Behind The Castle

Behind The Castle
**KEKACAUN SIANG**


__ADS_3

Mendengar ucapan Victoria, Fredrick terkekeh tanpa rasa humor


"Apa ini senjatamu untuk lari Vic?"


Victoria ikut terkekeh tanpa rasa humor


"Senjata?..." Victoria mencengkam kuat gaunnya dengan arah pandang yang mulai buram karna terlalu marah dan lukanya kembali di sentuh. "Ahh... anggap lah begitu Your Highness yang terhormat, saya bisa mengerti kenapa anda berpikir begitu, kematian untuk anda hanya hal biasa untuk anda"


Victoria segera mengusap kasar air matanya yang meluncur tanpa aba-aba dan berbalik dengan cepat


"Grey!"


Dengan masih mengeram memamerkan giginya, Grey menatap tidak bersahabat pada semua orang di sana, lalu melompat dari atas meja dan berlari mengejar langkah Victoria dan Diana.


Fredrick memejamkan matanya dengan kepala yang berdenyut hebat, nafasnya memburu karna dadanya terasa sesak, entah karna bagian mana yang membuatnya sesak, kemarahannya? kemarahan Victoria? ancamannya? kekacauan siang ini? atau.... karna sudah membuat Victoria menangis?


Belum sempat mengatur jiwanya, Fredrick kembali di kejutkan dengan kedatang Edward yang langsung memberikan pandang dengan penuh celaan untuknya. Dengan santai tanpa menyapanya, Edward bahkan hanya melewatinya untuk menuju.... Henry?


Edward menunduk sopan pada Henry


"Your Highness Pangeran Henry, His Majesty menunggu anda"


Fredrick menegang, tangannya terkepal dengan rahang yang terkatup rapat. Hendry yang mendapatkan pesan segera mengangguk dan tidak berani melirik sekitar.


Edward berjalan menuju ke arah Calista yang masih sedikit terisak dengan pelayan yang membantunya untuk membersihkan dan membenahi penampilannya yang sudah tidak elegant karna tubuhnya mencium semen. Calista mengepalkan tangannya karna gugup melihat Edward mendekat


"Calista, apa ini cara lain anda untuk merusak isi istana?"


Setelah mengatakan ucapannya bahkan dengan mengabaikan tata krama, Edward melangkah pasti, menuntun Henry menuju ruang kerja Raja George.


Sebelum benar-benar pergi dari sana, Edward sempat memberikan senyuman penuh celaan pada Fredrick yang tampak tidak bergeming


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Diana membawakan makan malam Victoria dengan perasaan campur aduk, semua sudut istana membicarakan kejadian siang tadi hingga nyonya Dolores harus turun tangan tapi, Victoria terlihat tidak terbebani, bahkan acuh meskipun Diana tahu, selesai dari taman istana, Victoria meminta untuk mandi sendiri mungkin karna ingin menangis.


"Makanlah Vic"


"Ohh sudah datang?"


Diana mengangguk singkat dan mengamati Victoria yang sedang membongkar perhiasannya, Diana mendekat untuk membantu


"Apa yang kau cari Vic?"


"Menghitung sisa cincin"

__ADS_1


"Biarkan aku saja, kau makanlah"


Victoria segera mengangguk dan berdiri dari meja rias untuk menuju ruang makan kamarnya


Tidak lama untuk Victoria menghabiskan makan malamnya lalu kembali ke meja rias. Diana yang melihat jika Victoria kembali segera menatapnya


"Kau sudah makan? kenapa cepat sekali?"


Sambil mengedipkan bahunya dengan acuh, Victoria menghitung sisa cincinya yang hanya tinggal tiga, Victoria membuang nafas panjang


"Cincinku hampir habis"


"Iya Vic, tinggal sisa tiga cincin dan dua sisanya adalah cincin Albany"


Sambil menganggukkan kepalanya, Victoria mengambil sebuah kalung rubi besar yang pernah di janjikan untuk menjadi bayaran Kelly


"Apa sudah di lakukan pergantian di istana barat Di?"


"Dua minggu lagi Vic"


Victoria mengangguk singkat dan melempar tubuhnya ke atas ranjang. Diana hanya mengamati hingga dia teringat sesuatu dan segera berdiri dari kursi menuju meja kecil hiasan ruangan.


"Vic, kau dapat kiriman surat"


"Surat siapa Di?"


Dengan wajah antusias dan mata berbinar Victoria meraih amplop-amplop surat surat yang di berikan Diana tapi, setelah itu Victoria membuang asal surat-surat itu dengan wajah muram, lalu berjalan ke ranjang lagi.


