
ingin rasanya berlari sejauh mungkin,
lalu bersembunyi, atau
menghilang sekalian tanpa jejak.
.
^ Mettasha Khalyna^
.
.
Setelah kejadian yang membuat jiwa itu kembali rapuh, kini Metta kembali harus berjuang menata hatinya. Tiga hari sudah ia tak kembali pulang ke rumah, akan banyak pertanyaan ketika raut wajah nya tak bisa disembunyikan.
" Sha, lo mau gini terus? cerita ada apa ke gue, gue bingung ini liat kondisi lo kayak gini" Ucap Dinda menyentuh lengan sahabatnya yang tengah termenung.
" Kenapa?lo gak suka gue nginep ditempat lo?" Metta berbicara dengan pandangan mata tertuju keluar jendela kamar di apartemen milik Dinda.
" Cx, bukan gitu Sha, gue bingung mesti apa, gimana, apalagi loe udah 3 hari ijin kerja"
" Biasanya Farrel yang akan nganterin gue kerja" batin Metta,
" Gue udah ijin kok, lagian jatah libur gue masih banyak kan, lo gak usah khawatir"
" Yang gue khawatirin tuh diri lo Mettasha" Metta masih tak mengalihkan pandangan nya.
" Ayolah Sha jangan menyiksa diri lo"
" Farrel pasti akan bilang kakak jangan menahan apa yang ingin kakak katakan"
"Sha," Dinda mulai berteriak," Lo denger gak gue ngomong apa?"
" Iya gue denger kok El" Metta meleos lalu berlalu meninggalkan Dinda yang tengah melongo.
" Astaga, gila apa dia?"
.
.
Pepatah sering mengatakan kita akan merasa kehilangan seseorang setelah orang itu pergi. Rasa bahagia yang di ciptakannya, rasa nyaman yang diberikannya, lambat Metta menyadari arti kehadiran Farrel selama ini, yang memberi warna pelangi di hidupnya.
Berkali kali Farrel menghubungi Metta, tapi tak pernah sekalipun dijawabnya. Ratusan chat dan panggilan telpon diabaikan nya. Dia tidak ingin menambah membuat luka di hati Farrel, begitupun di hatinya.
"Apa ini ada hubungan nya dengan Farrel?" ucap Dinda diambang pintu.
Dengan mengerdikkan bahu Metta menghempaskann tubuhnya disofa." Enggak ada.."
" Udah deh, lo bahkan panggil gue El" Dinda ikut mendaratkan tubuhnya disamping Metta.
" Kapan?" Metta menatap sahabatnya.
" Lo udah 3 kali panggil gue dengan nama El, dan gue..."ucapan Dinda.
" Gue memilih mundur" lirih Metta menyela pembicaraan Dinda.
"Mundur, mundur gimana maksudnya?"
" Gue dan Farrel ketauan saat sedang ..." Metta menghentikkan ucapannya, dan beralih menatap Dinda.
__ADS_1
" Gak mungkin kan hanya karena ..!"
" Apa sih, kalau mau cerita yang lengkap" Dinda menyodorkan cangkir berisi teh pada Metta.
" Nih minum"
Metta menenggak minuman nya hingga tandas, dan menyerahkan cangkir yang telah kosong pada Dinda,
" Nih.."
"Ngelunjak lo lama lama" ucap Dinda menerima cangkir dan meletakkan nya di meja.
" Kayaknya keluarga Dia gak setuju sama hubungan gue dan dia"
Dinda mengernyit "Alasannya"
" You know,? gue bahkan lebih dewasa dari pada dia,"
" Memangnya kenapa kalo lo lebih dewasa?" Metta mwngerdikkan bahu.
"Inilah yang selama ini gue takutkan Din, dan dia tau itu, tapi dia seakan gak perduli hingga akhirnya gue juga sadar, gue punya rasa yang sama"
" Jadi sekarang lo patah hati?"
" Lagi..Din, kayaknya gue emang ditakdirkan untuk tidak akan bahagia dengan cinta apapun itu" Metta mulai menitikkan air mata.
" Hanya belum saat nya saja Sha, lo harus yakin" Dinda merangkul sahabatnya.
" Tapi gue yakin bocah itu bakal perjuangin lo"
Metta mendorong sahabatnya," Sok tau lo.."
Dinda terkekeh "Kan cuma keyakinan gue, harusnya lo yang yakin Sha, dia aja bisa bikin lo jatuh cinta, dia juga pasti bisa yakinin orang tuanya"
"Kita keluar aja yuk, biar hati lo gak melow terus kayak gini, gue ganti baju dulu. Lo juga.." 1
" Males gue" Metta menyandarkan kepalanya disandaran kursi tepat saat ponsel berdering.
