
Malam yang seharusnya tenang dan sunyi di kediaman Bedford, tidak terjadi untuk malam ini karna kedatangan seseorang yang membuat Albert terkejut luar biasa. Kedatangan yang cukup membutnya senang tapi khawatir terlebih karna dengan siapa dia membawa kedatangannya
"Kau baik-baik saja nak?"
Masih di dalam pelukan Tatiana Victoria menggeleng pelan. Tatiana yang menyadari jika sudah saatnya perbincangan serius terjadi segera melepas dekapannya sambil melirik dua putranya yang sudah melangkah keluar pintu ruang kerja suaminya, Albert.
"Aunty tinggal dulu ya nak, bicaralah pada uncle mu"
Victoria mengangguk patuh dan menatap Albert yang sudah menatapnya dengan tajam
Setelah ruangan kembali sunyi dan hanya menyisakan Victoria dan Albert. Albert mulai membuka suara
"Kenapa kau bisa bersamanya?"
Sambil menarik nafas dalam untuk menyiapkan diri, Victoria membalas tatapan Albert dengan tegas
"Aku memilihnya untuk menjadi pendampingku uncle"
"Apa maksutmu Vic?"
Kali ini Albert sudah melipat tangannya di depan dada dengan wajah yang berubah semakin serius
"Jangan teruskan uncle, mereka semua sudah tahu rencana kalian. Aku..." Kembali Victoria menarik nafas dalam. "Aku tidak ingin ada pertumpahan darah"
Braak!
"Jangan main-main Vic!"
Meski kemarahan sudah sangat terbaca di guratan wajah Albert, Victoria tidak gentar untuk menyuarakan keputusannya
"Aku tidak bermain-main uncle, aku perlu tahta, aku perlu nama, aku perlu kekuasaan ku sendiri. Tolong uncle..."
"Kau mengerti apa yang sedang terjadi dan apa yang kau bicarakan Vic?. Victoria anakku apa kau paham situasi ini? kau tidak sedang mabuk kan?"
Dengan tangan terkepal kuat Victoria menjawab dengan tegas
"Aku sadar dan aku tahu uncle apa yang sedang terjadi dan bisa menilai apa yang akan terjadi nanti. Kalian berencana bernegosiasi agar mereka mau melepasku dan melepas Albany tapi, jika tidak bisa tercapai, kalian akan mengancam dan jika masih tetap tidak bisa menemukan ujung pencampaian kalian, kalian akan menyerang kerajaan, perang akan terjadi. Kerajaan ini adalah rumah rakyat uncle. Mereka itu iblis yang tidak akan pandang bulu dan berbelas kasih, mereka tidak akan peduli pada apapun selain kemenangan. Jika kalian saling serang dengan memasukkan kekuasaan luar kerajaan Vancia, musuh kerajaan Francia ini, Status kalian adalah pemberontak dan pengkhianat. Mereka akan menyeret kalian seperti anjing tidak berharga ke panggung eksekusi" Victoria tercekat, arah pandangnya mulai buram. "Kalian akan di eksekusi uncle, apa guna aku hidup jika aku kehilangan kalian?"
Dengan segala perasaan berkecamuk di dalam dadanya dan menekan segala emosinya
Albert tersenyum getir
"William adalah kakak kandungku. Emilys adalah kakak iparku. Charlotte adalah putriku juga. Albany adalah tanah kelahiranku, tanah leluhurku dan tanah orang tua kami. Yang kehilangan bukan hanya kau Vic"
Tanpa bisa di cegah lagi, air mata Victoria tumpah. Dengan bibir bergetar dan tangan semakin terkepal, Victoria menatap Albert
__ADS_1
"Karna itu uncle, tolong berdirilah di belakangku saat aku memakai mahkota ku. Tolong beri aku uluran tangan saat aku membutuhkan kalian untuk membalas semua ini"
Albert menggeleng tegas
"Kami tetap akan melanjutkan ini, meski Francia akan berdarah, meski Francia akan hancur. Kami harus membalas dan melawan jika mereka tidak ingin berkrompomi dan tetap mencoba mengikat kita dengan paksa"
Dan jawaban Albert membuka titik temu di dalam batin terdalam Victoria. Semua pemikiran gelapnya yang tersimpan menganga lebar dengan terang. Karna, Segala sisi lain keluarganya terlihat jelas. Victoria tercekat, tenggorokannya bagai penuh dengan kerikil, kepalanya berdenyut kuat hingga matanya berkedut terlebih saat Albert kembali bersuara
"Kita tidak pernah mengganggu mereka, bahkan tidak pernah ingin berhubungan dengan mereka. Kita adalah......."
