
Hari yang di tunggu Victoria telah tiba. Ini pertama kalinya Victoria menginjakkan kaki di gedung partment, pertama kalinya berhadapan dengan banyak sekali gentlemen, pertama kalinya akan memburu keputusan sangat penting, pertama kalinya akan menghakimi dengan tujuan yang harus sesuai dengan keinginannya. Jika bukan kapak penjagal, maka tiang gantungan. Apapun yang terjadi, enam orang pria yang sekarang sedang duduk di tengah-tengah ruang rapat dan di kelilingi meja serta kursi itu. Harus mati karna dosa mereka.
Bukan wajah gugup, bukan gerak-gerik gelisah, bukan pergerakan cemas yang di tunjukan wanita tujuh belas tahun itu tapi, wajah datar, tegas dan tatapan dingin lah yang di tunjukkannya. Kericuhan dan bisik-bisik yang terus di lakukan semua gentlemen dengan status mereka yang memiliki kontribusi mereka pada parlement, membuat Edward terus melirik Victoria. Ada sedikit kecemasan tapi juga rasa antusias pada wanita yang orang tuannya Edward buat terkubur di tanah.
"Mari kita mulai agenda kita, Your Highness Putri Victoria dan para gentlemen" Suara Albert membuat keadaan langsung hening. "Saya akan langsung pada tujuan kita"
Albert melirik para iparnya yang terus membaca ulang bukti-bukti dosa di tangan mereka. Albert memulai dengan mendekat pada kursi Victoria dan berbisik
"Apa yang anda inginkan Her Highness?"
Dengan tegas dan dingin Victoria menjawab tanpa menatap Uncle-nya
"Eksekusi publik"
Albert terdiam sepersekian detik menatap dalam keponakannya itu. Victoria yang sekarang tampak seperti Victoria tapi juga bukan Victoria.
"Baiklah, akan saya usahakan"
"Anda 'harus' Earl Albert"
Albert hanya membuang nafas panjang dan berjalan mendekat pada ke enam kursi yang berada di tengah-tengah ruang rapat, dan memulai aksi mulut lincahnya
"Saperti yang sudah masuk dalam agenda kita beberapa hari yang lalu. Penggelapan dana pembangunan ibu kota, pencurian dana bendungan beberapa tahun lalu, pembangunan tempat prostitusi di atas tanah milik gereja yang di rebut paksa, perbudakan, perdagangan manusia, menyembunyikan bukti pemerkosaan pada empat belas orang wanita dan gadis di bawah umur yang di lakukan oleh anggota keluarga mereka, pelecehan dan upaya pembunuhan pada anggota kerajaan dan.....
"Itu semua bohong Earl Albert!"
Suara Adam langsung menepis semua ucapan Albert yang belum selesai Albert ucapkan. Albert menatap Adam dengan dingin
"Jika anda tidak bisa diam sebelum saatnya anda membela diri, saya akan menyumpal mulut anda dengan sepatu anda sendiri. Percayalah Baron Adam, saya tidak akan segan di dalam rumah saya"
__ADS_1
Mau tidak mau, Adam langsung bungkam dan Albert kembali melanjutkan
"Dan... merencanakan gerakan pemberontakan untuk menjatuhkan 'calon' istri pilihan His Majesty" Albert melirik iparnya yang sudah melipat tangan di atas meja dengan wajah serius dan tenang. "Semua bukti yang kita dapat juga sudah kita bahas beberapa hari yang lalu, apakah ada pertanyaan?"
Dan di mulailah semua pertanyaan dan penjelasan yang langsung di berikan Albert serta para iparnya, para pria dengan ikatan keluarga si pemilik ruangan utama parlement. Sesekali ke enam orang tersangka menolak bukti, berteriak tidak terima dan menjerit tidak mengakui tapi, Albert dengan lincah memutar dan membalikkan pertanyaan dengan bakat alami mulut dan otak cerdasnya. Jelas keadaan tersangka semakin terpojok, meskipun beberapa kali gentlemen pembela memberikan argumennya tapi, bukti memang sangat kuat dan tepat terlebih, yang sedang mereka hadapi mulut Albert.
"Ini tidak benar Ealr Albert, kejadian itu sudah beberapa tahun yang lalu dan tidak terlihat kekacauan apapun, hanya bukti data bukan nyata. Lagi pula untuk masalah perbudakan dan perdagangan manusia seperti yang di tuduhkan memang karna mereka pantas. Pengambilan....."
"Lalu karna semua tidak terlihat nyata. Penggelapan dana dan pencurian hak rakyat bisa di benarkan Marquess? Dan apa anda pikir manusia lain sama seperti binatang yang bisa di perjual belikan kehidupannya?"
Victoria yang sudah muak dan emosi langsung menyambar ucapan pembela tersangka sambil berdiri dari kursinya dengan wajah dingin
"Anda tidak bisa ikut berbicara Your Highness"
Dengan sebelah sudut bibirnya yang tertarik ke atas, Victoria menatap pembela itu dengan kepala di miringkan
Albert yang melihat jika Victoria sudah maju membiarkan dengan acuh sambil mundur menuju mejanya, para iparnya juga terlihat sudah menarik kursi penonton.