Drrett.. Drett..
Metta hanya melihat sekilas layar ponsel yang menyala, menampilkan satu nama yang sebenarnya dia rindukan, namun Metta tak berniat untuk menerima panggilannya.
" Angkat woi berisik.." Ucap Dinda dari kamar.
Metta meraih ponselnya kemudian dia selipkan di sudut sofa yang dia tutupi dengan bantal.
.
.
Sementara di sisi lain Farrel menjadi begitu frustasi, namun kenyataan tak bisa berubah begitu saja, setelah kepergian kekasihnya dia marah, kecewa, namun juga tak berdaya.
Berkali kali memohon pada sang Bunda maupun Ayahnya, namun kekecewaan lah yang dia dapat.
Farrel melemparkan ponselnya hingga membentur tembok dan berserakan
Brakkk..
"Sial..kakak bahkan sudah tidak mau mengangkat telf dari ku"
Farrel memejamkan matanya meratapi kisah cinta, tepatnya kisah cinta pertamanya. Begitu sakitnya ternyata jika cinta terbentur restu orang tua,
__ADS_1
Kamar yang rapi kini berubah berantakan, barang barang yang tertata rapi dimeja kini berserakan, menyisakan sketsa wajah Metta yang masih menempel di dinding kamarnya.
"Kak, kakak dimana? apa kakak tidak percaya padaku" lirihnya.
" Bagaimana aku berjuang, jika kakak saja tidak percaya padaku"
Bulir bening membasahi pelupuk mata, dia sudah mencari Metta kesemua tempat yang pernah dia datangi, bertanya langsung dengan datang kerumahnya dia lakukan, hingga menanyai Bastian langsung pun dia lakukan. Namun nihil, Metta tidak diketahui keberadaannya.
" Alan.." gumamnya.
Dia merogoh saku untuk mengambil ponselnya, "Sial.." Farrel baru menyadari jika ponsel nya sudah berserakan di lantai kamarnya.
Kegaduhan dari kamar sang anak membuat kedua orang tua nya resah, bahkan Ayu terlihat mondar mandir di kamar utama. "Yah bagimana ini,"
" Ayah tidak tau, bunda yang urus" Arya tampak kesal dengan tingkah gegabah yang istrinya lakukan, namun juga tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh putranya yaitu melakukan hal yang tidak sepantasnya.
Bruk..
Suara pintu tertutup dengan keras, Farrel keluar kamar dengan tergesa, menyambar kunci mobil di atas nakas lalu berlalu keluar dari rumah.
Farrel mengemudikan mobilnya dengan kencang, menyembunyikan klakson dengan keras saat ada kendaraan lain yang menghalangi jalannya. Tak ayal membuat pengemudi lain kesal bahkan memaki Farrel yang mengemudi dengan ugal ugalan.
" Setan, mau mati jangan ngajak orang" maki seseorang yang menyembulkan kepalanya dari salah satu mobil yang Farrel klason dengan keras.
"Persetan..." gumam Farrel.
.
.
Cinta memang membuat orang bisa berubah, namun kita lah yang dapat menentukan kearah mana perubahan kita, jangan biarkan cinta yang mengendalikan fikiran dan memperngaruhi raga.
.
.
Farrel tiba di apartemen milik Alan, setelah membuka seat belt nya farrel berhambur keluar dengan tergesa, memasuki lift dan memencet tombol 5, dimana unit Alan berada.
Tring..
Farrel keluar dengan tergesa, memencet sandi Apartemen Alan. Dia memang mengetahui sandi karena tempat itulah yang kerap Farrel datangi jika harus menyelesaikan tugas kampusnya dengan tenang. Dan pintu pun terbuka. Farrel perlahan memasuki ruangan Apartemen Alan,
" Lan, "
Farrel memanggil Alan, menyusuri lorong menuju ruang makan namun tidak ada pula jawaban dari sang empunya. Kemudian Farrel naik ke lantai atas menuju kamar. Sayup terdengar suara yang memecah indra pendengarnya.
" Aaahhkk..Baby"
Suara erangan yang memanggil dengan ******* yang panjang, yang membuat bulu kuduk Farrel meremang.
" Tunggu, suara itu?" Farrel merasa mengenal si pemilik suara, dengan perlahan memegang handle pintu. Naasnya pintu kamar ternyata tidak terkunci, bahkan tidak tertutup rapat, bayangan 2 orang yang sedang bergumul dengan jelas terpangpang.
Farrel dengan keras mendorong pintu kamar yang tidak terkunci itu.
Brakk..
"Brengsek.."
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan rate 5 nya, terus dukung karya remahan aku ini yaa sahabad.ðŸ¤
makasih😘