Berondong Manisku

Berondong Manisku
Perasaan seorang ibu


__ADS_3

"Apa kekasih berondongmu itu memang suka tidak jelas begitu?" Bisik Dinda pelan.


Metta menyikut sahabatnya "Hus, jangan berkata sembarangan, hanya aku yang boleh sembarangan!"


Dinda memutar malas matanya, "Iya deh yang udah kecintaan banget." lalu memeluk Metta,


"Aku seneng banget Sha, akhirnya hubungan kalian mendapat SIBIDUAN," ucapnya terkikik.


Metta mengernyit, "Sibiduan ...?"


"He-em, Surat ijin berpelukan dan berduaan," ucapnya dengan tangan yang dilingkarkan memeluk dirinya sendiri.


"Astaga ...! ada-ada saja kamu ini," mereka kemudian terkikik-kikik.


Sementara Farrel kedalam menemui ibunya Metta,


"Ibu ..."


"Nak El ...?"


Farrel merengkuh Ibunya Metta, "Bu, maafkan atas kelancangan ayah dan bunda. Aku benar-benar malu bu atas apa yang dilakukan mereka, aku minta maaf ..."


"Tidak apa, sudah tidak apa-apa! yang penting sekarang tidak ada masalah lagi kan antara kamu dan keluargamu, juga pada kalian hubungan mu dan juga anak Ibu,"


"Aku malu karena ayah dan bunda sebelumnya meragukan kakak, tapi Ibu tidak usah khawatir. Aku akan terus ada disamping anak Ibu." ucap Farrel menggenggam tangan Sri.


Sri tersenyum, " Terima kasih Nak, karena sudah mau menjaga anak Ibu."


Farrel mengangguk secara mencium tangan Ibunya Metta, "Aku pamit pulang dulu."


"Sha pacar kamu lama banget didalam?" Dinda menyembulkan kepalanya di balik pintu,dan terlihat mengangguk- anggukan kepalanya.


"Biarin aja, mungkin lagi pamit sama Ibu,"


"Kok ibu kamu gak marah sama sekali," Dinda kini duduk di kursi yang bersebelahan dengan Metta.


"Ibu kan emang jarang banget marah,"


Dinda mengangguk, "Ibumu baik, ah andai ibu ku juga begitu!"


Farrel yang tiba-tiba saja muncul mengagetkan keduanya, "Lagi ngobrolin apa? ngomongin aku ya," Farrel mendekati Metta dan duduk di sandaran lengan dengan merangkul Metta.


"Dih pede banget!Sha aku masuk duluan yaa,"


"Hem,"


"Aku udah pamit sama Ibu," Farrel melingkarkan tangan dipinggang Metta.


"Udah mau pulang?"


"Memangnya kakak ingin aku menginap?" Farrel terkikik


Metta membulatkan matanya dan beranjak dari duduknya, " Tidak terima kasih, dan hati-hati aja," ucapnya dengan terkikik juga.


Farrel menyelipkan tangannya di leher Metta dan mengecup kilat ujung bibirnya.


"Aku pulang ya... jangan kangen!" Metta tersentak dan hanya Bisa mengangguk.


"Bisa-bisanya bocah itu ...astaga...." Namun Metta tersipu.


Farrel kemudian masuk kedalam mobil dan berlalu setelah melambaikan tangan pada kekasihnya itu, lalu Metta kembali kedalam rumah seraya menggelengkan kepalanya, namun senyuman tidak kunjung hilang dari bibirnya.


.


.


Metta masuk kedalam rumah, dilihatnya Ibu tengah duduk di ruang tamu.

__ADS_1


Metta tersentak melihatnya, "Apa ibu melihat yang terjadi barusan"


"Ibu, belum tidur!" Ucap Metta sambil menutup pintu.


Sri beranjak dari duduknya, kemudian berlalu, "Ikut Ibu ke kamar Sha!"


