
"Pria itu mahir memanah dan berasal dari ibu kota, memiliki hutang yang banyak dan tiga hari sebelum pernikahan, dia membayar semua hutangnya dan membelikan sebuah rumah untuk simpananya"
"Langsung saja Jer"
Jeremmy membuang nafas panjang
"Dia mendapatkan uang dari seorang Baron, tapi tidak di ketahui Baron siapa"
Dengan malas Fredrick mengangguk dan memotong dagingnya
"Itu cukup. Berarti bukan dari keluarga istriku"
Aahh... ternyata hanya itu yang di khawatirkan Fredrick. Jeremmy sekarang paham jika fokus Fredrick yang berlebihan ternyata karna kekhawatirannya pada istrinya. Tapi tetap saja
"Bisa saja ini tipuan Your Highness, keluarganya bukan orang bodoh"
"Tentu saja"
Lagi, Jeremmy menangkap maksut isi kepala Fredrick. Tidak peduli sekarang siapa yang sebenarnya ada di balik insiden itu yang jelas, dengan bukti gelar Baron mungkin bisa menenangkan istrinya, Victoria. Masalah otak pelaku utama menyusul dan akan di bereskannya sendiri tanpa Victoria tahu. Jeremmy tersenyum
"Anda banyak berubah Your Highness"
Dengan terus memotong dagingnya dan mengunyah isi mulutnya, Fredrick tidak menanggapi ucapan Jeremmy
"Oh iya, His Grace Arthur akan kembali ke Albany pagi ini"
"Aku akan mengantarnya"
--000--
"Saya bersikap baik pada anda di depan Victoria bukan berarti karna kita mempunyai hubungan yang baik dan menjadi akrab Your Highness. Anda tahu, sangat menggelikan di antar seorang putra mahkota"
"Aku tahu, tidak penting bagaimana hubungan kita Duke Arthur. Yang terpenting adalah tujuan kita yang sama. Sama-sama ingin melindungi Victoria" Fredrick menyeringai menyebalkan menatap Arthur yang menatapnya penuh selidik. "Istriku kelelahan dan masih tidur, jadi aku sebagai keluargamu menggantikan perannya untuk mengantarmu sekarang"
Arthur mendengus kasar
"Jangan katakan itu"
"Kakak ipar"
"Sialan!"
Dengan cepat dan jijik, Arthur segera melompat ke dalam kereta kudannya, meninggalkan Fredrick yang terbahak geli
"Hati-hati di jalan karna sekarang banyak perampok kakak ipar"
Dengan tenang tanpa ingin melihat ke arah Fredrick, Arthur menangkap pesan Fredrick. Kejadian bulan lalu saat perjalanannya dari istana menuju Albany, dia di serang pemanah saat sudah di ingatkan Fredrick. Membuatnya sekarang semakin waspada dan langsung menyelipkan pedang di pinggangnya. Dia sangat penasaran, manusia mana yang berani mengusik dan menganggapnya remeh.
"Apa yang anda pikirkan Your Highness"
Dari ekor matanya Fredrick melirik Jeremmy dan raut wajahnya langsung berubah
"Wanita itu sangat menyukai Victoria. Berhati-hatilah Jer"
Jeremmy mengangguk patuh
"Sekarang apa kita akan mengecek wilayah barat lagi Your Highness"
Fredrick menatap Jeremmy dengan kesal
"Aku akan mengecek istriku"
__ADS_1
Dengan kesal Jeremmy memutar bola matanya
"Her Highness tidak membutuhkan anda, banyak pelayan yang akan mengurusnya"
Dengan acuh, Fredrick berjalan melewati Jeremmy untuk menuju ke dalam istana utama
"Your Highness!"
"Diamlah! jangan ganggu pengantin baru dan suruh Dolores membawa Grey"
Meski kesal dan semakin kesal, Jeremmy hanya bisa menuruti perintah Fredrick dan segera menuju ke tempat Dolores
--000--
Victoria menggeliat tidak nyaman karna rasa lembab dan basah yang terus menghujami wajahnya
"Jangan ganggu aku Grey"
Kembali, hujaman lembab dan basah terus di rasakan di seluruh wajahnya
"Aku lelah Grey... menjauhlah. Bermainlah dengan Diana"
Ucapan Victoria bagai angin lalu karna wajahnya tetap di hujami rasa lembab dan basah dari ciuman seseorang. Tunggu dulu... Ciuman?
Dengan cepat Victoria membuka matanya
"Selamat siang Your Highness Putri Victoria"
"Ka-kau!"
"Suamimu"
"Ooh sialan!"
"Bash!"
"Iya sayang"
"Aku masih mengantuk"
Dengan santai Fredrick ikut membaringkan tubuhnya di samping Victoria. Victoria yang merasakan gerakan ranjang dan keberadaan tubuh Fredrick di sebelahnya, dengan mata yang masih terpejam langsung membalikkan tubuhnya.
"Pergilah Bash, biarkan aku tidur"
"Ok.."