Diana yang penasaran segera memunguti surat yang di buang begitu saja oleh Victoria. membaca isinya yang ternyata surat undangan minum teh, lalu membuka tiga surat lagi yang isinya juga undangan minum teh dari para Lady bangsawan.


"Pantas saja mereka mengijinkan surat masuk ke kamarku, ternyata surat untuk pencitraan" Victoria melirik Diana yang merapikan lagi surat untuk di masukkan dengan rapih ke dalam ampop. "Buang saja Di, aku tidak butuh, tidak ada yang ku kenal"


Tapi Diana tetap merapikan dan meletakkan surat ke atas meja, dengan harapan nonannya mungkin saja berubah pikiran.


--000--000--


Jeremmy terus memperhatikan pria putus asa yang tidak berhenti menenggak isi gelasnya, melirik ke samping meja dan menghitung lagi jumlah botol yang sudah kosong yang sebentar lagi pasti akan bertambah jumlahnya


"Kau tahu Jer, di sana ada banyak orang, semua mata dan telinga yang siap mendengar, aku mencoba melindungi semuanya"


Untuk yang keseribu kalinya Jeremmy mendengarkan rancauan pria mabuk di depannya


"Anda hanya mencoba melindungi Lady Calista Your Highness"


Kekehan geli pria mabuk di depannya kembali masuk ke indra pendengaran Jeremmy untuk yang keseratus kalinya

__ADS_1


"Kau tidak mengerti Jer, aku hanya melindungi nama istana dan nama ku, tidak ada hubungannya dengan Calista"


"Tapi itulah yang sekarang sedang saya lihat, bahkan itu juga yang pasti di pikirkan Lady Victoria, terlebih anda berlaku kasar padanya"


Pria mabuk di depannya menggeser botol minuman kosong ke tiga di depannya, dengan sedikit goyang mencoba membuka botol baru


"Tidak, tidak, tidak.... dia mengerti tapi tetap ingin bermain-main, nama baikku di ujung tanduk dan jika aku membiarkan saja perkataannya, akan ada resiko besar yang bisa membuat semuanya akan terbongkar, seseorang bisa saja akan menyadari siapa pelayan di acara 'teh panas' saat itu, istana akan di permalukan dan namaku akan semakin terpuruk"


Sambil melirik pria mabuk di depannya, Jeremmy mengangkat gelasnya


"Dan itu karna anda sendiri Your Highness"


Dengan menyenderkan kepalanya di kepala sofa, nafas panjang dan putus asanya kembali terdengar


"Kau benar, semua salahku, tapi aku sedang mencoba memperbaikinya"


"Walaupun harus melukai tunangan anda?"


Pertanyaan Jeremmy kembali membuat perasaan Fredrick tidak nyaman, dia paham jika dirinya sudah menyakiti tunangannya, terlebih membuatnya menangis, terlepas dari ketidak sengajaannya, air mata Victoria yang di usapnya dengan kasar menjelaskan jika dia salah karna dia menyentuh luka lamanya kembali, Fredrick paham dan sekarang menjadi sangat paham, ego dan pemikirannya malah bisa merusak segalanya, tapi tetap saja, jika saat itu Victoria berhenti dan tidak terus melaju dengan sengaja atau tidak, emosinya juga tidak akan ikut berpacu


"Apa yang harus ku lakukan Jer?"


Dengan acuh Jeremmy meletakkan gelasnya di atas meja


"Saya tidak tahu Your Highness, jujur saja jika saya memiliki karakter seperti Lady Victoria, saya benar-benar akan marah, bukan karna hal lain, tapi karna anda kembali menyentuh keluarganya, bagaimanapun juga, kematian keluarganya bukanlah hal biasa untuknya terlepas dari semua alasan" Jeremmy melirik pria mabuk di depannya yang sudah kembali mengangkat gelas. "Anda harus melakukan sesuatu"


Sambil memijat pelipisnya, pria mabuk itu menatap Jeremmy dengan lekat


"Aku akan coba berbicara tanpa emosi dengannya, semoga dia mau mendengarku"


Jeremmy hanya diam


"Sialan! ayahku langsung memanggil Henry! ular tua itu pasti merencanakan sesuatu!"


Kembali Jeremmy hanya diam. Dia tidak bisa memberikan respon apapun, ini sudah bukan wilayahnya. Raja George adalah satu-satunya orang yang tidak bisa sembarangan di komentarinya tapi...... ular tua? aahh... Jeremmy tidak bisa menyangkal itu


รทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรท


Haii readers.....


Terimakasih sudah mampir dan masih mau lanjut membaca yaaa


Sehat selalu untuk kalian....


Salam sayang semuaโœจ

__ADS_1


__ADS_2