Behind The Castle

Behind The Castle
**DUCHY ARGENTT**


__ADS_3

Perjalanan dari ibu kota menuju Duchy Argentt memakan waktu hampir seharian. Victoria bahkan harus bangun lebih pagi dari matahari karna pintu kamarnya yang di gedor-gedor kasar oleh seorang Fredrick langsung.


Dengan tubuh yang masih cukup lelah, walaupun sepanjang perjalanan tubuh itu dengan tidak tahu malu terus tidur di dalam kereta tapi tetap saja, Victoria merasakan sakit di punggungnya. Keberadaan Diana yang juga ada di dalam kereta membuat Fredrick tidak bisa mendekap Victroria untuk memberikan tubuhnya sebagai bantalan tubuh Victoria.


Setelah perjalanan jauh itu, sore hari menjelang saat mereka tiba di Duchy Argentt. Alih-alih langsung melakukan istirahat tapi, Fredrick malah langsung mengadakan rapat mereka. Banyak hal yang perlu di bahas, banyak waktu yang perlu di hemat. Rencana kepergian mereka yang hanya dua malam membuat Fredrick tergesah-gesah membuka rapat. Dia punya rencana lain di sisa waktu yang akan di perolehnya saat urusan utama selesai. Argentt mempunyai tempat hiburan opera terbaik di Francia dan Fredrick ingin menunjukkan itu pada Victoria.


Dengan tubuh lelah dan mata mengantuk, Victoria tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengikuti rapat, walaupun tidak benar-benar ikut langsung. Status seorang Lady di kalangan bangsawan tidak bisa membuatnya ikut dalam rapat, tidak bisa menyuarakan isi pikirannya, tidak bisa ikut dalam urusan pria, tidak bisa membuatnya ikut dalam perdebatan meski, sebagian besar yang sedang mereka bahas menyangkut isi tanah keluarganya. Tanah yang di bangun dengan nyawa, darah, keringat dan air mata leluhurnya


Meski seorang Lady tidak bisa ikut dan hanya bisa berkumpul di meja lain tapi tidak utuk seorang Lady lain. Posisinya yang sebagai anak satu-satunya dan pewaris membuatnya bisa duduk di meja para gentleman, walaupun dia tetap tidak bisa membuka suara. Calista hanya bisa mendengarkan dan mempelajari semuannya.


Berjam-jam rapat berlangsung dengan serius, Victoria dengan tenang duduk di meja para Ladies. Ada dua wanita yang menemaninnya di sana. Satu istri pemilik rumah dan satu istri salah satu Baron yang ikut dalam rapat, istri Baron yang tampak tidak sehat karne terus terbatuk


"Mereka sudah selesai My Lady"


Istri sang tuan rumah kembali membuka suara dalam obrolan membosankan mereka. Victoria mengangguk lega


"Benar Your Grace"


Dengan anggun mereka juga ikut berdiri saat para gentleman sudah berdiri. Dengan langkah malas, Victoria segera memutar langkahnya mengikuti sang istri tuan rumah karna, dari ekor matanya, dia menangkap sosok Fredrick yang sedang berbicara dengan Calista. Entah apa yang mereka bicarakan Victoria tidak peduli karna Victoria sudah sangat gerah dan ingin segera merakasan gosokan dan pijatan piawai tangan Diana di kamar yang sudah di sediakan tuan rumah.


"Lady Victoria, apa anda perlu saya antar untuk ke kamar?"


Istri tuan rumah dengan ramah dan sopan menawarkan bantuan untuk tamunya tapi, Victoria dengan tahu diri segera menggeleng


"Tidak Your Grace, terimakasih banyak atas sambutannya dan mohon perlakukan saya seperti yang lain dengan sepantasnya"


Sambil tersenyum ramah, istri tuan rumah mengangguk, meski di dalam batinnya dia tidak bisa melakukan itu. Cerita bagaimana perlakuan Fredrick untuk tunangannya membuat siapapun akan berhati-hati jika masih ingin menghirup udara tahun baru


Dengan mempercepat langkahnya, Victoria menuju ke lantai dua. Tempat kamarnya berada, lebih tepatnya lantai untuk kamar para wanita.


Saat sudah masuk ke kamar, Victoria segera melempar kuat tubuhnya di atas ranjang.

__ADS_1


Diana yang melihat jika nonannya akan segera pingsan segera menarik tangan Victoria. Victoria melotot horor


"Hei aku lelah dan mengantuk Di, biarkan aku tidur dulu"


Tanpa peduli dengan semua tatapan horor Victoria, Diana tetap menarik noannya untuk menuju kamar mandi. Victoria hanya bisa cemberut dengan kesal.


Setelah urusan tubuhnya selesai dan pijatan selesai. Diana segera menarik kembali nonannya untuk duduk di depan meja rias. Mereka harus menjalani jamuan makan malam dan Diana tidak ingin nonannya terlambat karna ketiduran.


Sekarang semua urusan sudah selesai dan tinggal menunggu jemputan tapi.... jemputan tidak juga muncul yang membuat pikiran Victoria menuju sebuah kesimpulan dan keputusan.


"Aku makan dulu Di, kau pergilah ke dapur ya"


Dengan wajah sedih, Diana mengangguk pasrah dan ikut keluar bersama Victoria.


