Berondong Manisku

Berondong Manisku
Cari penyakit


__ADS_3

Hai hellow....


Sebelumnya author minta maaf, kemaren BM gak up yaa, outhor sok sibuk ini, ngurusin catering. W.O, juga bunga, oiya gaun wkwkwk...(Author gaje😂)


Happy new year semua, meskipun doa setiap tahun selalu sama, wkwkwk. (Semoga tahun depan lebih baik lagi)


Makasih buat kalian lope-lopenya author, tanpa kalian apa lah BM dan AL ini.


With Love


Marsanda (Eh salah🤧)


Kaa_Zee


####


Kemudian tangan Farrel terulur mengelus lembut pipi Metta.


"Gak ada yang lebih penting dari pada kamu...."


Metta melingkarkan kedua tangan dipinggangnya, lalu mereka saling menatap dengan mata yang saling berbicara.


Tak ada yang bisa mengerti selain dirimu,


Kamu, selalu tahu meski aku tidak mengatakannya


Kamu lebih tahu aku dari siapapun, sampai detik ini.


Dan berharap tidak ada yang berubah esok, lusa, dan seterusnya. I'm yours


Aku malu, pada daun yang tetap memberi kita bunga yang indah sebelum jatuh berguguran, pada udara yang akan tetap segar meskipun berkali-kali kita memberinya polusi.


Aku malu pada kamu yang tetap mencintai meski berkali-kali aku meragu. Metta


Aku mencintai kamu seperti pelangi yang mencintai hujan, aku mencintai kamu melebihi apa yang kamu tahu, bahkan aku memikirkanmu ratusan kali dalam satu hari. Berharap suatu hari aku melihat cinta itu didalam pantulan matamu, seperti aku melihatnya hari ini.


Akulah yang akan menjamin kebahagianmu, yang akan memastikan kamu tersenyum setiap hari. Yang akan memelukmu dengan hangat. Menjadi pangeranmu, yang berdiri paling depan melindungi, yang memegang tanganmu sampai tangga terakhir. Farrel


.


Hingga tangan itu kiat mengerat, Metta menenggelamkan kepalanya kedalam bidangnya dada milik Farrel. Begitu pun Farrel yang mengeratkan tangannya dibahu Metta. Semakin menenggelamkan dirinya.


Namun ada pertanyaan yang tiba-tiba terbersit dalam fikiran Farrel, Tasya hamil sama siapa?


Sementara Mac sesekali hanya memandangi mereka dari pantulan spion, lalu tersenyum dan kembali datar saat mengingat gadis yang dia lihat tadi.


BRAKK


Alan menutup pintu dengan keras.


"Bos, apa kau butuh bantuan?"


"Tidak perlu, biar kuurus sendiri!"


"Bos yakin, bukankah biasanya itu tugasku,"


"Jangan banyak bicara,"


"Maaf bos saya lancang."


"Pergilah, kau libur hari ini," Alan memberikan beberapa lembar uang pada Mac.


"Pergilah, bawa anak dan istrimu berlibur."


"Tapi bos...."


"Laksanakan saja, ini perintah!!!

__ADS_1


Fikiran Mac pun melayang, mengingat beberapa bulan yang lalu, saat dia yang pergi meninggalkan Tasya dan bosnya di Apartemen waktu itu.


Bos...


Mac menatap pantulan spion bertepatan Farrel yang menatapnya juga. Sama-sama berfikir kearah yang sama.


Tak lama kemudian mereka tiba dirumah Metta, Mac turun dan membuka pintu untuk Farrel dan berlari memutar membuka pintu untuk Metta, namun tertahan oleh panggilan Farrel.


"Biar aku saja Mac...." Mac mengangguk lalu kembali mundur.


Membiarkan Farrel yang membuka pintu mobil, "Ribet banget tahu gak harus nunggu dibukain,"


Farrel terkekeh, "Gak apa-apa, kakak harus sudah terbiasa...."


"Hemm...." gumamnya.


Mereka masuk kedalam rumah, mengucap salam kemudian langung beriringan kedalam karena pintu tengah terbuka.


Tumben Ibu buka pintu.


"Sudah pulang?" seru bunda Ayu yang baru saja keluar dari dapur.


"Lho Bunda ada disini?" tanya Farrel heran.


Sementara Metta terlihat biasa saja, berjalan mendekat kearah bunda Ayu, " Gak apa-apa sayang, memang nya gak boleh. Boleh kok malah boleh banget iya kan bun."


"Iya dia suka aneh deh!" tukas bunda Ayu.


Farrel menghampirinya, "Bukan begitu, kok tiba-tiba ada disini?"


"Bunda kesepian dirumah, Ayah mu pergi ke kantor. Tapi bunda sekarang tidak akan lagi kesepian, kalau bunda sendiri lagi di rumah. Bunda akan kesini saja," jelas bunda dengan mengelus lengan Metta.


"Iya jeng... Kita bisa ngobrol-ngobrol sambil masak, ya walaupun hanya begini lah adanya." tukas Sri yang keluar dari dapur dengan membawa hasil memasak bersama.


