
Jeremmy segera mengambil alih peran Carl. Meski langkah mereka sebenarnya tinggal sebentar lagi akan memasuki aula istana tapi Jeremmy dengan perasaan tidak sukanya langsung mengusir Carl untuk menjauh dari Victoria. Ada pandangan mengganjal yang di tangkap Jeremmy di kedua bola mata coklat pekat Carl saat terus memandang Victoria. Terlebih karna tadi saat dia harus mengurus kembali sisa undangan untuk acara jamuan. Carl dengan lantang dan cepat tanpa menunggu persetujuannya langsung melesat untuk menawarkan dirinya sendiri mengantar Victoria ke aula. Dan ini semua membuat Jeremmy khawatir, entah apa yang di khawatirkannya tapi mungkin bisa saja akan menjadi masalah di kemudian hari.
Victoria melebarkan arah pandangnya saat sudah memasukki aula. Menatap tiap-tiap sudut ruangan aula yang sudah di tata rapi untuk menyambut para bangsawan yang akan hadir nanti
Sambil terus menilai sekitar dan mengikuti langkah Jeremmy. Victoria kembali menoleh pada punggung Carl yang sudah pergi semakin menjauh
"Kau seperti tidak suka pasa Carl, Jer. Apa aku salah?"
"Maaf Your Highness, tapi anda salah"
Victoria menoleh dan menatap Jeremmy penuh selidik
"Tidak biasanya bukan kau yang menjemputku dari depan pintu kamarku Jer"
Dengan tenang dan terus menatap ke depan meski tahu jika Victoria sedang mengamatinnya Jeremmy menjawab
"Tadi ada sesuatu yang harus saya kerjakan dulu Your Highness"
Clasik... Tentu saja Victoria tahu jika itu alasan pasaran untuk menutupi alasan yang sebenarnya. Meski Victoria sebenarnya juga tidak peduli karna ada sesuatu yang mengisi pertanyaan di kepalanya
"Di mana His Highness Pangeran Fredrick?"
Victoria melepas tangannya dari lengan pria bersurai abu-abu indah itu sambil menunggu Jeremmy membuka mulutnya
"Sedang mengerjakan sesuatu Your Highness"
"Hhmm..."
Tebakan Victoria benar saat dia sudah menatap ke arah depan. Di depannya sudah berdiri wanita paruh baya dengan surai pirang emas yang mulai memutih, dengan wajah tuannya yang masih terlihat guratan kecantikan dan di atas kepalanya yang terpasang mahkota Ratu.
Victoria langsung menekuk lututnya dan menarik sisi gaunnya dengan anggun untuk memberi salam pertamanya pada
"Selamat sore Your Majesty Ratu Elisabeth"
"Selamat sore Putri Victoria"
Dengan sudut bibirnya yang melengkung ke atas Ratu Elisabeth segera berdiri. Victoria yang sudah menerima sambutan atas sapaannya segera mendekat pada Ratu Elisabeth
"Sebuah kehormatan akhirnya saya bisa bertemu dengan anda Your Majesty"
Ratu Elisabeth tersenyum tipis sambil kembali duduk di kursinya. Jeremmy dengan sigap menarik kursi untuk Victoria yang langsung mendaratkan bokongnya di kursi
"Kau memang sangat cantik dan manis seperti rumor yang beredar Putri Victoria"
"Terimakasih Your Majesty. Anda juga sangat cantik. Bahkan sekarang anda tetap terlihat lebih cantik dari saya"
__ADS_1
Ratu Elisabeth terkekeh girang sambil terus kedua bola mata birunya menatap Victoria. Warna bola mata yang sama dengan anaknya. Henry.
"Ternyata benar yang di katakan Henry. Kau memang sangat manis. Tidak hanya penampilan tapi juga perkataanmu. Sangat menyenangkan hati orang tua ini"
Satu alis Victoria menukik pendek
"Apa His Highness Pangeran Henry sering menbicarakan saya Your Majesty? Oohh.. semoga tidak sampai di bagian yang memalukan"
Kembali Ratu Elisabeth terkekeh girang
"Dia sering bercerita banyak hal termasuk..." Ratu Elisabeth menatap lekat kedua manik gelap Victoria. "Bagaimana mempesonanya kepribadian serta penampilanmu Putri"
Victoria menangkap itu. Sepersekian detik ada pandangan gelap dan mencekam yang di berikan Ratu Elisabeth padanya. Tapi apa itu?
"Aahh.. anda terlalu memuji Your Majesty"
Sambil memainkan cangkir tehnya dan menatap Jeremmy yang dengan setia masih berdiri di belakang Victoria, Ratu Elisabeth kembali membuka mulutnya
"Apa kau baik-baik saja Putri? Kejadian tadi..." Ratu Elisabeth membung nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedih. "Sangat mengejutkan dan mengerikan"
Dengan tenang dan tersenyum tipis. Victoria mengikuti arah pandang Ratu Elisabeth pada Jeremmy
"Terimakasih atas perhatian anda pada saya Your Majesty. Tapi saya baik-baik saja, saya lebih mengkhawatirkan anda yang kabarnya masih sakit tapi bersedia hadir di hari pernikahan saya. Terimaksih banyak"
"Oohh... Kau memang manis sekali Putri. Aku sudah lebih baik sekarang meski nanti tidak bisa menuntunmu..." Tangan Ratu Elisabeth meraih tangan Victoria dan menggenggamnya dengan erat. "Dan menunjukkan peran seorang Ratu langsung"
"Tidak apa-apa Your Majesty. Saya sangat senang mengenal anda"
"Kau merindukam ibumu Putri?"