"Arathorn yang sombong dan egois"
Dengan isak tangis, Victoria memotong ucapan Albert. Dadanya berdenyut sakit, mulutnya terasa kotor. Dengan segenap perasaan hancurnya, Victoria menatap Albert yang sudah terkesiap di tempatnya
"Uncle..." Victoria menatap Albert dengan nanar. "Aku ingin menjadi seorang ratu untuk rakyat dan manusia lain tanpa pertumpahan darah. Aku ingin memimpin manusia lain yang kesulitan agar mereka bisa bertahan hidup, itu adalah awal pemikiranku saat aku melihat kesulitan rakyat, dan sekarang, aku ingin menjadi ratu tanpa harus menumpahkan banyak darah. Tolong uncle... tolong aku.... bantu aku. Hentikan semua ini, serahkanlah aku sebagai tumbal, jangan usik si pemilik tahta"
"Ini tidak hanya tentang kau Vic!"
"Aku tahu uncle, karna ini juga tentang ego kalian dan juga harga diri kalian, karna kalian tidak ingin menundukkan kepala pada istana"
Benar... Semua terjawab di pikiran Victoria ketika Albert hanya diam dan membuang wajahnya. Dia sangat mencintai keluarganya dengan segenap jiwa dan nyawanya tapi, dia tidak akan membenarkan semua sejarah dan fakta. Victoria tidak bisa mengabaikan kesuliatan manusia lain saat di sisi tertentu wilayah bisa hidup bahagia dan makmur di atas kepedihan orang lain yang sebenarnya masih bisa di beri uluran tangan bantuan. Karna itu Victoria harus duduk menjadi ratu tanpa perlu ada sejarah lain dari pertumpahan darah. Ini kesempatan terakhirnya untuk membalas satu persatu kesakitannya dan meluruskan hal yang rusak dengan menjadi ratu.
"Aku tidak tahu Vic... Semua sudah matang, kami juga sudah terlanjur berhubungan dengan Vancia. Ini tidak bisa di hentikan lagi"
"Ka-kalian.... jadi kalian memang ingin menghancurkan uncle? ternyata sedari awal kalian memang tidak ada niat untuk negosiasi!!! kalian..." Isakan Victoria semaki kuat hingga kepalanya terasa akan lepas. "Dari awal, kalian memang akan menyerang kerajaan uncle? kalian akan menghancurkan dan memberontak!!!"
'Racun' dan 'pembuat monster' adalah ungkapan yang pernah Victoria dengar dari Fredrick saat mengambarkan keluarganya dan semua itu juga sekarang tergambar jelas untuk Victoria. Seluruh tubuh Victoria menggigil, jantungnya seakan ingin meronta lepas keluar dari dadanya, dengan mata yang menatap Albert dengan sangat buram, Victoria mencoba mencari-cari pembelaan atau pembenaran pada ucapan Albert tapi, Albert hanya diam dan memandangi langit-langit ruangan, tanda jika Albert tidak akan menarik dan menampik ucapannya.
