
Dengan tangan gemetar, Victoria menyiapkan semua rencana gerakannya untuk bertahan dan selalu menajamkan pendengarannya.
Sudah cukup lama Victoria berada di dalam lubang tanpa menyadari semua rasa perih pada luka-lukanya, Sesekali Victoria tergelitik ingin mengintip ke luar lubang tapi perasaan takut membuatnya mengurungkan niatnya, Karna dia sadar jika dia perlu menenangkan dahulu batinnya.
Tangannya yang gemetar bahkan tidak akan bisa melawan seorang kesatria emas hanya dengan ranting-ranting. Victoria mulai memejamkan matanya dengan menarik nafas dalam-dalam. Hatinya mulai berdoa, Victoria sadar dan sangat sadar, jika hanya sang pencipta tempatnya sekarang bisa meminta pertolongan dan meminta kekuatan tapi, belum selesai Victoria melapalkan semua doanya, indra pendengarannya menangkap suara derap langkah kuda yang mulai memenuhi sekelilingnya, membuat semua lapalan doa dalam hatinya hancur, bahkan untuk bernafas saja, paru-paru dan hidung Victoria tidak bisa melakukannya dengan benar.
Dengan tangan yang kembali gemetar hebat, Victoria memutar sedikit tubuhnya ke depan lubang dengan ruangan sempit di dalam lubang yang terus menyentuh bahunya yang sudah terluka.
Suara gemerisik dedaunan dan menyusul kaki yang mendarat ke tanah membuat jantung Victoria berdetak cepat, seluruh indanya segera memusatkan diri pada tangannya yang sudah memegang ranting tajam, seolah seluruh nyawanya hanya bisa bergantung pada senjata lemahnya itu.
Derap langkah kaki semakin kuat, Victoria menghitung dari suara yang terdengar. Jika mungkin ada sekitar lebih dari tiga orang yang sedang berada di sekitarnya sekarang. Victoria semakin mengigit bibirnya, membayangkan jika ketiga b*jingan yang menyerangnya tadi membawa temannya yang lain dan dia tidak tahu, apakah kali ini Tuhan akan menyelamatkannya, apakah Tuhan akan melindunginnya kali ini?
"My Lady Victoria...."
Suara berat seorang pria membuat Victoria terkesiap, tangannya semakin bergetar hebat, hingga Victoria harus menggunakan tangannya yang lain untuk menahan getaran tangannya yang memegang ranting
"My Lady keluarlah... anda sudah aman"
Sekali lagi, suara berat seorang pria lain membuat Victoria semakin gemetar, seluruh indra dan hatinya meneriakan untuk tidak percaya, tidak akan mungkin ada yang bisa menyelamatkannya sekarang kecuali Tuhan, sama seperti masa lalu, masa lalunya yang sangat perih, bahkan saat itu saja Tuhan tidak menolong keluarganya dan mendengarkan semua doanya, jadi untuk apa sekarang dia harus percaya pada suara itu.
Ingatan Victoria tentang masa lalu membuat semangat dan amarahnya tersulut dengan cepat terbakar, tangannya yang gemetar menjadi tegas, wajahnya terasa panas karna amarah yang membuat kepalanya mendidih hingga ke seluruh aliran darahnya. Victoria sudah siap untuk melawan dan menancapkan ranting di tangannya pada wajah siapapun yang mendekat pada lubang.
Langkah kaki seseorang semakin mendekat, Victoria semakin mencengkam ranting yang di pegangnya dan terus mengandalkan pendengarannya untuk menilai semua pergerakan di sekelilingnya, hingga sebuah langkah kaki lebar dan keras di susul dengan wajah seseorang yang tiba-tiba muncul di depan lubang.
Dengan mengalirkan seluruh kekuatannya Victoria melayangkan tangannya untuk menusuk wajah itu tapi,
"My Lady!"
Tangan si pemilik wajah itu menahan tangannya yang melayang di udara, sedikit lagi ujung tajam ranting menyentuh wajah itu
"My Lady tenanglah... anda sudah aman"
Victoria segera menarik tangannya yang di tahan dan mencoba memundurkan tubuhnya dalam ruangan sempit lubang itu.
"Pergi sialan! atau aku akan membunuhmu!!!"
Victoria memekik kuat dengan tangan yang terus meronta berharap bisa melolosakan tangannya dari tangan besar dan kuat pria di depannnya. Suara Victoria segera membuat semua orang di sana mendekat pada lubang pohon, ingin mengetahui apa yang terjadi di sana. Dengan sekuat tenaga Victoria mencoba menendang pria di depannya saat melihat ada empat wajah pria lain yang memandang ke dalam lubang nyawa Victoria.
"Lepaskan aku! aku akan membunuh kalian!!"
Masih mencoba untuk melepaskan tangannya dari cengkaman pria di depannya, Victoria terus melancarkan ancamannya yang sebenarnya tidak berarti, terlebih saat dua orang lain ikut menyeret kaki dan tangan Victoria hingga ke luar dari lubang
"Jangan sentuh aku b*debah!!"
"Tenang Lady, kami akan melindungimu, kami akan menolongmu, kami mohon tenanglah"
__ADS_1
Seseorang dengan surai coklat pekat mencoba menahan ke dua kaki Victoria yang terbuka karna robekan gaun Victoria yang mencapai lututnya. Victoria mencoba mencerna situasi, mencoba menatap semua keadaan, kewarasannya mencoba tenang hingga akhirnya dia sadar jika kelima pria di sekitarnya sekarang berbeda dengan wajah ketiga bedeb*ah yang menyerangnya tadi, bahkan baju mereka sedikit berbeda.
