Berondong Manisku

Berondong Manisku
Muak


__ADS_3

BRAK


Bastian menggebrak meja kerjanya, dia tidak menyangka hari ini adalah hari terakhirnya bekerja.


Parahnya lagi dia dipecat dengan tidak hormat, dan tanpa tunjangan sepeser pun.


Santer terdengar pemecatan dirinya, para karyawan


ramai membicarakannya. Namun alasan pemecatan dirinya tidak ikut mencuat. Dan dengan janji Alan, perusahaan menutupi kesalahannya.


"Kau ingin bermain main denganku?"


"Berikan semua informasi yang kau tahu dan ikuti permainanku"


Keringat dingin bercucuran, dengan tubuh yang menegang kala dirinya berhadapan dengan Alan.


"Aku tidak akan menjebloskan mu ke penjara, itu terlalu mudah untukku"


"Bahkan kau sudah tau apa yang ku punya"


Perkataan Alan kemarin masih jelas diingatannya, tanpa ekspresi, apalagi basa basi dengan sorot mata tajam bak menusuk ulu hati.


Dengan segala penyesalan Bastian mulai membereskan barang barangnya, memasukkan satu persatu kedalam box, entah apa yang akan dia katakan pada keluarganya dirumah.


Bastian menatap ruangan yang selama ini menjadi miliknya dikantor, menyentuh kursi empuk yang selama ini menjadi kuasa nya. Dengan gontai dia keluar dari ruangan.


Entah sudah berapa pasang mata melihat kearahnya saat dia berjalan keluar, berbisik bisik bahkan mungkin berspekulasi alasan apa yang membuatnya dipecat.


Bastian menundukkan kepalanya, dia sudah tidak punya kekuatan untuk menegakkan bahunya sekalipun.


"Pak Bas?"


Bastian menoleh kearah Metta yang memanggilnya, namun dengan cepat dia kembali berjalan tanpa mempedulikan Metta yang terus memanggil.


"Kenapa dia?"


"Aneh sekali" Metta kembali berjalan ke ruangan kerjanya.


"Kenapa lo kayak orang bingung?"


"Gue tadi berpapasan sama Pak Bas, tapi dia cuma lihat gue sekilas lalu buru buru pergi"


Dinda menyenderkan tubuhnya di pintu ruangan, menghalangi pintu agar tidak ada orang yang tiba tiba masuk.


"Dia dipecat karena korupsi" bisiknya pada Metta.


"Fitnah jatohnya dosa lo"


"Eh bu ustadz, gue gak fitnah, tapi yang gue denger gitu"


"Lo gak tau ini berita lagi hangat hangatnya, viral ini"


"Ngalahin gosip lo yang di gendong pria ganteng tempo hari Sha"


Metta mengerdikkan bahunya tak perduli dan berjalan menuju meja kerjanya. Sedangkan Dinda mengekor dibelakangnya setelah membuka kembali pintu yang ditahannya.


"Lo percaya gak Sha?"


"Percaya apanya?"


"Elah gue ngomong apa dari tadi?"


"Entahlah gue gak bisa menerka, bisa iya bisa tidak. Yang jelas pasti ada masalah besar"


"Terus yang gantiin Pak Bas siapa dong?"


"Lo aja bagaimana? biar kerjanya gak ghibah mulu"


"Sialan emang lo" sungut Dinda.

__ADS_1


"Udah sana kerja, jangan gosip mulu" Metta mendorong bahu Dinda dan menekannya hingga sahabatnya itu terduduk di meja kerjanya.


"Sakit bego"


Metta tidak peduli, dia kembali ke tempatnya.


"Apa bener korupsi?"


"Tapi dia sering banget minta laporan ke gue, ah gak faham gue"


Metta mendaratkan tubuh di kursi, mulai menghidupkan layar monitor di depannya, dan bersiap dengan segala pekerjaan yang harus dikerjakannya.


Hingga waktu terus berputar, Metta masih setia didepan monitornya, dering ponsel mengagetkannya. Metta meraih ponsel dan mengangkatnya tanpa melihat siapa yang meneleponnya.


"Halo sayang"


Sontak Metta menjauhkan ponsel dari telinganya, kemudian melihat layar ponsel yang masih menyala. Jelas tertera nomor tidak terdaftar di sana. Lantas Metta merapatkan kembali ponsel itu pada telinganya.


"Kau kaget hem"


"Mau apa lagi kau?"


"kenapa terus menggangguku?"


"Aku hanya ingin mendengar suara indahmu"


"Kau gila"


"Jangan tutup telponnya, bukankah kamu ingin tau dengan siapa kamu bekerja?"