Dengan dagu terangkat tinggi dan harga diri tinggi berwajah khasnya datar, Victoria menuju ke ruang makan tanpa di temani siapapun. Penandangannya sekarang, cukup membuat Victoria kesal, ini cukup memalukan untuknya.


"Selamat malam Your Grace"


Victoria menyapa tuan rumah dan di lanjutkan dengan menyapa tamu lain. Dengan acuh Victoria mengambil kursi paling jauh dari Fredrick yang terus tersenyum menatapnya hingga saat pemilihan kursi makan terjadi, senyum Fredrick memudar. Di sebelahnya sudah tersedia kursi kosong untuk tunangannya tapi, tunangannya malah memilih kursi lain, bahkan kursi yang paling jauh darinya.


"Ladies and gentleman... sepertinya kita semua sudah cukup lelah hari ini, ada baiknya kita segera istirahat untuk melanjutkan rencana kita besok"


Semua kepala mengangguk dan mulai pamit undur diri termasuk Victoria. Sebelum berputar ke arah pintu ruang makan, Victoria sempat melirik Fredrick yang sudah pergi duluan keluar ruangan bersama Calista dan ayahnya.


Dengan sesekali menahan rahangnya yang akan terbuka karna menguap, Victoria berjalan cepat hingga merasakan kepalanya sedikit pusing dan semakin pusing saat kakinya terus bergerak. Victoria menghentikan langkahnya sejenak dan coba mengusap matanya yang mulai kabur. Entah apa yang terjadi padanya tapi dia baru sadar jika sepertinya, dia salah jalan. Jalan yang di tempuhnya bukan ke arah kamarnya


Dengan tangan yang mencari bantuan pada dinding, Victoria kembali mencoba berjalan dengan pelan, Victoria berusaha sekuat tenaga menyeret kakinya saat dadanya mulai terasa sesak. Bahkan arah pandangnya sekarang semakin memudar.


Memilah dan mencoba mengingat daerah lantai dua. Victoria menajamkan arah pandangnya yang sudah buram, menyeret paksa kembali kakinya untuk menuju pintu yang dia yakini adalah pintu kamarnya. Dengan susah payah akhirnya Victoria bisa meraih handle pintu, tangannya mencoba meraba-raba dinding lagi untuk berjalan masuk menuju ranjang tapi, karna kepalanya sudah tidak tahan lagi dan tubuhnya semakin terasa lemah. Tubuh Victoria langsung luruh ke lantai. Di sisa kesadarannya, Victoria mencoba memanggil Diana tapi, Diana tidak menjawabnya dan hanya tersenyum.... menjijikkan?????


--000--000--

__ADS_1


Di sisi lain, meski dengan pikiran dan hati yang terus melayang pada Victoria, Fredrick menanggapi dengan tenang kesimpulan dan rencana singkat yang coba di beberkan Baron Gafton, Adam. Sudah beberapa jam mereka berbincang, Fredrick mulai semakin tidak tahan pada pikirannya dan perasaanya. Perubahan Victoria jelas bukan karna kelelahan tapi karna........


"Shiitt!!"


Fredrick mengumpat dalam hati saat dia baru ingat jika dia tidak menjemput Victoria dari kamarnya untuk menuju ruang makan. Bukan.... bukan karna dia tidak mau tapi, karna perbincangan yang sama, perbincangannya yang sedang berlanjut sekarang. Setelah dia selesai mandi bahkan belum sempat tubuhnya menyentuh ranjang bahkan kursi untuk istirahat, Baron Gafton dan Baron Lawson yang ikut serta dalam rapat dan ikut ambil bagian dalam rencana renovasi toko-toko di ibu kota segera menghadapnya dan memberikan beberapa laporan yang sebenarnya sudah di bahas tapi, Fredrick tetap mendengarkan. Mereka juga mengajukan beberapa pendapat yang cukup menarik perhatian Fredrick hingga, perbincangan mereka terhenti sejenak saat Jeremmy mengatakan jika waktu makan malam sudah tiba. Dengan di apit ke dua Baron itu dan dengan terus di lantunkan alunan pekerjaan, Fredrick melupakan tugas gentlemannya.


"Baron...."


Adam yang sedang melantunkan isi pikirannya untuk toko-toko dan tanah di ibu kota segera menghentikan ucapannya dan menatap Fredrick


"Iya Your Highness"


"Besok kita lanjutkan"


Dengan sedikit gugup Adam melirik putrinya yang juga sudah meliriknya. Lalu Calista menatap Fredrick


"Apa kau ingin kembali ke kamar Fred? Ahh... maksut saya Your Highness"


"Ini sudah cukup malam"


Setelah mengatakan itu, Fredrick memutar kakinya tapi, tangan Calista segera menarik tangannya. Fredrick mengeryit


"Tolong tunggu sebentar, ada yang ingin ku katakan"


"Seperti yang ku katakan Lady, ini sudah cukup malam"


Kembali Frederick memutar kakinya tapi kali ini Calista dengan cepat menghalangi tubuh Fredrick. Fredrick yang akan kembali bersuara segera menutup mulutnya saat iskan halus Calista terdengar.


"Ku mohon... aku hanya ingin mengobrol sedikit, demi persahabatan kita"


\=\=\=💜💜💜💜

__ADS_1


Yuk bisa yukk.... jejaknya tolong di tinggalin yaaa...


Salam sayang semua✨


__ADS_2