Behind The Castle

Behind The Castle
**HER HIGHNESS**


__ADS_3

"Ada yang ingin ku katakan sambil kita makan Vic"


Sambil menganggukkan kepalanya, Victoria mendaratkan bokongnya ke kursi meja yang sudah di tarik Fredrick. Walaupun pangkal pahanya sekarang masih yang terasa nyeri dan tidak nyaman, isi kepala Victoria bisa menangkap maksut Fredrick yang membawanya untuk makan di kamar. Ada hal penting yang akan mereka bicarakan.


Fredrick ikut mendaratkan bokongnya di depan kursi Victoria sambil memulai table manner


"Bulan depan, aku harus pergi ke wilayah barat untuk memeriksa wilayah yang baru kita jatuhkan" Dentingan lembut suara pisau dan garpu yamg mulai terdengar dari tangan istrinya membuat Fredrick melanjutkan ucapannya. "Beberapa minggu aku akan di sana. "Fredrick mendesah panjang. "Berat sekali rasanya"


"Itu sudah tugasmu Bash"


"Aku akan merindukanmu"


Victoria tidak bergeming dan hanya memasukkan kembali irisan daging ke dalam mulutnya dengan anggun. Fredrick melanjutkan dengan wajah yang sudah berubah menjadi sedikit teduh. Menelan perasaanya sendiri. Entah perasaan apa dan untuk siapa, untuk saat ini hanya dia yang tahu.


"Besok aku akan membawamu pada rapat besar untuk wilayah barat"


Dengan mulut penuh, Victoria menaikkan arah padangnya menatap Fredrick dengan bingung


"Aku?"


"Iya. Karna selama aku pergi, kau yang akan menggantikan ku untuk menyelesaikan urusan pengambilan keputusan" Tangan Fredrick menghentikan sejenak gerakannya dan menatap Victoria dengan serius. "Kau butuh menunjukkan taringmu agar 'mereka' tidak ribut seperti anjing yang di tinggal induknya dan juga untuk menegaskan bagaimana dirimu"


"Oh.. pencitraan..."


Fredrick mengangguk dan kembali mengiris dagingnya


"Benar, mulai sekarang kau harus peduli dengan mulut orang lain sayang, terlebih mulut-mulut yang akan semakin deras menyebutkan namamu dari balik kipas mereka"


Victoria mengangguk paham. Dia sangat paham siapa dia sekarang dan akan jadi apa dia nanti. Desas desus dan rumor yang positif di kalangan ton akan berguna untuk meredakan keributan buruk tentangnya, dia perlu nama baik dan itu akan sangat mendukungnya untuk memulai perjalanannya


"Kapan Your Majesty akan jatuh?"


Ucapan tiba-tiba Victoria yang tanpa basa basi membuat Fredrick hampir tersedak kunyahan daging di mulutnya


"Hati-hati dengan ucapanmu Vic"


Dengan acuh Victoria mengedipkan bahunya sambil kembali mengiris daging dengan anggun.


"Tujuanmu membawa kita makan di sini kan karna tempat ini adalah tempat paling aman untuk kita berdiskusi kan Bash. Dan kita memang harus membahas ini meski di atas meja makan tanpa perlu memperdulikan tata cara bangsawan di atas meja"


Sudut bibir Fredrick berkedut geli


"Well... kau benar"

__ADS_1


"Jadi kapan?"


"Ck! kau sangat tidak sabar"


Dengan mambuang nafas sebal Victoria meletakkan garpunya dan menatap Fredrick dengan tajam.


"Tujuanku menikah karna ini Bash. Semakin lama hanya semakin membuang waktu"


"Oh istriku yang tidak sabaran..."


Victoria memutar bola matanya dengan malas dan kembali mengiris daging kembali.


"Waktu tiba saatnya aku pergi. Tugasmu akan bertambah karna...." Fredrick menatap pisau di tangannya dengan wajah tidak terbaca. "Saat itu, dia tidak akan bisa bangun dari ranjangnya lagi"


Victoria tersenyum puas dan mengangguk tapi, entah kenapa, jauh di dalam lubuk hatinya, ada secuil rasa prihatin yang entah karna apa. Dengan cepat Victoria menekan perasaan itu dan kembali fokus dengan tujuannya dan suara Fredeick kembali terdengar


"Meski kau tidak suka, tapi uncle James, Earl Xenas yang akan membimbingmu. Dia penasihat His Majesty yang terbaik"


"Hmm... Aku tidak pernah tidak suka padanya, tapi bukan berarti aku menyukainya. Mungkin dia yang membenciku"


Sambil mengunyah Fredrick mengangguk. Dia sangat tahu maksut Victoria. Aunty Anna-nya istri uncle James-nya yang menjadi mentor untuk pelajaran Victoria tentang semua hal untuk urusan menjadi anggota baru istana sangat menunjukkan ketidaksukaan dan keganasannya. Dan itu membuat Fredrick menunggu cerita saat mau tidak mau, pria paruh baya yang pernah di pukul Victoria dengan kata-katanya saat rapat pribadi dulu harus berkeja sama dengannya. Senyum geli Fredrick terbit.