Albert yang juga merasa tenggorokannya kering segera menyambar gelas dengan menempelkan bokongnya di pinggir meja sambil mengamati keponakannya yang sekarang sudah berjalan maju ke tengah tersangka dengan wajah dingin. Oh.... pemandangan ini membuatnya teringat dengan masa lalu, wajah Victoria yang sangat mirip dengan kakaknya, membuatnya bernostalgia dan perasaan itu juga sama seperti yang di rasakan para iparnya.
"Para gentlemen yang terhormat" Victoria menghentikan langkahnya ke tengah ruangan, ke depan kursi enam tersangka, sambil memandang semua wajah yang duduk mengelilingi tersangka. "Pembangunan untuk rakyat memiliki harapan besar untuk kehidupan mereka ke depannya tapi harapan itu di kurangi dengan tidak tahu malu oleh orang-orang egois. Dana bendungan yang di curi sangat berguna untuk persiapan kemungkinan terjadinya kebocoran tanpa perlu membuang waktu untuk membuat permohonan dulu pada istana, kita bisa langsung bergerak untuk pertolongan pertama pada bendungan selagi menunggu istana. Pembangunan tempat prostitusi di atas tanah Gereja yang di rebut?..." Victoria menjedah dengan rahang mengeras. "Saya rasa para gentlemen bisa menilai sendiri bagaimana tidak etis-nya hal itu terlebih karna tanah itu di rebut paksa, walaupun dengan alasan gereja itu sudah hancur karna gempa beberapa tahun lalu tapi tetap, merebut adalah hal menjijikkan terlebih di atas tanah tempat orang-orang melantunkan pujian pada Tuhan"
"Anda tidak berhak menghakimi kami! anda juga tidak berhak bicara di sini 'Her' Highness!. Earl Albert! bagaimana bisa anda membiarkan seorang wanita berbicara"
Adam kembali berteriak murka. Albert dengan santai melipat tangannya sambil melirik Victoria yang menatapnya dengan raut wajah minta pertolongan, karna jelas, aturan di dalam buku bukan seperti ini.
"Baron Adam, 'Her' Highness bukan 'wanita'... Dia adalah 'Her Highness'. Saya tidak akan membawa masa depan tapi...." Dengan wajah menyebalkan, Albert memainkan kukunya. "Her Highness memegang stempel Raja, apa perlu saya jelaskan arti dirinya pada sidang ini...?"
Bibir Victoria langsung menyeringai sambil membalas kedipan mata yang di berikan Albert. Dan Victoria kembali mengeluarkan teknik menjatuhkan lawan dengan mulut dan otak liciknya
__ADS_1
"Melindungi keluarga yang memperkosa dan melecehkan wanita? Saya tahu dan tidak akan munafik jika kita memang punya kuasa, kita akan melindungi keluarga kita sendiri tapi, coba pikirkan jika apa yang terjadi pada korban terjadi pada istri, putri atau keluarga perempuan anda yang lain, saya sebagai wanita yang juga sudah merasakan bagaimana..." Kepala Victoria langsung menoleh pada Adam dengan gigi mengerutuk. "BAGAIMANA RASANYA DI LECEHKAN!!! bahkan mereka ingin membunuh seorang wanita lemah seperti saya yang tidak bisa melawan sedikitpun tenaga seorang pria"
Setelah berucap, Victoria mengusap ujung matanya yang kering dengan wajah memelas dan 'terlihat' sedih.
"Permainan apa yang coba anda mainkan Her Highness?. Apa yang anda inginkan?"
Seorang pembela dengan wajah culas menatap Victoria yang sedang memainkan drama murahannya. Victoria langsung kembali mengangkat wajahnya dan menatap si pembela
"JUSTICE"
Keadaan menjadi sangat hening dengan udara yang semakin terasa dingin. Tidak ada yang ingin kembali berkomentar atau bertanya lagi.
Edward langsung menyeringai. Lucas dan Carl hanya bisa terperangah, isi kepala mereka hanya mencoba mengingatkan diri jika wanita yang sedang mengadili dan menghadapi situasi berat di depan mereka baru berusia tujuh belas tahun.
Merasa perutnya mulai lapar, Albert langsung mengangkat bokongnya kembali dari pinggir meja sambil melirik Thomas dan Charles yang mengedipkan bahu mereka dengan acuh. Well... para iparanya pasti tidak akan bingung apa lagi terkejut dengan keberanian dan mental Victoria. Seorang Arathorn yang mulai matang.
"Her Highness, tolong tenangkan diri anda, kami mengerti jika ini mengguncang anda terlebih membuat anda harus teringat dengan hal buruk yang anda lalui. Saya mohon, biarkan saya yang 'menyelesaikan' semua ini. Beristirahatlah dulu"
Dengan jari-jari yang masih mengusapi sudut matanya yang kering, Victoria mengangguk dengan patuh dan kembali ke kursinya.
"Karna ini sudah semakin siang, para gentlemen juga sepertinya sudah tidak mempunyai pertanyaan jadi, langsung saja kita melompat ke bagian hukumam. Dan, hukuman yang di ajukan adalah....." Albert melirik Victoria yang langsung memberikan pandangan tegas. "Eksekusi publik"
Dan.... keadaan kembali ricuh...
Albert menarik nafasnya sejenak dan kembali menjalankan keahliannya
\=\=\=❤❤❤❤
Yukk jejaknya yukkk jangan lupaaa.....
__ADS_1