
Jeremmy terus melirik dua orang di depannya yang tampak santai tapi juga serius. Mereka sedang mendengarkan Tomy yang menjelaskan tentang kekuatan musuh. Carl tidak jauh berbeda, matanya terus menatap lekat wajah pasangan suami istri yang sesekali mengeluarkan pertanyaan. Wajah mereka tampak lebih cerah, penuh semangat dan ceria, walaupun dengan kedua mata mereka yang tampak jelas membengkak. Apa mereka berdua habis menangis seharian? itulah pertanyaan yang sekarang memenuhi isi kepala Jeremmy dan Carl.
"Vic, aku ingin tahu pendapatmu"
Victoria menatap suaminya yang berdiri di sampingnya dengan tangan menyilang ke depan dada, dan berwajah serius.
"Apa?"
"Kau sudah mendengarkan ini semua. Menurutmu, bagaimana cara menempatkan pasukan sesuai kekuatan"
Pertanyaan Raja mereka, membuat semua wajah menatap Victoria. Victoria terlihat langsung berpikir sambil memandangi peta-peta dan isinya, tangannya meraih satu peta yang berisi semua bagian dan lokasi detail istana. Cukup lama Victoria berpikir hingga akhirnya bersuara.
"Menurutku, di barisan pertama kita menempatkan kekuatan yang lumayan kuat dulu"
Satu alisa Edward menukik. Tomy, Carl dan Jeremmy terlihat tertarik. Fredirick memandang Victoria dengan raut wajah minta penjelasan.
"Kenapa tidak yang terlemah dulu?"
Wajah Victoria kembali terlihat berpikir lalu menjelaskan pendapatnya
"Karna ini untuk pertahanan bukan penyergapan atau menyerang, berarti sama saja seperti kita sedang membuat benteng untuk istana" Fredrick mengangguk setuju. Edward dan yang lain ikut mengangguk setuju dan semakin terlihat penasaran. Victoria melanjutkan. "Jika kita menempatkan yang terlemah di depan, itu sama saja seperti bertarung dengan kekuatan yang sama, karna seperti prediksi dari kalian, mereka akan menempatkan pasukan seperti pion catur, mereka akan meletakkan kekuatan terlemah dulu di barisan depan mereka."
Fredrick kembali mengangguk dan raut wajahnya langsung tampak antusias
"Lalu?"
"Menurutku, kita harus menempatkan kekuatan yang tidak lemah tapi juga tidak terlalu kuat di depan karna..." Victoria berdehem beberapa kali karna merasa sedikit gugup. Oh ayolah... dia tidak ahli dalam hal ini, jika bisa dia lebih memilih mengerjakan rencana merepotkan untuk mendapatkan keuntungan atau rencana yang rumit untuk memperbaiki daerah yang rusak dari pada harus membuat strategi perang. Victoria menarik nafasnya dan melanjutkan "Karna, saat kita meletakkan kekuatan yang lumayan di awal, kekuatan itu bisa mengahabisi yang lemah milik mereka, kalaupun tidak berhasil..." Jari Victoria mengetuk-ngetuk perkamen. Semua wajah mengikuti jari Victoria yang menujukkan perkamen tentang kekuatan dan barisan pasukan. "Tenaga mereka pasti cukup terkuras saat melawan pasukan awal kita, dan saat mereka bisa berhasil masuk ke wilayah pasukan ke dua, pasukan lemah yang ada di tengah bisa menghabisi sisanya, mereka yang sudah kelelahan pasti kerepotan melawan pasukan lain walaupun itu hanya pasukan terlemah kita. Kekuatan mereka tidak akan sama lagi saat sudah melewati yang pertama dan kalaupun mereka selamat dan behasil melewati baris telemah, baris ke tiga, barisan terkuat kita sudah siap untuk menyapu mereka tanpa perlu banyak membuat mereka menghabiskan tenaga. Oh.. jangan lupakan pemanah kita harus terus selalu siap dari atas. Setiap mereka bergetak, hujan panah akan terus kita berikan"
Fredirick langsung terkekeh dan mencubit pipi Victoria dengan gemas. Edward tersenyum lembar sambil mengangguk antusias. Tomy mengangguk setuju. Jeremmy dan Carl tersenyum lebar yang syarat akan rasa bangga.
"Bagaimana Edward tentang Ratu kalian ini?"
Pertanyaan Fredrick membuat Edward terkekeh sambil memberikan gestur memberi sapa ala gentleman. Tangan Edward seolah sedang mengangkat topi dengan punggung sedikit membungkuk dan kepala sedikit tertunduk
"Long live the Queen...."
Wajah Victoria langsung merona malu, oohh.. rasanya dia sangat malu saat di puji dengan bangga dari kesatria pemilik otak strategi perang terbaik Francia.
__ADS_1
"Terimakasih Ed"
Senyum lebar dan lega langsung tercetak di semua bibir pria di sana karna, Victoria sudah cukup siap dan mengerti apa yang harus dia lakukan nanti. Sisanya akan sesuai situasi, walaupun ternyata rencana akan kacau saat eksekusi berlangsung tapi, mereka yakin jika Victoria yang sudah mengerti akan bisa memutar otaknya sendiri di keadaan yang penuh tekanan saat perang. Mereka sangat tahu bagaimana mental wanita muda itu. Mental yang jika semakin tertekan akan semakin membuatnya ganas.
