR HAS COME IV**


__ADS_3

Kepala Carl menengadah ke atas, menatap langit pekat yang mulai menghentikan airnya. Suara tetesan air yang mulai mengurangi gayurannya membuat keributan dan suara bising dari pedang-pedang semakin kuat menerpa pendengannya


Victoria terus mengamati semua pergerakan dan juga semua jumlah pasukannya, terlebih pasukan musuh yang baru habis separuh, sedangkan pasukan istana hanya tertinggal pasukan terkuat.


"Bantu dengan panah Carl"


Carl langsung mengangguk dan mulai mengangkat tangannya ke atas dengan satu jari telunjuknya yang terangkat dan terjatuh ke depan, ke arah musuh.


Anak panah kembali melesat pada arah pasukan musuh yang tidak bergerak. Pasukan yang mungkin di siapkan musuh untuk melancarkan serangan sisa, meratakan istana, dan Victoria tidak akan membiarkan itu.


"Perisai.."


Gumanan Carl membuat Victoria mengangguk, karna dia juga bisa melihat jika pasukan musuh yang tidak bergerak langsung mengangkat perisai mereka saat anak-anak panah mulai terbang.


Victoria membuang nafas panjang yang membuat Carl menatapnya.


"Apa yang harus kita lakukan Carl?"


Wajah Carl kembali menatap ke depan, otaknya berputar dengan keras untuk menilai keadaan


"Tidak ada Your Majesty. Kita hanya bisa seperti ini"


"Aku setuju"


Benar... Victoria memang hanya bisa setuju dengan Carl, karna jika mereka melempar batu, pasukan mereka yang sedang mengayunkan pedang pada musuh akan ikut terkena lemparan batu-batu yang sangat besar itu. Tidak ada jalan lain selain menunggu. Menunggu hingga sejauh mana mereka bisa bertahan.


Berjam-jam sudah terlewati dan pasukan mereka sudah semakin menipis. Hujan panah juga sudah di hentikan tapi keadaan di bawah masih sangat berbahaya, terlalu berbahaya.


Victoria menurunkan penutup kepalanya saat hujan mulai mereda dan hanya menyisakan rintikan-rintikan kecil. Kedua matanya memincing tajam pada tiga pangeran yang sudah tidak berniat untuk bergerak dan sekarang hanya menatap ke arah tower dengan penutup kepala terbuka.


"Ayo kita turun Carl"


Carl mengeryit dan langsung menggeleng kuat


"Tidak Your Majesty, anda tidak boleh turun"


"Kita harus turun Carl. Lihatlah...." Victoria mengedipkan dagunya ke depan, yang membuat Carl kembali menatap ke bawah. "Mereka ingin bertemu dengan ku"


Kedua mata Carl terpejam sejenak sambil menghirup nafas dalam-dalam. Lalu menghembuaskan nafasnya dengan kuat


"Tapi saya minta satu hal, satu hal yang harus selalu anda ingat, Your Majesty"


Victoria menoleh untuk menatap Carl yang sudah menatapnya dengan tegas dan dalam


"Apa Carl?"

__ADS_1


"Apapun yang terjadi, nyawa anda adalah yang utama. Apapun tidak boleh membuat anda terluka bahkan jika harus menukar satu gores luka anda dengan banyak nyawa, ingatlah jika itu sepadan, Your Majesty"


---0000---


Elisabeth masih berada di pelukkan Henry yang mencoba menenangkan tubuh gemetar ibunya. Pecahnya perang di sekitar istana membuat Elisabeth sangat ketakutan. Tangan Henry terus mengusapi punggung dan rambut pirang ibunya, sesekali mulutnya terus memberikan ucapan penenang yang di harapkan bisa membuat ibunya sedikit lebih baik.


"Apa kita akan mati Hen?"