🌺🌺🌺🌺


"Iya... aku bangun. Berhentilah Bash"


Fredrick tersenyum hangat sambil menatap dengan jarak yang sangat dekat kedua bola mata yang entah kapan sudah sangat menjadi kesukaannya itu.


"Good morning sayang..."


"Hmm... Morning"


"Kita akan rapat sebentar lagi"


Victoria mendengus sebal dengan sebelumnya membalas ciuman singkat dari suaminya


"Ck! kau menyebalkan Bash! aku ini bukan mesin yang saat malam harus bekerja keras lalu paginya harus berpikir keras dengan bangun pagi"


Sambil mencoba bangun dengan mengeratkan selimut di tubuh telanjangnya, Victoria bedecak kesal. Semalam, Fredrick kembali menyelinap ke kamarnya saat dia baru akan tidur dan membuatnya harus berolah raga dengan keras, lalu suaminya itu berakhir dengan tidur kembali di kamarnya sambil terus mendekap dan membelai punggungnya dengan nyaman. well... walaupun akhirnya dia juga memang menyukainnya.


"Tentu saja kau bukan mesin sayang, kau istriku dan seorang calon ratu"


Fredrick terkekeh lalu segera berdiri dari ranjang. Victoria mengamati tubuh atas suaminya yang telanjang, lebih tepatnya punggung suaminya yang kembali mempunyai guratan cakaran basah yang tampak buas

__ADS_1


"Kau sebaiknya mengobati punggungmu Bash"


Kedua alis Fredrick terangkat dan memutar tubuhnya sambil menyeringai menyebalkan


"Percuma, karna setiap malam untuk waktu sekarang ini, aku akan tetap mendapatkan lagi cakaran baru walaupun tanpa gigitan yang manis dari gigi istriku"


Dengan menyebalkan Fredrick mengedipkan sebelah matanya, tidak lupa dengan seringainya yang terus menggoda Victoria


Oh sialan! Fredrick membuat Victoria malu. Sambil berdehem untuk menekan rasa malunya terlebih memang karna tenggorokannya yang cukup kering karna semalaman dia terus menjerit di bawah suaminya. Victoria meraih lonceng untuk memanggil pelayang. Fredrick tersenyum simpul melihat gerak gerik istrinya yang terlihat salah tingkah dan itu pemandangan yang sangat menggemaskan untuknya. Jika saja pagi ini tidak ada kegiatan penting, dia akan membuat pagi yang dingin ini akan menjadi panas kembali. Jika saja.


--000--


Setelah bersiap dan sarapan pagi. Victoria sekarang sudah berada di meja rapat istana. Ada sepuluh pria paruh baya yang juga duduk di kursi rapat. Earl Xenas dan Marquess Mincheas sepupu Raja George dan penasehatnya, Duke Argentt dan Duke Kendal petinggi penting dalam rapat, lalu sisannya para pria lain yang selalu ikut ambil bagian untuk pengambilan keputusan tantang urusan kerajaan. Itu yang Victoria ketahui dari pelajarannya sebelum menikah.


Dengan tenang Fredrick mengamati raut wajah-wajah yang ada di meja. Mereka tampak diam tapi juga tidak ramah saat dirinya masuk karna membawa Victoria.


"Maafkan saya Your Highness tapi, apa maksutnya ini? Maksut saya adalah, Kenapa Her Highness ikut dalam rapat? Ini menyalahi aturan Your Highness, seorang wanita....."


"Aku tahu Duke Kendal. Tapi His Majesty seperti yang kita tahu sedang tidak sehat dan hanya bisa menerima hasil rapat dari balik pintu kamarnya. Aku sebentar lagi akan pergi cukup lama dan...." Fredrick menatap Duke Kendal dengan dingin. "Victoria adalah calon ratu yang nantinya akan menjalankan tugasnya"


Duke Kendal membungkam mulutnya sambil melirik sekitar seolah mencoba mencari bantuan tapi, pria lain yang ada di sana hanya diam hingga Marquess Mincheas membuka rapat.


Dalam keseriusan Victoria mencerna segala laporan, penilaian, masukan, rencana dan argumen yang di keluarkan di atas meja. Sesekali Victoria melirik Fredrick yang tampak serius menanggapi walaupun lebih banyak terlihat acuh. Victoria berdecak dalam batinnya karna wajah Fredrick yang sedang di atas ranjang dengannya dalam dua malam ini terlihat lebih bisa serius dari pada rapat penting ini


"Bagaimana pendapatmu Vic?"


"Saya Your Highness?"


Dengan tersenyum hangat Fredrick mengangguk pada Victoria. Victoria menukkikan satu alis cantiknya dengan tinggi


"Bagaimana menurutmu solusi untuk menjinakkan rakyat wilayah barat?"


Kali ini kedua alis cantik Victoria terangkat dan menatap semua wajah yang sekarang sedang menatapnya dengan raut wajah berbeda


"Hhmm.... Baiklah... Menurut saya..."


\=\=\=❤❤❤❤


Yuk tinggalin jejaknya...


Vote-nya juga yuk di sebar


Salam sayang semua

__ADS_1


__ADS_2