
"Memangnya Mas tidak bisa menunggu lagi? Waktunya juga tidak akan lama lagi Mas, lagipula semua sudah beres, hanya tinggal menunggu Andra pulang saja kan," Ungkap Mac panjang lebar.
Farrel menyandarkan kepalanya, "Yah...Aku tidak sabar ingin melihat kecebong terbang seperti kata mu,"
"Astaga Mas ...Perkataan ku tadi jangan dianggap!"
Duh bagaimana ini yah, jangan sampai jadi masalah kedepannya gara-gara terpengaruh ucapanku.
"Lagi pula untuk apa menahan lama-lama, yang ada bisa-bisa kita melakukan sesuatu hal yang melebihi batas, haiisshh." ujar Farrel meraup wajah.
Jika saja kakak sama dengan ku, kita sudah melenceng kemana-mana, bahkan mungkin kecebong terbang dengan bebas. Untung saja kakak selalu mengingatkanku.
Hanya dengan mengingatnya saja membuat ku rindu.
Batin Farrel, dengan bibir yang melengkung, membentuk sebuah garis yang manis.
Sementara Doni yang pulang dengan mengendarai mobil kantor dan bersikap impulsif saat menerima tawaran dari sahabatnya, kini dia harus kelimpungan, pasalnya bagaimana caranya? Mempercepat pelatihan.
Sial, sepertinya si bayi besar sedang menjebakku. gumam Doni dengan memukul stir mobil.
Doni melesatkan mobilnya mengarah ke suatu tempat, tempat yang selalu menjadi teman dikala gundah nya. Tak lama kemudian dia menepi disebuah club. Club malam yang cukup terkenal dikota.
Doni masuk kedalam tempat yang biasa dia datangi, kedua manik hitamnya menyapu ruangan yang dipenuhi spotlight warna-warni dan musik dari seorang DJ (Disc jockey) diatas panggung, dengan orang-orang yang tengah membutuhkan penghiburan, tempat dimana penuh dengan aroma minuman memabukkan, dan sekelumit dunia malam beserta hingar-bingarnya.
Mengunjungi club malam bukanlah hal yang aneh bagi Doni, jauh dari pantauan orang tua dan lingkungan yang membuatnya tidak asing lagi dengan dunia malam, meski harus bersaing dengan segudang prestasi yang dimilikinya untuk bertahan di kota dengan keterbatasan finansial.
Kedua bola mata Doni mengunci sosok yang tidak asing lagi, dengan mengernyit dia melihat seseorang dan memastikannya. Doni memperhatikan dari kejauhan, gadis yang selalu membuatnya muak saat melihatnya.
"Tiwi...?" gumamnya.
Doni masih diam, dia lantas mencari meja yang kosong untuknya duduk. Namun memudahkannya melihat Tiwi yang tengah berdebat dengan seorang bartender. Tak lama kemudian dia melihat Tiwi yang keluar dengan tersungut-sungut. Membuat nya semakin penasaran.
"Brengsekk...." Tiwi menendang botol minuman dengan keras.
Lalu berjalan keluar dari tempat itu, membuat Doni akhirnya mengikutinya.
"Hei...gagal lagi yaa?" Ucap Doni menyamakan langkah kakinya.
Tiwi menoleh kearahnya, lalu mendengus kesal. Curut
"Hei, aku sedang bicara padamu!"
"Sudahlah, aku malas berdebat denganmu," Ujar Tiwi yang terus melangkah menjauh dari club itu.
"Dih...siapa juga yang ngajak berdebat," ucap Doni yang tetap menyamai langkahnya.
Tiwi terus berjalan, dia tak peduli Doni yang terus mengoceh, yang lama-lama membuatnya kesal.
__ADS_1
"Kau mau apa sih? tanyanya dengan berkacak pinggang.
Doni berseringai, "Temani aku minum,"
Tiwi membuang muka, "Tidak minat, pulanglah..., kau masih terlalu kecil, aku tidak bermain dengan anak-anak." ujarnya sambil berlalu.
Doni mencekal tangannya, dengan sekali dorong dia menghimpit tubuhnya hingga menempel di tembok jalan.
"Kau akan merasakan bagaimana anak kecil ini bermain."
Tiwi terkesiap saat Doni menyambar bibirnya dengan rakus, mencecapnya penuh ga irah, meski dia berkali-kali mendorong dada nya dengan keras, namun semakin kuat pula Doni menghimpitnya, dan semakin dalam pula dia menenggelamkan lidahnya disana, menyusuri rongga dalam itu dengan membuncah, membuat Tiwi akhirnya menyerah dan memilih menikmati dan mengikuti alunan yang memabukkan nya itu.
Tangan Doni terus menyusuri tubuhnya, bergerilya ditempat-tempat yang membuat Tiwi melambung tinggi. Tak dapat dipungkiri, permainan Doni sukses menjadikannya candu, meski sering dibuatnya kesal, tapi kini dia yang tak mampu menolaknya dan menyerahkan diri begitu saja.
