Berondong Manisku

Berondong Manisku
Doble pesta 2


__ADS_3

Farrel mengangguk, "Itu hadiah pertunangan dariku, dan aku akan mengambil hadiahku sekarang juga."


Metta terlihat tidak tenang berada diatas panggung itu, "El, aku takut ...." gumamnya.


"Tenanglah, mereka juga tidak apa-apa! lihatlah kedepan, tegakkan bahumu."


Dengan takut-takut Metta melihat kearah tamu undangan, dengan memegang erat tangan Farrel.


"Benarkan? mereka tidak apa-apa juga. Apa yang kakak takutkan selama ini. Hem?"


Benar juga, mereka tidak apa-apa kalaupun mereka sudah tahu. Aku yang terlalu berlebihan.


Dilihatnya Ibu serta 2 adiknya, berkumpul bersama


Keluarga Farrel. Tampak kebahagiaan diwajah mereka, bahkan Ayu sampai menangis karena bahagia.


Metta tak kalah haru nya saat Farrel mengeluarkan kotak kecil ber isikan cincin didalamnya, dengan lembut dia pasangkan di jemari kecil Metta.


"Hatiku sudah menemukan belahannya, bukan hanya sekedar singgah, tapi tempatku menepi dan menetap, kamu lah tempatnya, seperti cincin ini yang menemukan pemiliknya."


Suara tepuk tangan bergemuruh dalam ruangan itu, Saat Farrel berhasil memasangkan cincin nya.


Cium


Cium


Suara-suara menggema menyuruh Farrel mencium Metta diatas panggung. Membuat wajah Metta yang sudah memerah itu semakin panas, rasa malu yang menjalar bercampur haru dan bahagia, yang tak pernah dibayangkannya, hingga tak mampu berkata apapun.


"Inilah hadiahku," Farrel terkekeh.


Metta membulatkan manik hitamnya, bagaimana mungkin hadiah yang diinginkan Farrel ternyata menciumnya didepan umum seperti ini, dengan kilatan kamera dari mana- mana.


"Aku ingin seluruh dunia tahu, kau milikku dan aku milikmu. Hingga tak ada yang berani merebutmu dariku begitupun sebaliknya." imbuh Farrel lagi.


Metta tersenyum, Farrel kemudian mendekatkan wajahnya kearah Metta, kilatan kamera semakin menjadi-jadi, mengarah pada moment yang paling ditunggu.


Metta memejamkan matanya, sesaat kemudian Benda kenyal itu menempel dengan sangat lama tepat dikeningnya. Dan terdengar kembali suara tepuk tangan.


Eeeh... ku kira dia akan mencium ku di bibir, ternyata aku salah. Metta terkikik dalam hati.


"Ciuman dibibirmu akan kutagih setelah acara selesai, aku tidak ingin membuat mereka tahu kalau kakak itu nakal." bisik Farrel di telinga Metta kemudian berseringai, seolah tahu apa yang sedang difikirannya.


Sementara Metta tersenyum, "Jangan macam-macam El."


Sementara disalah satu kursi tamu, tampak tiwi dengan kekesalannya, mengepalkan tangannya dibawah meja, menatap tajam keduanya diatas panggung.

__ADS_1


"Wanita tidak laku itu mencuri start diam-diam, ternyata dia lebih licik dariku!" gumam Tiwi.


"Apa yang kau katakan? jangan berulah, atau kau berurusan denganku." ucap Doni menatap tajam kearahnya.


Tiwi menatap Doni tak kalah tajam, sementara Doni berseringai, " Bukankah kau ingin membuatku nyaman, mari kita lanjutkan permainan kita tempo hari, bukankah kau sangat menikmatinya?"


Perkataan Doni membuat Tiwi geram, pasalnya dimeja mereka bukan hanya berdua, melainkan ada beberapa orang yang divisi dengannya, Tiwi bangkit dari duduknya, dan berlalu dari sana, membuat Doni dan semua yang ada dimeja itu tergelak, begitupun dengan Dinda yang tertawa puas melihat kekecewaan dari Tiwi. Dan kembali menatap sahabat-sahabat mereka yang masih diatas panggung.


"Ah... Sha beruntung sekali kamu! Aku ikut bahagia." Dinda menyeka bulir bening yang turun di pelupuk mata dengan ibu jarinya.


"Hm ... ternyata si bayi segentle itu." imbuh Doni.


.


.


Acara pun berakhir, kini yang tersisa hanya keluarga saja. Mereka berkumpul dalam 1 meja dan menikmati malam itu dengan berbagai hidangan dan juga obrolan hangat.


