
"Di, tolong korsetku jangan terlalu kuat"
Diana hanya bisa mengangguk patuh dan mulai menautkan tali-tali korset, dengan telaten mulai manarik tali-tali sambil bertanya seberapa ketat keinginan Victoria.
Setelah selesai, Diana langsung menuju lemari untuk mengambil perhiasan dan mantel Victoria. Victoria menatap gaunnya di depan cermin
"Tiara yang mana Vic?"
"Cari yang sesuai warna gaunku saja Di"
"Baiklah"
Diana dengan cekatan langsung membuka kotak tiara satu per satu, Dan bibirnya tersenyum saat menemukan yang sesuai
"Dapat Vic"
Vitoria segera duduk ke meja rias dan melihat tiara pilihan Diana
"Saphire biru, ini lebih mirip warna matamu Di"
Diana hanya tersenyum dan mulai menyisir lalu menata rambut Victoria sedikit. Hari yang dingin tidak akan membuat Diana memilih untuk menggulung seluruh rambut Victoria, dia hanya mengepang ke dua sisi rambut lalu menggung ke belakang rambut. Setelah itu melanjutkan dengan menyematkan tiara pilihannya ke rambut Victoria.
Setelah selesai, pintu penghubung kamar tanpa aba-aba tiba-tiba langsung terbuka dengan kasar. Diana terbelalak saat Fredrick yang hanya menggunakan jubah mandi masuk tanpa tahu diri.
"Kau meninggalkan ku! dan tidak membangunkan ku Vic!"
Diana cukup tahu diri untuk langsung menunduk dan lebih memilih menuju lemari, mengambil mantel untuk Victoria.
"Kau sangat lelap tertidur, dan aku perlu lebih banyak waktu untuk bersiap Bash. Aku baru saja akan membangunkanmu"
Fredrick dengan raut kesalnya langsung kembali berbalik dan membuka pintu penghubung. Setelah suara pintu penghubung terdengar. Diana yang tidak berdosa langsung muncul kembali dari balik dinding tempat lemari-lemari dan kabinet kebutuhan Victoria
"Maaf Di. Dia jadi lebih perasa semenjak kembali"
Diana hanya mengangguk maklum dan mengangkat mantel pilihannya
"Ok Di.... Apa saja tidak masalah"
__ADS_1
Setelah semua beres, Diana merapikan kembali meja rias dan semua kotak perhiasan.
Victoria dengan cepat langsung masuk ke dalam kamar Fredrick, dan pemandangan Fredrick yang di bantu Mois pelayan pribadinya menyambut pemandangan indah pagi hari Victoria. Fredrick tanpa rasa terkejut mengabaikan pintu yang di buka saat dia baru melepas jubah mandinya.
"Kau tampak tidak terkejut dan malu Bash"
Dengan santai, Victoria mendaratkan bokongnya ke kursi samping ranjang, sambil menjelajah tanpa segan seluruh lekukkan maha karya indah tubuh suaminya
"Kenapa malu, kau sudah merasakan setiap jengkal tubuhku kan"
Bukan... bukan Victoria yang merasa malu dengan ucapan Fredrick, tapi Mois. Yang membuat tangannya dengan cepat memasangkan celana, kemeja, rompi lalu mantel berbulu Fredrick.
Setelah selesai, Mois tidak ingin berlama-lama lagi berada bersama dua orang yang sama-sana tidak tahu malu itu, segera melesat pamit ke luar.
Victoria yang melihat jika suaminya itu tampak masih menunjukkan raut kesal padahal semalam dia sudah rela bekerja keras untuk menyenangkan hati tersinggung suaminya, bahkan berjam-jam lamanya dia melayani kerinduan suaminya. Ternyata, pagi ini harus mendapati kembali raut kesal suaminya dengan alasan karna di tinggalkannya di atas ranjang sendirian.
"Ayolah Bash... jika wajahmu terus di tekuk begitu, kau terlihat jelek"
Fredrick mendengus kasar
"Pria bajingan ini memang jelek"
Victoria memutar bola matanya dengan malas. Yang benar saja, Fredrick kembali membahas masalah kemarin siang!
"Suami bajinganku yang tampan sekarang sudah siap. Ayo sayang kita sarapan, kita bisa terlambat"
Dengan berusaha keras menahan raut wajah malunya agar tetap datar, Fredrick membiarkan Victoria menarik tangannya menuju pintu keluar kamarnya.
--000--
Rapat terus berlangsung. Setelah Fredrick memberikan laporan tentang pembangunan wilayah barat, pertanyaan, argumen dan juga masukkan dari para gentlemen terus mengalir. Victoria sesekali menimpali dan di timpali saat masukan-masukan mengalir. Sesekali juga Victoria bertanya atau di tanya. Jelas rapat kali ini terasa berbeda dari rapat-rapat sebelumnya karna, setelah eksekusi terjadi, taring Victoria cukup di segani. Tidak hanya Victoria, James dan Steven juga ikut merasakan terlebih Fredrick yang sekarang bisa bernafas tenang
"Baiklah... keputusan kita sudah di dapat. Tinggal mengajukan pada His Majesty"
Steven kembali membuka agenda lain dalam rapat tentang pajak, dan rapat ini cukup menguras tenaga serta emosi. Termasuk Fredrick, dia sangat benci ketika para bangsawan tidak ingin berbagi, bahkan ketika mereka belum berbagi apapun. Mereka tidak harus berbagi kan jika tidak membeli barang mewah? Tapi sepertinya, mereka tetap tidak ingin menerima rencana Victoria.
