
Bunda mengernyit, merasa heran. Kenapa Farrel hanya manja pada Istrinya saja, sementara padanya terlihat biasa saja.
"Bunda pulanglah, aku tidak apa-apa, ada kakak yang menjagaku! Aku juga hanya demam saja."
"Iya sakitnya hanya demam saja, hanya butuh istirahat saja, tapi manja mu itu apa tidak berlebihan, kasihan istrimu, kau seperti bayi saja!" gumam Ayu.
Farrel kembali menyuap bubur buatan Mac, entah rasanya seperti apa, namun di lihat dari cara dia makan, dipastikan bubur itu rasanya enak.
"Ya sudah lebih baik kita pulang bun, biar dia bisa istirahat, nanti suruh Mimah ke sini saja, dia akan membantu istrinya menyiapkan semuanya."
"Ayah benar, bunda pulanglah, jangan khawatirkan aku, nanti juga sembuh! Yah...." Ujar Farrel yang masih terlihat lahap memakan bubur itu.
"Baiklah, Bunda akan pulang. Setelah menantu bunda selesai mandi!"
Farrel mengangguk.
Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, Metta sudah berpakaian santai, dia hanya memakai celana pendek selutut dan juga kaos kebesaran,
"Sayang, bunda mau bicara sebentar, mungpung suamimu sedang tidur."
.
.
"Sayang, bunda mau tanya sesuatu sama kamu? Apa kamu sudah mendapat jadwal bulanan mu?" tanya Ayu saat mereka duduk di meja makan.
Meninggalkan Farrel yang tengah tidur setelah meminum obat.
"Maksud bunda apa jadwal bulananku?"
Arya berdecak, "Bunda, bicara yang jelas, jangan membuat nya bingung!"
"Aduuhh...bunda kan tadinya tidak ingin membuatnya merasa risih saat mendengarnya yah," ucapnya menoleh pada suaminya yang duduk di sofa, yang menghadap belakang meja makan.
Kemudian Ayu kembali beralih menatap Metta, "Maksud bunda, kamu sudah mendapat menstruasi belum bulan ini?" ucapannya menohok Metta.
Dengan menggelengkan kepalanya pelan, "Belum bun, ta--"
Wajah Ayu terlihat berbinar, "Segera cek ke dokter ya, atau cek mandiri saja dulu! biar tahu."
Metta menghela nafas, "Bukan maksud ku begini bun, semenjak aku menikah, jadwalku sedikit berubah tidak menentu, aku juga pernah melakukan test mandiri tapi hasil nya negatif, memangnya kenapa bun?"
Ayu menghela nafas kecewa, "Kamu cobain bubur buatan Mac ini, bunda lihat dia makan dengan lahap!"
Ayu meminta Metta menyicip bubur buatan Mac didalam mangkuk, dan tersenyum kecut saat sesendok bubur masuk ke dalam mulutnya.
"Gimana? Rasanya aneh kan? Dan Farrel makan dengan lahap." ujarnya terkikik.
Benar juga, Farrel justru menghabiskan semangkuk bubur ini, dan tidak mengatakan apa-apa setelahnya.
"Mungkin menurutnya bubur ini enak, hanya saja lidahnya yang masih pahit, jadi dia tidak merasa ini tidak enak." Jawab Metta tidak ingin berharap banyak seperti apa yang di pikirkan mertuanya.
"Itu alasan yang lebih tepat dari pada bunda yang mengira- ngira, tapi juga alangkah baiknya jika kamu periksa saja untu memastikannya." ujar Arya dengan bijak.
Ayu mengelus lengan Metta, "Ayahmu benar, tidak ada salahnya kan?"
Metta mengangguk, "Iya Bun, nanti aku akan mengeceknya. Mungkin menunggu Farrel sembuh dulu!"
Ayu menarik bibirnya melengkung,
"Iya ... kabarin Bunda yaa, apapun hasilnya tidak perlu khawatir, bunda tidak ingin menekanmu,"
.
.
Setelah kedua orang tua Farrel pulang, Metta kembali naik ke atas menuju kamar, terlihat Farrel yang masih tertidur pulas dengan memeluk guling. Dia duduk di tepi ranjang dengan sangat hati-hati, tidak ingin membuatnya bangun, dan menatapnya dengan lekat.
Tidak bisa membayangkan jika apa yang dikatakan oleh Bunda benar adanya, Farrel akan menjadi seorang ayah di usia muda.