Masih dengan pergerakan merontanya, Victoria mengamati lengan seragam kesatria yang ternyata berbeda di bagian lengan pakaian ketiga bedeb*h yang menyerangnya tadi, bahkan di lengan bahu kanan mereka tercetak lambang yang sama dengan stempel Raja George?
Melihat lambang itu membuat Victoria menghentikan pergerakan kaki, tangan dan tubuhnya. Victoria mengamati sekelilingnya, tiga orang kesatria lain sudah memalingkan wajah mereka....?
Kembali mencoba mencerna situasi dan setelah kewarasan Victoria sudah cukup banyak, dia baru menyadari jika gaunnya memang sudah tidak pantas, seorang Lady menunjukkan kakinya adalah sebuah tindakan vulgar, dan Victoria paham jika kesatria yang berada di sekelilingnya sekarang memang para bangsawan yang tahu aturan dan tata krama seorang bangsawan terhormat.
"Maafkan kelancangan kami My Lady"
Kesatria yang memegangi kakinya segera melepaskan tangannya dari kami Victoria dengan kepala tertunduk dalam. Seseorang lain segera melepas seragam luarnya dan meletakkan pada kaki Victoria.
"Siapa kalian!"
Mendengar suara Victoria yang tegas tanpa sedikitpun titik ketakutan membuat ke lima kesatria itu segera menunduk dalam.
"Kami kesatria di bawah tangan kapten Edward dan kesatria untuk His Majesty"
Victoria mengabaikan ucapan kesatria di sampingnya itu dan mencoba berdiri, kakinya yang sekarang mulai terasa nyeri dan keram segera limbung hingga tubuhnya hampir teejatuh lagi, tapi seseorang yang wajahnya hampir di tusuk Victoria segera membantu Victoria untuk berdiri tegap.
"Apa anda bisa berjalan My Lady?"
Dengan kasar Victoria menarik tangannya dan mengamati satu per satu wajah pria di sekelilingnya. Rahangnya terkatup rapat karna sisa kemarahan hingga suaranya yang keluar berdesis tajam
Pria yang wajahnya hampir mejadi korban ranting tajam Victoria memulai duluan untuk membungkuk
"Saya Carl, My Lady, kesatria emas untuk His Majesty"
Victoria menggeser bola matanya ke samping, pada kesatria lain yang sudah ikut membungkuk, kesatria yang menarik dan memegangi kakinya
"Saya Kleeft My Lady"
Lagi, Victoria menggeser bola matanya ke samping
"Saya Lucas, my Lady"
"Saya Lincont, My Lady"
"Saya Gregory, My Lady"
Kelima kesatria itu masih membungkuk dalam setelah menyebut nama mereka, hingga suara lirih Victoria terdengar
"Diana..."
Lucas segera maju dan memberikan pakaian luar kesatrianya lagi pada Victoria, yang membuat tubuh atletis kesatria itu hanya memakai kemeja putih tipis
__ADS_1
"Dia aman My Lady, Lady Diana sudah di bawa ke istana untuk di obati"
Sambil membiarkan Lucas menyampirkan pakaian ke bahunya, Victoria menatap Lucas dengan nanar
"Mengobati?"
Lucas mengangguk pasrah dan menatap kulit wajah Victoria yang memerah karna bekas pukulan bahkan sudut bibirnya sudah menggumpal darah. Lucas yakin jika besok kedua pipi mulus itu akan memar dan berubah menjadi warna ungu pekat
"Lady Diana mendapat luka di perutnya saat mencoba melawan"
Jantung Victoria berdetak kuat, darahnya berdesir hingga rasanya mendidih, pelipisnya berdenyut sakit karna amarah
"Bawa aku ke istana!"
Lucas mengangguk dan mengikuti Victoria yang segera mendekat pada satu kuda mereka yang terikat di pohon. Keelft dengan cekatan segera membantu Victoria untuk naik ke atas punggung kuda
"Kudaku?"
Victoria menatap bergantian pada wajah Carl dan Lucas di depannya
"Akan saya bawanya My Lady, saya akan menggiringnya untuk kembali ke istana"
Setelah mendengar ucapan Lincont, Victoria segera menarik tali kekang kudanya yang segera di ikuti oleh Lucas, Keelft, Gregory yang sudah berada di atas punggung kuda.
Carl masih tinggal di sana dan mengusap-ngusap ke dua tangannya sambil bergindik. Lincont meringis ngeri sambil menatap kepergian empat kuda yang mulai menjauh dari arah pandang mereka.
"Apa rasanya ketika wajahmu hampir di tusuk dengan ranting oleh seorang Lady manis Carl?"
Carl terkekeh geli
"Kerenn... dan gadis dingin itu akan menjadi calon Ratu kita Lin"
Lincont tersenyum geli dan segera beputar untuk menuju arah pinggiran jurang bukit, kuda Lady-nya pasti menunggu. Carl tersenyum hangat masih dengan arah pandang menatap ke arah empat kuda yang sudah tidak terlihat lagi. Mulutnya berguman
"Well... kita lihat, kekacauan seperti apa yang akan terjadi nanti" Carl terkekeh. "His Majesty memilih dengan sangat baik calon ratu pendamping untuk kerajaannya tercinta ini"
Carl segera melompat ke atas punggung kudanya dan menarik tali kekang kuda untuk mengikuti langkah ke empat kuda yang sudah menghilang dari arah pandanya dengan suaranya yang kembali terdengar
"Gadis dingin itu sepertinya akan mengamuk" Carl kembali terkekeh geli
\=\=\=๐๐๐
Yuk Tinggalin jejaknya... Tombol like, komen, bintang dan lopenya jangan lupa di tekan yaa
Salam sayangโจ
__ADS_1