🍂🍂🍂🍂
"Masih ada yang harus ku urus lagi, kau tidak perlu ikut"
"Ok"
Fredrick mencium dahi Victoria dan segera berjalan menuju pintu keluar kamar Victoria. Mareka baru selesai makan malam dan Fredrick baru mengantar istrinya, setelah ini dia akan menuju camp kembali. Mereka memiliki pertemuan rahasia di sana. Tapi, sebelum tangannya membuka handle pintu, Fredeick kembali menoleh menatap Victoria
"Jangan kunci pintu penghubung"
Victoria memutar bola matanya dengan jengah
"Iya.... iya... pergilah sana! aku ingin bekerja"
Fredrick terkekeh dan melanjutkan langkahnya. Setelah Fredrick pergi dan punggungnya menghilang dari koridor, Victoria segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.
Fredrick terus melangkah menuju ruang santai camp, tempat mereka akan membuat rencana ter-rahasia.
"Pasukan kita tidak cukup banyak untuk melawan mereka jika mereka mengerahkan semua pasukan mereka, Your Majesty"
Fredrick mengangguk mengerti saat Tomy mengeluarkan pernyataannya. Jelas mereka tidak akan cukup karna besar kerajaan Vancia dua kali lipat dari besar kerajaan Francia.
"Kikis separuh lebih pasukanku dan tempatkan di istana, kikis juga sedikit pasukan lain untuk penyergapan di beberapa titik yang tidak terlalu berbahaya" Kepala ketiga pria di sana langsung menatap Fredrick dengan raut wajah yang jelas sekali menunjukkan ketidak setujuan, mereka tidak akan ingin ada kemungkinan terjadi sesuatu pada Fredrick, walaupun mereka yakin dengan kemampuan dan kegilaan Fredrick. Fredrick mengerti raut wajah mereka, tapi tidak berniat untuk menarik ucapannya. "Biarkan jalan pasukan yang di pimpin Pangeran Marco terbuka agar mereka bisa masuk ke istana"
Edward hanya diam dan mengangguk paham, Tomy dan Carl juga hanya diam, tapi tidak dengan Jeremmy yang tidak bisa mengerti maksut Fredrick
"Membuka jalan? Kenapa Your Majesty?"
Dengan acuh, Fredrick mengedipkan kedua bahunya dan mengangkat gelasnya yang berisi cairan Brandy kesukaannya
"Agar istriku bisa langsung bertemu dengan calon kakak iparnya" Jeremmy yang sebenarnya tetap belum mengerti hanya bisa diam dan patuh, tangannya mulai mencoret-coret perkamen. Fredrick meletakkan gelasnya dan kembali bersuara. "Jika pasukan kalian bersisa, kirim langsung semuanya ke istana"
Edward mengeryit dan menatap Fredrick
__ADS_1
"Lalu anda bagaimana Your Majesty?"
Fredrick menyenderkan punggungnya di kursi dan menatap semua wajah yang kembali terlihat menunjukkan raut wajah tidak setuju.
"Aku bisa mengatasinya nanti dan kami akan langsung melanjutkan perjalanan hingga masuk ke jantung ibu kota. Aku ingin memotong sendiri leher Raja Jarvis" Fredrick menjedah dan kembali meraih gelasnya "Aku akan membawa Keelft, Gregory, Lincont, Xander dan Farel bersamaku. Karna itu kikis saja pasukanku dan letakkan untuk istana. Di istana akan terjadi pertumpahan darah biru"
Kepala pria lain di sana langsung mengangguk mengerti dan patuh. Mereka tidak akan meragukan bagaimana begisnya Raja mereka saat sudah menandai mangsa. Mereka juga yakin jika Fredrick dan teman satu tim mereka akan menyapu dengan mudah pasukan besar lain yang akan mereka sergap. Fredrick yang saat sudah berada di medan perang akan selalu berubah menjadi monster gila, terlebih saat membawa teman satu tim mereka yang lain. Dan benar... istana memang butuh lebih banyak pasukan karna Pangeran Marco pasti akan membawa pasukan besar rahasia yang entah akan mengepung istana dari mana.
Edward ikut mengangkat gelasnya dan kembali bersuara
"Bagaimana parlement?"
"Kirim surat secepatnya"
Satu alis Edward menukik
"Apa mereka akan bersedia ikut? Kau tahu jika mereka sangat tidak ingin berurusan dengan istana walaupun keponakan mereka sudah menjadi Ratu, dan juga mereka tidak akan peduli walaupun kita mengatakan pada mereka keadaan genting kerajaan "
"Beri mereka berita bahagia dan beri sedikit ancaman" Fredrick menatap Carl. "Aku mengandalkanmu Carl"
Carl mengangguk mengerti dan patuh
"Baik Your Majesty. Besok pagi saya akan memastikan surat tentang kabar bahagia dan ancaman sampai di ruang utama parlement"
Fredrick mengangguk singkat pada Carl. Tomy kembali menatap perkamen dan bersuara
"Bagaimana dengan Lady Charlotte?"
Pertanyaan Tomy membuat semua kepala menatap Tomy, lalu menatap Fredrick dengan wajah menunggu jawaban.
"Sudah ku katakan jika di istana kemungkinan akan terjadi pertumpahan 'darah biru'...."
Edward dan Jeremmy yang sudah mengenal cara berpikir Fredrick sangat mengerti ucapan Fredrick, mereka juga percaya pada intuisi dan penilaian Fredrick. Tapi, tidak tahu apakah pria lain di sana bisa menangkap dan mengerti dengan baik maksut Fredrick, karna mereka hanya mengangguk singkat.
\=\=\=🎀🎀🎀🎀
Ayukk jejaknya yukk
__ADS_1
Salam sayang semua