
"Siapa?"
Suara dingin Fredrick membuat sepuluh pria di depannya bergindik ngeri hingga tidak bisa membuka mulut mereka
"Tidak ada yang ingin menjawab?"
Kali ini dengan menguatkan diri dengan segala ucapan doa di dalam hati. Alex, Hans dan Gaston maju selangkah dari barisan para pria di depan Fredrick.
Fredrick menatap tiga pria di depannya dengan dingin. Jeremmy yang berdiri di belakang Fredrick, hanya bisa meneguk ludahnya dengan kasar.
"Rencana siapa?"
Sekali lagi, dengan mencoba menguatkan diri dan terus berdoa Hans melangkah satu langkah lagi ke depan tanpa berani mengangkat kepalanya, yang sebenarnya masih terasa sangat sakit, bahkan darah masih mengalir di pelipis dan pipinya.
Dengan tatapan yang semakin dingin, Fredrick kembali mengeluarkan suara dinginnya
"Yang berani meletakkan tangan padanya?"
Dengan pasrah dan seolah sudah tidak bernyawa, Hans kembali maju satu langkah. Fredrick mengeram untuk menekan semua amarahnya hingga tangannya terkepal kuat, kepalanya terasa hampir meledak saat mengingat wajah mulus tunangannya dan luka-luka di tubuh tunangannya.
"Kenapa?"
Suara berdesis tajam dan dingin Fredrick menghantarkan rasa dingin ke tulang punggung semua orang di sana. Jeremmy hanya bisa menutup matanya, bahkan tanpa sadar dia menarik nafas dengan pelan dan hati-hati.
Hans yang sudah mulai merasakan hal yang lebih buruk dari sekedar rasa takut, mencoba membuka mulutnya yang hampir hancur karna injakan
"Sa-saya pada awalnya hanya ingin bermain-main Yo-Your Highness, saya hanya penasaran tapi" Hans menjedah dan meneguk ludahnya ketika telinganya menangkap suara Fredrick kembali mengeram. "Ta-tapi Lady Victoria menghina Lady Calista, saya tidak bisa tinggal diam"
BRAAAKKK
Suara kursi yang di banting ke lantai dengan kuat membuat semua orang terkesiap tanpa berani melihat apa yang terjadi, kepala mereka semakin tertunduk dalam.
"Pantas... pantas...." Kekehan dingin Fredrick yang terdengar tanpa rasa humor membuat Hans mengeratkan tangannya yang bertaut di belakang punggung, bahkan lututnya mulai lemas. "Pantas... pantas saja Victoria begitu padaku"
Suara kekehan Fredrick yang terus menggema membuat seisi camp kesatria bagai sedang berada di dalam neraka yang di penuhi iblis, tiap tarikan nafas mereka sekarang bisa saja menjadi sebuah kesalah, itu juga yang di rasakan Jeremmy hingga tanpa sadar Jeremmy sudah menahan nafasnya.
"Kau tahu siapa aku Hans?"
"An-anda His Highness Pangeran Fredrick, putra pertama dari Raja Francia, Raja George II. Raja George Benedict Philip David Castaralox"
Tangan Fredrick bergerak untuk menyeret sebuah kursi. Suara kursi yang di tarik kasar kembali membuat mereka terkesiap dan bergindik ngeri
__ADS_1
"Nama belakangku"
"Putra mahkota kerajaan Francia, calon raja berikutnya, His Highness Pangeran Fredrick"
Kembali suara kursi yang bergerak kasar, membuat mereka menggigil dan kembali menahan nafas. Fredrick berdiri kasar dari kursi yang baru di dudukinya hingga membuat suara berdecit kuat.
"Kau mengerti siapa aku, tapi sepertinya kau tidak mengerti arti tunangan dari seorang putra mahkota Hans"
Tangan Hans semakin gemetar kuat, hingga kesatria lain yang berbaris di belakang Hans bisa melihat tangannya yang gemetar kuat saat kepala mereka terus tertunduk dalam dan hanya berani melirik ke depan.
"Kau berani meletakkan tanganmu padanya saja sudah sebuah kelancangan dan kau...." Kepala Hans menegadah dengan wajah meringis saat Fredrick menarik kepalanya ke belakang. "Kau berani memukulnya dan menyebar teror untuknya! hah!"
Fredrick melepaskan kembali tangannya dari rambut Hans, dan menatap satu persatu pria yang sedang berbaris dengan gemetar.
"Kau tidak sendiri kan?"
Kali ini Alex dan Gaston memejamkan mata mereka dengan nyawa yang sudah di ujung kuku. Mereka mencoba maju satu langkah lagi. Fredrick kembali terkekeh dingin tanpa rasa humor. Jeremmy hanya terus menutup matanya tanpa berani melihat keadaan, terlebih, untuk melihat seperti apa wajah Fredrick sekarang. Bagiannya untuk mendapatkan pukulan sudah selesai, jejak tendangan dan pukulan Fredrick juga masih terasa di sekujur tubuhnya, Jeremmy tidak ingin mengulang ingatan bagaimana gambaran wajah murka Fredrick lagi.
