
"Aku ingin meminta sesuatu"
"Dan apa itu...?"
Victoria mencoba kembali memundurkan tubuhnya, meski pinggangnya sudah menyentuh pinggiran meja. Victoria harus melakukan itu karna Fredrick semakin menghimpit tubuhnya bahkan, sekarang tubuh mereka sudah menempel.
"Mundurlah sedikit Bash"
Fredrick mengerling
"Mundur berarti tidak ada percakapan"
Dengan berdecak tidak anggun, Victoria mencoba mendorong dada Fredrick yang tidak berguna sedikitpun karna Fredrick malah mendekatkan wajahnya, hingga nafas hangatnya terus menerpa wajah Victoria.
"Baiklah.... Aku ingin ikut ke sana"
Fredrick semakin mendekatkan wajah mereka
"Ke....?"
"Rapat saat kalian membahas pekerjaan hari ini"
Sambil tersenyum hangat, tangan Fredrick mencengkam pinggang kecil Victoria yang menempelkan pinggul mereka. Victoria tersentak tanpa berani bergerak
"Apa hadiahku?"
"Kau sangat pamrih Bash"
"Kau benar. Jadi?"
Dengan bibir yang tersenyum manis, Victoria mengangkat tangannya dan dengan santai meletakkan tangannya di dada Fredrick. Fredrick cukup terprovokasi terlebih saat Victoria menggerakkan lembut dan pelan tangannya. Jari-jari kecilnya berjalan dari dada turun ke perut yang membuat Fredrick harus segera menangkap pergelangan tangan itu.
"Jangan main-main sayang, aku akan mengijinkanmu untuk bermain-main seperti ini jika di luar ruangan tapi tidak di dalam ruangan. Terlebih di kamarku dan kita hanya berdua"
Victoria tersenyum culas dan menarik tangannya dari genggaman tangan Fredrick.
"Oohh... kau tidak suka atau...." Kembali tangan Victoria terangkat dan bergerak di dada Fredrick. "Atau kau takut Bash?"
Fredrick mengeram saat jari-jari itu semakin lincah menjelajah. Tubuhnya mulai panas dan setan b*jingannya mulai meronta untuk lepas.
"Kau tahu Vic...." Kembali Fredrick mencengkam lebih kuat pinggang Victoria bahkan tangannya mulai bergerak ke depan perut Victoria. "Kau tidak tahu, setan seperti apa yang sedang coba kau pancing sekarang"
Tangan Fredrick terus beraksi bergerak sensual dan panas di perut Victoria. Victoria meremang telebih karna Fredrick sekarang sudah menempelkan bibirnya di ceruk leher Victoria.
"Bash...."
"Iya sayang..."
"Ini tidak nyaman"
__ADS_1
"Tapi kau mulai panas"
Ucapan Fredrick membuat wajah Victoria semakian panas, bisa di bayangkan, jika wajahnya sekarang pasti sudah memerah karna posisi mereka yang cukup tidak bermoral. Sentuhan Fredrick semakin melebar yang membuat kaki Victoria mulai gemetar, Dan Victoria harus mengakhiri situasi ini secepatnya
"Ambilah hadiahmu.." Victoria menjedah untuk menarik nafasnya saat Fredrick kembali menciumi lembut ceruk lehernya. "Ambil hadiah yang kau inginkan, lalu akhiri posisi tidak bermoral ini"
Ucapan Victoria membuat Fredrick mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Victoria yang sudah memerah. Fredrick tidak jauh berbeda, sekujur tubuhnya sudah panas, jiwa setan b*jingannya sudah siap lepas.
"Kau yakin?"
Dengan cepat Victoria mengangguk, ingin segera mengakhiri semua ini. Ini memalukan untuknya. Menurut aturan dan norma kehormatan, mereka belum pantas seperti ini. Terlebih karna mereka sedang di tempat yang seharusnya tidak boleh mereka diami hanya berdua saja.
Fredrick tersenyum dan mendaratkan sebuah ciuman di ke dua pipi, hidung dan yang terakhir dahi Victoria. Setelah hadiahnya sudah selesai di dapat dengan cepat Fredrick menarik tubuhnya dan memberi jarak untuk mereka.
Kobaran semangat di mata Fredrick sangat terlihat jelas, nafasnya mulai sedikit memburu, sekujur tubuhnya berteriak untuk segera menerkam Victoria tapi, saat melihat wajah polos Victoria, Fredrick memukul sendiri setan b*jingan di jiwanya yang tanpa Victoria ketahui, jika itu rasanya sangat menyakitkan untuk Fredrick.
Victoria mencoba menarik lurus kembali seluru tulangnya untuk berdiri tegap. Keadaan tadi cukup membuatnya panas, dan Victoria baru menyadari jika Fredrick memang sangat panas. Aroma begamont, mint dan kayu manis sangat memanjakan hidungnya, terasa segar dan jantan. Otot-otot kokoh dan tubuh panas Fredrick sangat berbahaya. Wajah tampan dengan tatapan bergelorannya bisa membuat seorang gadis langsung tenggelam dalam kobaran api semangatnya, tapi, apakah semua itu bisa membuat seorang Victoria terpengaruh?