"Ini tidak adil Your Highness, jika kami di kenakan pajak begitu tinggi, sama saja dengan memeras kami. Sebagai contoh, istri dan anak saya setidaknya tiga hari sekali harus membeli gaun atau perhiasan, dan saya sendiri...."
"Berarti anda harus mengurangi durasi belanja itu Viscount"
James langsung memotong ucapan seorang gentleman yang keras kepala tidak ingin menyerah.
"Saya belum selesai bicara Earl Xenas!"
__ADS_1
"Ok! tenang" Fredrick dengan santai, acuh dan tenang melipat tangannya di depan dada. "Jadi anda-anda sekalian tetap tidak ingin pajak dari benda-benda yang di sebutkan tadi?"
"Bukan begitu Your Highness, tapi jumlah pajak terlalu besar. Kami mengerti jika ini untuk sementara dan untuk masa depan kebaikan kita semua, tapi lagi, jumlah itu sangat banyak. Sedangkan seperti yang Viscount katakan tadi, istri dan anak kami sudah terbiasa berbelanja kebutuhan sesuai keinginan mereka"
Seorang gentleman dengan tenang mencoba menjawab Fredrick, Fredrick yang belum mengerti urusan kebutuhan istri, anak dan hal-hal berbau kerumitan rumah tangga hanya melirik Victoria yang tampak berpikir. Cukup lama keheningan terjadi hingga kepala Victoria mengangguk singkat pada Fredrick, Fredrick membalas anggukan Victoria. Tanda jika Victoria boleh bicara
"Baiklah... Saya sebagai bangsawan tidak bisa menghakimi kebiasaan itu. Memang sudah mendarah daging dalam diri kita, sayapun sebagai perempuan mengerti itu" Victoria membuang nafas panjang. "Tapi, apakah kalian memang benar-benar tidak bisa? ini hanya beberapa bulan, saya berjanji tidak akan sampai menahun"
"Your Highness, sebenarnya saya ingin diam tapi karna anda tetap ingin bertahan pada argumen dan rencana anda. Saya ingin bertanya bagaimana pendapat anda. Anda sekarang anggota keluarga inti istana yang berarti gaun, perhiasan anda sekarang di dapat dari pajak rakyat termasuk dari kami. Dan selain untuk menopang kemewahan anda, apa kami juga harus menekan diri untuk hal menyeluruh?"
Victoria tahu ini. Hal seperti ini pasti akan terjadi di kemudian hari, jadi saat pikiran ini terlintas di dalam kepalanya, dia sudah menyiapkan semuanya sebelum jari manisnya melingkar cincin emas. Victoria melirik Fredrick yang hanya membalas dengan lirikan singkat dan mengangkat cangkirnya. Tanda dia tidak peduli dan seolah berkata "Go ahead Vic"
Victoria menarik nafas dalam lalu menatap dengan lekat seorang gentleman yang bertanya padanya tadi. Senyum manis terbit di bibirnya dan Fredrick tahu senyum manis itu juga pertanda sesuatu
"Marquess. Pertanyaan anda cukup lucu untuk saya, anda seolah mengatakan jika saya ini tidak lain seperti benalu setelah menikahi His Highness?"
"Tidak Your Highness... Maafkan saya, maksut saya bukan itu"
Victoria menangkap kepanikan pria paruh baya di depan sebelah kiri dari kursinya itu. Victoria tersenyum penuh rasa memaafkan.
"Saya mengerti dan tidak akan menepis pertanyaan dan pemikiran seperti itu jika saya juga di posisi para gentlemen, tidak masalah, saya tidak tersinggung tapi...." Victoria menatap satu persatu wajah semua orang kecuali suaminya. "Semua hal yang menempel di tubuh saya adalah berasal dari Albany, semua. Kecuali memang perhiasan milik kerajaan. Bahkan ini...." Victoria mengangkat punggung tangan kirinya dan mengangkat punggung tangan kiri Fredrick, tempat cincin mereka tersemat. "Ini dari Albany dan dari uang Albany jadi....." Dengan anggun Victoria meletakkan kembali tangan suaminya yang masih terkesiap. "Saya tidak hidup dan menikmati n*fsu kemewahan saya dari uang kalian"
Merasa jika ucapan Victoria cukup tajam, membuat keadaan jadi tidak nyaman, terlebih untuk para gentlemen. Steven yang cepat membaca situasi langsung melanjutkan. Dan kembali penolakan terjadi hingga Fredrick merasa bokongnya mulai panas karna terlalu lama duduk, dia ingin segera pergi dari sana dan akhirnya memilih untuk ikut campur
"Sepertinya memang sulit. Kalau begitu, jika kalian tidak menerima rencana Her Highness. Pakai rencana ku"
Semua kepala langsung menatap Fredrick dengan raut wajah penasaran
"Iuran, satu minggu dua kali"
"Tidak bisa Your Highness!"
Keadaan jadi lebih ricuh dan itu membuat Fredrick tersenyum.
"Kalian tahu jika aku tidak bisa menerima argumen dan bantahan jika rencana itu keluar dari mulut dan kepalaku. Kalian bukan baru pertama kalinya rapat bersamaku. Jadi.... tentukan pilihan kalian, pajak atau iuran?"
Well... Jika sudah begini, Victoria hanya mengangkat cangkir tehnya. Mana mungkin mereka mau memberikan uang dengan cuma-cuma untuk tanah jajahan. Bangswan tetaplah bangsawan, ego dan kebanggan mereka merekat hingga ke tulang.
\=\=\=💚💚💚💚
Ayukk jejaknya yukkk
Ayukkk vote-nya yukkk
__ADS_1