Pertanyaan Ratu Elisabeth jelas membuat senyum Victoria pudar. Victoria kembali melirik Jeremmy yang sekarang terlihat tenang meski dia tahu jika Jeremmy sempat menegang sepersekian detik saat pertanyaan meluncur
"Tentu saja Your Majesty. Terlebih pada hari ini"
Dengan wajah yang menatap Victoria dengan sendu. Tangannya yang masih menggenggam Victoria mengeratkan genggamannya
"Anak yang malang... Walau aku tidak mengenal mendiang Duchess tapi aku yakin jika dia adalah ibu yang luar biasa dan sangat menyayangi anak-anaknya. Dia benar-benar berhasil mendidik anak-anaknya dengan baik"
Bibir Victoria tersenyum getir sambil menatap wajah tua yang masih cantik dan anggun di depannya.
"Ibu saya adalah seorang wanita luar biasa yang penuh kehangatan dan sangat sabar juga sangat cantik. Meski terkadang juga bisa berubah menjadi sangat cerewet dan galak. Bahkan ibu saya bisa mengomel berminggu-minggu ketika saya melalukan kenakalan menyebalkan"
Suasana yang coba di cairkan Victoria berhasil membuat Ratu Elisabeth terkekeh haru. Kembali Ratu Elisabeth meraih satu tangan Victoria hingga kedua tangan mereka saling bertaut dan menggenggam
"Mendiang Duchess sangat mencintai kalian..." Raut wajah Ratu Elisabeth seketika berubah dan menatap kedua manik Victoria dengan dalam. "Semoga Duchess tersenyum hari ini"
Jeremmy mengatupkan rahangnya dengan kepala yang masih menunduk dan melirik Victoria yang tetap tersenyum tipis dengan arah pandang yang menatap lekat pada wajah Ratu Elisabeth.
__ADS_1
Victoria mencari-cari maksut dari ucapan penuh makna Ratu Elisabeth di dalam ke dua manik gelap bola mata biru di depannya
"Ibu saya pasti tersenyum Your Majesty. Bahkan bersama ayah saya di sisiNya"
Dengan elegant dan anggun Ratu Elisabeth melepas genggamannya dan memegakkan kembali bahunnya. Kembali suaranya terdengar
"Tentu saja, orang tua mana yang tidak tersenyum bahagia di hari pernikahan anaknya kan"
Dengan ikut menegakkan bahunya, Victoria memgangguk pelan.
"Jika kau rindu pada ibumu, meski akau tidak seluar biasa ibumu, kau boleh menganggap aku sebagai ibumu Putri. Kita bisa saling bertukar surat dan jika aku cukup sehat, aku akan mengunjungimu di istana"
Meski bibir Victoria tersenyum, meski kepalanya mengangguk tanpa keraguan. Meski Victoria mengucapkan rasa terimakasih dengan raut wajah haru tapi, tidak ada seorang pun yang tahu dan bisa membaca isi hati dan pikirannya sekarang.
"Sepertinya ini jam untukku minum obat Putri"
"Ahh begitu Your Majesty"
Ratu Elisabeth mengangguk sambil membunyikan lonceng di atas meja.
"Apa anda akan hadir di acara jamuan Your Majesty?"
Dengan cepat Victoria melancarkan pertanyaannya saat Ratu Elisabeth sudah melihat pelayannya datang
"Aku tidak bisa hadir Putri"
Victoria mengangguk paham dan Ratu Elisabeth segera berdiri dari kursinya dengan kembali menimpali ucapannya
"Aku akan langsung kembali ke Larina Putri"
Kembali dengan cepat Victoria mengeluarkan isi kepalanya
"Bolehkan saya mengunjungi anda jika saya sedang sangat merindukam ibu saya Your Majesty? mengunjungi anda di castle Larina"
Jeremmy menekuk bibirnya dengan kepala yang langsung terangkat menatap Vicrtoria dan Ratu Elisabeth yang sudah berdiri sambil saling pandang dalam diam
"Tentu saja. Kau bisa mengatakan pada Henry jika ingin datang, anakku itu..." Ratu Elisabeth tersenyum lebar, bahkan sangat lebar pada Victoria. "Sangat menyukai anda Putri, dia pasti senang saat anda menghunginya terlebih karna anda ingin menemui ibunya jadi jangan ragu untuk meminta tolong padanya"
Setelah mengatakan ucapan penuh maksutnya Ratu Elisabeth segera memutar langkahnya yang segera di ikuti pelayannya.
Victoria menekuk lututnya untuk memberikan penghormatan saat Ratu Elisabeth akan memutar tubuhnya. Hingga Ratu Elisabeth sudah menghilang dari arah pandangnya, Victoria tetap berdiri di depan kursinya. Isi kepalanya menerawang jauh dengan pikiran yang hanya dia yang tahu tapi yang jelas, dia menangkap jika, Larina adalah tempat yang sebenarnya bisa dia kunjungi. Tapi kenapa selama ini tempat itu seolah tertutup rapat? Bahkan Raja Geogre pun sangat dan sangat jarang terdengar berkunjung ke sana?
\=\=\=❤❤❤❤
Jejakanya jangan lupa di tinggalin ya readers...
Salam sayang✨
__ADS_1