Tidak hanya kepala Victoria sendiri yang memikirkan pertanyaan itu untuk dirinya tapi, pikiran itu juga sedang berputar-putar di dalam kepala Fredrick.
Setelah merasa dirinya cukup tenang Fredrick tersenyum hangat dan mengangguk singkat
"Ayo kita jalan-jalan ke Argentt"
Mata Victoria berbinar dan senyum hangatnya terbit.
🔆🔆🔆🔆
"Apa kita akan menyerang?"
Seorang pria paruh baya bertanya yang membuat arah pandang empat pria lain langsung terarah menatapnya.
"Jangan gegabah, jika gegabah, tidak hanya kita ,tapi semua 'anjing' bisa terseret. Hal ini bisa menjadi kesempatan untuk si ular tua menyeret kita semua. Menyeret kita dengan segala cara agar berakhir ke tiang gantungan atau ke kapak eksekusi"
"Dan sekarang anaknya juga sudah mulai menunjukkan wajah asli ularnya"
Seseorang menimpali ucapan pria yang mencoba bijaksana itu yang membuat semua mengangguk.
"Lord Adam, sebenarnya apa yang membuat anaknya bisa melepaskan bisa ularnya? apa benar karna 'pawangnya' sudah tidak bisa menjinakkannya?"
Ucapan seorang pria membuat Adam mengepalkan tangannya dengan kuat
"Aku tidak tahu pasti apa yang ada di pikiran ular kecil itu, seperti yang kita tahu, ular kecil itu sama seperti ayahnya, sulit di baca"
ke empat pria di sana mengangguk, menerima ucapan Adam
"Keadaan ini tidak bisa di biarkan, kalian tahu jika Hans anakku...." seolah menahan pedih pria yang sedang berbicara itu mencoba menarik nafas dalam. "Hans anakku yang tidak bersalah sudah menjadi korban"
"Benar My Lord, ini semua karna Arathorn itu, kita harus membuat 'pawang' ular kita kembali ke sisinya. Bagaimana Lord Adam?"
__ADS_1
Adam mendengus kasar dengan wajah yang mulai tampak di penuhi amarah
"Untuk sekarang jangan dulu. Biarkan dulu, kita pelajari semuanya dengan pelan, apa maksut 'ular kecil' itu yang seperti sangat menjalankan ikatannya dengan si gadis Arathorn itu"
"Jadi apa rencana kita?"
Kali ini semua wajah semakin bertambah serius dan keadaan menjadi mencekam
"Kita tidak bisa menyerang ular tua, tapi kita bisa menyerang kesayangannya. Atau mungkin masa lalunya?"
"Tidak dengan masa lalunya My Lord, jika itu terbuka itu sekarang, bisa jadi saya yang akan langsung di tunjuknya sebagai pendosa atas dosannya"
Ucapan Adam membuat yang lain tampak berpikir. Dan seseorang di antar mereka dengan santai dan acuh bersuara
"Baiklah... semua sudah jelas sekarang. Tujuan kita pada 'kesayangannya'....." Pria itu menjedah dan menatap sekelilinya. "ingin perlahan atau hancurkan dengan sekali pukulan?"
Adam menyeringai mengerikan dan ikut menatap wajah-wajah di sekelilingnya
"Perlahan akan memuaskan"
Semua kepala mengangguk singkat dan seseorang kembali membuka suara
"Dengan cara?"
Dengan seringai yang semakin lebar Adam menatap si pemberi pertanyaan
"Dia suka mempermalukan orang lain, dia lebih suka langsung menyerang orang lain, dia mewarisi sifat keluarganya yang sangat angkuh dan juga mempunyai harga diri tinggi. Jenis manusia dengan watak seperti itu jangan di sakiti secara fisik tapi juga harus di beri pelajaran yang bisa langsung membuat seluruh harga dirinya hancur" Adam menjedah dan kembali menatap semua wajah di meja. "Hancur hingga ke dasar"
"Ohhh My Lord ini rencana yang bagus" Seorang pria lain bersuara dan menatap semua wajah di sana dengan tersenyum menjijikkan. "Biarkan saya yang turun tangan. Ku dengar dia sangat manis dan masih tujuh belas tahun kah?" Adam mengangguk. "dan berarti dia cocok, aku akan mengajarinya tentang apa itu hidup yang sesungguhnya"
Semua wajah di sana tampak tidak nyaman, keheningan cukup lama mengisi isi meja hingga seseorang kembali bersuara
"Jika ini berhasil, kita bisa memukul banyak sisi dan ini akan sangat menguntungkan. Kita tinggal menuangkan minyak di api agar semuanya berakhir"
Adam tersenyum lebar, bahkan sangat lebar
"Benar, dan itu berarti, aku harus kembali menyiapkan sang 'pawang' untuk siap dengan rantainya dan siap untuk menjadi pendamping berikutnya"
"Kita harus menaikkan posisi pawang seperti sedia kala, di tempat perjanjian yang semestinya"
Semua kepala di sana mengangguk setuju dengan tersenyum yakin
\=\=\=💙💙💙💙
Ada yang bisa nebak, ada udang jenis apa di balik bakwan meja bundar ini?
Hehhee...
Tinggalin jejak kalian ya readers tersayang....
__ADS_1
Salam sayang semua✨