Entah apa kata 'ok' yang di maksut Fredrick karna sekarang, lengan besar dan kokoh Fredrick sudah melingkat di pinggang Victoria dari belakang punggungnya, di susul kecupan-kecupan sensual yang mulai di berikannya di tengkuk dan bahu telanjangnya. Victoria mulai panik
"Baiklah aku bangun Bash..." Victoria meremang saat sebuah tangan besar merayap di bokongnya. "Aku bangun, aku.. bangun"
"Aku juga bangun sayang"
Fredrick mendekatkan bokong Victoria dan merapatkan bokong bulat itu ke miliknya yang sudah mengeras dengan berbisik sensual di tengkuk Victoria
"Aku ingin Vic"
Victoria terkesiap dan segera menarik bokongnya sambil menjauhkan tubuhnya tapi, sia-sia karna Fredrick langsung melingkarkan tangannya di dada dan menahan pinggul Victoria. Victoria meneguk ludahnya dengan susah payah, bahkan sekarang kesadarannya dengan cepat menjadi penuh.
"Ba-bash..."
Fredrick terkekeh geli
__ADS_1
"Kau terlihat takut Vic"
Jantung Victoria berdetak cepat saat tangan Fredrick yang ada di dadanya meremas pelan satu dadanya
"Ampuni aku Bash"
Dengan mengigit bibirnya agar tidak mendesah, Victoria berucap lirih dan penuh permohonan. Fredrick mendaratkan ciuman di pipi Victoria dan langsung berdiri dari ranjang. Dia cukup tahu diri untuk memberi jarak pada mereka. Walau sebenarnya semau itu untuk dirinya sendiri yang sudah mulai memikirkan segala pikiran liar.
Victoria membuang nafas lega dan dengan sedikit takut membalik tubuhnya saat di rasa tubuh Fredrick sudah berjalan mejauh dari ranjang
"Bangunlah dari ranjang erotis itu Vic, atau aku akan benar-benar melakukan keinginanku"
"Aku bangun! iya sekarang aku bangun" Victoria menegakkan punggungnya dan "Auu!! tubuhku remuk"
Fredrick terkekeh sambil berjalan ke jendela dan membukannya jendela. Cahaya dari luar segera masuk ke dalam kamar, angin musim salju langsung berhembus ke dalam ruangan
"Bersiaplah untuk makan siang"
Dengan malas Victoria mengangguk dan mencoba menyenderkan punggung remuknya ke kepala ranjang
"Kau menyiksaku"
"Hei! kaulah yang menyiksaku Vic"
Victoria mendengus dengan tidak anggun. Fredrick tersenyum geli
"Kau tidak percaya?"
"Tentu saja, di sini akulah yang telihat kelelahan sedangkan kau...." Mata Victoria menelusuri wajah Fredrick yang tampak segar dan lebih bersinar. "Kau bahkan jadi semakin sehat"
Kedua alis tebal Fredrick terangkat dengan bibir yang mengulum senyum
"Lihat ini"
Fredrick memutar tubuhnya dan menarik lepas bajunya, untuk menunjukkan karya seni kuku dan gigi Victoria di punggung dan bahunya. Mata Victoria membulat saat melihat goresan brutal kukunya bahkan ada gambar gigitannya di bahu kanan Fredeick. Victoria langsung memunduk malu dengan wajahnya yang memanas telebih karna selebat ingatan mereka semalam dan suara kuat eraman puas Fredrick berputar di kepalanya.
"Maafkan aku Bash"
Oohh tidak... bukan itu maksut Fredrick, dia hanya berniat mennggoda istrinya bukan membuat rasa bersalah istrinya. Fredrick kembali memakai bajunya dan dengan cepat menghampiri istrinya.
"Hei... aku hanya bercanda, ini tidak sakit sama sekali"
Dagu Victoria terangkat saat Fredrick menarik ke atas dagunya. Agar wajah mereka bisa saling menatap
"Itu terlihat kejam Bash"
"Percayalah jika aku senang, sangat senang dan.... "Bibir Fredrick mendekat di telinga Victoria untuk berbisik. "Aku juga sangat puas" Setelah berucap, Fredrick mengecup telinga Victoria
"Ooh ya ampun"
Tidak tahan menahan malu, Victoria meraih bantal untuk menutup wajahnya yang membara. Fredrick tersenyum gemas dan membunyikan lonceng
"Aku menunggumu di kamarku"
"Kenapa harus di kamarmu?"
Satu mata Fredrick mengedip sambil menyeringai panas lalu berjalan menuju pintu yang sudah di ketuk Diana
\=\=\=❤❤❤❤
Maaf kl ada bagian ga nyambung atau lompat sama sebelumnya, soalnya ada 4 chapter yg ga bsa di terima NT guys, eike tipisin edit trs2an yg di terima cuma 2. Sisanya masih terlalu hot. lol. Mudah2an masih nyambung per chapternya yaa 🙏
__ADS_1
Salam sayang semua✨