Henry menggeleng cepat


"Tidak ibu, istana tidak akan bisa di jebol. His Majesty dan Her Majesty pasti punya cara"


Elisabeth semakin mengencangkan pelukkannya


"Kapan ini akan berakhir Hen? kapan ini semua akan berhenti? ibu tidak tahan lagi...."


Henry hanya diam sambil terus mengusapi punggung ibunya. Dia hanya terus diam saat pertanyaan itu kembali di lontarkan ibunya karna, dia sendiri juga tidak tahu kapan perang dan serangan akan berakhir.


---000---


Sudah dua jam perjalanan kuda-kuda besar itu bergerak. Heningnya malam dan gelapnya langit masih menyelimuti bumi. Fredrick menarik tali kekangnya saat matanya menangkap tanda perbatasan untuk masuk ke dalam jantung ibu kota, Istana Vancia sudah di depan mata.


Kesatrianya yang lain, di tambah dengan Jeremmy, Tomy dan Lucas ikut menarik tali kekang mereka dan langsung melompat dari kuda saat Fredrick sudah melompat lebih dulu.


"Ayo"


Semua kepala kesatrianya langsung mengangguk dan langsung berlari mengukuti Fredrick yang memimpin jalan mereka. Dalam diam dan dengan raut wajah serius mereka terus berlari hingga melihat pemandangan istana Royal. Mereka sudah semakin dekat.


Arah pandang Fredrick menajam untuk mengamati penjagaan di sana. Dan benar prediksinya, jika istana tidak sedang dalam penjagaan penuh. Pasukan mereka sedang menyerbu sebuah kerajaan kuat yang pasti akan membuat mereka mengerahkan pasukan penuh untuk menyerang kerajaannya. Istana Royal sedang dalam keadaan lemah.


"Kita berpencar dalam hening. Jangan pakai banyak tenaga kalian untuk hal yang tidak perlu. Aku butuh tenaga kalian saat sudah di dalam istana"


"Baik Your Majesty!"


Mereka mulai kembali berlari sambil mengingat denah isi istana dan semua tempat istana yang bisa mereka jadikan tempat untuk menyelinap. Terlebih letak kamar Raja Vancia, sekitar kamar Raja Jarvis yang pasti akan di jaga ketat.


Langkah mereka berhenti di sebuah insta kuda yang berada di luar istana Royal. Pagar besi tinggi menjulang dan di jaga cukup ketat. Tanpa perlu di perintah, Xander, Farel dan Keelft langsung maju dengan tenang dan tidak terdengar. Yang lain menunggu dalam diam, hingga beberapa menit kemudian Keelft muncul sambil melambaikan pedangnya yang sudah basah dengan warna merah.


Fredrick kembali memimpin langkah mereka untuk mendekat pada pagar besi. Pagar besi yang baru di bobol oleh kesatrianya yang paling ahli dalam membobol dan menyelinap, Keelft.


"Mulai"


Satu kata dari Fredeick membuat mereka mengangguk singkat dan langsung menyebar di semua sisi-sisi dalam istana. Keheningan terus menyelimuti istana Royal, kegelapan menjadi pemulus pekerjaan para kesatria emasnya untuk mengurangi nyawa-nyawa penjaga.


Fredrick berjalan santai, pelan, hati-hati dan tidak terdengar. Walaupun semua indra di tubuhnya terpasang penuh waspada. Kedua bola mata Fredrick mengkilap saat melihat koridor yang menuju kamar Raja Jarvis. Fredrick mulai menghitung semua penjaga di sana. Ada lebih dari tiga puluh dan itu membuat Fredrick berdecak kesal. Kenapa kamar itu harus di jaga dengan sangat ketat? apa Raja Jarvis hanya bisa menggerakkan tangannya untuk menulis dan tidak bisa menggerakkan tangannya untuk mengayunkan pedang?

__ADS_1


Kepala Fredrick bergerak-gerak untuk merengangkan ototnya, dan kakinya mulai melangkah dalam diam dan tenang. Menyelinap di dalam pencahayaan malam. Tangannya dengan cepat menarik pedang.