Victoria runtuh, semua kekuatannya runtuh hingga arah pandangnya menggelap dan suara terakhir yang tertangkap di telinganya adalah suara teriakan Albert
--000--000--
Dengan santai dan tenang, Fredrick menyesap teh yang di hidangkan khusus oleh tuan rumah. Matanya sesekali melirik pria paruh baya yang sedang memijat pilipisnya sambil menatap asap yang mengepul di atas cangkir tehnya. Dengan elegant dan sopan akhirnya Fredrick mulai membuka suara
"Aku akan langsung membawa Victoria kembali saat sudah sadar Earl Albert"
"Beberapa bulan ini, ternyata kalian berhasil mencuci otak dan mengubah kiblat pemikirannya"
Dengan tersenyum hambar Fredrick melipat tangannya di depan dada sambil menatap Albert dengan dingin
"Kami hanya menunjukkan fakta yang tidak pernah di perlihatkan padanya Earl Albert, dan aku....." Fredeick menjedah sambil menggarukki meja dengan satu jari telunjuknya. "Aku hanya membiarkan dia memilih dan berpikir"
Albert membalas tatapan Fredrick dengan tidak kalah dingin
"Dengan menekan dan mengancamnya?"
__ADS_1
"Benar"
Jawaban singkat dengan wajah menyebalkan Fredrick hampir membuat Albert membalikkan meja
"Menggunakan cara licik dengan mengimingi Victoria akan penderitaan rakyat dan menjejalkan fakta kesulitan kalian adalah visi jelas akan ketakutan kalian pada kami"
"Benar"
Emosi Albert naik hingga menekan syaraf kepalanya, tangannya terkepal kuat dan menatap Fredrick dengan tajam
"His Highness Pangeran Henry akan kami buat naik ke atas tahta"
"Dan aku akan membunuhnya, juga membunuh kalian semua tanpa tersisa. Aku dengan segenap kasih sayangku akan tetap menjadikan Victoria sebagai ratu meski mungkin nanti dia akan setengah gila"
Brakk!!
Dentingan gelas terdengar kuat saat suara meja di pukul terdengar. Rahang Albert terkatup rapat, pelipisnya terus bergerak-gerak menahan geraman dan kesal
"Anda pikir, kami akan kalah Your Highness??"
Sambil mengedipkan bahunya acuh, Fredrick membenarkan cangkirnya yang sedikit miring sehabis meja bergerak karna gebrakan
"Tidak, kalian mungkin bisa juga menang tapi, setelah itu, setelah semua kehancuran. Victoria juga akan tetap gila, gila karna membenci keluarganya yang bangkit menjadi...." Fredrick menaikkan arah pandangnya menatap Albert. "Monster"
Melihat albert yang langsung memejamkan mata sambil mengadah dan berkacak pinggang, Fredrick melanjutkan kembali ucapannya saat mengerti jika Albert sedang mencari ketenangannya karna tidak bisa membalas ucapannya.
"Aku akan membantu menenangkan keadaan dan keamanan untuk urusan Vancia. Dan untuk sisannya. Kalian tahu apa yang harus kalian lalukan"
"Kau sangat yakin jika kami akan menghentikan ini"
Fredrick tersenyum lebar tanpa dosa dan menatap Albert dengan wajah tanpa raut tersirat
"Bukan 'kami' tapi 'kau' Earl Albert. Aku tahu kenapa Victoria bisa memiliki sebuah surat tentang semua ini. Semua atas saranmu kan?"
Ucapan Fredrick membuat Albert tersenyum getir. Fredrick melanjutkan
"Berhentilah berpura-pura mengamuk pada Victoria. Dia akan semakin tertekan. Tujuanmu untuk selalu mencari aman dan mencari jalan terbaik sudah terlaksana sekarang..." Sambil tersenyum culas dan memandang Albert dengan lekat Fredrick menjedah untuk mengangkat tehnya. "Arathorn yang licik"
"Terimakasih banyak Castalarox yang licik atas sanjungannya. Kalian memang ular kepala dua kerajaan"
\=\=\=💜💜💜💜
Yuk bisa yuk jejaknya di tinggalin...
Salam sayang semua✨
__ADS_1