Tangannya terukur mengelus perutnya sendiri, membayangkan dirinya mengandung anak dari pria yang dia cintai namun terasa menggelikan saat membayangkan kembali Farrel menggendong anak nya, Huh... nanti terlihat seperti adik dan kakak, curang
Tak lama kemudian
Ibunya datang setelah mendapat kabar menantu kesayangannya sakit, Sri datang dengan Nissa, sementara Andra yang tengah sibuk mempersiapkan ujian akhirnya sekolah tidak bisa ikut datang.
"Kak Sha, bang Farrel sakit apa?" ujar Nissa ketika pintu baru saja dibuka.
"Masuk dulu dek, kayak salesgirl aja maen tembak di depan pintu." ujar Metta terkekeh.
Dia langsung menyalami ibunya dan menggandengnya masuk ke dalam.
"Bagaimana keadaan suamimu? Katanya sudah diperiksa dokter? Sakit apa?" ucap Sri dengan memberondong pertanyaan.
__ADS_1
"Ibu, satu-satu! Yang mana dulu yang harus aku jawab?"
"Makanya jawab kak, lama amat sih!udah kayak nunggu contekan temen!" cibir Nissa.
"Iihh...kau ini dek! Dasar tukang kompor." ujarnya dengan mencubit pelan pipi Nissa.
Dia meringis, kemudian menepiskan tangan kakaknya, "Sakit kak!"
Sri mengusap punggung tangan Metta, "Mertuamu juga bilang, ada kemungkinan kamu tengah isi, semoga benar yaa, sayang!"
"Isi apaan bu? Emangnya bakwan? Atau cilok...?" sela Nissa.
"Nissa, kamu ih!"
Nissa terkekeh, "Habisnya ibu memakai kata-kata yang sulit dimengerti, 'Isi', apa bikin otakku berfikiran isi makanan,"
"Nissa!!" ujar Ibu dan kakak nya berbarengan.
.
.
"Aku tidak yakin bu, aku juga tidak merasakan apa-apa, sehat-sehat saja selama ini!" tukas Metta dengan meletakkan minuman dan camilan di atas meja.
Tak lama kemudian
"Kakaak!!"
Metta menghela nafas, sementara Ibu Sri hnyaa mengangguk, berbeda dengan Nissa yang tergelak mendengarnya.
"Big baby mu bangun kak!"
Metta berjalan naik, lalu masuk ke dalam kamar.
"Sini, kenapa kakak pergi,"
"Ada ibu sama Nissa dibawah El."
"Eehhmm," gumamnya dengan kembali memeluk Metta,
"Aku pusing," ujarnya lemah.
"Iya, setelah ini kamu minum obat lagi yaa, aku akan mengambil minum untukmu dulu."
"Katanya pusing, ya kamu harus minum obat, biar cepet sembuh ya."
Farrel membalikkan tubuhnya, "Aku tidak mau kak! Sudah kakak keluar saja, bukankah ada ibu dan juga, Nissa."
Metta menghela nafas, "El...."
"Sudah kakak lakukan saja! Aku ingin tidur." ucapnya dengan memeluk guling.
"Ya ampun, menyebalkan sekali! Dasar...." gumam Metta.
"Jangan mengumpat kak, aku mendengar nya!" seru nya dari balik guling, dia menenggelamkam wajahnya sendiri di dalam bantal.
Metta kembali keluar, dan berpapasan dengan Sri yang hendak mengetuk pintu kamar.
"Sha ibu mau melihat menantu ibu,"
Metta merengkuh bahu ibunya, " Mending gak usah bu! Dia sedang nyebelin! Sikapnya aneh,"
Tak disangka sang ibu malah tersenyum, "Lebih baik kamu ke dokter secepatnya Sha, biar suamimu itu segera sembuh."
"Dia yang sakit kenapa aku yang harus diperiksa,"
Ibu mengelus punggung tangannya, "Percaya sama ibu, dan ibu mertua mu. Secepatnya ya sayang, sakit suamimu itu tidak ada obatnya."
"Ibu, jangan menakutiku, separah apa sakitnya sampai tidak ada obat begitu!"
.
.
Tiga hari berlalu
"Sayang, suhu badan mu naik turun terus, sepertinya aku memang harus diperiksa?" ujar Metta dengan tersungut.