Suara gesekan pedang yang tiba-tiba menghantam pendengaran dua penjaga depan koridor membuat semua kepala yang ada di dekat langkah Fredrick menoleh ke arahnya tapi... terlambat, tanpa suara dua leher langsung menyemburkan warna merah saat tangan Fredrick bergerak mengayunkan pedangnya. Bunyi tubuh yang langsung terjatuh keras di atas lantai membuat perhatian semua penjaga, para penjaga lain langsung menuju ke arah Fredrick sambil menarik pedang mereka. Dan... tangan Fredrick kembali menarik satu pedangnya, kedua pedangnya dengan senang hati siap untuk memberikan warna lain di atas lantai karpet biru koridor.


Pedang-pedang Fredrick terus terayun untuk mengiris daging di bagian tubuh mematikan para penjaga dan pengawal, keributan yang mengisi keheningan membuat penjaga dan pengawal lain langsung menuju ke tempat perkara. Seseorang dengan sigap menuju ke lonceng tanda bahaya dan...


Bunyi lonceng tanda bahaya sudah berbunyi, yang membuat semua penjaga dan pengawal di seluruh penjuru istana segera bergerak dari tempat mereka masing-masing, yang pastinya akan membawa langkah mereka pada tempat prioritas utama. Kamar Raja Jarvis tapi... langkah mereka terhenti saat kesatria-kesatria Fredrick menyergap dan langsung menghadang mereka.


Jeremmy mengumpat saat mendengar lonceng berbunyi, pasalnya dia baru saja menebas empat kepala dalam diam, ini di luar harapannya


"Raja kalian sangat tidak sabaran! sialan!"


Keelft terkekeh geli melihat Jeremmy yang terus mengumpat kesal dan langsung maju saat para penjaga dan pengawal mendekat pada mereka. Dentingan pedang dan gesekan pedang pada daging mulai mengisi semua sisi istana. Setiap sudut istana penuh keributan dan penuh warna merah.


Kesatria lain di berbagai sisi mulai menggila terlebih Tomy yang mulai membabi buta mengayunkan pedangnya


"Santailah Tom..."


Tomy mengabaikan ucapan Farel yang terus terkekeh saat melihat dia mulai mengamuk.


Gregory mengumpat dan terus mengumpat keras saat tubuhnya terlempar ke dalam kolam karna mendapatkan perlawanan. Lincont terbahak dengan kedua tangannya yang terus mengiris daging.


"Beri salam pada ikan di sana Gory"


Kembali Gregory mengumpat saat bahunya terkena ayunan pedang lawan. Tubuhnya yang tergelam separuh di dalam kolam membuatnya sedikit kesulitan dalam pergerakan ketika di kepung. Gregory yang malang membuat Lincont berbaik hati untuk membantunya naik dengan tangan yang terus siap mengayunkan pedang.


Xander mengeram kesal saat dirinya mendapatkan sabetan lagi di kakinya, kakinya yang habis terkena pedang seorang jendral saat pernyergapan berlangsung tadi.


Lucas terkekeh dan mendekat pada Xander yang meringis sakit tapi dengan raut wajah yang tampak akan mengamuk.


"Jangan mengamuk Xander, wajahmu terlihat mengerikan"


"Diam kau bedebah!"


Lucas kembali terkekeh geli sambil membayangi Xander yang sedang mengikat lukanya


Beberapa penjaga dan pengawal yang tidak terjaga oleh kesatria emas Fredrick mulai berdatangan pada Fredrick, dan Fredeick tetap masih dengan senang hati membantai mereka tanpa ampun, tanpa jedah dan membabi buta.


\=\=\=💛💛💛💛


Ga tau deh apa imajinasi eike bisa sampe ke kalian. Semoga sampe yaa.. hehhe..


Ayuk jejaknya yukk


Salam sayang semua

__ADS_1


__ADS_2