"Baguslah, jadi bunda tidak kesepian dan terus meminta aku ataupun Alan untuk pulang yaa...." Farrel terkekeh dan langsung mendapat cubitan dipinggangnya.


"Gak boleh begitu sama bunda," hardik Metta.


"Gimana udah beres semua kan?" tanya Bunda Ayu seraya menarik kursi meja makan.


"Bunda juga pasti sudah tahu kan? Teman-teman bunda pasti juga memberikan laporannya, atau bunda yang terus bertanya pada mereka...Iya kan?" Seru Farrel yang ikut duduk disamping Ibunya.


"Ishh...anak nakal! Memangnya gak boleh kalau bunda bertanya langsung pada kalian," mencubit pipi Farrel.


Sementara Metta menggelengkan kepalanya melihat kedekatan ibu dan anak itu.


"Kalau gitu aku pergi dulu yaa..., ada sesuatu yang harus aku urus." Ucap Farrel yang kembali bangkit dari duduknya.


"Memangnya kamu mau kemana?" Tanya Metta saat berada diteras rumahnya.


"Aku harus menemui Alan, ada sesuatu yang harus aku urus dengannya,"


Metta mengangguk, "Hati-hati...."


"Makasih sayang." Mengecup kening Metta.


"Mac kita ke Apartement Alan." Mac mengangguk dan membuka pintu mobil untuknya.


Mereka melaju ke Apartemen milik Alan, Mac melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dan jalanan yang lenggang bebas hambatan pun memudahkannya. Tak lama mereka sampai di Apartemen milik Alan.


Farrel berjalan dengan bergegas sementara Mac setia dibelakangnya, menekan tombol lift untuknya.


"Mac apa kau memikirkan apa yang aku fikirkan?" Mac mengangguk.


"Apa itu mungkin?"


"Bisa saja, dilihat dari penampilannya tadi." Farrel menoleh.

__ADS_1


"Menurutmu mereka melakukannya?"


"Bisa saja Mas,"


Farrel kini menundukkan kepalanya, Tidak mungkin tapi aku melihatnya juga saat itu, tapi....entahlah,


Ting


Lift terbuka, mereka masuk kedalamnya, lift membawa mereka naik. Tidak ada yang bicara lagi diantara mereka, sibuk dengan fikirannya masing-masing. Memikirkan benar atau tidaknya.


Shi iitt..., ini mengganggu sekali!


Ting


Lift terbuka, Farrel semakin berjalan dengan langkah tergesa, ingin segera menemui Alan dan bertanya padanya langsung.


Tanpa berfikir panjang, Farrel menekan nomor password saat sampai didepan pintu platnya dan bergegas masuk.


Farrel menaiki tangga dan berjalan menuju kamar Alan, sementara Mac menunggunya di bawah.


"Al...." serunya saat melihat Alan tengah duduk ditepi ranjang yang tengah membersihkan sesuatu.


"Astaga...Kau gila!" seloroh Farrel saat melihat Alan membersihkan senjata.


What senjata.... Senjata api!!


"Apa kau sudah gila Alan Alfiansyah?" sentak Farrel.


Alan tak kalah terkejut, namun dia dengan cepat mengontrol dirinya,


"Kau ini kebiasaan, datang tiba-tiba begini!"


Alan bangkit dan memasukkan senjata api itu kedalam lemari nya.


"Apa kau sudah gila Alan Alfiansyah?" Farrel mengulangi perkataannya namun dengan intonasi yang lebih keras dari tadi.


Alan berdiri dengan bersandar pada nakas, "Apa... kau melihatnya bukan, jadi aku tidak gila Farrel Adhinata!"


Farrel mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, dia meraup rambutnya dengan keras, "Kau gila karena menyimpan senjata api, Memang nya kau seorang mafia yang membutuhkan senjata itu? Shii itt...."


Kau tidak tahu apa-apa EL, dan lebih baik kau tidak tahu selamanya.


Hening


Hening


Tak ada yang mengeluarkan satu patah katapun. Hingga Mac menyusulnya keatas.


"Mac kau tahu juga?" Mac mengernyit saat Farrel menatapnya dengan tajam.


"Apa maksudnya?"


Farrel berdesis, "Kau pasti sudah mengetahuinya..., iya kan!?"


Mac menatap Alan dan Alan yang mengerdikkan bahu.


Apa maksudnya, dia bertanya tidak jelas. batin Mac.


"Jawab aku Mac?" Intonasi Farrel semakin tinggi.


"Kau tahu si Alan ini menyimpan senjata api?"


Mac tersentak lalu menatap kembali Alan yang hanya memasang wajah datar seperti biasanya.


"Jawab, jangan hanya diam saja!"


Celaka, jika aku menjawabnya dengan jujur, Alan pasti marah. Tapi jika aku tidak menjawabnya juga Farrel yang akan marah. Ya tuhan ... Nasib nasib.

__ADS_1


"Aku ini akan menikah, dan hari ini 2 hadiah sudah aku dapatkan terlebih dulu."


"Cari penyakit...."


__ADS_2