Farrel terus menempel, bahkan untuk sekedar makan saja, Metta harus makan disampingnya, hingga bunda Ayu harus mengirim Mimah untuk membantunya.
Tiga berlalu namun tidak ada juga perubahan dari Farrel, sikap manja nya bahkan semakin menjadi.
"Sha, ikut bunda yuk! Kita ke rumah sakit saja."
__ADS_1
Farrel mengenadahkan kepalanya, "Memangnya kakak sakit apa? Gara-gara aku yaa, maaf yaa kak."
"Pasti kakak kecapean, ngurusin aku!" pungkas nya lagi.
Ayu mengulum senyum, "Iya jelas gara-gara kamu, lantas gara-gara siapa! Kau ini...."
"Ayo siap-siap kau juga ikut saja, sekalian diperiksa." ujarnya Ayu kemudian.
Mereka akhirnya pergi ke rumah sakit, selain ingin memeriksa Farrel, mereka juga ingin memastikan kecurigaan mereka karena tingkah Farrel yang aneh.
Mereka masuk ke dalam ruangan dokter bertuliskan,
...Dr spesialis kandungan...
"Ngapain kita kesini bun? ruangan om Frans kan disana,"
"Om Frans menunggu kita di dalam! Ayo masuk."
Membuat Farrel melirik Metta yang mengerdikan bahunya.
"Sayang, kau tahu sesuatu?" tanyanya penasaran.
"Nanti kita akan tahu El, katanya penyakit kamu sulit disembuhkan?" jawab Metta yang melingkarkan tangan di lengan Farrel.
"Hah....?"
"Huum ....!"
"Jadi mereka akan memeriksaku di bagian apa?"
Mereka lantas masuk ke dalam,
"Wah, rombongan yaa ini!" ujar Dokter spesialis kandungan yang tengah duduk.
"Iya dong Mar, bagaimana lagi, harus sama Bunda yang menyertai." timpal dokter Frans terkekeh, yang berdiri disamping Mariska. Dokter kandungan sahabat Dr Frans.
"Iya... begitulah! Kau ini membuat aku malu saja." tunjuknya pada Frans.
"Silahkan duduk...." ucap dr Mariska.
Terlihat dokter Mariska dan dr Frans tengah mengobrol, sementara Ayu duduk disamping Metta dan Farrel.
"Ngomongin apa sih mereka!" gumam Farrel yang tidak sabar ingin tahu penyakit apa yang dideritanya, sampai sampai tidak ada obat.
Dr Mariska terlihat mengangguk, lalu dia membalikkan tubuhnya dan menghampiri meja kerja nya.
"Aku sudah dengar dari Dr Frans, jadi bisa kita mulai pemeriksaannya sekarang?" ucapnya.
Mariska pun mengajak Metta untuk mengambil sample urine yag ditampung ke dalam sebuah wadah kecil, sedangkan Farrel menoleh ke arah ibunya.
"Aku yang sakit, kenapa kakak yang diperiksa?"
"Diam saja, nanti kau akan tahu."
Metta keluar dari toilet dan memberikan sample itu pada seorang perawat yang berada disana menunggunya.
"Silahkan berbaring dulu, aku mau memeriksamu, sekalian kita tunggu hasil nya yaa." ujarnya melirik Ayu.
Ayu mengangguk, Farrel masih menatap tidak mengerti.
Dr Mariska tak berhenti tersenyum, membuat Metta salah tingkah, dia hanya mengulum senyum saat Dr Mariska memeriksanya.
Tak lama kemudian
Perawat itu kembali, lalu menyerahkan benda pipih pada dr Mariska,
"Sudah ku duga!"
"Bagaimana dok?" tanya Ayu penasaran.
"Selamat kak, anda sebentar lagi jadi Oma."
Ayu menutup mulutnya menggunakan tangan, dengan wajah berseri bertanda kebahagiaan, sementara Farrel melongo, menatap Metta yang juga menatapnya.
"Maksud Tante, kakak hamil?"
"Apa dok, aku hamil?"
"Tentu saja, kenapa kalian sekaget ini saat tahu akan punya anak?" Tukas Ayu yang terheran saat melihat Farrel maupun Metta yang hanya saling memandang.
"Kakak Hamil? Anakku?"
Metta mengangguk, ujung matanya terasa perih, dia terharu.
__ADS_1
"Tentu saja, dasar bodoh!"