Sementara Metta yang masih belum percaya tengah menatap langit hitam yang dipenuhi bintang-bintang. Suasana yang paling dia sukai. Ketenangan dan kedamaian.


"Sayang, sedang apa disini hem?" Farrel memeluknya dari belakang.


Metta tersentak dan menoleh, lalu kembali menatap langit. "El ... aku hanya belum percaya bahwa hari ini hari pesta ulang tahunmu juga pertunangan, bukankah seharusnya bulan depan?"


"Hari ini maupun bulan depan sama saja, kan?"


"Tak usah kakak fikirkan, toh sekarang yang penting adalah kita resmi bertunangan." Farrel terkekeh.


"Tapi bukankah kau sudah memesan gaun dibutik milik mamanya Tasya."


"Iya ... dan gaun yang kakak pakai ini lah rancangan khusus Tante Dewi."


"Benarkah? pantas saja ibu sangat memaksaku memakai gaun ini,"


"Tante Dewi membuat gaun ini di paris, sesuai permintaanku," Farrel mengecup bahu Metta dari belakang. Hingga darahnya mendesir.


Metta membalikkan tubuhnya menjadi berhadapan.


"Pantas saja, Kamu selalu berbuat seenaknya, lihatlah kau membuatku malu sekali malam ini."


Dia menunjukan gaunnya yang menurutnya terlalu sexy, dengan bahu yang terlihat dan setengah punggung nya terpangpang nyata.


"Tapi kakak sangat cantik." Merekatkan tangannya dipinggang Metta.


Membuat wajah Metta semakin merona, "Terima kasih El."

__ADS_1


Farrel mendekatkan wajahnya, dia meraih dagu Metta hingga jarak mereka semakin dekat, Metta mendorong dada Farrel dengan kedua tangannya.


"Aku lupa memberikan hadiah untuk mu, tunggu sebentar." ujarnya dengan berlari kecil.


Farrel berdecak, "Dasar kakak!"


Metta kembali setelah mengambil hadiah kecil untuk Farrel.


"Aku tidak punya ide memberimu hadiah, kamu punya segalanya dan itu membuatku bingung. Kau boleh memakainya atau kau hanya simpan saja, tidak masalah. Asal jangan dibuang," kelakar Metta saat menyerahkan kado itu pada Farrel.


"Aku boleh membukanya sekarang?"


"Bukalah ..."


Farrel membuka kado itu, sebuah kotak berisi jam tangan dengan inisial F. Farrel tersenyum dengan hadiah kecil dari Metta. "Lucu sekali..."


"Selamat 20 tahun sayang,"


"Selamat bertunangan kita." balas Farrel.


Lalu dia membuka jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dan memasangkan jam pemberian Metta.


"Biar aku pasangkan." Metta menarik nafas perlahan.


"El ... aku memang tidak bisa memberikan hadiah istimewa atau mahal padamu, aku hanya mampu memberikan waktu yang akan aku habiskan bersamamu, menemani langkahmu kemanapun kamu pergi, berada disisimu apapun keadaannya, sama seperti jam tangan ini. Dia akan terus berputar di pergelangan tanganmu, seperti aku yang akan terus menggenggam tanganmu." Ucap Metta.


Farrel terenyuh, dia menarik tubuh Metta kedalam dekapannya. "Terima kasih sayang, hadiah ini adalah hadiah terindah dalam hidupku."


Farrel menatap lekat wajah wanita yang baru beberapa jam berubah statusnya menjadi tunangan. Menyusupkan tangannya dicelah ceruk lehernya lalu mencium bibirnya dengan lembut, hingga ciuman itu berubah menjadi menggelora, Metta merekatkan tangannya mere'mas ujung jas yang dikenakan Farrel, Saat darah nya mendesir hebat, dan hatinya penuhi gelitikan kupu- kupu beterbangan.


Mereka berciuman dibawah sinar rembulan, memadu kasih yang tidak akan pernah padam, malah akan menguat seiring niat dan janji suci yang terpatri di hati mereka. Bisa saling mengisi dan menemani, hingga waktu mempersatukan mereka secara sempurna.


Farrel mengecup kening Metta sangat dalam dan lama, "Terima kasih sayang, I love you so much...!"


"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu sayang, atas seluruh cinta dan perjuanganmu. I love you too."


"Kakak juga ternyata bisa seromantis itu padaku." Farrel terkekeh.


Metta tergelak, "Hem, ternyata aku bisa juga."


Bahkan aku terus berlatih selama beberapa hari didepan kaca seperti orang gila. Memalukan sekali.


.


.

__ADS_1


Terima kasih untuk kalian yang tidak pernah bosan like dan komen, serta dukungannya pada karya receh ini.


Lope lope..


__ADS_2