"Sudahlah, apa kau tidak bisa berhenti menggangguku?"


"Maaf tapi aku tidak bisa berhenti sebelum kamu kembali padaku"


"Temui aku di cafe xx jam 1 siang nanti sayang"


"Kalau tidak aku akan nekat datang ke kantormu"


Faiz menutup ponsel tanpa menunggu Metta selesai menjawab.


"Sialan"


Metta merasa dirinya diancam, tidak pernah terfikir


kenapa Faiz yang dulu begitu lembut memperlakukannya, kini berubah menjadi orang yang tidak berperasaan.


Metta melirik jam tangannya, menunjukan waktu dan waktu tersisa hanya 15 menit lagi. Metta meraup wajahnya, tidak ingin membayangkan Faiz datang ke kantornya dan membuat keributan.


Tanpa berfikir panjang Metta menyambar tasnya dan pergi begitu saja.


"Pasti terjadi sesuatu" ucap Dinda saat melihat sahabatnya itu pergi dengan terburu buru.


15 menit kemudian


Metta masuk kedalam cafe yang dikatakan Faiz. Memutar kedua maniknya mencari sosok yang sekarang dibencinya. Terlihat Faiz menyunggingkan bibirnya saat melihat wanita pujaannya.


"Maafkan aku Sha, aku akan lakukan apapun agar kamu bisa kembali seperti dulu lagi"


Metta menghampiri pria yang tengah menunggunya itu, "Katakan apa yang ingin kau katakan"


Faiz berdiri menyambut Metta "Akhirnya kamu datang juga sayang"


"Berhenti memanggilku begitu, kalau tidak.."


"Kalau tidak apa?"


"Kau benar benar sudah gila"


"Benar, aku semakin gila karenamu. Aku benar-benar menyesal karena mengikuti keinginan Ayahku"

__ADS_1


"Hingga akhirnya aku kehilanganmu"


"Hentikan omong kosongmu itu"


"Kenapa kamu semakin galak seperti ini Sha?"


"Tapi aku semakin menyukainya" Faiz meraih tangan Metta.


"Stop, jauhkan tanganmu"


"Kalau tidak ingin aku menyentuhmu, lebih baik kita makan dulu. kamu pasti belum makan bukan?"


Faiz menyeringai, saat melihat Metta hanya terdiam, dia lalu menarik kursi untuk Metta duduki.


"Aku sudah memesan makanan kesukaanmu"


Metta melihat Faiz dengan jengah, "Astaga dia bener benar membuatku muak"


Dengan terpaksa Metta duduk, tidak lama kemudian hidangan yang dipesan Faiz pun datang.


"Silahkan, mas, mbak" ucap pelayan yang mengantarkan makanan.


Faiz mengangguk "Terima kasih"


Sementara Metta tak bergeming, dia tak peduli melihat hidangan yang sudah tersaji diatas meja.


"Makanlah, bukankah ini makanan favoritmu. Cumi saus pedas dengan extra onion diatasnya."


"Kau salah, aku bahkan sekarang sudah tidak menyukai makanan ini" Metta mendorong piringnya ke tengah meja.


"Benarkah?"


"Seingatku ini makanan yang paling kamu sukai sayang, dan kamu akan merengek saat ingin memakannya"


"Benarkah, aku bahkan tidak ingat apa apa, apa kau yakin itu aku?"


"Aku rasa kita hanya membuang waktu percuma,"


Metta beranjak dari kursi, dia sudah muak dan tidak ingin peduli apapun yang Faiz katakan.


"Farrel"


"Bocah itu bukan? yang membuatku berubah seperti ini?"


Metta memejamkan mata, "Apa pedulimu?"


"Kau sungguh membuatku muak"


"Kau tau rahasia apa yang disembunyikan bocah itu darimu?"


"Apa maksudmu?"



Mettasha Kalyna, 26 tahun


Anak pertama dari 3 bersaudara, menjadi tulang punggung keluarga semenjak sang ayah meninggal. Cuex, galak, dengan harga diri yang dijunjung tinggi, dan tidak suka berbasa basi.


Mandiri dan tidak ingin terlihat lemah.


.


.


.


Jangan lupa like, komen, disetiap bab nya dan rate 5 untuk karya recehan ini. Dukung terus author remahan ini dengan masukkan karya ini di Fav kalian yaa.


Terima kasih buat yang udah kasih referensi buat visual Metta, dengan banyak pertimbangan dan hasil semedi yang lama🤣. Author akhirnya menemukan visual yang cocok menurut author.

__ADS_1


Lope lope buat kalian😘


__ADS_2