"Habisi mereka bertiga, jangan berhenti sebelum mereka hampir mati dan...." Langkah kaki Fredrick mulai menuju ke arah pintu. "Jika ada yang tidak sengaja mati, buang 'bangkai' mereka ke depan halaman rumah keluaraganya"
Setelah ucapan Fredrick berakhir dan kakinya mulai melangkah menuju pintu. Suara pukulan dan teriakan langsung mengisi isi camp. Jeremmy dengan cepat membukakan pintu tanpa berani menoleh dan melihat lagi ke belakang.
Dengan patuh Jeremmy mengangguk
"Baik Your Highness"
--000--000--
Fredrick memandang bangunan rumah di depannya, banyak kenangan yang terjadi dan dia alami di rumah ini. Dulu, rumah ini selalu menjadi tempatnya untuk berteduh dan merasakan kehangatan sebuah keluarga, kehangatan yang tidak pernah dia dapatkan di rumahnya sendiri, Istana. Bangunan yang masih sama, halaman yang masih sama, aroma mawar yang langsung menguar ketika masuk ke halam rumah juga tetap sama. Rumah itu, rumah kediaman Adam Gafton, Baron of Webex.
Dengan tekat kuat, keputusan yang sudah bulat, hati yang sudah siap dan pikiran yang tidak akan goyang lagi. Fredrick melompat dari kudanya yang langsung di ikuti Jeremmy. Dengan sigap Jeremmy meraih tali Panter dan mengikat kudanya serta Panter di depan halaman rumah yang dulu beberapa kali sering menjadi tempat ke dua untuknya menemani Fredrick menjalani masa lalunya yang.... kelam.
Jeremmy mengikuti langkah Fredrick yang terlihat tidak akan goyah lagi, Jeremmy yakin jika semuanya akan berakhir hari ini, itu yang di yakini Jeremmy. Jeremmy segera maju ke depan pintu saat Fredrick sudah berhenti di depan pintu. Jeremmy mengetuk pintu
Tok tok tok
Tidak lama pintu langsung terbuka, seorang pelayan paruh baya tampak terkesiap beberapa detik lalu di susul senyum hangatnya, senyum yang dulu juga selalu dia berikan untuk menyambut kedatangan Fredrick.
Selamat malam Your Highness dan Tuan Jeremmy. Fredrick mengangguk dan segera masuk saat pelayan itu segera menyingkir dari pintu dengan membuka pintu lebar-lebar
"Apa Baron Gafton dan Lady Calista ada?"
__ADS_1
Pelayan itu tersenyum semakin lebar dan mengangguk tanpa tahu apa maksut dari kedatangan Fredrick.
Jeremmy mengambil posisi berdirinya dan Fredrick segera duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu pelayan itu memanggilkan tuan rumah. Tidak berapa lama suara derap langkah berlarian dari arah tangga, kejadian yang sebenarnya tidak asing mulai terulang lagi.
"FRED!!!"
Teriakan seorang gadis membuat Jeremmy menaikkan arah pandangnya tapi, tidak dengan Fredrick yang hanya terus menatap ke depan.
"Selamat malam Your Highness"
Suara Baron Gafton segera terdengar dengan di susul gerakan lompatan Calista, bahkan dengan tidak tahu malu Calista segera duduk di pangkuan Fredrick sambil memeluknya erat. Jeremmy memutar bola matanya.
"Duduk"
Meski perintah Fredrick terkesan dingin bahkan dengan wajah yang tidak menatapnya, Calista tetap memeluk Fredrick dengan erat, menghirup aroma Fredrick seolah aroma itu adalah nyawanya.
"Duduk di sofa"
Kali ini suara Fredrick semakin dingin bahkan sudah melepas tangan Calista yang melingkar di tubuhnya. Dengan wajah manja dan cemberut Calista bangkit dari pangkuan Fredrick dan duduk di sebelah ayahnya, sofa di depan Fredrick.
"Apa anda sudah makan malam Your Highness? kami baru akan makan malam"
Dengan ramah Baron Gafton menawarkan acara makan malam untuk Fredrick, kejadian serupa yang juga selalu sering terjadi di masa lalu.
"Ayo Fred, hari ini aku ikut memasak daging domba kesukaanmu, kebetulan sekali kan"
Calista juga dengan ramah dan senyum semeringah menawarkan acara makan malam untuk Fredrick, tapi, Fredrick tampak tidak bergeming yang membuat Jeremmy segera meliriknya dari belakang, hingga tidak lama suara Fredrick akhirnya terdengar
"Tidak perlu Baron, aku akan langsung ke inti alasan kedatanganku"
Calista mengeryit dan memandang Fredrick dengan bingung, tidak jauh berbeda dengan Baron Gafton yang langsung menegakkan bahunya, entah kenapa dia jadi merasa gugup.
"Ada apa Fred?"
\=\=\=💜💜💜💜
Yuk tinggalin jejak kalian readers. Tombol like, komen, bintang dan lope-nya jangan luoa di tekan ya... biar eike semangat nulis
Klo berkenan tombol Vote-nya juga boleh di sebar....
Salam sayang semua ✨
__ADS_1