Metta segera menyusul sang ibu ke kamarnya, kamar yang terletak paling ujung. katanya biar sedikit tenang kalau diujung.


"Ada apa bu?"


"Sini Nak duduk." Ayu menepuk pelan kasur empuknya, sebab dikamar mereka tidak ada sofa layaknya orang kaya.


Metta mendaratkan tubuhnya di tempat yang sudah ditandai ibunya, dia merasa was-was bak menghadapi sidang gugatan.


"Kenapa bu?"


Terdengar ibu menghela nafas, suaranya pun bergetar. itu tandanya ibu tengah menahan agar tidak menangis.


"Ibu ... maafkan aku jika aku punya salah sama Ibu," Metta mengelus tangan Ibunya.


"Ibu pasti kecewa kan sama aku, atas apa yang aku lakukan. Maaf bu,"


Sri menggelengkan kepalanya, " Kenapa kamu tidak menceritakan semua nya pada Ibu, apa karena ibu tidak mungkin bisa membantu apa-apa?"


"Ibu bicara apa?" gumam Metta pelan.


"Ibu tahu kamu tidak suka bercerita apa-apa sama Ibu, tapi Sha, masalah tadi itu masalah berbeda, masalah besar, kenapa kamu tidak mau bercerita masalah sebesar itu!" seru Ayu dengan pelupuk mata yang kian memanas.


"Bu maafkan aku, aku sama sekali tidak ingin menambah beban fikiran ibu, Bukan karena ibu tidak dapat membantu apa-apa seperti ibu bilang, Bukan bu!"


"Kamu udah bekerja keras sejak ayah meninggalkan kita, kamu juga tidak pernah mengeluh Sha, dan ketika ibunya Farrel datang kemari dan bercerita semua, ibu merasa seperti ibu yang tidak peduli terhadap anak, Karena ibu sama sekali tidak tahu apa-apa." tubuh ibu ikut bergetar.


"Ibu dan kedua adik mu bahkan hanya bisa terdiam saat keluarga Farrel menceritakan semuanya. Seperti kamu itu hidup sendiri saja Sha!" Akhirnya air yang menganak diujung matanya perlahan turun.


"Ibu ..." lirih Metta.


"Jangan berfikir begitu bu, ibu tahu segalanya lebih dari siapapun, ibu juga mengenal aku lebih dari siapapun. Ibu tahu bagaimana aku bukan?" Metta terus mengelus tangan dan juga bahu ibunya.


"Kalian bertiga adalah segalanya untuk aku, aku hanya akan berbagi kebahagian saja, bukan kesedihan bu. Sudah cukup ibu ikut menderita dimasa lalu karena kegagalan ku dalam menikah, aku tidak ingin melihat ibu seperti itu lagi.


Ibu berbicara dengan terisak, "Tapi Sha ibu juga merasa menderita jika tidak tahu menahu apa yang terjadi dengan anaknya. Hati ibu sakit mendengar kamu dicaci dan dimaki, meski semua itu hanya ingin melihat reaksi kamu saja ..."


"Sudah jangan Ibu fikirkan lagi ya, lebih baik ibu istirahat. ini sudah malam." Metta beringsut dari duduknya memeluk sang ibu.


"Sha apa kamu sekarang bahagia Nak?"


"Ibu bicara apa?"


"Hubunganmu dengan Nak Farrel bagaimana?"


"Bagaimana gimana maksud ibu?"


"Sejauh mana hubungan kamu dengannya, ibu lihat dia sangat perhatian sama kamu, dia juga merangkul adik-adikmu, dan juga ibu."


"Sejauh mana?Apa yang ibu fikirkan!" sekilas Metta memejamkan matanya


"Entahlah bu, tapi aku merasa diperlakukan begitu istimewa dan juga sangat berarti."


"Apa kamu sudah bisa melupakan masa lalu Nak?" giliran sang ibu yang mengelus tangan anaknya.


"Untuk melupakan aku belum bisa bu, tapi sedikit-sedikit hatiku terbuka" Ibu mengangguk.