Hingga tubuh mereka berputar dan menghilang dibalik pintu sebuah club, tanpa melepaskan tautan kedua benda kenyal yang saling membelit lidah.
Doni melepaskan tautannya saat dirasa kehabisan pasokan oksigen, dengan nafas terengah-engah mereka menahan sesuatu yang semakin menyeruak, Doni kembali menyambar bibir mungil milik Tiwi dan membawanya berjalan masuk kedalam toilet, lalu mengunci pintu toilet tanpa melepaskan lidahnya yang masih saling menari didalam sana.
Doni kembali membawa Tiwi melambung dengan sentuhan-sentuhan tidak terduganya, bibinya kini turun menyusuri leher jenjangnya, hingga sukses membuat Tiwi mengerang, dengan mendongkakan kepalanya, Doni semakin leluasa, kedua tangannya menyusup kedalam dress milik Tiwi, menyentuh benda bulat miliknya yang sudah mengeras, menanti sentuhan.
Doni mencecapnya bak bayi yang kehausan, lidahnya bermain di pucuk benda bulat Milik Tiwi yang berwarna pink, sementara satu tangannya memilin benda bulat sebelahnya,
"Aaaaahhhkkk...."
Tiwi pasrah dan menyerah, tubuhnya menggelinjang akibat sentuhan yang memacu hormon Testosteron-nya ( Hormon yang meningkatkan gairah sek-sual) semakin memuncak, begitu juga Doni, yang tidak bisa mengendalikannya.
Tiwi tak kalah cepat, dia membuka ikat pinggang milik Doni dan menurunkan celananya menggunakan kakinya sendiri.
Hingga senjata laras panjang milik Doni tercetak jelas,
Dengan gerakan perlahan Doni menyibakkan bagian bawah dress nya, tanpa membuka kain penutupnya, sementara tangannya masih betah berada di puncak gunung, dan tangan yang lain mulai menari di balik kain penutup.
"Aaaaahhhkkk, do it bit- ch!! Ssshh....aaaahh."
Namun Doni tak menggubrisnya, dia memilih menyusupkan jarinya dengan menyibak kan sedikit kain penutup itu untuk bermain di permukaan miliknya
"Aaaaahhhakkk...ssshh,"
Tubuh Tiwi semakin menggelinjang, Doni membungkuk dan menenggelamkan kepalanya, sementara tangannya menahan satu kaki Tiwi yang menggantung.
"Ssshh...aaahhh...sialan! Kau menyiksaku, Doni sialan!" lirihnya.
Doni bsrseringai, mendongkakkan kepalnya dan menatap Tiwi yang sudah teramat tersiksa, "Memohonlah padaku!" ucapnya dengan jari yang bermain indah dan memabukkan.
"Ssshh....aaaahh, please do it!! "
"Aku mohon ...Doni!"
__ADS_1
Doni kembali menyapu bagian inti nya yang semakin berkedut dengan lidahnya seperti pemain akrobatik handal
"Oh sh-it...."
Doni menaikkan satu kaki Tiwi yang dia tahan tadi, lalu menghunuskan senjatanya hingga melesak. Bergerak sesuai ritme yang teratur, maju -mundur,-maju -dan semakin maju lebih dalam.
"Aaaaaahhh...."
"Yes go on...."
Hingga akhirnya meledak didalam sana, tubuh Doni menegang lalu tiba-tiba melemah, dengan seringaian di bibirnya,
"Bagaimana menurutmu dengan anak kecil yang tadi kau bilang?"
"Brengsek...." ucap Tiwi dengan menggigit sedikit bibir bawahnya.
Membuat Doni tergelak, dan mencabut senjata laras panjangnya dari dalam sana. Lalu menghilang di bilik toilet. Sementara Tiwi menghembuskan nafasnya kasar.
"Sialan, aku tidak bisa menolaknya." ucapnya seraya menurunkan dress nya dan turun dari wastafel.
.
.
Setelah kegiatan yang menghasilkan sensasi melayang ke angkasa pura itu, kini mereka duduk disebuah meja, menenggak minuman yang baru saja mereka pesan. And you know what?
Mereka melakukannya dengan kesadaran penuh tanpa pengaruh alkohol sama sekali, dan membuat mereka akhirnya salah tingkah sekarang.
"Apa yang kau lakukan tadi?"
"Hah...."
Doni berdecak, "Sebelum kita melakukan hal itu..."
"Aku melihatmu tengah berdebat dengan seorang bartender. Apa dia kekasihmu?"
"Dulu... sekarang udah bukan!" ucapnya singkat.
Doni mengangguk, "Jadi bertemu mantan untuk kembali mengenang masa lalu ceritanya, atau membahas kesalah fahaman yang terjadi di masa lalu."
"Bukan.... Dia lebih brengsek dari pada kau!"
Doni tergelak, "Wow...terima kasih sanjungannya!"
Membuat Tiwi berdecak namun juga menarik tipis bibirnya. lalu kembali hening.
"Kalau kau sendiri?" Ucap Tiwi yang hanya memutar-mutarkan telunjuknya pada ujung gelas.
__ADS_1
"Aku sedang mencari orang."