"Ciptakanlah kebahagianmu sendiri Nak! lupakan masa lalu."


"Tapi aku juga merasa kasihan pada Mas Faiz, keadaan dia jadi begitu karena masa lalu juga, dan bukan sepenuhnya salahnya,"


"Kita do'akan yang terbaik untuk Faiz, semoga dia bisa menemukan kebahagiaannya meskipun bukan dengan kamu Sha."

__ADS_1


"Aamiin bu."


"Yaa sudah kamu istirahat sana. Ibu juga mau istirahat."


"Iya bu ..."


Metta beranjak dari duduknya, melangkah membuka handle pintu kamar ibunya, seketika saja kedua adiknya jatuh terjerembab di hadapannya.


"Awwww ...!"


"Abang ..." pekik Nissa


"Kamu sih ... ketahuan kan jadinya! memukul pelan kepala adiknya.


"Kalian ngapain? menguping ..." ucap Metta dengan berkacak pinggang.


"Nih, Abang yang ngajak aku!"


"Eeh, kenapa nyalahin abang, kamu sendiri yang mau denger juga,"


"Astaga. Kalian ini gak sopan menguping pembicaraan orang lain seperti itu." ucap Sri yang muncul dibalik Metta.


"Maaf bu, kak ..." Andra berdiri dan membantu adiknya juga berdiri.


"Kami hanya ingin tau apa yang sedang terjadi, kalau perlu aku akan menghajar bang Farrel kalau dia berani menyakiti kakak,"


Metta menjewer telinga Andra, "Bagaimana kau akan menghajarnya hah, kamu bahkan sudah lihat bagaimana dia berkelahi!"


"Aa...aa sakit kak," Andra menggosok pelan telinganya yang memerah.


"Pokoknya aku tidak akan diam saja jika terjadi apa-apa sama kakak."


"Uuuh ... sayang, adik-adik kakak," Metta menarik tubuh Andra dan juga Nissa, dilaluinya mereka berdua.


"Kak, lepas ...iih!" Andra bergidik, sementara Nissa terkikik. Ibu hanya menggelengkan kepalanya, melihat anak-anaknya berpelukan.


"Sudah kalian istirahat sana, ini sudah malam!"


Mereka pun keluar dari kamar ibunya, Metta berjalan ke kamarnya yang terletak paling depan, sementara Andra dan Nissa beriringan menuju kamarnya yang bersebelahan.


"Bang, ada yang aneh gak dari kak Sha?" Nissa bergelayut pada lengan kakak laki-laki nya itu.


"Aneh gimana, hem!" melepaskan tangan Adiknya.


"Kakak gak pernah bilang sayang-sayang begitu, peluk-peluk kita seperti tadi."


Andra mengernyit, " Iya juga... Kakak kan biasa nya galak ya.." Nissa mengangguk.


Sementara Metta masuk kedalam kamarnya, dilihatnya Dinda sudah terlentang di atas ranjang. bahkan dengan posisi kaki yang mengangkang. Menghabiskan ruang ranjang yang tidaklah besar itu.


"Astaga ... ini anak!" Metta menggeser tubuh Dinda namun tidak bergeser sedikitpun.


"Ah...My Sweety ice, aku akan membayar hutangku dengan hidupku." gumam Dinda dalam tidurnya.


"Ngomong apa sih dia?" Samar-samar Metta memperhatikan sahabatnya itu.


"Seperinya ada yang tidak beres sama dia!"


.


.


Jangan lupa like dan komen, rate 5, Fav juga yaa.. dukung terus karya receh Author ini.


Dan Author berterima kasih banyak buat segala dukungan kalian. bahkan Author senang bacain komentar-komentarnya dari kalian..hihi (lebay ya tapi kenyataannya begitu..)


Makasih yaa lope lope sekebon atuk dalang 🤣🤣❤❤

__ADS_1


__ADS_2